Mendesain Jodoh Tanpa Kecuali

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Juni 2016
Mendesain Jodoh Tanpa Kecuali

Sahabat, semua makhluk diciptakan dalam keadaan berpasang-pasangan. Kita sepakat. Pasangan tentu datang dari dua arah. Di situlah muncul perbedaan. Tapi mereka yang berseberangan bukan berarti tidak pernah bertemu.

Siang dan malam bertemu di suatu waktu bernama fajar. Laki-laki dan perempuan, meskipun harus terpisah jurang, masih bisa bertemu di sebuah tempat bernama jembatan, bukan? Lemah dan kuat, halus dan kasar, lunak dan keras, besar dan kecil, semua kata sifat yang bertentangan akan selalu beriringan dalam perbandingan—bukan dalam pertandingan.

Begitu juga kita berdua, Sahabat. Meski sangat bertolak-belakang, kita masih bisa bergandengan tangan dalam sebuah ikatan persahabatan.

Adalah perkataan kamu yang membuat saya tidak bisa tidur semalaman. Perkataan yang menyakitkan. Jika saya pikir ulang, hal itu tentu sangat amat sepele. Apalagi bagimu. Tapi mengertilah, pekerjaan saya memang selalu sepele.

Tahu soal tipografi? Pekerjaan merancang huruf-huruf. Pernah dengar soal puisi? Pekerjaan menyusun kata-kata. Saya bekerja untuk semua itu, untuk pekerjaan-pekerjaan yang tampaknya tidak seberapa di mata banyak orang. Tapi itu penting bagi saya. Penting bagi saya mempelajarinya. Dan butuh bertahun-tahun yang memuakkan untuk mempelajari itu semua.

Tuhan menyukai keindahan, saya percaya, betul-betul percaya. Dia adalah Yang Maha Melankolik. Kalimat-kalimat yang diwahyukan-Nya super indah. Saya bahkan pernah ingin menyainginya. Tapi sayangnya, pekerjaan-pekerjaan itulah yang membuat kadar sensitivitas perasaan saya berlebihan. Begitu pula semalam. Saya merasa sudah mati terbunuh. Sedangkan kamu barangkali tidak menyadari sedang memainkan pedang.

Saya jadi teringat pada cerita Nenek tentang musang yang tidak pandai memasak.

Suatu hari musang ingin menjamu para tamunya dengan sup makaroni. Setelah sup itu dihidangkan, tikus melahapnya lalu mengatakan, “Ini lezat!” Tentu saja tikus ingin menghargai musang yang sudah bersusah payah mempersiapkan jamuan meski ia sendiri harus menahan muntah. Macan yang datang terlambat mencicipinya lalu mengatakan, “Ini busuk!” Tentu saja hal tersebut menjadi cambukan bagi musang untuk memperbaiki resepnya.

Tidak ada yang salah dari tikus maupun macan.

Kejujuran yang menyakitkan kadang dibutuhkan untuk menempa mental seseorang yang siap. Kebohongan yang membahagiakan juga dibutuhkan sesekali untuk mengangkat seseorang yang terpuruk. Dan yang lebih penting dari itu semua adalah kita mampu menyesuaikan diri, menjodohkan diri dengan siapa saja.

Saya kemudian tersadar bahwa selama ini saya sangat hina di mata Tuhan. Seakan pengemis yang tidak mau ditinggikan derajatnya. Setiap hari saya berdoa, “Ya Allah, kasihanilah saya.” Sekarang saya ingin menggantinya menjadi, “Ya Allah, saya sudah bekerja sebaik yang saya bisa.”

Saya memang bekerja, bekerja dalam mengikis rasa curiga, memupus rasa takut pada kehilangan. Terutama terhadapmu. Sebaik yang saya bisa.

Hari ini kita menangis sehabis menyadari betapa bodoh diri kita. Bersama-sama kita bertukar posisi dan beginilah jadinya. Saya sudah berterus terang bahwa saya tidak menyukai sikapmu. Padahal saya bukan orang yang jujur. Kamu tiba-tiba mundur dan tidak mau bicara. Padahal kamu bukan orang yang mudah menyerah.

Baiklah, dulu, saya memang cengeng dan kamu pemarah. Saya dapat melihat dengan jelas semua perbedaan emosi itu. Saya akui, jika saya sudah menganggap seseorang sahabat, saya takut sekali dikecewakan. Dan kamu bilang, jika kamu sudah menganggap seseorang sahabat, kamu berani membentaknya. Saya barangkali terlalu lembut. Dan kamu barangkali terlalu tegas. Saya menuntut kamu berubah jadi seperti diri saya. Kamu pun begitu.

Tapi kita sama-sama egois, sama-sama menuntut kesempurnaan. Kita lupa bahwa tidak ada manusia yang sempurna, melainkan berusaha sempurna. Bahkan seorang nabi pun tidak luput dari dosa. Kita hanya perlu saling memahami.

Sedikit saja yang saya pahami tentangmu. Saya suka sastra. Kamu suka musik. Saya suka menulis. Kamu suka menyanyi. Lalu kenapa tidak kita sekali-kali berkolaborasi? Kenapa kita mesti seakan-akan berkompetisi? Barangkali begitu gambaran kita yang ingin menjadi mesin perubahan sikap bagi satu sama lain, memakan satu sama lain. Padahal hidup kita bukan ajang bakat.

