Sudirman Said; Jabatan Adalah Ladang Amal dan Pengabdian

Karin Tasya
Karya Karin Tasya Kategori Inspiratif
dipublikasikan 19 Juli 2017
Sudirman Said; Jabatan Adalah Ladang Amal dan Pengabdian

Menjadi pejabat, atau dalam posisi apapun yang sifatnya mengemban tugas, adalah amanah. Maka, “mestinya ia dimaknai sebagai ladang amal dan bentuk pengabdian”, ucap Sudirman Said suatu ketika dalam sebuah wawancara santai di kantornya, Institut Harkat Negeri (IHN) ketika ditanya tentang kemungkinan dirinya ikut meramaikan kontestasi Pilgub Jawa Tengah 2018.

Boleh saja kita berpikir kalimat itu terlalu “puitis”, tapi bagi Sudirman Said sangatlah realistis. Ia tidak serupa konsep yang melangit, sebab amal dan abdi adalah kata konkrit. Pelaksanaanya bisa saja pahit, tapi bukan berarti sulit.

Sah saja kita bilang kalimatnya terlampau manis untuk dunia politik yang penuh intrik, tapi bagi Sudirman Said itu adalah prinsip yang tak bisa ditarik. Politik bukanlah term kotor, ia hanya dirusak oleh politisi yang pikirannya kotor; oleh politisi koruptor. Dunia politik harusnya dipenuhi oleh orang-orang baik, yang menghargai jabatan sebagai amanah dan beribadah, dan oleh orang-orang yang mengikhlaskan hidupnya untuk mengabdi; pada negeri.

Silahkan saja berpikir kalimat itu terlalu imajinatif, tapi bagi Sudirman Said justru itulah yang paling substantif. Sebab tak ada substansi yang paling substantif dari sebuah jabatan kecuali diwujudkan dalam bentuk pengabdian dan ladang baru untuk menanam amal, menebarkan kebaikan.

Sederhana sekali, bahwa dengan menjadikan sebuah jabatan sebagai ladang amal, maka yang terbersit adalah integritas dalam bekerja. Menebar kebaikan. Ia tidak mungkin berpikir tentang diri sendiri. Semangat yang muncul kemudian adalah untuk memperbaiki dan berprestasi, bekerja sesuai dengan tugas dan amanah yang dibebankan, untuk mencapai target-target yang telah ditentukan.

Setiap kita sedang menanam, dan hasilnya nanti akan tergenggam. Maka jabatan mestinya juga dijadikan ladang untuk menanam benih-benih amal.

Sederhana sekali, bahwa dengan menjadikan sebuah jabatan sebagai pengabdian adalah bentuk pengorbanan diri untuk berbakti pada negeri. Sebagai wujud kecintaan kepada bumi pertiwi, tempat hidup (sekaligus mungkin) tempat dimana kita akan mati. Semangat yang muncul kemudian adalah kebermanfaatan, sebab mereka yang terbaik adalah mereka yang paling bermanfaat untuk yang lainnya. Kebijakan dan program sepenuhnya untuk kesejahteraan. Mengabdi pada rakyat; pada masyarakat.

Setiap kita adalah abdi, untuk negara yang kita cintai. Maka jabatan mestinya juga dijadikan sarana untuk pengabdian. Menebar sebanyak mungkin kebermanfaatan.

Bagi Sudirman Said, yang dibesarkan dalam keluarga sederhana tapi tidak pernah lupa cara mengenal moral dan Tuhannya, menjadikan jabatan sebagai ladang amal tidak hanya bermakna kecintaan terhadap kebaikan, tapi sekaligus kebencian terhadap segala kejelekan. Ia tidak hanya dimaknai sebagai bentuk penyempurna ibadah, tapi sekaligus sebagai proteksi terhadap rayuan perilaku bedebah dalam melaksanakan amanah.

Maka dalam berbagai posisi yang telah dijabatnya, mulai dari pagawai kelas teri hingga menjadi menteri, Sudirman Said menjadi sosok pengabdi dan pemegang amanah yang (selalu berusaha untuk) baik. Banyak pencapaian yang dihasilkan melalui kerja-kerja produktif, kreatif, dan inovatif. Semua berlangsung secara “sehat” karena pada saat yang bersamaan, Sudirman Said membangun piranti dan sistem agar “virus” tidak masuk dan menyebar luas sehingga menyebabkan “penyakit”.

Tentu saja tak ada yang sempurna, tapi pada setiap saat, selalu ada tuntutan untuk menjadi lebih baik dan lebih taat.

“Kita tidak mesti menjadi malaikat untuk menumpuk amal melalui ibadah, tapi kita akan serupa penjahat jika tidak melaksanakan amanah”, pungkasnya, suatu kali.

Lalu apa lagi yang mesti kita nilai dari seorang (calon) pemimpin kecuali prinsip yang dipegangnya dan bukti kerja yang telah dilakukannya?

  • view 126