[Surat-surat Ismaila] #1 Perihal Kepedihan

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Juli 2016
Surat-surat Ismaila

Surat-surat Ismaila


Sekumpulan surat untuk Paman dan Bibi (Ust. Nanang Suryana dan Mimin Mintarsih) yang diarsipkan sesuai tanggal pengiriman.

Kategori Spiritual

4 K Hak Cipta Terlindungi
[Surat-surat Ismaila] #1 Perihal Kepedihan

 

Bandung, 18 Juli 2016

 

Halo, Bi! Mungkin Bibi kaget menerima surat dari tukang pos yang datang tanpa kabar. Bibi pasti lebih aneh lagi membaca nama lengkap pengirim di amplop cokelat. "Ismaila Suryani? Siapa?"

Di rumah Bibi yang amat horor dan mencekam, Bibi hanya bisa membuka suratnya dengan gemetaran. Bukan, Bi. Ismaila Suryani bukan penagih tunggakan listrik. Itu nama karangan. Aku suka mengarang-ngarang. Aku juga suka membuat orang lain penasaran, membuat orang berpenyakit jantung seketika pingsan.

Ini Fuji, keponakanmu. Iya, ini kali pertama semasa hidup aku sempat mengirim surat kepadamu. Tidak usah terharu. Bibi mendengar desas-desus tetangga di kampung kita bahwa keponakanmu sekarang sudah jadi penulis. Dan, sejujurnya, aku tidak pernah merasa jadi penulis. Hanya dengan menulis surat kepadamu inilah, aku baru merasa bahwa aku benar-benar seorang penulis.

Aku pikir tidak penting mengetahui alasan kenapa aku tiba-tiba mengirim paket mushaf yang memiliki huruf Arab serta terjemahan latin besar-besar bersamaan dengan datangnya surat ini. Tidak penting mengetahui alasan kenapa aku tiba-tiba jadi agak cengeng mengingat tahi lalat di bibirmu yang dipercaya sebagai tombol remot yang membuatmu cerewet. Tidak begitu penting pula mengetahui alasan kenapa aku tiba-tiba ingin menginap lagi di rumahmu barang semalam, bercakap-cakap denganmu tentang merek-merek sabun.

Pada akhirnya aku hanya bisa bicara lewat sepucuk surat, Bi. Membaca kata 'surat', aku takut, kepala Bibi jadi runyam seperti mendengar laporan perpajakan negara atau pembacaan undang-undang dasar 1945. Bibi tidak terbiasa memegang surat sejak lulus dari SMA, kan? Apalagi kalau bukan bon warung yang Bibi baca? Kata 'surat' memang terdengar penting. Penting sekali. Sepenting kata-kata Raden Ajeng Kartini pada Nyonya Abendanon, "Bagi saya hanya ada dua macam keningratan: keningratan pikiran dan keningratan budi."

"Sang Pejuang Emansipasi ini mau apa? Kenapa tidak nelpon saja? Kan sekarang ada smartphone canggih abad 21!" Mungkin Bibi akan bertanya seperti itu dalam hati, cukup dalam hati, karena tidak ada yang bisa Bibi tanya selain dua kucing kampung yang doyan kawin itu.

Bibi, keponakanmu ini penulis, bukan operator yang suka telemarketing. Dan yang ingin aku bicarakan bukan perihal emansipasi. Bukan juga soal polis asuransi.

Pada saat kita telponan, mungkin Bibi akan terganggu karena banyak orang yang berdatangan ke warung Bibi cuma buat beli Djarum Super atau jarum pentul.

Bibi bisa saja mengapit HP di dalam kerudung. Tapi HP-ku sangat parah. Dia serakah dan tidak punya sopan santun. Makan pulsa sampai ratusan ribu setiap bulan dan hanya bisa gratis nelpon lewat jam 12 malam. Aku tidak mau dia makan pulsa hanya untuk mendengar Bibi menghitung uang kembalian di warung.

Tapi dengan menerima suratku, Bibi bisa mengambil dua pilihan: 1) menaruhnya terlebih dulu lalu melayani pembeli, atau 2) tutup warung dan mengambil tisu.

Bibi pasti tidak kuat membaca isi suratku. Karena, ketahuilah, suratku lebih menyedihkan dari resep obat mencret yang ditulis dokter klinik.

Ngomong-ngomong soal mencret, sebenarnya aku sedang tidak enak perut sewaktu terakhir kali menelepon Bibi tapi bibirku hanya mampu mengucap alhamdulillah. Itu yang sering diajarkan Paman. Dalam keadaan sakit pun, manusia mesti bersyukur. Padahal saat itu perutku sedang mulas luar biasa. Setelah diselediki, ada juga penyebabnya. Kalau tidak karena cuaca di Bandung yang ekstrem, berarti karena ulen (nasi ketan, red). Mudik kemarin, aku kebanyakan makan ulen.

