Sastra Tidak Mati, Cuma Sembunyi

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 27 Agustus 2016
Sastra Tidak Mati, Cuma Sembunyi

Sudah hampir tiga tahun aku kuliah, sudah hampir tiga tahun aku gerah dengan kehidupan sastra di kampusku. Agaknya aku telah mengawali tulisan ini dengan kalimat pesimis. Tapi tidak demikian maksud hatiku. Setelah Acep Iwan Saidi menulis buku berjudul Matinya Dunia Sastra, aku berharap bisa membangkitkannya lagi. Aku percaya satu hal bahwa ketika aku ditempatkan di rumah yang berantakan, akulah yang harus membenahinya. Ketika aku berada dalam gelap, akulah yang harus jadi cahaya. Kau mungkin memandang kalimat itu terkesan sok heroik. Tapi, sekali lagi, tidak demikian maksud hatiku. Aku belum meneruskan kalimat berikutnya.

Sejak dulu aku ingin menjadi lilin. Hanya menjadi lilin, yang nyala tentu saja. Aku lupa kalau lilin bisa padam oleh tiupan angin, bahkan membakar dirinya demi ruang bercahaya. Aku lupa kalau lilin dalam diriku pernah dinyalakan oleh lilin yang lain. Metafora tentang lilin, kau tahu, digunakan oleh sebagian besar pengarang yang juga jadi siluman motivator. Aku mencibir setiap pengarang yang berkata tentang lilin, berulang-ulang sampai aku bisa menghafalnya seperti komposisi sampo. Namun ternyata dunia ini tidak butuh para penghafal. Dunia ini hanya butuh para penafsir. Aku baru menerjemahkan dan memaknai bagian kecil dari dunia: lilin.

Sekarang lilin dalam diriku sudah tinggal seinci, menunggu waktu untuk mati. Ruang sudah remang. Dengan sombongnya aku malah membiarkan lilin itu menciptakan sejarah tentang pengorbanan yang sia-sia. Tidak ada percik api untuk lilin yang lain sehingga ruang akan gelap sempurna. Itu bukanlah sebuah kebanggaan. Itu pun tidak seharusnya terjadi. Maka, dalam waktu relatif singkat, aku harus mencari lilin-lilin yang tidak kelihatan atau barangkali tengah sembunyi di sudut sepi. Melelahkan dan mendebarkan. Sangat. Tapi telah kusadari sekarang justru yang melelahkan dan mendebarkan itu ketika sendirian. Lilin-lilin yang kunyalakan nanti tidak boleh nyala sendiri-sendiri tanpa memutuskan untuk menyalakan lilin-lilin yang lain.

Kau juga mungkin berpikir omong kosong tentang lilin. Hei, aku hanya menuturkan cerita. Lilin membuatmu mudah membayangkan, bukan? Itu kekuatan sastra. Tidak masalah kalau selama ini kau baru menyadarinya. Ya, seperti itulah sastra. Selalu sembunyi. Seperti juga para lelakonnya. Asyik sendiri. Sastrawan yang kaulihat mungkin tampak seperti orang gila yang berhasrat pada khayalan, tapi sebetulnya diam-diam merekam kedip matamu.

Lalu apa yang kaubayangkan tentang lilin yang kusebut-sebut tadi? Organisasi? Kaderisasi? Regenerasi? Sepertinya para sastrawan tidak membutuhkan hal tersebut. Benarkah? Kalau benar demikian, maka jadikan organisasi sastra sebagai sebuah keluarga. Jadikan kaderisasi kasih sayang saudara. Jadikan regenerasi insting untuk menumbuhkan perasaan cinta. Simpel. Tapi memang harus ada sebuah pola terstruktur. Sepasang kekasih tidak bisa secara sah berkeluarga tanpa rencana pernikahan. Rencana inilah yang kita sebut ikatan komitmen. Aku tidak lihai dalam ikat-mengikat. Sebetulnya percuma lihai pun kalau tidak ada yang mesti diikat.

