[Surat-surat Ismaila] #2 Melihat dengan Cara Lain

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Agustus 2016
Surat-surat Ismaila

Surat-surat Ismaila


Sekumpulan surat untuk Paman dan Bibi (Ust. Nanang Suryana dan Mimin Mintarsih) yang diarsipkan sesuai tanggal pengiriman.

Kategori Spiritual

4 K Hak Cipta Terlindungi
[Surat-surat Ismaila] #2 Melihat dengan Cara Lain

Bandung, 2 Agustus, 2016

Kepada Paman,

Nanang Suryana

 

Terima kasih sebelumnya kepada Bibi yang bersedia membacakan surat ini untuk Paman.

Hai, Paman, apa kabar? Apakah Paman masih kesulitan saat makan—memegang semangkuk sayur asam dengan kuah tumpah-tumpah seperti balita empat belas bulan?

Jangan tersinggung.

Sekali-kali Paman bisa bilang “Aaa!” saat mau makan, minta Bibi buat disuapi. Aku tahu bahwa dianggap lemah sangat sulit bagi lelaki. Tapi aku yakin Bibi tidak pernah menganggap Paman sebagai imam yang lemah, manja, atau kekanak-kanakan. Paman lebih kuat dari Superman. Sangat kuat. Bahkan saking kuatnya, Paman bisa mengangkat barbel sambil berguling. Aku ingat, tentu, Paman pernah mengembara keliling kampung seharian tanpa merasa lelah. Sebagaimana Ibrahim yang tidak kalah super, Paman telah dibimbing langit. Paman terbiasa menjadikan sapaan kerabat di sepanjang jalan sebagai tongkat.

Hanya saja Bibi akan merasa senang menyingkap rahasia bahwa dia adalah istri yang dibutuhkan, bahwa dia bisa jadi pendamping seseorang yang menolak kesendirian, bahwa dia bisa jadi amat sangat bangga melihat dirinya sebagai motivasi terbesar seorang manusia super. Nah. Buktikanlah bahwa kekuatan justru bisa runtuh dengan kelembutan, Paman, bahwa harga diri bisa mati karena cinta!

Paman, ajaklah Bibi duduk cantik saat makan seperti menikmati sajian di restoran tradisional, jangan lupa tersenyum (biar nanti ada yang foto). Kalian duduk lesehan saja karena seperangkat meja makan tidak muat di situ. Selesai makan yang Paman syukuri dengan doa dan sendawa dan kemudian kentut yang bunyinya entah kenapa mirip speaker masjid, mintalah Bibi untuk mengantarmu berwudhu, berangkat ke rumah Allah, salat berjamaah dan bertausiah di sana, membagikan kekuatan super kepada tamu Allah yang lain. Sekali-kali Bibi bisa meninggalkan warung dan melihat betapa besarnya jamaahmu.

Tidak seperti tokoh-tokoh suci yang memelihara janggut dan mengenakan jubah putih panjang, Paman justru bangga berpenampilan sebagai jagoan Sunda kiwari, bahkan di masjid sekali pun. Paman kenakan iket dan busana pangsi seakan-akan hendak memamerkan seribu jurus pencak silat. Seperti juga seorang dalang, Paman mainkan gugunungan sambil bercerita tentang wayang kepada barisan keponakanmu. Kadang peralatan pentas itu mencolok mataku. Katamu, aku mirip Srikandi. Lalu aku bertanya kenapa Paman ‘berbeda’ dan kau berkata, “Kita ini muslim yang sedang tinggal di Indonesia, bukan di Arab.”

Agak mengherankan awalnya menyadari bahwa setiap pulang kampung, saat Bibi buka warung, Paman semakin tidak mengenali aku sebagai keponakanmu dan bertanya, “Mau beli apa?” padahal aku hendak mencium punggung tanganmu. Kau juga sering mengajukan pertanyaan asing, “Siapa?” padahal aku sudah satu jengkal jaraknya denganmu. Kau menunggu jawaban tanpa berkedip dan kepalamu menengok pada sosok yang tidak kulihat sama sekali. “Srikandi,” jawabku lunglai. Paman langsung terperanjat dan menanyai aku macam-macam terutama soal kehidupan kampus, medan perangku. Lucunya, kau bahkan tidak bisa membedakan antara calon desainer grafis dan tukang sablon.

