Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Agama 7 September 2016   23:15 WIB
Membuktikan Muhammad Plagiator

Saya sedang membaca Muhammad karya Martin Lings ketika linimasa di sosial media penuh dengan perbincangan kasus plagiat. Saat itu saya langsung menutup buku, mengurut dada. Masya Allah.

Memang mendengar kasus plagiat seperti menyaksikan bagaimana Al-Quran diinjak. Itu menodai sastra yang selama ini kita agung-agungkan. Sastra adalah puncak kesadaran seni tertinggi, kata penyair Romawi yang juga saya amini.

Sejak zaman Al-Qur’an dituduh sebagai karangan Rasulullah sampai zaman sekarang ketika komentar netizen dinobatkan sebagai suara Tuhan yang mampu mencabut nyawa seseorang, kejahatan intelektual seperti plagiat dicatat sebagai dosa besar. Lalu apa itu plagiat? Banyak penulis telah menganggap istilah tersebut lebih hina dari maksiatnya seorang Umar bin Khattab sebelum masuk islam. Tapi mari kita intip di Kamus Besar Bahasa Indonesia.

pla·gi·at n pengambilan karangan (pendapat dsb) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dsb) sendiri, msl menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri; jiplakan.

Apakah tindakan plagiat seseorang membuat saya marah? Marah. Tapi itu tidak lantas membuat saya menghujat dan menjatuhkan penulis tersebut apalagi sampai melemparkan kotoran.

Kaum yang tidak menampik bahwa dirinya pernah plagiat bukan berarti sedang membanggakan diri sebagai penjahat. Logikanya, begini, Saudaraku. Tidak mungkin orang gila mengaku gila. Begitu pun ketika kita bicara kejahatan. Bahkan setelah ketahuan dan ditangkap berdasarkan sederet bukti, adakah maling mengaku maling? Tidak. Kecuali kalau sudah insaf.

Pengakuan sama dengan penyesalan, kan?

Ada maling yang menyesal bahkan sebelum tenggorokan Anda kering karena telah meneriakinya.

“Melakukan pengakuan dosa bukan jaminan seseorang tidak ketagihan maksiat,” Anda berargumen. "Bahkan mungkin semua karyanya adalah hasil curian.”

Menanggapinya, izinkan saya mengutip surat Ali Imran ayat 159, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

Ada, dan memang selalu ada, penulis yang memproklamirkan permohonan maaf, kemudian melakukan dosa yang sama, bertaubat lagi, mencuri kata-kata lagi, begitu seterusnya. Anda bilang dia klepto akut. Baiklah. Lalu kenapa Anda harus repot-repot mencibirnya dan bukannya mengamankan barang? Sementara yang lain bisa saja bilang bahwa dia kafir literasi yang tak mempan didakwahi. Lalu apa yang dilakukan Muhammad pada seorang kafir? Apakah mengusirnya? Apakah mencacimakinya?

Penghakiman terhadap kejahatan intelektual dewasa ini membuat saya bisa menyimpulkan muslim seperti apa yang dominan di negeri mayoritas muslim. Tentu saja muslim penyerang. Kenapa saya katakan demikian? Gejalanya bisa Anda lihat: gampang panikan.

Di media sosial, akan ada hakim yang punya pandangan hebat sebagai ahli nujum. Akan datang orang yang seolah-olah tahu segalanya tentang pribadi orang lain hanya dengan membaca sebuah status.

Ketika mengenal beberapa penulis yang tumaninah terhadap asas kesusastraan, saya haqul yakin, mereka termasuk ahli makrifat yang ingin menumpas plagiarisme yang mewabah di bumi ini. Sekali lagi, saya hargai itu. Saya akan meneladani sikap mereka jika memang mempermalukan seseorang di hadapan jamaah—dan bukannya mengedukasi—adalah sikap mulia seorang khalifah.

Barangkali, bagi umat manusia yang tingkat peradabannya tinggi seperti kita, menyulam tempel dan memutilasi karya seseorang jauh lebih kejam dari pembunuhan masal.

Begitu pula dengan kasus plagiator yang berkali-kali mengklaim tulisan orang lain sebagai karyanya dan dikirim ke media dan sempat mendapat penghargaan pula. Astaga! Kenapa dia tidak jera juga?

Saya jadi teringat pada buku Salim A. Fillah yang pernah diceritakan saudara saya. Ada seorang pembunuh 99 orang datang pada rahib dan menyesali perbuatannya. Tapi rahib itu malah berkata kotor dan mengatakan ia pantas masuk neraka. Terguncanglah pembunuh itu dan demi melampiaskan amarah, ia melakukan pembunuhan untuk yang ke-100 kalinya.

