Muslim Ekslusif

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 Juni 2016
Muslim Ekslusif

Ilustrasi Ramadan Kareem oleh Mostofa Tommy

 

Menghabiskan Ramadan di kota, saya kian menikmati manisnya sahur dan berbuka.

Orang-orang muslim mendadak jadi keluarga seiman dan sering berkumpul di jalan-jalan pada jam-jam tertentu. Setiap hari, saya bahagia menjadi pengamen juz amma sekaligus pengemis takjil, disambut baik sekelompok manusia berbusana syar’i dan masjid-masjid yang gemar merapatkan saf.

Demikianlah. Rutinitas ngabuburit pun saya jalani sampai khatam dengan membaca tembok-tembok yang dipenuhi ayat-ayat puisi serta mural-mural lukisan kaligrafi.

Sore kemarin saya diajak sahabat saya buat konvoi sepeda motor. Saya duduk di jok belakang sambil membayangkan sedang menaiki buraq yang mampu melesat secepat cahaya. Dan setiap lampu hijau menyala, saya histeris menikmati kebut-kebutan bersama sejumlah angkot di sekitar jalan Asia-Afrika seakan-akan sebentar lagi sampai ke Sidratul Muntaha.

Tiba di alun-alun yang persis taman surga, kami pun disuguhi oleh Festival Bulan Berkah. Banyak stand baju lebaran, mainan, dan tidak ketinggalan makanan. Ada badut-badut bagi yang suka foto selfie. Ada juga panggung megah yang dimeriahkan konser ustad featuring kiai.

Usai parkir, diam-diam saya membeli kolecer. Pedagangnya menahan senyum sesaat setelah menyerahkan uang kembalian. Itu buat adik saya, saya bilang. Banyak anak-anak di lapangan yang juga bermain kolecer. Saya senang bukan main. Kalau tidak ingat usia yang sudah kepala dua, saya ingin sekali bergabung bersama mereka.

Berduyun-duyun dengan para sahabat, saya mengunjungi sebuah mall terdekat. Rencananya kami akan buka puasa di foodcourt. Sempat saya menghitung sisa uang jajan. Tinggal belasan ribu. Menyadari dompet yang sudah begini tipis, saya mendadak tidak suka menjadi bagian dari kaum borjuis. Lebih baik menjadi bagian dari kaum proletar dengan buka puasa di warteg. Hemat.

Eskalator mall itu mati. Aneh sekali. Toko-toko masih (atau sudah) sepi. Kami tiba di lantai lima dan mendapati pelayan-pelayan restoran menyapa kami sambil mengantuk. Beberapa kali lirikan, saya melihat mereka menguap. Saya lalu memeriksa digit angka di layar ponsel takut kalau-kalau saya salah mengira waktu berbuka. Bagaimana kalau ternyata ini jam sahur, sebentar lagi imsak, dan perjalanan saya kemari cuma bunga tidur?

Tidak banyak yang mampir ke foodcourt itu. Meja-meja kosong. Kalau dihitung-hitung, lebih banyak pelayan daripada pelanggan. Yang tersisa di lantai adalah jejak sepatu dan sampah remah roti. Tukang bersih-bersih sibuk merapikan kursi. Tidak ada antrean di kios-kios yang biasanya rebutan daftar harga dan saling tawar menawar menu. Kasir pun tidak ada yang jaga.

Terpaksa kami harus menunggu beberapa lama sampai penjaga kasir datang untuk mencetak resi. Saya memandang ke sekeliling dan bergidik pada saat duduk. Tiga kata yang mewakili ketakutan saya kala itu: tempat ini angker!

Tapi ketakutan saya kemudian dikalahkan rasa lapar. Sementara sahabat-sahabat saya terlibat kongkow di sela menyantap makanan, saya hanya mengelus-elus mainan dan memijit perut yang keroncongan. Ada sahabat, yang melalui isyarat, meminta saya untuk menghabiskan sisa mi instan pesanannya yang berlabel bahasa Jepang. Dia bilang, ingin berbagi. Saya antusias menerima sedekah itu. Semoga amal jariyah sahabat saya diganti dengan kebaikan berlipat-lipat.

