[Surat-surat Ismaila] #3 Tentang Pengorbanan

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 September 2016
Surat-surat Ismaila

Surat-surat Ismaila


Sekumpulan surat untuk Paman dan Bibi (Ust. Nanang Suryana dan Mimin Mintarsih) yang diarsipkan sesuai tanggal pengiriman.

Kategori Spiritual

4 K Hak Cipta Terlindungi
[Surat-surat Ismaila] #3 Tentang Pengorbanan

Bandung, 9 September 2016

                                                                            

Selamat liburan menjelang lebaran, Bi. Selamat rekreasi di halaman depan rumah sambil menjemur pakaian. Aku tahu tanggal merah selalu Bibi nantikan untuk menyambut kedatanganku pulang kampung. Tapi sekarang kecanggihan teknologi membuat manusia merasa tidak perlu ketemu. Maafkan aku ya, Bi, bahkan menelepon pun rasanya tidak bisa sering-sering.

Kampus lebih banyak menyita waktuku untuk menjawab segala persoalan dibanding menanyakan padamu tentang oleh-oleh apa yang akan kubawa nanti.

Ada peristiwa-peristiwa yang belum sempat kuceritakan, Bi, tentang paket hewan kurban yang kumimpikan, juga tentang kebutuhan-kebutuhan bergerilya anak kost. Dulu, aku tidak mengerti kenapa Tuhan memerintahkan kita untuk berkurban. Lagipula apa hubungannya menyembelih sapi atau kambing dengan kemuliaan manusia?

Pak Gubernur bilang berkurban adalah bentuk kesetiaan yang mampu kepada yang tidak mampu. Aku pun sering memaafkan diriku yang belum mampu bersedekah karena masih mahasiswa. Itu sebabnya aku siap menerima pengorbanan orang lain terhadapku, kesetiaan kawan-kawan terhadapku. Menerima dan menerima.

Sejujurnya aku sebal menjadi mahasiswa yang hidup hanya untuk berlari dan saling mengejar. Semua orang yang kutemui tiba-tiba jadi petugas administrasi. Menanyakan padaku tentang kapan wisuda. Aku jawab saja, “Nanti, sehabis beli kebaya.” Mereka suka sekali mencatat tanggal-tanggal penting, menyimpan nomor-nomor orang penting, dan mengumpulkan tanda tangan.

Jadi mahasiswa, Bibi, cukup hanya dengan menitipkan tanda tangan di buku absen. Selebihnya adalah kegiatan pameran. Tentu saja, pamer jas almamater ke tempat-tempat yang membutuhkan mahasiswa. Begitu pun buat jadi mahasiswa berprestasi, harus pandai mencuri tanda tangan dosen yang sibuk sekali itu, harus giat juga bikin pameran.

Kampusku adalah kampus yang baik, kaya raya, dan ketat aturan. Seperti kepada orang tua, aku menyayanginya. Padahal aku belum jadi artis, tapi tandatanganku sudah mahal, Bi. Sebulan lalu ada yang memohon tandatanganku. Harganya lima juta. Untuk memperpanjang beasiswa uang semester, kampus cuma butuh tandatanganku, paling lambat pada tanggal tertentu!

Tapi dasar aku yang bloon dan lambat respon dan terlalu sibuk mengkhayal tentang sapi-kambing, aku melewatkan tanggal itu. Mereka tidak jadi membeli tandatanganku. Tapi malah aku yang kecewa dan nangis sesenggukan. Bibi tahu, tanda tangan sudah jadi alat pembayaran yang sah di negeri ini sejak terciptanya prasasti.

Detik itu juga, aku pupus keinginanku untuk berpangku tangan pada subsidi pemerintah. Aku mulai mengamati poster-poster lomba sebagaimana mahasiswa yang ingin jadi juara. Barangkali ada juga lowongan pekerjaan sampingan. Aku harus bisa menghasilkan uang tabungan. Detik itu juga, ada dosen yang meminta bantuanku untuk mengerjakan proyek. Ternyata uangnya cukup buat Paman beli pangsi baru. Dosenku yang baik itu juga menjadikan aku—satu dari dua mahasiswa di jurusanku—untuk menerima beasiswa alumni.

Sekarang tanda tangan berikut riwayat hidupku dihargai sepuluh juta oleh mereka. Bukan main memang kerja tangan Tuhan. Cuma sayang, berhari-hari kemudian, ponselku tidak memuat informasi penting dan tidak mengenal situasi genting sehingga aku harus merelakan sepuluh juta itu melayang jadi abu.