Jangan tanyakan berapa banyak lilin yang sudah kuikat. Menjawabnya, aku akan bingung sendiri. Lima. Sepuluh. Tiga puluh. Empat puluh. Atau satu—aku sendiri. Seperti lilin, aku memang takut sendirian. Bodoh kalau aku bilang aku tidak takut sendirian. Lilin saja takut kegelapan. Aku harus berterimakasih pada rasa takut. Berkat dialah, aku menemukan teman-teman luar biasa yang menaklukkan rasa takutku. Teman-teman yang baru kusadari pernah menyalakan sumbu lilin dalam diriku, teman-teman yang juga harus kunyalakan sumbu lilinnya, teman-teman yang akan menyalakan sumbu dunia.

Lidah api dari sebatang lilin tidaklah sama satu dengan yang lain. Lidah api yang kuterima adalah sebuah ketidakpercayaan, keragu-raguan. Atau barangkali kehati-hatian. Atau peringatan. Atau larangan. Bisa jadi karena di kampusku mayoritas sekolah teknik dan ada banyak sekali pakem, aku merasa menjadi kereta di atas rel. Kerusakan rel yang kubiarkan sama saja dengan mengubah stasiun ke arah jurang. Aku sering berhadapan dengan ukuran dan pembatas. Karenanya, kadang aku takut melangkah, kadang pun ingin membuktikan. Saat aku nekat memilih yang kedua, kegagalan seakan-akan malaikat maut yang mencium keningku.

Tidak, aku tidak sedang menyalahkan siapa pun. Aku ingin berterimakasih. Kegagalan—atau sesuatu yang dulu kuanggap gagal—benar-benar menjadi pintu gerbang masuknya orang-orang baru dalam kehidupanku. Aku tidak menyangka bisa kenal lebih dekat barisan mahasiswa sakit hati yang punya idealisme yang tinggi, pembina, para menteri kabinet di kampus, orang-orang unit seni dan budaya, staf lembaga kemahasiswaan, staf sarpras, para wakil rektor, vendor, penerbit, percetakan, pedagang, sampai dosen-dosen dari kampus lain, komunitas luar. Peluang pun datang untuk berkarya di mana saja, lewat program apa saja. Kegagalan memberiku keberanian untuk mengikuti lembaga lain, sit in di kelas orang, memperkaya ilmu untuk mendatangi kegagalan yang lain. Jika seperti itu yang namanya kegagalan, aku akan terus menantangnya.

Terus interopeksi diri adalah keharusan bagi setiap penantang. Aku mahasiswi Desain Komunikasi Visual tapi kuakui aku tidak pandai berkomunikasi, mungkin bisa secara tekstual, bukan secara verbal. Aku tidak pandai membahasakan pikiranku di depan umum. Karena itulah, mungkin, lilin-lilin di sekitarku mulai padam. Komunikasi menjadi faktor penting bahkan dalam keluarga sekali pun. Sekadar bertanya kabar, merespon curhat, menyapa. Komunikasi yang bagaimana? Komunikasi yang asertif, bukan pasif maupun agresif. Kepasifan kukira adalah bakat, tapi nyatanya itu penyakit. Ketika aku bertanya, aku harus peduli dengan jawaban. Bukan jawaban yang sesuai keinginanku? O, tak masalah. Bertanya kepada mereka, mau atau tidak, menyertakan manfaatnya, bukan memaksa. Aku belajar teater. Aku belajar manggung. Aku memotong urat malu dan pura-pura menjadi gembel. Itu semata-mata untuk menginteropeksi caraku berkomunikasi.