Asyik sekali mengamati tingkah laku sahabat-sahabat saya saat membicarakan kehidupan selebritis tanah air sambil sesekali merapikan jilbab. Mereka lebih fanatik kepada tokoh-tokoh yang ditawarkan televisi daripada yang ditawarkan sejarah dalam kitab-kitab. Dapat saya pahami bahwa mereka enggan berkomentar pada sesuatu yang tidak jelas bentuknya, pada tokoh-tokoh bangsa dan agama yang sudah lama meninggal, juga pada kegaiban.

Saya memandangi jendela dan tidak habis pikir bagaimana orang-orang itu lebih memilih meramaikan jalan. Belum selesai saya menghabiskan mi, seorang pelayan bolak-balik dan memberi tahu bahwa sebentar lagi foodcourt akan tutup. Saya tersedak. Bukankah ini baru adzan magrib, saya bertanya pelan setengah merutuk pada sahabat saya.

Dengan amat sangat kecewa, saya dan sahabat-sahabat saya menunggangi bangkai eskalator itu lagi. Lidah saya melepuh karena buru-buru menghabiskan mi. Keluar dari mall, saya dikejutkan dengan orang-orang berseragam cokelat. Saya hafal sekali siapa yang mengenakan seragam itu karena sering jadi pembicaraan di sosial media: bapak-bapak pamong praja.

Mereka bersantai di trotoar tanpa ekspresi. Saya bertanya-tanya dalam hati sedang apa mereka malam-malam begini. Biasanya hantu-hantu yang ditakuti korban penggusuran itu muncul untuk menertibkan keamanan dengan tindakan razia yang meresahkan.

Sahabat saya memberikan spekulasi yang lantas saya amini. Mereka mau berbuka dengan yang manis dan tarawih bareng di masjid sehabis menyapu bersih warteg-warteg. Soalnya, siang tadi banyak warteg beroperasi di jam yang tidak seharusnya, kata sahabat saya. Lalu kenapa foodcourt tidak dilarang beroperasi, tanya saya. Entahlah, kata teman saya lagi, mungkin mereka kira hanya rakyat kecil yang berdosa.

Saya jadi teringat Bu Saini. Apa kabar dia dan keluarganya? Sudahkah kembali bersemangat melanjutkan hidup pasca trauma perampasan barang dagangan? Di bulan suci penuh hikmah, sosoknya menjadi bulan-bulanan warga kelas nasional, berujung pada mudarat dan ghibah.

Sangat menyedihkan peristiwa beberapa hari belakangan. Pemilik warteg itu jatuh sakit dan enggan berdagang lagi. Kalau saya memiliki sejumlah uang lebih dari sekadar beli mainan, saya akan ikut mendonasikan harta saya di jalan kebaikan. Sungguh pun saya adalah seorang yang mudah tersentuh oleh air mata dan jerit sekeping hati manusia.

Bu Saini menerima ratusan juta dari para simpatisannya. Itu angka yang menakjubkan. Padahal Bu Saini bukan sedang berkampanye sosial. Maklumlah. Donatur-donatur di negeri ini memang baik sekali. Cinta kasih kita menyita perhatian dunia. Di titik ini, saya juga berdecak kagum. Tapi lambat laun saya mulai khawatir akan ada perpecahan dua arus yang berlawanan.

Benar saja. Tidak lama setelah itu mencuat adu argumen. Atas nama penghormatan kepada yang tidak merayakan, aksi protes dilakukan sejumlah aktivis dan santunan terus dikirimkan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Atas nama toleransi beragama, suara mayoritas menyerang dengan dalil kebenaran dan tangan-tangan perkasa dikerahkan.

Ada yang dirugikan. Tentu. Seakan-akan warung makan yang buka di siang hari di bulan Ramadan lebih membahayakan dari jalanan yang berbatu-batu.

Orang-orang mulai berlomba membuat kisruh supaya meraup keuntungan berlimpah. Orang-orang ini terinspirasi Bu Saini, tergoda untuk menjual keprihatinan dan kesengsaraan.

Para ulama geram dan mulai bersikukuh menyampaikan kalimat sakti melalui pengeras suara. Ganyang antek-antek liberal dari bumi Allah, katanya berapi-api.

Para jurnalis dan wartawan mendramatisir keadaan melalui media dan propaganda. Umat Islam sangat manja dan agresif, tulisnya dengan nada marah.

Terungkap beberapa fakta bahwa Bu Saini memiliki tiga warteg di tiga tempat berbeda. Dan siapa yang menyangka kalau suaminya adalah seorang bandar judi?

