Prostitusi Anak Memerdekakan Hasrat Gay

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Psikologi
dipublikasikan 16 September 2016
Prostitusi Anak Memerdekakan Hasrat Gay

71 tahun sudah Indonesia lepas tangan dari penjajah namun kemerdekaan itu masih hampa nilai. Betapa tidak? Kriminalitas yang terbongkar sekarang berada di puncak kengerian yang absurd, bagaikan mimpi buruk. Menginjak bulan September, kita dikejutkan dengan kasus prostitusi online kaum gay. Korbannya, anak-anak sejumlah 99 orang!

Kekejian yang begitu masif dan sistemik dilancarkan hanya demi pundi-pundi rupiah. Praktek perdagangan manusia nyatanya lebih laris daripada outlet hewan qurban. Barangkali lebih baik kita diam saja. Sebab sebentar lagi kita akan terbiasa menanggapi berita-berita kriminal seperti halnya menatap nanar berpasang-pasang kambing di musim kawin.

Hasrat seksual di luar batas

Sigmund Freud mendefinisikan ulang hubungan seks bukan lagi pada persoalan tubuh tetapi pada persoalan psikologis, bukan pada perilaku tetapi pada hasrat orientasi seksual. Maka, komunikasi verbal dan ekspresi yang menunjukkan ‘terperangkap dalam tubuh yang salah’ sebetulnya hanya layak digaungkan oleh masyarakat gender disorder sejak lahir. Sisanya merupakan intuisi, dorongan pribadi, pilihan, keinginan, ketagihan, tersebab faktor lingkungan.

Apa yang dinamakan hasrat berarti belum terpenuhi. Ketakutan dan rasa malu akan tercopotnya kedok identitas gender (butch or femme, top or bottom) di muka umum menjadi kendala dalam sosial kompromi, yang kemudian menjurus pada perilaku seksual menyimpang secara underground.

Selepas Mahkamah Agung Amerika melegalkan pernikahan sejenis, banyak masyarakat di seluruh dunia yang menyambutnya disusul dengan aksi coming out beberapa publik figur alih-alih kampanye kesetaraan gender. Mark Zuckerberg bahkan sempat memasang fitur bendera pelangi untuk foto profil di Facebook. 26 juta warga Amerika memasangnya. 6 juta warga Indonesia turut menyemarakkan pula pada pertengahan 2015.

Kaum homoseksual sebetulnya sedang memperjuangkan hak asasi manusia, merealisasikan bumi tanpa diskriminasi, tanpa kebencian, tanpa kekerasan. Memang apa salahnya dengan sepasang lelaki yang saling mencintai? Kenapa kita harus risih melihat pria-pria tulang lunak yang butuh kasih sayang pria lain? Atau perempuan perkasa yang mencari nafkah dan menjadi suami bagi perempuan lain? Karena inilah, beberapa ahli tidak menyertakan homoseksual dalam kategori penyimpangan.

Perilaku homoseksual adalah pengisian hasrat yang tidak akan pernah mencapai koneksi sebab terbentur unsur fisik yang sama. Selain dampak penyakit kelamin, kita percaya bahwa manusia dengan kadar cinta yang berlebihan juga memiliki agresivitas, protektivitas, dan kecemburuan berlebihan, serta tidak pernah puas tentu saja. Itu berbahaya. Ibarat sepasang galaksi yang memaksa untuk bertemu, keluar dari lintasan, dan akhirnya... Dyar! Hancur.

Paling tidak, kesadaran ada bagi mereka yang memiliki konflik internal. Dan ketidaksadaran justru menjangkiti mereka yang mendeklarasikan orientasinya secara terbuka. Keterbukaan dilakukan untuk memancing kekasih baru atau individu-individu lain sebagai duplikat-duplikatnya. Sementara ketidaksadaran memiliki kecenderungan yang kuat untuk terus menerus memenuhi hasrat. 

Untuk mencegah penyebaran perilaku homoseksual tentu bukan dengan meneriakkan kalimat Tuhan di jalanan, bukan juga memasang spanduk ‘tolak LGBT’ besar-besar, atau bersikeras memusuhi dan melaknatnya. Hal-hal demikian itu akan menurunkan citra agama. Pada akhirnya, mengendalikan mental memang harus lebih dulu diupayakan sebelum mengendalikan badan.