Terima kasih kepada siapa pun yang sudah mendorongku ke dalam keadaan seperti ini. Maaf atas pembangkanganku. Aku juga percaya lilin-lilin di atas sana bermaksud baik dengan membekaliku peta realitas, hanya saja mereka padam lebih cepat dari yang kukira. Lilin-lilin di sampingku kini redup, seperti ingin segera melahap tubuhnya sendiri. Lilin-lilin di bawahku pelan-pelan surut tanpa sempat kutitipkan api. Beberapa orang mengasihaniku. Beberapa yang lain lewat tanpa permisi. Beberapa orang menertawakan. Begini caraku memimpin dengan kabinet ramping. Apa-apa sendiri. Sampai hanya tersisa sedikit sekali waktu untuk menulis.

Pelan-pelan aku mulai paham apa maksudnya realistis. Aku juga curiga dengan kata optimis. Aku merawat sikap pesimis sampai muncul ketakutan itu. Ketakutan menjadi gadis Iccarus yang terbang tinggi tapi tidak ada seorang pun yang dapat menahannya. Aku sadar sayapku cuma terbuat dari lilin. Aku akan meleleh terkena sinar matahari sampai akhirnya jatuh. Kuakui melalui obrolan personal saat serah terima jabatan itu, aku merinding. Menjadi ketua unit sastra di kampus ini sebetulnya kuanggap ringan karena program kerja terhitung sedikit. Tapi tetap saja rumit. Kerumitan sebuah organisasi yang seksi dan bikin merinding. Ingin disorot sana-sini. Sedangkan lilin-lilin di dalamnya mulai menciut.

Dengan mimpi yang sederhana, aku ingin masyarakat berhenti bertanya apa singkatan LS, apaan sih sastra. Lebih jauhnya, sastra tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang absurd, njelimet. Dengan sastra, manusia lebih peka terhadap hal-hal kecil yang sering terlupa, bahkan daun jatuh pun bisa jadi sebuah pelajaran berharga. Dengan sastra, kata-kata akan lebih halus dan terasah, bukan sekadar khotbah. Dengan sastra, satu langkah menuju perubahan peradaban. Aku ingin menuntaskan cita-cita itu tapi nyatanya memang tidak mudah. Ringan tapi rumit. Aku sanggup memikul galon daripada mengurai benang kusut. Ya, aku merinding. Bukan saja amanah yang kupersoalkan. Tapi kesendirian.

Lingkar Sastra ITB, bagiku adalah sebuah rumah. Kapan pun lelah, cukup baringkan tubuh di balik selimut kata-kata untuk istirah. Awalnya ini hanya kiasan. Tidak disangka, berkat kebaikan hati alumni Tim Beasiswa juga uluran tangan Ketua LS sebelumnya, kami bisa mengkonkretkan sebuah rumah. Meskipun cuma ngontrak di sebuah gedung yang sebentar lagi rubuh, sepatutnya LS sujud syukur. Ini keberuntungan. Skenario bagus dari Yang Maha Sastrawan. Beruntung bisa dihadapkan pada situasi sulit sebagaimana orang miskin yang lapar. Kau tahu, para sastrawan itu tidak miskin, mereka hanya anti kemapanan. Bahagia dalam kegelisahan. Cemas dalam kenyamanan. Kau bisa melihat bagaimana mereka lebih produktif di saat-saat lapar dan gelisah.

Mari kita pulang pada kiasan tentang rumah. Sesuai kesepakatan, LS punya rencana untuk tidak pernah memakai kunci ‘kaderisasi’. Belum pernah ada rumah tanpa kunci. Unik. Tapi ketika pintu terbuka seluas-luasnya, aku khawatir unit ini bukan lagi rumah, tapi malah jadi stasiun kereta api. Berbondong-bondong masuk, berbondong-bondong keluar. Sesudah itu aku hanya bisa menikmati lalu lalang orang. Sesudah itu lilinku pun padam.