Terlepas dari latar belakang keluarga Bu Saini, layakkah seorang muslim mencercanya kemudian mempersalahkan tindakan seorang muslim yang lain, bukan mengajaknya bersama-sama melakukan yang benar? Terlepas dari tindakan aparat, sanggupkah seorang toleran membuat petisi untuk membela minoritas tanpa mempertimbangkan kekacauan setelahnya?

Memang manusia ditakdirkan merdeka bahkan jauh-jauh hari sebelum kita merasa merdeka. Kita merdeka untuk memilih apakah mau melaksanakan amanah atau tidak. Kita melakukan amanah untuk menciptakan perdamaian, bukan menumpahkan darah sebagaimana ditakutkan malaikat.

Soekarno, Putra Sang Fajar, sebelum meninggal pernah berkata, “Lebih baik saya yang robek dan hancur daripada bangsa saya harus perang saudara.”

Dalam sisa-sisa hidupnya pun barangkali Soekarno sudah robek dan hancur. Sebab perang sudah dimulai sejak zaman kerajaan dan tidak akan pernah berakhir sampai sekarang. Perang dunia ketiga adalah perang dalam kepala. Bukankah selalu kita saling bertatapan dengan penuh rasa curiga kepada orang-orang yang seatap-langit dan semusim dengan kita?

Peraturan daerah mengenai kegiatan yang dilarang pada bulan Ramadan di Serang itu konon dihapuskan mengacu pada desakan kaum humanis, yang lebih mencintai sesama manusia daripada dirinya sendiri, lebih ingin manusia hidup layak di sisi Tuhannya dengan bekerja mencari nafkah.

Tidak berhenti sampai di situ. Penghapusan peraturan daerah kemudian ditentang kalangan muslim ekslusif, yang lebih mencintai surga namun kadang lupa menengok sesama manusia yang dia kafir-kafirkan dan dikiranya pantas mendapat siksa neraka, azab dunia-akhirat.

Presiden kita sudah menghapuskan tiga ribu lebih peraturan daerah karena dia adalah sosok yang dianggap mampu mengabulkan segala macam permintaan rakyat. Karena dia memilih robek dan hancur, tidak mau bangsanya terlibat perang saudara. Tapi sayangnya dia lupa bahwa rakyat memiliki corak pandangan yang berbeda-beda dan permintaannya pun berbeda-beda. Politik keseimbangan Sang Raja malah menjatuhkan bangsa kita pada kebimbangan.

Berkaca pada politik Rasulullah, muslim sejatinya berkiprah menjadi jembatan, berada di lapisan udara antara langit dan bumi, tidak diam di tempat. Mengantarkan permohonan dari bumi ke langit dan kembali lagi ke bumi untuk menebarkan kebaikan, menjadi rahmat bagi semesta alam.

Saya lahir sebagai seorang muslim yang terpaksa. Nenek saya menjerumuskan saya untuk rutin berangkat ke pengajian. Namun orangtua saya tidak betul-betul taat sebagaimana muslim alias lebih realistis dalam menyikapi bentuk ibadah.

Mereka bukan contoh yang baik bagi saya dan adik-adik saya. Ayah saya kerap bersembunyi untuk merokok di saat bulan puasa. Katanya ia mudah kehilangan konsentrasi di saat bekerja kalau tidak merokok. Pernah Ibu saya menolak mengenakan kerudung pada saat ke kondangan karena dinilai bungkus kepala itu sangat kampungan dan tidak modis.

Bakat saya adalah menjadi muslim ekslusif sebab saya dibesarkan di lingkungan madrasah dan orang-orang pesantren. Muslim ekslusif adalah muslim yang merasa berdiri di antara gugusan bintang dan memandang orang-orang yang tidak bersamanya terkubur di antara gundukan pasir.

Dengan menjadi muslim ekslusif, saya memandang kedua orangtua saya berada di jalan sesat yang patut diselamatkan. Saya marah dan pergi dari rumah. Tidak sampai anarkis dengan memecahkan perabotan. Tapi saya mengkudeta jika mereka tidak berubah sesuai dengan apa yang dicontohkan nabi, saya bukan anak mereka lagi. Dampaknya mereka bukan mau berubah melihat pemberontakan saya tetapi mereka melarang saya sekolah agama lagi.

