Bersyukur Jadi Orang Bodoh

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Inspiratif
dipublikasikan 15 Juni 2016
Bersyukur Jadi Orang Bodoh

Animasi dari Yamidnightreads

 

Dengan bangga, saya akui bahwa kata-kata sudah menjadi kekasih saya yang setia. Baiklah, tidak ada yang mampu memisahkan saya dari kata-kata. Seperti halnya kekasih, saya mengakrabi kata-kata dengan mesra. Bahkan mungkin, kepala saya, selain menjadi mesin penghitung pahala, merangkap kerja sebagai kamus yang mampu menampung jutaan kata setiap hari, menyusunnya sesuai abjad, mengurainya satu persatu, memaknainya sepanjang waktu.

Selalu saya menenteng buku ke mana-mana. Manusia, jika disandingkan dengan buku, sama dengan gen bermutu tinggi. Begitu keyakinan saya. Saya tegak seakan-akan kaleng sarden di supermarket dengan brand ‘ikan hebat’ dan kandungan komposisi yang kaya nutrisi. Komposisi otak saya kaya akan daftar kosakata yang barangkali bisa jadi riwayat hadis dan mazhab nabi palsu. Lemari saya lebih banyak dipenuhi berjilid-jilid buku daripada bersetel-setel busana. Tidak ada pula perkakas kecantikan. Yang ada hanya kliping surat kabar dan majalah.

Di luar, saya mengajari orang-orang berbagai teori dari berbagai sudut pandang. Saya tidak mau mati kutu jika ditanya soal istilah-istilah asing, baik seni, teknologi, maupun kesusastraan.

Akan saya tertawakan siapa pun yang tidak pernah membaca buku dengan tingkat bahasa yang tinggi. Akan saya serahkan sebatang pacul pada orang yang membuat saya tampak bodoh dan saya katakan padanya, “Kubur saya hidup-hidup di lantai perpustakaan!”

Saya memang menolak dinilai bodoh. Itu kecacatan manusia yang paling kacau.

Pun saya tidak menyangka. Di dunia yang berisik oleh iklan, saya justru berhadapan dengan orang yang hampir buta aksara. Ingatannya payah jika ditanyai perihal nama-nama dari benda-benda, nama-nama dari orang-orang, nama-nama dari planet-planet. Kalimatnya belepotan. Tulisannya rapi dari segi bentuk namun tidak tertata dari segi penyusunan. Entah bagaimana huruf-hurufnya sering bertukar tempat. Jangan ditanya berapa kali dia membuat e-mail baru hanya karena lupa password. Selama belasan tahun, dia kesulitan dalam mengeja namanya sendiri!

Betapa pun, saya akui, suaranya merdu sekali ketika bernyanyi. Dia bilang, kata-kata bagaikan notasi balok di tengah samudra, kadang mengambang, kadang jungkir balik. Begitulah. Saya tidak tahan jika harus melihatnya menyanyikan kata demi kata sebelum ujian dimulai. Ajaibnya, dia lulus sekolah. Entah bagaimana.

Saya baru tahu bahwa diagnosa terhadap penyakit tersebut adalah disleksia. Kawan saya tidak pernah mengerti keanehan yang terjadi pada dirinya sendiri. Sampai suatu hari, berdua, kami menonton Taare Zamen Par. Seperti meresapi film India pada umumnya, kami berurai air mata. Saya mulai menutup buku sebentar dan menyelidiki buku yang sesungguhnya: kawan saya itu.

Izinkan saya mengurai titian perjalanannya.

Pada waktu mendaftar kuliah, sebetulnya dia hanya memilih kosakata yang tidak pernah dipilih teman-temannya. Kosakata itu merujuk pada kampus teknik yang dikiranya sebagai tempat kursus jahit. Menjauh dari kampung, dia bagai keong saat tiba di trotoar kota. Sempat pula dia dipertemukan dengan seorang pemilik butik akibat kesalahan nomor kontak yang dia lupa memberinya nama dan tertukar dengan nomor kontak yang lain. Pemilik butik itu pun tertarik dengan gambar-gambar rancangannya dan memberinya posisi terbaik untuk bekerja.

Dia, kawan saya itu, dituntun kebodohan untuk sampai pada tempat-tempat yang tidak terduga. Seingat saya, pada saat pertama kali kami bertemu, dia sangat payah dalam mencocokkan warna. Pakaian-pakaian bercorak aneh yang membalut tubuhnya tidak pernah membuatnya tampak lebih matching dari jemuran. Sangat kampungan. Sangat norak. Sekarang saya harus mengerucutkan bibir melihat dia bermetamorfosa jadi Fashion Designer.

