Sudirman Said: Pemimpin Itu Dirigen Sebuah Orkestra

Karin Tasya
Karya Karin Tasya Kategori Politik
dipublikasikan 21 Agustus 2017
Sudirman Said: Pemimpin Itu Dirigen Sebuah Orkestra

Bagi Sudirman Said, pemimpin itu bukan semata posisi, tapi ia, yang bahkan ketika “berdiam”, menentukan nasib rakyatnya, apalagi “bergerak”. Sederhanya, pemimpin itu ibarat seorang dirigen dari sebuah orkestra, yang menentukan sinkronisasi suara sehingga bersatu-padu menciptakan sebuah harmoni yang indah.

Menurut Sudirman Said, dirigen meski kelihatannya sederhana, hanya menggerak-gerakkan tangan semata, bahkan mungkin tidak dipahami oleh orang biasa, tapi tugasnya luar biasa beratnya. Sukses dan tidaknya, enak dan tidaknya, atau bagus dan tidaknya alunan yang dihasilkan, sangatlah bergantung pada kepiawaiannya memimpin orkestra. Dirigenlah sang penentu,

Ia boleh saja tidak pandai bermain biola, tidak lihai bermain terompet, pun tak cekatan memainkan piano, tapi ia menentukan seluruh gerak dalam kesatuan orkestra yang dipimpinnya. Menjadi simfoni yang indah, atau justru suara serampangan yang tak jelas nadanya.

“Seorang dirigen, sangatlah menentukan. Begitu pula dengan seorang pemimpin. Koordinasi, komunikasi, dan penyatuan,” Ungkap Sudirman Said dalam sebuah wawancara.

Artinya, pemimpin bukanlah ia yang paling cerdas, paling pengalaman, paling terhormat keturunannya, paling tua-muda, atau sederet lebel lain yang tak ada urgensinya, apalagi yang paling kaya karena kepemimpinan itu soal kemampuan. Ia tak pernah melihat lebel tertentu, apalagi sekat.

Sebab faktanya, banyak pemimpin sukses yang lahir bukan sebagai bukan yang terbaik dalam bidang/hal tertentu, tapi ia mampu memimpin. Soekarno dan Hatta, apakah keduanya orang yang hebat dalam segala hal? Tidak! Tapi Indonesia menjadi saksi bagaimana kepemimpinan keduanya begitu sukses dan menuai puji-kekaguman.

Jika pun menyaratkan “yang paling” untuk pemimpin, maka ukuran moral dan integritas adalah jawabannya, selain kemampuan tentunya. Kita butuh pemimpin yang paling jujur, yang paling tulus, yang paling sopan dan santun, yang paling tegas, tapi sekaligus yang paling mengasihi dan menyayangi.

Bagi Sudirman Said, pemimpin tidak harus manusia super, tapi ia yang memiliki kemampuan untuk menyatukan segala perbedaan dan mempergunakan segala potensi yang dimiliki untuk berkembang dan maju. Sebagaimana seorang derigen, yang bisa menyatu padukan segala potensi yang ada, dan ia hanya mengarahkan kemana seharunsya irama dibawakan.

Pola semacam inilah (dirigen orkestra) yang menjadi pembelajaran dan gaya kepemimpinan Sudirman Said, dan telah dilakukannya ketika ia menjadi pejabat dan pimpinan di lembaga, atau ketika menjabat sebagai menteri. Terbukti, Sudirman Said dianggap sebagai sosok yang mampu nukangi dan “membereskan” perusahaan atau lembaga yang bermasalah. Ia sukses melakukan tugas itu karena kemampuan meritokrasinya yang luar biasa.

  • view 28