Dukaku Untuk Ayah

karima zuhriana
Karya karima zuhriana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Januari 2017
Dukaku Untuk Ayah

Ada apa kawan ?

            Sakit,, sakitnya hati qu. Mendengar semua cerita-cerita itu. Sekejap hatiku dipenuhicemburu,dan iri. Hati yang kubangun dengan susah payah untuk selalu tegar, hati yang qu doakan setiap harinya agar selalu bersih, terhindar dari sifat-sifat buruk. Ya Robb,, begitu lemahlah diriku ini..

            Cerita berawal dari keluarga miskin yang ditinggaloleh salah satu penopang keluarganya… Bapak… kau telah tiada, yang tersisa tinggal Emak. Emak yang berjuang keras menghidupiku ketika umur 6 tahun, yang kau tinggalkan hingga kini umurku 17 tahun.

            Aq yang jauh dari masa kecil bahagia, hingga sampai sekarang aku masih melawan kerasnya dunia ini. Bapak ,, bolehkah aku membencimu ?,, kenapa kau tinggalkan semua kewajiban-kewajibanmi dengan mudah dan seenaknya, sedangkan kasih sayangmu hanya kau berikan pada anak-anakmu yang lain, terutama pada si X. Bapak,, kau tinggalkan beban pada Emak, sedangkan kini Emak sudah sakit-sakitan. Raganya tak mampu lagi untuk berjuang memenuhi segala tuntutan,  Entah materi atau kasih sayang untuk ku.

            Untuk ku ? ,, yang benar saja,!!!  Anak-anakmu yang lain juga lebih menuntut lagi kepada Emak. Bolehkah aku menyalahkamu pak,?,,.. atas tindakanmu yang membuat ku terlahir didunia ini, sehingga aku harus berjuang keras melawan kejamnya dan kerasnya dunia ini. Apa kau tidak berfikir ketika aq di kandungan Emak, tentang masa depanku,? Masa depan kelayakan untuk hidup seperti sewajarnya anak-anak lain,,!! Entahlah pak,, mungkin yang kau pikirkan hanya anak-anakmu yang lain, terutama si X., karena si X inilah kau meninggal,, meniggalkan semua kewajibanmu terutama kepadaku.

            Tahukah kau pak,, aku terlantar. Kemana mana aq harus sendirian, tidak seperti anak lain. Aq ingin sekali demo,, demo kepada saudara-saudaraku yang lain. Kenapa tidaksama,, kenapa?.. mereka sekolah jaman dulu segitu tinggi pak,,!! Bahkan jika mereka pintar mereka bias menggunakan itu agar hidup mereka gak susah, tapi sekarang apa,?.. Aq juga sekolah , tapi zamannya berbeda.!! Sudah gak sama seperti dulu lagi, sekolah tamatan segitu gak ada apa-apanya lagi dizaman sekarang. Tapi demo itupun hanya sampai tenggorokan.

            Sudahlah, percuma.! Percuma aq menuntut hak-hakku sebagai anak padamu pak,, karena aq tau jelas kau sendiri saja disana entah bagaimana keadaanmu.

 

                                                                                    By : widia al farishi    25-05-2016

  • view 73