Lebih dari itu, saya pun dibuat tercengang dengan tokoh-tokoh terkenal semacam Leonardo da Vinci dan Albert Einstein yang ternyata sama-sama menderita disleksia. Mereka adalah orang-orang yang dikenal bodoh pada zamannya. Namun karya-karya mereka tidak lekang berabad-abad lamanya, bahkan menjadi guide book bagi milyaran umat manusia. Hingga kini.

Leo dianggap idiot saat dia nekat membedah sejumlah mayat. Orang-orang kemudian menyadari bahwa yang dilakukan Leo adalah untuk menciptakan sketsa anatomi. Disandingkanlah sketsanya itu dengan hasil pemindaian medis modern. Sangat akurat. Dari sana, terbentuklah teori exploded view yang menjadi acuan bagi para seniman, insinyur, dokter, akademisi. Mesin pesawat udara juga tercipta berkat pemikiran Leo yang memandang fenomena burung. Gagasan imajinatif Leo telah merealisasikan mimpi manusia yang paling mustahil. Ialah terbang.

Sama halnya dengan ilmuwan eksentrik Einstein yang tidak pernah memakai kaos kaki seumur hidupnya dengan alasan bahwa kaos kaki suatu saat akan berlubang. Saking idiotnya, ia gagal ujian. Tentu saja itu menimbulkan ledekan heboh di sekolah. Tapi keajaiban-keajaiban justru bermekaran setelahnya. Teori relativitas yang diilhami dari laju kereta api kemudian membuat profesor-profesor bertekuk lutut lalu menobatkan Einstein sebagai sosok paling jenius di muka bumi.

Hal-hal yang demikian sudah membuktikan bahwa orang-orang yang kita kenal goblok alias bodoh sekali ternyata memiliki sudut pandang unik yang tidak dimiliki semua orang. Klasik memang cuplikan kisah mereka yang termasyhur tapi mengidap disleksia. Sebab kita akan menemukannya dengan mudah di dalam buku biografi para tokoh dunia.

Ngomong-ngomong soal buku, saya jadi teringat akan naskah yang sudah saya perlihatkan kepada seorang penulis senior. Naskah saya dibubuhinya sedikit coretan. Meskipun saya tidak mengenyam pendidikan bahasa, tapi saya cukup tersenyum dengan istilah familiar yang dikatakannya dalam konsultasi kepenulisan. Sebelum dia berkomentar lebih banyak, saya bilang, saya sudah tahu itu.

Dia meletakkan naskah saya di atas meja dan tanpa memandang ke arah saya, dia berkata bahwa dia akan berhenti memberikan saya masukan. Kenapa, saya tanya. Karena kau sudah tahu semuanya, jawabnya. Dia kemudian berfalsafah tentang segelas kopi penuh yang tidak mungkin diisi teh, kecuali jika kopi dituangkan ke dalam gelas lain terlebih dulu. Bisa saja kopi dicampur teh. Bisa saja. Tapi pasti rasanya tidak karuan dan tumpah-tumpah.

Kosongkan gelas jiwamu jika mau belajar.

Begitu perkataan sang guru yang membekas dalam ingatan saya sampai sekarang.

Pikiran saya lalu melayang pada sosok yang paling dirindukan, yang tercatat dalam iman setiap orang.

Bagaimana jika Rasulullah datang berkabar baik dan mengajak saya untuk belajar memetakan jalan surga, akankah saya katakan padanya bahwa saya sudah tahu itu?

Bagaimana jika Tuhan memanggil saya untuk memberi peringatan tentang apa yang diperintahkan dan dilarang, akankah saya katakan pada-Nya bahwa saya sudah tahu itu?

Tidak. Tidak mungkin Tuhan dan Rasulullah bangga dengan pengetahuan saya yang beda tipis dengan kecongkakan setan. Malah Raja dari Segala Raja dan utusannya itu akan menyerah, berpaling wajah serta mencampakkan saya.

Lalu ingatkah kita pada kisah manusia pertama di awal penciptaan?

