Maaf, Aku Selingkuh

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Juni 2016
Maaf, Aku Selingkuh

Aku menulis catatan dengan judul mengharukan ini tepat setelah aku mengusirmu. Kau pria berkemeja biru, datang dari jauh, jauh, jauh jarak maupun waktu. Sudah tiga-empat kali (kalau tidak salah) kau singgah selepas lebaran. Dan terakhir, baiklah, barangkali benar kau sudah mempersiapkan pipimu untuk ditampar. Belakangan kau sadar kalau ogahku desahku diamku lebih melukai daripada tamparan. Lalu kau sukses menyandang gelar ‘mantan pacar’. Selamat! Tapi memang sejak kapan kita berpacaran? Aku kok lupa.

Duh, maaf, aku memang kejam. Ini yang berkali-kali aku katakan padamu. Aku bukan orang baik dan pertemuan kita juga bukan di saat yang baik. Kau pun paham, aku sedang tidak ingin diganggu. Aku malas menerima telepon dengan basa-basi yang membosankan, bertukar pesan singkat melulu padahal kesibukanku tidak hanya itu. Kau pun paham bagaimana posisiku. Aku tidak pernah menabung rindu untukmu. Duh, maaf, aku memang kejam.

Tapi tidak mungkin seseorang kejam tanpa alasan, kan? Kuakui sikapku memang sungguh sangat keterlaluan. Soal itu, maafkan. Aku enggan memberikan secelah pun harapan, sebab harapan seringkali mengacaukan segala kenyataan. Dan kecewa adalah buahnya.

Tapi aku juga tidak bisa berbuat banyak. Aku yakin rasa benci akan memupus namaku di hatimu dari rasa ingin memiliki itu. Dan rasa marah lebih baik bagiku daripada rasa kasihan. Bayangkan jika semua pasangan di dunia ini bertukar cinta karena ingin memiliki dan kasihan! Saat ini kita mungkin sudah melihat keturunan yang memperihatinkan. Mungkin kitalah mereka, keturunan yang memprihatinkan itu, sebab orangtua kita berdampingan hanya seolah-olah cinta. Mungkin saja.

Maka, sudahilah. Aku tidak mau lagi berpura-pura baik hanya karena kau baik. Namun bagaimana pun aku sangat kagum pada ketulusanmu mencintaiku meskipun, kau juga tahu, aku tidak mampu membalasnya. Dan kau sudah membuat keluargaku kembali berumah. Itu keren. Barangkali karena ada bahasan soal seseorang yang mereka kira ‘pria sekarang’, keluargaku jadi senang berkumpul. Tapi ini bukan soal keluarga. Ini soal kita.

Aku sempat memikirkan kata-kata paling tepat yang tak menyakitkan. Agak klise. Kalau jodoh pasti kita ketemu lagi kok, kataku. Dan kau terus menemui aku. Pacaran itu tidak boleh, tahu, kataku. Dan kau menganggap hubungan kita bukan pacaran. Aku tidak suka sama sikapmu, kataku. Dan kau membenamkan sejuta perhatian padaku sampai nyaris aku mau muntah. Stres! Aku lalu membuka-buka kamus tapi hanya tiga kata yang nyangkut. Maaf, aku selingkuh, kataku. Barulah kau tidak berkutik sambil terbata-bata bertanya, "Sama siapa?"

Mungkin memang aku harus tampak keji di matamu. Padahal mauku hanyalah tidak berhubungan denganmu. Maka, sudahilah. Ini juga bukan karenamu. Ini untukmu. Aku sudah lebih dulu ada dalam posisi yang sulit itu. Bahkan sampai sekarang. Harapan itu terus tumbuh meski sepercik demi sepercik. Harapan untuk mendapatkan cinta seseorang.

Benar, aku pernah tersakiti dan itu menyebalkan. Sikap dia terlalu baik dan aku lebih sakit lagi. Seakan tersalib, kau paham. Aku mendamba sakit yang lebih parah kalau perlu sampai kehabisan darah, lalu apa? Aku terus meleleh perlahan dan tidak tahu sampai kapan akan berakhir. Padahal aku rindu ditampar, terus ditampar, sampai bekasnya dituntun ke hati. Itu lebih melegakan pasti.

