Baper itu Rugi

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Motivasi
dipublikasikan 13 Juni 2016
Baper itu Rugi

Ilustrasi oleh Ikhsan S. Hadi

 

Kita adalah generasi baper. Baper berarti termakan emosi, membikin kita seakan-akan jadi manusia paling merana sejagat raya. Kita seringkali bermasalah dengan hati. Saya tidak tahu terbuat dari apakah hati kita itu sehingga rapuh dan rentan pecah, bahkan sangat mungkin meledak. Di kantor pos, paket yang berpotensi meledak dilarang untuk dikirimkan. Bagaimana kita akan mengirimkan dan membagikan cinta pada semua orang jika hati kita berpotensi meledak?

Di mata dunia, masyarakat Indonesia dinilai sangat ramah dan santun. Padahal kita cenderung menghindari konflik alias menjaga hati kita dan orang asing dari kemungkinan tersikut. Kita mempersilakan mereka untuk duduk di ruang tamu sambil minum kopi sementara kita pergi ke luar sebentar, menolak bercakap-cakap karena ogah ketahuan gagap. Dan ketika kembali, tempat kita sudah diacak-acak. Begitulah gambaran penjajahan zaman sekarang: yang terjajah merebahkan diri untuk senantiasa dijajah. Sebagaimana ibu pertiwi yang sedang bersusah hati, kita hanya mampu merintih dan berdoa. Karena kita, menurut pakar psikoanalisa yang saya temui, mudah baper.

Apa yang seseorang lakukan di saat baper? Mengunci diri di kamar sambil merutuki keadaan. Ada pula yang menulis di status, “Dear mantan, maafkan aku yang dulu.” Dia ingin sang mantan memandang dengan bangga dan menyesali kata ‘putus’ yang pernah terungkap. Sudah jelas siapa pun yang baper pasti sibuk memikirkan bagaimana orang lain bisa berubah sesuai keinginan dia, bukan bagaimana dia berubah sesuai keinginan orang lain.

Kita memang baper. Sedikit-sedikit baper. Alih-alih melindungi hati, malah terprovokasi. Dari semua gejala fenomena yang merebak, kitalah yang paling heboh bersuara di belakang dan lupa daratan. Kitalah yang paling antusias menjadi followers. Ekor yang tidak bisa berpikir apalagi bersikap. Isi kepala kita digiring ke sana ke mari untuk membentuk sebuah opini. Ralat, dibentuk sebuah opini. Bukan menciptakan gagasan baru, tapi diciptakan gagasan yang selalu baru dan melakukan pembaharuan.

Rendra bilang bangsa kita mesti diupgrade. Diupgrade apanya? Inputan dari luar diri terlampau banyak dan berdesakan untuk masuk. Sedangkan sistem pencernaan hati dan pikiran kita rusak untuk memproses itu semua. Kita nihil output. Produktivitas kita enggan berjalan. Dan upaya kita memediasi sesama kepada jalan kebenaran gagal total. Ah, lagipula kita adalah sekawanan baper yang hanya sanggup merutuki keadaan.  

Baper, virus yang bisa menyerang siapa saja. Seseorang yang dikuasai baper tidak akan pernah mengakui kesalahannya. Sedikit pun tidak. Dia mengira dengan mantap bahwa dirinyalah yang terzalimi. Meskipun memang ada benarnya. Tapi siapa sangka ini justru yang memicu tuntutan kesempurnaan yang bermuara pada takabur. Keyakinannya berkata, “Aku selalu benar. Yang lain salah.” Dia yang baper inginnya bersembunyi untuk mencari perhatian atau mengalihkan isu saja atau memutus hubungan atau mengumpulkan rasa bersalah orang lain atau menagih permohonan maaf atau menjambak dirinya sendiri atau—yang ekstrem—bunuh diri.