Saya jadi teringat dua sahabat legendaris, Umar dan Abu Bakr. Saat Rasulullah wafat, Umar marah dan menghunuskan pedang tetapi Abu Bakr pergi ke belakang untuk menangis. Dalam perbedaan sifat yang sangat mencolok itu, mereka selalu akur dan memiliki peran masing-masing. Abu Bakr dengan kelembutannya mencetak kader-kader yang setia. Umar dengan ketegasannya berhasil memimpin dua pertiga dunia.

Sahabat, kisah orang-orang terdahulu lebih berharga dari mata kuliah wajib. Itu pun kalau kita bersedia belajar dan mengambil pelajaran.

Lihat, Sahabat. Kenapa jari-jari tangan semua orang memiliki celah? Apalagi kalau bukan untuk saling menggamit satu sama lain?

Saya jadi bertanya-tanya, kenapa saya harus selalu merasa cocok denganmu sedangkan dengan yang lain tidak. Jika saya jadi kamu, saya akan berbangga mendapat hak istimewa dan hati yang utuh. Dan, jika kamu adalah kamu, kamu pasti bersedih sekaligus risih melihat saya bergantung hanya kepadamu.

Saya merasa tidak sanggup untuk membagi-bagikan hati saya kepada banyak orang. Saya terbuka untuk menerima siapa saja tapi sialnya saya hanya menganggap satu yang spesial. Maka, maafkan saya yang sering mencari perhatianmu dengan berlari ke luar pintu. Saya juga tidak harus cemburu jika kamu sedang menebar cinta pada semua orang.

Saya lalu mencari-cari cerita tentang sahabat. Barangkali bisa sedikit mengobati kegalauan saya.

Abdullah bin Rawahah, disebutkan dalam sebuah buku, saat ditunjuk sebagai panglima perang pernah berkata dalam hatinya, “Sanggupkah saya?” Hanya karena terbersit keputusasaan, istananya miring di surga.

Tidak perlu kita mendahului Allah. Hidup memang penuh kejutan.

Kita selalu memaksakan kehendak kita, keinginan kita kepada sesama untuk menjadi seperti kita. Tapi kita tidak sanggup untuk menyesuaikan keadaan. Padahal serasi tidak pernah sama persis, tapi berbeda yang saling melengkapi. Seumpama anak kunci dan lubang pintu. Seumpama kaki dan sepatu. Seumpama saya dan kamu.

Dan sebuah pertemuan kadang membuat kita bergesekan jadi api, bersinggungan sampai pecah. Itu tandanya kita sudah terlalu dekat, Sahabat. Tidak usah menyalahkan siapa-siapa. Kita selalu ingat, Tuhan Maha Pencemburu. Itu pasti ulah-Nya. Tentu sebagai ujian kedewasaan bagi manusia-manusia yang pantas dewasa.

Sahabat, tahukah kamu, saya seringkali dibuat jengkel dengan pertanyaan seputar jodoh. Pulang ke kampung halaman, banyak yang bertanya, “Mana jodohmu?”

Sekarang saya ingin katakan pada dunia bahwa jodoh bagi saya lebih dari sekadar perkara pertemuan. Jodoh adalah sahabat. Dan sahabat adalah siapa saja yang bisa saya temui, siapa saja yang bisa saya bagikan inspirasi melalui cerita-cerita, mimpi-mimpi, dan segala hal terbaik yang saya punya.

Lagipula saya hanyalah tembikar yang mudah dibentuk, terserah apakah mau jadi guci atau gelas. Terserah mereka yang menjadi tangan-tangan itu, sahabat-sahabat itu. Ada sahabat yang halus. Ada sahabat yang kasar. Saya tidak peduli. Saya tingal beradaptasi. Bukan upaya  yang mudah memang menjadi seperti apa yang mereka harapkan.

Mengertilah, Sahabat, jika saya tiba-tiba menghilang dari pandanganmu. Saya sedang mencoba menghadapi semua orang sebagai sahabat. Kamu tahu, ada berapa banyak orang yang membutuhkan bahu saya saat menangis? Ada berapa banyak orang yang memohon apresiasi saya setelah berkarya? Itulah jodoh saya. Siapa saja, apa saja, dalam kondisi bagaimana saja.

Dan kepada siapa saja yang bertanya perihal jodoh telah saya katakan, “Jodoh saya itu kamu atau engkau atau Anda atau mau disebut apa dirimu? Sebab dalam kamus jodoh saya, tidak ada kata kecuali.”

“Saya jodohmu?”

“Tidak ada kata kecuali,” ulang saya sambil tersenyum lalu berbisik di telinganya. “Maka, jangan terlalu percaya diri. Kamu bukan satu-satunya.”

 

Bandung, 2016

 

Ilustrasi: Fantastical Doodle dari Sarah Horne.


  • Nadya Myrilla
    Nadya Myrilla
    1 tahun yang lalu.
    i like your notes so much!!! its shown that when you see something, its not by your eyes, but you see it by your soul which made from Allah

    And i agree with you that we have a lot of best friend in the whole world. Because the meaning of best friend is someone who need the sincere from our heart.