Kelakuan saya dulu memang memalukan. Tapi salah bukan berarti menyerah. Lagi pula saya muslim. Wajar saja. Barangkali saya belum diantarkan Tuhan saat berjalan di muka bumi. Seperti dalam setiap buku yang dibubuhi kata pengantar, kalau kita mengaku beriman, kita mesti bertindak bukan atas nama sendiri, keinginan sendiri, ambisi pribadi. Barangkali saya lupa mengucap bismillah, atas nama Allah.

Laailaha ilallah.

Tidak ada Tuhan dulu, baru kemudian selain Allah.

Dalam kalimat syahadat saja kita diperintahkan untuk tidak takut berbuat salah sebelum bertemu yang benar. Muslim adalah manusia yang belajar menganut Islam, menggunakan akal sehat dan hatinya untuk membaca diri, membaca orang lain, dan membaca situasi. Sialnya, dalam situasi apa pun, saya sulit untuk berhenti belajar. Saya tidak bisa menghindari diri dari melakukan kesalahan demi kesalahan, dosa demi dosa.

Sekarang lain cerita. Kedua orang tua saya perlahan mendengarkan saya sebagai anaknya. Saya mendekati orang tua saya dengan cara yang lain. Pelan-pelan saya membuktikan pada mereka bahwa saya muslim sejati, bisa berprestasi dan tidak kampungan. Saya bukan orang yang berteriak-teriak dan memaksakan kehendak demi perubahan di sekitar saya tapi sayalah yang menjadi perubahan itu.

Pada akhirnya mereka penasaran dengan ilmu yang sedang saya dalami dan mengajak saya berdiskusi perihal apa-apa yang tidak dimengerti. Proses seperti itu tentu tidak gampang. Dan Tuhan justru mencintai proses.

Sudah saya katakan tadi bahwa kita akan lebih mudah percaya dan memahami apa yang kelihatan. Sebagaimana masyarakat Arab zaman dulu yang mengagungkan Kabah dibanding ajaran si pembuat Kabah. Tapi Rasulullah kemudian lahir dan membawa ajaran Ibrahim yang sesungguhnya.

Ada dua fase. Mula-mula, melalui surat Makiah, Rasul kita menyerukan, yaa ayuhannas yang artinya hai manusia. Kepada seluruh manusia, dia mengatakan bahwa manusia mesti beriman kepada Zat yang menciptakan. Lalu, melalui surat Madaniah, dia menyerukan yaa ayuhalladziina aamanu yang artinya hai orang-orang yang beriman. Ketika umatnya sudah beriman, dia lalu mempertontonkan tata cara beribadah.

Hal ini dicontohkan pula oleh Umar bin Khattab yang masih diperbolehkan mabuk dalam sujud sebelum khamr atau minuman keras dilarang. Iman itu perjalanan. Setahap demi setahap. Tidak bisa sekaligus. Bagi setiap orang lajunya mungkin berbeda—ada yang cepat, ada pula yang lambat. Karena kita mengenal Tuhan juga dalam perjalanan yang berbeda-beda.

Abu Bakar pernah mengancam kaum-kaum yang menolak membayar kewajiban atas kekayaan. Bahwa seandainya mereka tidak membayar zakat, katanya, dia akan mengirim bala tentara untuk memerangi mereka. Sebelas batalyon mujahidin kemudian dikerahkan untuk memerangi kaum-kaum yang membangkang padahal mereka sudah beriman. Di samping itu, Islam malah mendapatkan zakat dari kaum lain yang jika dikumpulkan lebih besar jumlahnya dari kaum-kaum itu.

Itu zaman kegemilangan Islam. Pertanyaannya, kita masih belajar jadi manusia atau sudah beriman? Masih mudah ditaklukkan oleh cinta manusia atau sudah bisa mengendalikannya? Masih memikirkan yang tidak terpikirkan atau sudah memercayainya?

Menelisik pertanyaan tersebut, otak saya cenat-cenut dalam perjalanan pulang. Kemungkinan besar foodcourt yang saya tinggalkan itu sudah buka sejak tadi pagi, diperuntukkan bagi mereka yang uzur puasa dan non-muslim.

Sebagai muslim, kita tidak perlu menuntut orang-orang buat memperlakukan kita secara spesial di negeri ini. Tinggal bagaimana menunjukkan bahwa kita memang spesial.

Bandung, 2016

---

Kartini F. Astuti, mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Rohis dan aktivis kemanusiaan.