Harga Sebuah Pengampunan

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Inspiratif
dipublikasikan 07 Juli 2016
Harga Sebuah Pengampunan

“Ampuni aku, Ya Allah!” bisik sepupu saya yang masih kelas 4 SD sambil membetulkan letak kopiah.

“Punya salah apa kamu sama Allah?”

“Tadi lupa gak baca doa sebelum makan ketupat.”

Saya tersenyum menyaksikan sepupu saya yang bercita-cita jadi orang soleh itu. Allah Maha Pengampun, kata saya kepadanya. Rona wajah sepupu saya selalu berubah setiap saya menceritakan tentang neraka. Allah Maha Pengampun, kali ini saya berkata pada diri sendiri untuk meyakinkan diri bahwa istigfar saja cukup untuk menghapus dosa. Allah Maha Pengampun. Itu alasan saya untuk memaklumi diri saya jika lalai dalam beribadah.

“Aku pengen idul fitri setiap hari,” kata sepupu saya sambil membusungkan dada. “Makan banyak. Dapet uang jajan juga banyak.”

“Idul fitri bakalan ada kalau kamu tamat puasa. Itu artinya kamu menang melawan syaitonirojim.”

“Aku kan cuma batal dua kali. Masa gak boleh idul fitri?”

“Boleh. Asal jangan makan banyak-banyak lagi. Dasar perut beduk!”

Selepas shalat ied, saya bertanya-tanya, sudahkah saya meraih kemenangan sementara saya masih dikalahkan oleh hasrat untuk pamer baju lebaran? Sudahkah saya meraih kemenangan sementara permohonan maaf masih terasa hambar di lidah dan penyakit hati masih bersitahan? Kecewa, benci, juga cinta yang berlebihan rasanya malah membinasakan diri sendiri.

Dan, sudahkah saya meraih kemenangan sementara nama Allah sering saya lupakan? Bahkan per dua puluh empat jam, saya hanya punya waktu dua puluh lima menit untuk mengingat Allah yang memberi saya nafas dua puluh tiga tahun!

Seorang khatib di hadapan saya menampar saya dengan perkataannya tentang pulang kampung.

Mudik kemarin, dalam keadaan macet pun, kita masih bisa berbahagia. Mudik yang sebenarnya mungkin kita harus bersedih. Di kampung halaman, kita masih bisa berbahagia membagi-bagikan tunjangan hari raya selepas bekerja di kota. Di kampung halaman yang sebenarnya, kita mesti bersedih membagi-bagikan amalan kita kepada orang-orang yang pernah kita sakiti di dunia.

Saya ngeri membayangkan berapa banyak orang yang kecewa gara-gara saya, berapa banyak orang yang mengutuk saya diam-diam. Alangkah beratnya itu semua untuk dibawa pulang ke tempat yang jauh. Kita tahu, untuk menuju ke tempat itu, kita mesti melewati terminal demi terminal.

Hari ini saya berdiri di atas salah satu terminal yang mencekam. Sebuah makam. Nenek saya sudah berangkat melewati terminal itu sejak beberapa bulan yang lalu. Saya berdoa untuk keselamatannya selama dia pergi menuju Barzah sebagaimana dia selalu mendoakan keselamatan saya setiap saya berangkat ke Bandung.

Saya memastikan diri saya layak untuk diampuni semua orang, mulai detik ini sampai sore nanti. Entah hari-hari lainnya. Barangkali dengan menebar kebaikan, saya bisa diampuni. Barangkali dengan mengabulkan keinginan mereka, saya bebas dari tuduhan anak durhaka.

Saya berusaha memahami apa yang paling diinginkan kedua orang tua saya, kemudian saudara-saudara, kemudian para tetangga. Sederhana. Mereka tidak perlu saya jadi publik figur atau bos eksekutif sebuah perusahaan atau mahasiswa berprestasi. Mereka hanya ingin dibagi.

Sampai di sini, saya telah menganggap diri saya terlalu bebal karena belum bisa membagikan apa-apa selain selembar uang lima ribu rupiah untuk sepupu saya dan tiga toples kue kering untuk saudara-saudara lainnya.

Saya lalu membisu di tengah percakapan biasa sebuah keluarga besar. Tentang sekolah dan pekerjaan. Tentang penghasilan. Tentang pasangan. Tentang tetangga yang sudah sekolah tinggi, punya pekerjaan, penghasilan, dan pasangan.

Mereka tidak tahu, tuntutan-tuntutan seperti itu kadang membuat saya sangat ingin menjadi penjahat. Melakoni pekerjaan pintas. Tapi berhasil saya tahan, untuk sementara ini.

Saya memang aneh, rentan berbuat salah, dan suka berfantasi.

Seandainya saya betul-betul jadi penjahat lalu tertangkap polisi lalu bertahun-tahun mendekam di balik jeruji, saya akan tersungkur. Itu barangkali jadi titik tolak saya kembali kepada Tuhan! Saya tidak perlu mengenal siapa-siapa di sana. Seorang narapidana bukan memperkenalkan diri dengan sebuah nama melainkan nomor urut tahanan. Saya tidak perlu berurusan lebih banyak dengan mereka selain perkara antrean.

Tapi sekali lagi, itu harus saya pertimbangan mengingat saya tidak hidup sendirian. Saya hidup bersama orang-orang yang secara biologis mengakui saya sebagai keluarga, dan secara lokalitas mengakui saya sebagai teman. Seandainya saya betul-betul jadi penjahat, apakah mereka masih menganggap saya ada atau minimal pernah ada? Saya ragu.

“Teteh, Teteh, ceritain kisah Nabi Yunus!” sepupu saya menagih cerita saat saya hendak bermimpi bagaimana menjadi penjahat.