Terawangan Paman soal aku yang sakit setelah lebaran ternyata benar terjadi. Selama seminggu, aku diare akut.

Paman—suamimu, sungguh punya indera keenam, Bi, mungkin dia dibimbing langit untuk mengetahui rahasia Tuhan. Seperti halnya Bapak Para Nabi. Aku jadi teringat cerita Ibrahim, cerita yang sering berulang-ulang Paman ajarkan pada jamaahnya.

Tersebutlah bahwa tidak ada lagi harapan bagi Ibrahim untuk memiliki anak. Pada suatu malam ia keluar dari tenda dan mendengar suara dahsyat yang terekam dalam telinganya, "Sekarang, pandanglah langit dan hitunglah bintang-bintang di sana bila engkau sanggup." Ibrahim pun menatap bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya itu lalu sebuah suara kembali berkata, "Sebanyak itulah anak keturunanmu nanti."

Sarah sudah tidak lagi muda saat itu dan hampir putus asa. Tapi Sarah menganggap putera Hajar yang bernama Ismail sebagai keturunannya sebelum ia benar-benar memiliki keturunan. Ibrahim menamai bayi itu Ismail yang berarti Tuhan telah mendengar.

Lalu, dari rahim Sarah, lahirlah Ishaq yang artinya tertawa.

Tuhan memang agak brengsek, Bi. Dia membikin skenario menakjubkan dengan tempo yang seakan-akan lambat untuk menjadikan hambaNya memohon-mohon sambil menangis baru kemudian membiarkan mereka ketawa ngakak. Karena hanya kepada-Nyalah kita menyembah dan hanya kepada-Nyalah kita memohon pertolongan. Memohon untuk ditunjuki jalan.

Aku melihat betapa sulit menerima kenyataan bahwa Tuhan belum bersedia mengaruniakan seorang anak pun selama sebelas tahun sejak Paman dan Bibi menikah. Sementara pipi-pipi Bibi mulai kendur untuk jadi seorang Ibu, dan Paman sudah tidak bisa memakai kacamata. Bukan karena pecah atau patah bingkainya, tetapi karena memang kacamata itu tidak akan berguna untuk seseorang yang menderita katarak.

Alangkah besar ketabahan Bibi. Sehari sebelum aku pergi, bahu Bibi terguncang hebat saat bercerita tentang betapa ingin Bibi memiliki anak setelah keponakan-keponakanmu lebih dulu memiliki anak. Barangkali bukan waktunya. Bukan waktunya. Banyak pasangan yang disegerakan memiliki anak tetapi sayangnya anak itu malah durhaka karena ketidaksiapan orangtuanya membina. Bibi tidak mau punya anak calon ahli neraka, kan? Tangis Bibi semakin menjadi-jadi. Aku belum pernah melihat hidup Bibi sedemikian pedih sepeninggalan Nenek. Tapi aku melihat bahu itu sudah semakin kuat. Dan Tuhan sedang mempersiapkan hadiah.

Barangkali akulah salah satu hadiah itu. Aku yang pernah Bibi asuh bertahun-tahun lamanya sewaktu Mama bekerja di luar negeri. Aku, seseorang yang merindukan tahi lalatmu.

'Adopsi' aku sebagai anakmu, Bi. Panggil aku Ismaila!

Sebab, tanpa Bibi duga, ada banyak anak yang ingin jadi Ismail bagimu. Seperti keponakan-keponakanmu yang bagai gugusan bintang tak berjumlah. Rangkul mereka dan berikan senyum yang manis. Barangkali dengan begitu, Tuhan akan memberikan Ishaq atau Ishaqa untukmu biar Bibi selalu ketawa.

 

Tertanda,

Ismaila Suryani

 

---
Surat-surat Ismaila juga diterbitkan di sini.


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Tulisan yang luar biasa. Surat singkat yang cukup menghadirkan rasa penasaran dari awal hingga akhir, tanda tanya yang uniknya diwakili oleh penulisnya sendiri melalui si tokoh, Ismaila Suryani. Teknik penceritaan yang memadukan keseharian dan kebaikan si bibi selama ini dengan tokoh Ismaila sendiri menghadirkan kisah yang bertumpuk, mesti dibaca agak pelan biar menebak arah cerpen ini hendak kemana. Suara penulis begitu nyaring di sini. Ada aroma kebingungan dan ?protes? terhadap Tuhan, terutama saat menyinggung kisah nabi Ibrahim as. Patut ditunggu surat Ismaila berikutnya, Kartini. Ingin tahu akhir kisah ?adopsi? ini seperti apa nantinya.

    • Lihat 1 Respon

  • Simfoni Negeri
    Simfoni Negeri
    1 tahun yang lalu.
    siapa Emak, siapa Mama?

    • Lihat 1 Respon