Dawai Rasa

abdullah Hasym
Karya abdullah Hasym Kategori Inspiratif
dipublikasikan 18 Juni 2017
Dawai Rasa

Selembar daun, luruh pada tanah yang basah. Lesap terbata-bata menahan seluruh angin dingin, tabah dalam ribuan tanya yang menggeletar di dada

            Daun itu adalah bayangmu yang tak penah mampu kupahami sebagai bahagia atau airmata, detik waktu terus berdetak higga malam melarut, sudut mataku dikepung gelisah yang tak juga surut. Tidak pernah ada yang salah, hanya terlalu banyak air mata sebab sesal yang tak biasa lagi untuk di seka. Biarkan aku memejamkan waktu, agar segala tunggu tak menjadi rindu yang mengganggu.

            Terkadang aku membisu pada malam yang menyapa, mencoba menerka tentang apa yang terjadi seolah biasa, malam pun pergi menjadi terang diesok hari, berulang terjadi dan akupun merasakan bosan dengan yang dijalani, bukan tentang kurangnya kesyukuran pada Tuhan, namun pada perjalanan hidup yang terjal, hati yang yang tergoreskan luka dengan banyak sayatan oleh perasaan yang  tak tau diri hadir kemudian pergi. adalah kehilangan, serupa ombak yang menghempas karang harapan seketika itu mampu goyah, atau dengan isyarat demi isyarat.

       Tiba-tiba malam pecah menjelma rindu yang abai, kesunyian dihujam kenangan yang membadai, mengingatmu serupa mengamini duka perih, namun tiada pernah jera.

Senja telah tenggelam, kerinduan resah dipucuk malam, sedang kesunyian jatuh pada sudut waktu sedekat aku. Ketabahan taklain adalah takdir di titik nadir, bahkan kita tidak pernah tau siapa yang benar-benar memiliki cinta terakhir.

Aku tidak pernah membayangkan tentang kehidupan orang-orang yang kecukupan rezekinya jauh dibawah kehidupanku, tidak pernah juga aku membayangkan tentang ingin memiliki segala kelebihan materi dalam hidup, sebab aku menyadari bahwa segala yang diharapkan itu terlalu tinggi, aku tidak siap untuk jatuh dan sakit.

            Kita sering berharap banyak namun, benci dengan kekecewaan, padahal semua yang hadir satu paket dengan akibat, waktu terus berputar menyeret kita pada satu kesadaran bahwa kita harus siap dengan segala kemungkinan yang akan datang dikemudian hari, kekecewaan, kebahagiaan kesedihan menjadi pewarna dalam langkah kehidupan kita.

  • view 46