Hasrat nominal

Oleh karena ruang keterbukaan di Indonesia terbilang rendah terhadap kaum homoseksual, pelaku memanfaatkan sifat alamiah anak yang gugup dan gagap sebagai alat pemuas kebutuhan kelamin mereka.

Bagaimana jika ternyata pelaku tersebut adalah pahlawan dari keliaran hasrat kaum gay? Seperti halnya Soekarno yang terpaksa mengumpulkan sekitar 120 pelacur kepada tentara Jepang haus seks yang sering melecehkan gadis pribumi untuk mereka jadikan jugun ianfu (budak). Kebanyakan budak-budak tersebut diperkosa lalu dimasukkan paksa ke dalam lokalisasi di dekat kamp-kamp militer waktu itu. Memang yang dilakukan Soekarno adalah demi kepentingan ketentraman rakyat semata.

Bisa jadi pelaku juga bertabiat baik. Bahwa kaum gay jangan sampai menyasar anak-anak yang tidak pantas jadi 'jajanan'. Bahwa kaum gay hanya boleh menyasar anak-anak yang bersedia 'melacur'. Yang mencengangkan adalah setiap anak tersebut dibayar 100-150 ribu sekali ngamar, dijajakan melalui akun media sosial. Sementara mucikari yang juga residivis itu memasang tarif 1,2 juta kepada kaum gay, konsumennya.

Tapi bagaimana pun, karena mereka anak-anak, tentu status mereka adalah korban. Di luar praktek human trafficking itu, pelaku mengaku pernah menyetubuhi korbannya. Dalam hal ini pelaku juga seorang gay yang meyakini bahwa cinta tak berjeniskelamin. Bahwa lubang pantat, sekalipun milik anak-anak, adalah surga.

Masih ada cara bijak untuk meredakan hasrat kaum gay sebetulnya. Sebab memperdagangkan sekaligus melecehkan manusia adalah cara licik orang-orang dengan hasrat materialistik.

Memang benar yang dikatakan Benjamin Franklin bahwa semakin banyak seseorang memiliki uang, semakin banyak yang ia inginkan. Alih-alih mengisi ruang hampa, uang malah menciptakan ruang hampa. Kehampaan itulah yang kemudian membuat manusia mengalami kebutaan parah terhadap ruh ilahiah dalam batinnya, keserakahan terus menerus menggigitnya, dan terjadilah chaos.

Perilaku konsumtif sejalan dengan upaya melambungkan harga diri. Dan jika harga diri seseorang sudah naik, bukan tidak mungkin ia malah menjatuhkan harga diri orang lain. Demi siklus konsumsi inilah, ia melegalkan segalanya. Apa pun caranya.

Anak-anak di negeri bekas jajahan

Banjir data datang pada generasi kita. Informasi tentang gaya hidup bebas menyusup melalui produk-produk impor dan melahap nilai luhur tradisi kita. Kebutuhan primer masyarakat bergeser pada media sosial yang kerap menawarkan akses pornografi. Upaya sensor dan pemblokiran situs terlarang oleh pemerintah memang mesti diimbangi dengan partisipasi aktif masyarakat. Sekali lagi, masyarakat. Artinya, bukan sebagai individu yang hidup masing-masing, melainkan kelompok harmonis.

Jika kita telah menganggap penduduk negeri ini seperti keluarga niscaya kita akan memperoleh toto tentrem kerto raharjo (keadaan yang tenteram). Jika kita mengaku tinggal dalam satu atap yang sama bernama pancasila, kita mesti saling manjaga. Sebagaimana orang tua kepada anaknya, kita mesti percaya bahwa bekal untuk generasi seterusnya dan seterusnya ada di tangan kita. Kewaspadaan orang tua dilakukan dengan cara mendidik bukan dengan menakut-nakuti atau malah membuat anak semakin penasaran pada keonaran.

Indonesia memang sudah merdeka, usianya mirip kakek kita. Namun penjajahan sesungguhnya sudah lama mengeksploitasi akal dan hati kita. Jangan sampai kita malah memerdekakan hasrat degil atas kepentingan-kepentingan pribadi sebagai penjajah tak tampak.

 

5 Sept 2016 | Kartini Fuji Astuti

Gambar dari sini.