Kau tahu, waktu terus bergulir dan sejarah akan berulang. Kau pernah merasa dejavu saat tiba-tiba kejadian yang telah lama kaulupakan hadir kembali dalam bentuk dan posisi yang lain? Aku berani bertaruh bahwa hukum alam akan selalu berlaku. Berpikirlah saat ada yang menyakitimu bahwa orang itu pernah tersakiti juga. Sama seperti saat kau sakit. Bahkan barangkali lebih sakit. Jangan dulu menyumpahinya lantas berpikir besok dia harus tersakiti, mendapat karma. Berpikirlah mundur sesekali.

Kau pelan-pelan akan mengerti. Tidak, aku tidak sedang balas dendam lantas menyakitimu, pria kemarinku. Aku melakukan semua itu karena tahu apa yang harus kulakukan kalau toh berada dalam posisi dia yang menyakitiku. Itu saja.

Aku sudah mempersiapkan itu semua sejak aku sakit. Aku harus benar-benar membuatmu sakit. Percayalah, jatuh cinta itu sakit. Akan tetapi memang akan lebih sakit kalau kau membangun cinta. Jadi kenapa harus membangun cinta, katamu. Ah, kau lupa, jatuh cinta tidak menghasilkan apa-apa selain kesengsaraan. Sedangkan sehabis membangun cinta tentu kau punya hak untuk berangkat-pulang-tinggal sesuka hati. Berangkat dari kesedihan, pulang kepada kebahagiaan, dan tinggal dalam kekekalan.

Entahlah, aku tidak bisa memutuskan kau benar jodohku atau bukan. Barangkali suatu saat, aktor itu, pria kemarin itu, akan berganti peran menjadi pria esok namun dalam bungkus yang sama. Kau kini pasti tersenyum. Ada peluang!

Dengarkan aku. Aku sudah meragukanmu sejak dulu. Ya, ragu, kecuali sebagai saudara. Kau ingat kalimat Tuhan tentang pasangan dalam surat cahaya? Kalimat itu pastilah anjuran untuk kita membangun cinta, bukan jatuh cinta.

Kemarin, juga sekarang, aku belum siap bercermin padamu, menangkap diriku dalam dirimu. Biarlah Tuhan yang bekerja dalam urusan ini. Setidaknya berkat kehadiranmu, aku jadi tahu kalau hidupku masih berantakan. Barangkali karena itu Tuhan mempertemukan kita. Kau juga mungkin masih merasa berantakan. Bersyukurlah. Tidak ada manusia yang tidak merasa berantakan begitu berpasang-pasangan dan melihat betapa berantakan pasangannya. Bersyukurlah. Kau dipercaya Tuhan untuk berubah.

Tentang kekacauan hari kemarin, tadinya aku ingin mengulang saat-saat itu dan berjanji untuk tidak bermasalah. Tidak diperbudak oleh, kau tahu, cinta. Bahkan untuk bertemu pria sepertimu, rasanya tidak penting-penting amat. Tapi, hei, aku tidak boleh menyesal. Sebab dengan menyebrangi saat-saat kemarin, aku belajar bagaimana membenahi kekacauan, bagaimana menjadi tuan bagi cinta. Sampai di surga. Semoga.

Kalau kau ingin memelihara cinta juga, peliharalah. Tapi, cinta kan cuma peliharaan. Cinta akan mematuhimu apapun itu, tentu, bukan apapun kaupatuhi demi cinta. Sebab cinta ada, selalu, untuk kita. Selamat tinggal, pria kemarinku! Selamat jalan nyaris jodohku! Maaf, aku selingkuh. Maafkan ketidaksetiaanku padamu.

Dan terimalah kesetiaanku pada-Mu, Tuhan. Kau tidak perlu cincin tunangan, 'kan? Tapi aku punya kening di atas sajadah untuk Kaukecup, mesra, sangat mesra..

Nikmatilah! Tidak usah Kau terburu-buru apalagi melarikanku. Tidak, ia atau siapapun tidak akan cemburu. Ketahuilah, telah kuhargai pria kemarin yang mencintaiku dengan sekalimat doa: semoga kelak ia mendapat perempuan esok yang paling elok ketika ia pun elok di hadapan-Mu. Bisa jadi perempuan itu aku. Bisa jadi bukan. Lalu akan kujadikan halal diriku bagi pria esok yang lebih dulu meminang-Mu. Insyaallah.

Sebab aku lebih suka jadi selingkuhan.

---

Cianjur-Bandung, 2015

Sumber gambar dari sini.