Tidakkah kita berpikir, bisa jadi kasus itu terus menerus bergulir karena cercaan kita. Bisa jadi karena belum adanya muhasabah dari hati ke hati. Lebih jauh lagi, editor surat kabar semestinya punya majelis tersendiri untuk memfatwakan naskah mana yang halal, mana yang haram. Kita tahu, ada banyak langkah sebelum kaffah. Ada bertubi-tubi ujian sebelum Tuhan memerintahkan Muhammad dan pengikutnya untuk berperang.

Bukan tanpa alasan, saya menyepakati khutbah Austin Kleon yang dipopulerkan Fahd Pahdepie bahwa pekerjaan menulis sama dengan mencuri. Jadilah penulis profesional: tidak ketahuan mencuri dari mana. Artinya apa? Barang curian tersebut telah dipreteli lalu dimodifikasi sedemikian rupa. Tidak ada yang benar-benar baru di bawah matahari.

Lalu apa bedanya pencuri dan penulis? Korban pencuri mendapati barang hilang, tentu saja. Sedangkan barang korban penulis masih ada setelah jadi sumber inspirasi. Anda lega? Jika tulisan Anda diplagiat lalu bagaimana? Ikhlaskan. Itu pun kalau Anda yakin ide Anda jauh lebih berharga untuk dibagi-bagikan ketimbang nama Anda. Tapi jika Anda terlanjur sayang dengan nama Anda, Anda akan hati-hati dalam menjaganya. Jika tetap dicuri, datang saja ke polisi. Lagipula, kan berkahnya lumayan. Berdasarkan etika dan hukum, terdakwa bisa bayar denda 500 juta.

Bicara soal kekayaan intelektual adalah bicara soal kepemilikan. Kita percaya bahwa pencurian ide dengan motif apa pun adalah laknatullah. Kita lupa bahwa hak cipta juga terbatas sampai 50 tahun setelah penciptanya meninggal dunia. Menurut seorang penerjemah sastra, kita bisa mengambil karya Shakespeare menjadi milik kita. Tapi kita tidak akan pernah menjadi siapa-siapa. Karena semua orang sudah tahu betul siapa Shakespeare dan tidak mau tahu soal siapa yang mengaku-ngaku punya karya sehebat Shakespeare.

Semakin banyak membaca dan berdiskusi, semakin Anda bisa menjadi pencuri profesional. Anda akan menemukan orisinalitas diri Anda dan tentu saja kaya kacamata.

Kepada para penulis yang tercederai tuduhan plagiat padahal tidak sama sekali melakukannya atau sudah tidak pernah melakukannya, jadilah katak tuli seperti yang diceritakan nenekmu. Anda tidak akan dihisab atas perkataan orang lain terhadap Anda. Anda hanya dihisab atas apa yang Anda lakukan di dunia.

Masih bertanya apa yang dilakukan Rasulullah pada seorang kafir? Dia tidak ribut, Saudaraku. Tapi memperbanyak amal sholeh. Musuh bukan dia binasakan tapi dia jadikan potensi untuk memperluas keislaman. Pernah mendengar kisah tentang Muhammad yang menyuapi seorang pengemis Yahudi? Bukankah terus berkarya dan memotivasi orang lain adalah bentuk amal sholeh juga?

Sering sekali Muhammad mengatakan Ar-Rahman, misalnya dalam surat Ar-Rahman 1-2, “Yang Maha Pemurah (Ar-Rahman), yang telah mengajarkan Al-Qur’an.” Pemimpin Quraisy sempat menemui Muhammad dan menuding bahwa pemuda bernama Rahman dari Yamamah adalah sumber inspirasinya.

Pada masa terputusnya wahyu, Muhammad cemas. Pemimpin Quraisy senang sekali mendesaknya supaya Muhammad menyerukan wahyu yang diturunkan. Umat muslim kebanyakan merasa kalah saat rasul mereka terpojokkan. Tapi peristiwa tersebut malah memperkuat keimanan sebagian besar dari mereka. Mereka mengimani sepenuh hati bahwa Al-Quran adalah murni perkataan Allah, bukan syair Muhammad, tidak mungkin disegerakan atau diperlambat.

Muhammad bukan seorang pencuri yang mengaku-ngaku kepemilikan Allah sebagai kepemilikan pribadi. Muhammad bukan plagiator. Karena, untungnya, dia tidak bisa membaca apalagi menulis. Dia hanya memaknai, mempraktekkan, mengajarkan, dan memperjuangkan apa yang dikatakan Tuhan.

Sesudah begitu, dalam hadits Ummul ‘Alaa Al-Anshoriyah r.a. ketika meninggalnya Abus Saaib, beliau berkata, “... dan demi Allah aku tidak tahu—padahal aku adalah Rasulullah—apa yang akan Allah lakukan pada diriku.”

Lalu kita, kaum intelektual dengan segala ego yang tidak terbantahkan ini, percaya diri sudah suci?

Mari berserah diri.

 

Bandung, Agustus 2016

Gambar dari sini.

Karya : Kartini F. Astuti