Kau tahu, para pengarang kebanyakan jarang memperhatikan dirinya sendiri. Ia lebih memperhatikan tokoh rekaannya. Ia juga lebih sibuk menilai orang lain. Paling-paling ketika bergabung di sebuah komunitas, ia hanya ingin cari musuh, cari pembanding apakah karyanya tidak lebih buruk dari orang-orang. Aku bukan pengarang karena buku tunggalku belum pernah terbit. Tapi aku punya kecenderungan yang sama. Aku akan berkata jujur padamu. Aku senang ikut campur urusan orang. Diriku seolah-olah bukan urusanku. Padahal Tuhan menitipkan semua potensi ini biar hamba-Nya juga bisa menjaga diri.

Adalah anugerah tersendiri bagi seseorang yang sadar akan kesendiriannya. Kesadaran ini juga tidak serta merta dibisikkan peri. Sumbernya tentu dari ketakutan tadi, ada bayang-bayang kecemasan. Dengan kata lain hadirnya orang-orang baru yang bukan sekadar singgah ternyata menjadi berkah. Aku bersyukur beberapa orang sempat memberikan kritik yang membangun. Inilah puncak terimakasihku untuk orang-orang itu. Kebanyakan pemangku jabatan, apalagi yang mencintai sastra, tidak punya waktu untuk bercermin, menilai diri. Cermin itu justru ada di mata orang lain. Ketika ingin menjadi sosok yang otomatis upgrade, jadilah pemimpin. Ketika menjadi pemimpin, harus siap menerima feedback. Hei, sejak ada yang mengamati kesendirianku itu aku pun sadar kalau aku sebetulnya tidak sendiri. Mereka bagian dariku. Karena merekalah, aku sempat menulis lagi.

Seiring bagian-bagian itu tumbuh menjadi sebuah kebersamaan, lilin-lilin yang menginginkan terang tiba-tiba hadir, menumpas rasa takutku. Aku pernah di posisi mereka. Aku pernah senekat mereka. Masih TPB, merasa tidak punya kapasitas lebih untuk melompat terlalu tinggi atau tengadah memandang masa depan. Aku keluar sebentar dari rutinitas yang itu-itu melulu, menyisihkan sedikit saja dari waktungambis-ku untuk melawan arus. Percayalah, berenang sendirian saja bisa mencapai tepi, apalagi jika menyebrang bersama-sama dalam satu kapal.

Sisihkan sepersekian waktu dan kita akan mengarungi samudera metafora dengan riang gembira. Sebuah festival sastra di kampus ini akan hadir. METAFORIA. Euforia kata-kata, metafora kehidupan kita. Festival tersebut berupa Roadshow Muisi, Peluncuran Buku, Lomba Menulis Cerita, Pentas ITB Nyastra, Surga Baca, Kaos Tokoh Sastra, dsb (kurasa paragraf ini lebih mirip iklan baris). Dalam kemasan bagaimana pun, program bersama tidak akan terlaksana tanpa rencana. Rencana tidak akan terlaksana tanpa para perencana yang punya tujuan sama. Mungkin di malam hari selepas kuliah, kita bisa sama-sama menuntaskan rencana.

Berada di ruangan gelap lalu pergi atau berada di ruangan gelap lalu kaunyalakan cahaya lilinmu? Pilih saja mana yang kausuka. Aku sendiri berharap orang-orang itu pulang kemari, mungkin dengan menggandeng mesra saudara atau kekasih baru. Aku berharap lilin-lilin itu berkumpul lagi, lebih dan lebih banyak lagi. Lilin yang belum merasakan hangatnya nyala api. Lilin yang masih menyala dan akan mewariskan nyala itu kepada lilin-lilin yang lain di sini. Cahaya tidak pernah berkurang usai dibagikan. Rasa malu. Rasa asing. Rasa minder. Rasa bersalah. Rasa jengah. Rasa capek habis praktikum. Rasa tak dihargai. Rasa sakit hati. Biarlah semua itu terbakar oleh satu perasaan kangen. Kangen berbagi cahaya.

Salam sastra.

Semangat berjibaku dalam kata-kata.

 

Bandung, 25 Februari 2015

Tulisan ini juga diterbitkan di sini.