Sejujurnya, saya pun tidak luput dari percobaan bunuh diri, berkali-kali menimbang mana yang lebih mudah: terjun dari pucuk gedung atau berakhir digantung dengan bekas luka di leher? Tapi karena berbagai hal, saya memilih menyelam di bak mandi selama berjam-jam. Baper itu sirna seketika setelah saya tahu ada teriakan setengah menangis dari luar pintu yang memohon-mohon saya kembali. Dia merasa menjadi penyebab kekacauan dalam diri saya. Saya merasa menang dan senang. Percobaan bunuh diri pun dipending dan saya lupa kenapa saya bisa baper sebegitunya.

Kita tahu, mereka yang baper lebih padat agendanya daripada karyawan kontrak perusahaan. Sepadat-padatnya agenda kebaperan sudah pasti hanya cemoohan yang didapat.

Kita bisa temukan contoh baper yang lucu, yang menyeret deretan panjang komentar ke berbagai media, membangun tragedi dan trauma tiada akhir.

Mereka yang baper sampai kebut-kebutan di jalan raya malah memarahi polisi dan mengaku orang penting saat ditilang, untungnya tidak terjadi kecelakaan dan diantar ambulans. Mereka yang baper di saat sedang berpuasa akan bertindak arogan dan memaksa para pedagang tutup warung di siang hari, padahal godaan nafsu bukan hanya pada lapar tapi juga pada amarah dan iman yang lemah. Mereka yang baper karena takut jatuh miskin berupaya melipatgandakan sedekah untuk meraup sebanyak-banyaknya kekayaan, padahal bisnis yang paling sukses adalah menjual diri kepada Tuhan.

Baper juga menimbulkan efek domino yang jatuh pada dendam. Semisal menimbun baper demi baper untuk menunjukkan pembuktian kepada orang lain. Nah, apalagi kalau bukan balas dendam namanya? Baper dinilai sebagian orang sebagai salah satu motivasi ampuh dalam menggapai kesuksesan. Tapi kebanyakan pembuktian yang dilakukan orang-orang itu hanya sebatas sentimentil pribadi yang mengesampingkan kemurnian, ketulusan dalam bergerak, sehingga yang lahir adalah kepuasan dalam melihat penderitaan orang lain.

Jika diolah, baper sangat mungkin jadi obat perangsang imajinasi bagi para pelaku seni untuk menumpahkan air mata ke dalam bentuk sebuah karya yang brilian. Kebanyakan penikmat seni juga adalah orang-orang baper, orang-orang cengeng yang melihat daun jatuh saja sudah bisa berfilsafat berparagraf-paragraf dalam benaknya. Baper sangat mungkin jadi alat bagi para pelaku sejarah untuk meneteskan keringat dan darah melalui catatan tak terlupakan.

Saya pun menulis hal ini dalam keadaan baper. Saya kemudian memaafkan diri saya dan orang-orang yang patut saya maafkan karena menyadari ada yang mesti saya benahi. Bisa jadi kepala saya sedang dipadati prasangka buruk. Bisa jadi hati saya sedang diliputi kabut benci. Saya ingin baper ini tidak lagi menjadi kue busuk yang membuat orang-orang jijik lalu menutup hidung saat membuangnya. Saya juga tidak ingin membuang diri saya sendiri.

Baper ini harus muncul dengan elegan seperti headline berita. Bukan saja di bulan penuh berkah, tapi juga sebelas bulan setelahnya. Baper itu sia-sia, menghabiskan tenaga, jika tidak diolah. Baper yang diolah adalah berpuasa dari godaan untuk cemberut. Baper yang diolah adalah berpikir jernih ke kedalaman nurani.

Puasa dari hiruk pikuk, meminjam istilah Kalis Mardiansyah, adalah lebih baik menurut saya daripada hanyut diseret arus informasi yang tidak terbendung ini. Katakan pada dunia bahwa, “Saya puasa dari hiruk pikuk yang menantang saya untuk memaki-maki.”

Baper itu rugi, sekali lagi, jika tidak diolah. Maka, cucilah hati dan pikiran kita. Dan kita mesti kembali pulang untuk menziarahi diri.

---


Penulis adalah pegiat literasi, aktif di Lingkar Sastra ITB.