Esensi Syukur

Karlina Listra Veni
Karya Karlina Listra Veni Kategori Renungan
dipublikasikan 25 Juni 2016
Esensi Syukur

Tentu saja Allah Maha Kaya. Semua tau itu. Tapi tak semua menyadari dalam artian meresapi kekayaan Allah tersebut. Termasuk kita yang terkadang walaupun tau tapi seringkali lupa.
 
Allah Maha kaya. Bukan tak mungkin dengan kuasa dan kekayaanNya, Allah mengayakan kita semua, cuma-cuma, sekejap, cepat dan tepat. Sungguh sangat mudah bagi Allah meratakan setiap rezeki bagi semua orang. Semuanya kaya, tanpa satu pun yang miskin. Karena sungguh, Allah mencipta kita tanpa ada yang miskin, kita lah yang merasa miskin dan memiskinkan diri kita. Dalam Al-qur'an Allah menjelaskan, Dia menciptakan kita ada yang kaya, dan sebagian lagi yang cukup. Cukup. Bukan miskin.
 
Allah Maha Tau, dan kita miskin tau. Banyak makna ketika Allah membagi kita menjadi kaya dan sebagian lagi yang cukup. Untuk apa? Banyak. Diantaranya, untuk melatih syukur kita, melatih kita berdoa, melatih kita hanya bergantung pada Allah, melatih kita menikmati proses, melatih kita menghargai perjuangan, malatih kita memaknai sabar, melatih kita berbagi ketika kaya, melatih kita bersabar dan terus berusaha serta berdoa ketika kita cukup, intinya belajar. Allah memberi waktu dan lahan kita belajar dan bertumbuh.
 
Karena mungkin, ketika kita difasilitasi Allah dengan kekayaan yang langsung, kita akan menjadi sombong, terlalu cepat puas, lupa berdoa, tidak menghargai proses dan perjuangan, lupa bahwa harus seutuhnya bergantung hanya pada Allah, merasa bahwa segala sesuatu adalah karena jerih payah sendiri bukan Allah yang beri. Kita shock akan nikmat dan lupa bermunajat.
 
Sungguh, karena Allah sayang kita, kita diberikan proses, waktu untuk mencapai mimpi-mimpi kita. Belajar sabar, dan tau makna sabar. Karena sesungguhnya, kita sendiri yang membutuhkan proses itu, kita yang butuh diuji tanpa kita mengetahui, kita yang butuh susah agar nantinya bisa bersyukur ketika  kesenangan berlimpah, kita butuh kecukupan agar mengerti rasanya kekayaan, kita butuh itu untuk membentuk karakter dan mental kita. Agar kita paham, kita terbentuk dan kita menjadi sebaik-baik umat yang dahulunya dimintakan Nabi Musa as untuk menjadi umatnya, umat yang mulia yang mampu mencegah perbuatan keji dan munkar. Tapi Allah menakdirkan kita untuk menjadi umat Nabi Muhammad saw, umat yang akhir dan umat yang awal. Yang akhir diciptakan tetapi yang awal masuk surga, in shaa Allah.
 
Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu [QS. At-Talaq: Ayat 2-3].
 
@karlinalistra
20 Ramadhan 1437 H.

  • view 157