Segundukan barang dagangan membuat tempat tinggal Paman semakin sesak sampai siapa pun dipastikan tidak akan menemukan ruang tamu untuk duduk. Aku yang datang petang itu saja dipersilakan untuk duduk di antara kemasan Frutang dan seringkali tidak fokus menonton tivi karena diteror pembeli. Seharusnya uang belanja bisa membuat rumah, bekas mendiang Nenek itu, semakin besar. Tapi Paman dan Bibi hanya memilih merenovasi toilet, mungkin karena tabungan kalian hanya cukup untuk merenovasi toilet. Dan, di atas semua itu, Paman dan Bibi malah memberiku uang jajan untuk beli cilok dan batagor. Dikiranya aku masih anak sekolah. Padahal aku lebih suka jajan telor gulung daripada cilok dan batagor.

Setelah kacamatamu tidak lagi berfungsi, aku tahu, perabotan rumah tangga yang tertata dan berhimpitan itu bisa jadi penolong Paman untuk meraba-raba jalan sampai ke toilet. Kuharap Paman juga bisa meraba-raba jalan sampai ke surga.

Aku melihat betapa bingung sekaligus gundah Bibi akhir-akhir ini menghadapi suami yang lambat laun buram pandangannya. Ada semacam kabut di lensa mata Paman, kata Bibi kepadaku, dan untuk mengusirnya butuh tangan ahli bedah yang harganya berpuluh-puluh juta. Bibi menghibur Paman dengan menghadiahkan obat tetes mata dari etalase warung di hari yang agak penting: ulangtahunmu. Siapa tahu mujarab, katanya. Paling tidak satu tetesan bisa menjaga Paman dari marabahaya kelilipan.

Aku tahu Bibi sendiri sesungguhnya tidak yakin soal obat tetes mata.

Jangan khawatir. Aku akan bertanya-tanya tentang operasi katarak gratis di Bandung meskipun setahuku jarang sekali ada layanan gratis di zaman yang serba transaksional begini. Kalau tidak, kita bisa menghimpun dana, kataku kepada Bibi dengan semangat berapi-api. Astaga! Mataku jadi ikutan pedih melihat Bibi cengengesan begitu layaknya Hajar menemukan air zamzam. Langit-langit di rumahmu mendadak mendung, Paman. Dan hujan menggerimis rintik-rintik dari kedua mata Bibi waktu itu. Tangisnya lalu tumpah tak terbendung. Andai Paman melihatnya. Paman bisa-bisa hanyut diseret sampai Sungai Nil akibat derasnya air mata itu.

"Ada maksud besar! Ada maksud besar!" kau mengoceh jika Bibi mulai kesal melihat kau tersandung kaleng kerupuk.

Paman, di sekelilingku banyak orang yang merasa telah jadi manusia super, seolah-olah mereka bisa melihat segalanya, seolah-olah mata mereka berjumlah delapan atau lebih. Mereka tidak pernah puas padahal mereka hanyalah sebagian kecil dari semesta. Deretan panjang ambisi pribadi seolah-olah mengaburkan pandangan mereka untuk melihat perintilan molekul yang membentuk bulu-bulu halus di kulitnya. Kepada merekalah awalnya aku akan meminta pertolongan. Tapi mereka terlalu sibuk mengukir prestasi yang melambungkan dirinya ke langit dan jauh dari kita—makhluk bumi.

Kau bisa melihat, Paman, kau bisa melihat dengan cara yang lain. Banyak orang yang berpandangan baik tapi malah terjebak dalam dirinya sendiri, tersesat di jalan berliku lagi sukar yang mereka buat-buat sendiri, di labirin mimpi sesaat yang tidak akan pernah sampai.

Kita hanya perlu meniti jalan pulang, Paman. Bersama-sama. Kekuatan super tercipta justru ketika kita bersama-sama.

 

Tertanda,

Ismaila Suryani