Mereka yang jenius dalam bermain dan mempermainkan kata mungkin akan berkata, “Setan itu romantis sekali. Dia tidak mau bersujud kepada Adam karena Tuhanlah yang dicintainya. Satu-satunya. Kenapa pula setan harus bersujud kepada sesuatu selain Tuhan?”

Sedangkan mereka yang bodoh, yang dapat dengan mudah dipermainkan kata, hanya berseri dan meyakini bahwa mematuhi perintah Tuhan adalah bentuk sujud. Ya, sekali pun perintah itu adalah memasuki jurang.

Sebagaimana malaikat, cahaya tidak pernah bengkok atau berkelok. Tidak seperti api yang bergelora, cahaya itu datangnya lurus. Mereka yang bermandikan cahaya akan taat dengan segera. Itulah anggukan tanpa tanda tanya, tidak menghabiskan waktu buat keraguan di persimpangan. Dan yang mampu melakukannya, memang, hanyalah malaikat dan orang-orang bodoh.

Saya memandang koleksi buku saya yang kebanyakan masih berjaket, berbungkus plastik. Saya mengambil satu yang tidak terlalu tipis dan tidak terlalu tebal. Buku itu saya beli hanya buat pamer amalan. Buku seperti itu disukai orang-orang yang merasa pintar dan saleh. Tapi jarang ada yang betul-betul membacanya.

Pada bab pertama buku itu, saya terenyak membaca kisah seorang budak yang merdeka dari hawa nafsunya. Bilal bin Rabah namanya. Dia memang bodoh di mata standar manusia. Tapi di mata Rasulullah, kemuliaannya sungguh sangat luar biasa. Dia termasuk orang yang pertama kali masuk Islam. Dia jugalah yang percaya bahwa Rasulullah mengalami peristiwa Isra' Mi'raj dalam waktu satu malam. Mana ada orang pintar yang percaya dengan bualan seperti itu? Tapi dia beriman.

Bilal syahid di medan perang dengan pedang tertusuk hingga menembus punggung. Masya Allah. Berbeda dengan Abu Lahab yang cerdas namun merasa paling berkuasa dan tidak ingin menyerahkan dirinya untuk diatur Yang Maha Kuasa.

Mari kita simpulkan bahwa semakin seseorang belajar, semakin dia tahu bahwa dirinya bodoh dan ilmunya tidak seberapa. Semestinya. Dan jika kita sudah memposisikan diri sebagai orang bodoh, barangkali kita memiliki peluang untuk mendapatkan ilmu lebih. Socrates pun senantiasa mempertontonkan wajah yang bodoh setiap dia bertemu orang-orang di pasar. Karena jika dia berlagak pintar, bisa jadi orang-orang di pasar enggan mengobrol dengannya, sungkan dalam berbagi pengalaman. Socrates memang orang bodoh tapi dia tidak malas untuk berpikir dan berguru pada apa saja, di mana saja, kapan saja.

“Jangan mau dibodohi orang!” teman saya mewanti-wanti. Tapi rasanya itu justru lebih baik daripada dibodohi akal sendiri, dibutakan dari tanda-tanda, ditulikan dari segala seruan Tuhan.

Jika saya adalah orang bodoh karena mau-maunya mengeja berpucuk surat yang Tuhan kirimkan, saya bahagia menjadi orang bodoh. Jika kehormatan membuat saya memandang rendah orang lain, ambillah kehormatan saya dan jadikan saya wanita tak terhormat. Jika kedudukan membuat saya melangit dan lupa berpijak pada bumi, jatuhkan saya dari ketinggian hingga remuk redam dan tinggal serpihan. Jika kepandaian membuat saya bertolak dari Zat yang menciptakan saya, buang-buanglah sampah dari dalam kepala saya sampai saya menjadi seorang hamba yang tunduk.

Tuhan telah memasang sinyal kekuasaan-Nya di seantero semesta. Barang siapa yang merasa bodoh, sepatutnya bersyukur. Itu artinya kita akan melulu berkirim pesan kepada Tuhan, memohon ditunjuki jalan yang lurus, karena meyakini dengan pasti kekuatan sinyal itu berdenyar di dalam diri. Itu artinya kita akan terus menerus belajar, bukan kelihatannya saja kita belajar.

Bersyukurlah jadi orang bodoh. Bergurulah pada apa pun, tanpa ampun.

---

Kartini F. Astuti aktif sebagai mahasiswa Desain Komunikasi Visual ITB. Bukunya yang telah terbit adalah Pengantin Mesin (Frasa Media, 2016)