Aku bayangkan aku menerima sejumlah uang yang turun dari langit lalu membeli sejumlah hewan kurban lalu menulis tentang itu. Beri tahu aku di mana letak pengorbanannya? Barangkali aku bisa dinilai pamer di hadapan manusia maupun Tuhan. Ibadahku setara dengan nilai mata kuliah E. Tidak lulus. Jika saja benar aku mendapatkannya, di saat-saat seperti ini, aku tidak yakin juga akan lebih memilih hewan kurban dan bukannya motor bebek untuk berwisata.

Kekecewaan pasti ada sebagaimana Bibi yang sering menanti pelanggan warung datang berbondong-bondong di siang bolong. Namun mungkin Tuhan lebih tahu ke mana rezeki itu pergi. Dan mungkin, jika berada di tanganku, rezeki itu malah menjauhkan jarak aku dari-Nya.

Kata Paman, kita tinggal membangun kepercayaan setinggi-tingginya kepada Tuhan niscaya Tuhan akan percaya pada kita. Aku lalu mencoba ikhlas. Lucu sekali menyadari bahwa aku sedang berkurban bahkan sebelum sapi atau kambing itu datang. Berkat bantuan Tuhan, aku menyembelih segala keinginan yang melenakan. Aku percaya, akan selalu ada cara Tuhan untuk memberi. Dan akan ada saatnya aku pantas menerima. Dan juga, akan ada saatnya aku pulang kampung.

“Tidak apa-apa kalau memang lagi sibuk, tidak usah ke Cianjur. Fuji mudah-mudahan banyak rezeki,” tulis Bibi di pesan singkat, mirip dengan doa kebanyakan umat manusia, yang tentu saja aku amini.

Kemarin aku gajian, Bi, dari perusahan game. Dan aku beli alat canggih, namanya pen tablet. Aku yakin alat itu bisa menghasilkan rezeki lebih banyak dan lebih banyak lagi. Bukan. Ini bukan tentang aku yang jadi materialistik dan jauh dari nilai-nilai spiritual yang sering Paman ajarkan. Tapi aku sedang sangat ingin menjadikan materi, pengetahuan, nasib malang, atau apa pun yang kita terima, sebagai alat komunikasi dengan Tuhan. Bukankah itu tugas manusia?

Lalu sebelah mana fungsi mahasiswa yang katanya bekerja untuk Tuhan, bangsa, dan almamater. Bukankah tanpa uang, negeri ini juga tidak bisa berdiri? Bukankah krisis ekonomi merupakan sumber dari segala permasalahan dunia?

Maaf, Bi, aku ngelantur. Jiwa mahasiswa keponakanmu ini terlalu kental.

Banyak sekali mahasiswa yang ketika labelnya itu dicopot menjadi linglung karena mimpi berbenturan dengan kenyataan. Mereka lupa bahwa hidup bukan sekadar wacana-wacana kosong dalam topik diskusi atau seminar ilmiah.

Dan sebagai manusia, aku mesti bekerja. Siapa tahu dengan banyak rezeki aku bisa berkurban lebih banyak juga. Muhammad pun berkurban seminimal-minimalnya dua unta seharga Lamborgini setiap tahun! Keren sekali pengusaha sekaligus nabi kita itu.

Kita berkurban bukan untuk siapa-siapa, kan, Bi. Bukan untuk kampus. Bukan untuk semesta. Lillahita'ala adalah karena Allah. Bukan untuk Allah. Tuhan juga tidak butuh pengorbanan kita sebenarnya karena Dia bukan kekasih yang manja. Tapi, percayalah, Bi, keikhlasan dalam berkurban adalah untuk kita sendiri. Karena sejatinya ketika berkurban, kita melepaskan rantai hawa nafsu yang sudah sejak lama mengikat hati kita.

Ikhlas bukan soal menerima keadaan ternyata. Tapi merelakan apa yang menjadi idaman kita. Sebagaimana Ibrahim yang amat sangat mendambakan keturunan kemudian harus menyembelihnya di hari setelah Tuhan mengirimkannya.

Bibi sudah mengorbankan apa hari ini?

Aku sih mengorbankan sedikit waktu untuk menulis surat ini. Mudah-mudahan menginspirasi.

 

Tertanda,

Ismaila Suryani

*) jika berkenan, silakan baca surat-surat sebelumnya