“Yang mana?”

“Yang dimakan ikan paus.”

Saya lalu bercerita dengan antusias untuk yang ke tiga belas kalinya sambil menarik selimut. “Kenapa Nabi Yunus dimakan ikan paus?” tanya saya sebelum anak kecil itu mendengkur.

“Dihukum ya sama Allah?”

“Bukan. Justru diampuni.”

Mata sepupu saya sudah terpejam saat saya bercerita kelanjutan kisahnya.

Kenapa kita harus takut mendapat siksa di muka bumi jika itu kemudian membersihkan kita? Kenapa kita harus berduka saat dihadapkan dengan ujian padahal itu akan mendewasakan kita.

Kesalahan ditambah hukuman sama dengan kebenaran, kan? Itu yang saya yakini. Maka, teramat bahagia sebenarnya orang yang dihukum karena berdosa. Teramat sedih saya saat mengingat dalam pekerjaan saya mungkin terdapat hak orang lain yang tak sengaja saya hakimi. Kemudian saya hanya menghabiskan waktu untuk menilai dan mencemooh orang lain. Sia-sia sekali.

Inilah yang membuat saya lelah berurusan dengan sesama manusia. Saya takut pada akhirnya sebuah pertemuan akan menyakiti satu sama lain.

Di Bandung, sempat saya mengurung diri selama berhari-hari dan hanya menatap kosong karya-karya saya yang tidak pernah selesai dan kadang-kadang mengobrol dengan kecoa. Teman saya mengetuk pintu tapi tidak saya sahut. Ia lalu menjauhi kamar kost saya dan berteriak terhadap yang lain, “Dia sedang bermeditasi dan tidak mau diganggu.”

Sejujurnya saya butuh teman, satu atau dua orang untuk saya maki-maki. Saya merindukan suara sepupu saya yang sedang menghafal surat Yasin. Saya kangen berat mendengar adu mulut adik-adik saya yang rebutan remote televisi. Saya kangen berat dengan masakan ibu saya. Saya kangen berat ditatap mata ayah saya yang nanar karena jarang tidur.

Kejenuhan sesaat itu saya tepis dengan memutar beberapa film.

A Girl in The River adalah salah satu film dokumenter sarat perenungan yang saya tonton kala itu, kisah nyata seorang perempuan yang ditembak oleh ayah kandungnya sendiri, dijejalkan ke dalam tas besar, lalu dilempar ke sungai. Penyebabnya membuat saya mengepalkan tinju, antara kesal dan kasihan: perempuan itu menikah dengan lelaki yang dicintainya tanpa restu orang tua.

Tapi, siapa sangka, dia masih bisa hidup karena peluru yang meleset di pelipis hanya merobek wajahnya sampai pipi. Tubuhnya masih bisa merangkak keluar dari dalam tas karena kehendak Allah. Ayahnya yang gila hormat itu diseret ke penjara dan mengaku kalau dirinya tidak menyesal telah melakukan percobaan pembunuhan terhadap anaknya. “Dia tidak tahu malu,” katanya geram.

Sementara perempuan itu rela membangkang ayahnya demi cinta. Perempuan itu menerima lamaran lelaki yang bukan dari kalangan terpandang. Di desanya, katanya, anak yang tidak patuh terhadap orang tua dibenarkan untuk dibunuh.

Saya menangkap dua pihak yang sama-sama ingin menang tapi sudah terkalahkan sejak awal. Dua pihak itu saling menuduh tapi tidak pernah berkaca pada dirinya sendiri.

Akhirnya, berkat dorongan para tetua yang memegang teguh prinsip kehormatan, perempuan itu mencabut tuntutannya tapi ia berjanji tidak akan pernah mengampuni ayahnya seumur hidupnya.

Memang, jika dihitung, kata maaf itu mahal. Mahal sekali. Tapi jika harganya kemahalan, siapa yang sanggup beli? Jika kita mampu memberi maaf, berarti kita sangatlah kaya dan dermawan. Tuhan pun Maha Pemurah. Dan semahal-mahalnya kita menaikkan tarif maaf, kita kan sudah menjual diri kita kepada Tuhan untuk ditukar dengan surga. Benar?

Sepulang dari makam, saya mengetuk pintu dari rumah ke rumah dan bertanya tentang kabar mereka, para penghuninya. Saya begitu takut ada pintu yang saya lewati. Saya melihat kebahagiaan yang sederhana. Bahwa mereka sedang menunggu tamu-tamu yang bukan sekadar mengucap salam atau berjabat tangan atau mencicipi kue atau meratap-ratapi orang yang meninggal.

Lebih dari itu, mereka butuh didengarkan.

Seorang teman yang baru melahirkan memamerkan anaknya saat saya berkunjung ke rumahnya. Dan saya tiba-tiba terpekik, “Kamu tahu, hari ini kita akan seperti bayi yang baru lahir?”

“Itu tandanya kita masih diberi waktu untuk memohon ampun dan berserah diri.”

Seorang muslim adalah seorang yang berserah diri.

Menginjak dewasa, saya baru memahami hakikat itu dengan segala ujian yang datang kepada saya. Tuhan menjadikan ujian itu pemisah untuk membedakan mana makluk-Nya yang berserah diri dan mana yang mengagungkan diri. Maka, Ya Allah, saya ingin berserah diri pada-Mu dan melepaskan diri dari apa pun selain-Mu. Karena dunia, semata-mata adalah kendaraan, bukan tujuan.

Dunia, semata-mata adalah kendaraan, bukan tujuan.

 

Cianjur, 2016

 

Gambar dari sini.