Alkisah Muhammad Saw Seorang Pebisnis

Komar Soleh
Karya Komar Soleh Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 22 Desember 2017
Alkisah Muhammad Saw Seorang Pebisnis

Alkisah Muhammad Saw Seorang Pebisnis

Apabila kita menjejaki sirah Nabi Muhammad saw dari sisi yang berbeda, sekaligus memupus keraguan terhadap kebrilianan beliau dalam berbagai bidang, kita akan mendapati bahwa pribadi Nabi adalah seorang entrepreneur sejati.

Entrepreneurship tidak sekedar dapat atau mampu mendirikan usaha. Namun, lebih jauh adalah sikap profesional untuk menjalankan suatu usaha. Oleh karena itu, entrepreneurshipsecara luas bukan hanya diperlukan oleh para pengusaha, melainkan juga oleh karyawan. Beruntung prinsip-prinsip entrepreneurship ini telah pula diajarkan Nabi sebagai warisan sangat berharga bagi umatnya.

Sembilan dari sepuluh rezeki itu terdapat dalam usaha berdagang dan sepersepuluhnya dalam usaha beternak. (HR. Ibnu Mansyuru)

Islam bukanlah agama yang menafikan keinginan manusia untuk kaya dan memiliki harta. Namun, Islam menekankan bahwa kekayaan harus dikelola dengan penuh kehati-hatian agar tidak jatuh pada keharaman atau  kemudharatan yang dibenci Allah Swt. Karena itu, Islam juga membentangkan prinsip-prinsip ekonomi yang melatari kegiatan-kegiatan untuk mecapai kekayaan dan kemakmuran.

Allah Swt menggariskan bahwa seorang Muslim harus berusah menemukan rezekinya. Allah menyenangi muslim yang gigih menemukan rezekinya dan mau berpayah-payah untuk itu.

Allah memberi rezeki kepada hamba-Nya sesuai dengan kegiatan

dan kemauan keras serta ambisinya. (HR ath-Thusi)

Lalu, apa hubungan perniagaan atau bisnis dengan sosok mulia bernama Muhammad saw? Hal ini adalah sesuatu yang menarik dan perlu diungkapkan kepada kaum Muslim. Dalam usianya selama 63 tahun, Nabi Muhammad saw menghabiskan masa sebagai pebisnis lebih kurang 25 tahun. Adapun masa kerasulan beliau sendiri hanya selama 23 tahun. Dengan demikian, beliau lebih lama melakoni diri sebagai pebisnis yang dimulai pada usia 12 tahun dan pada usia 17 tahun sudah mulai mandiri.

 

Karena itu, Muhammad saw jauh sebelum diangkat menjadi rasul telah ditempa lebih dahulu sebagai seorang entrepreneur. Kemandirian yang terbentuk tidak lepas dari sejarah hidup beliau yang lahir dalam keadaan yatim karena ayahnya, Abdullah bin Abdul Muththalib wafat sebelum ia lahir. Ayahnya adalah anak dari seorang pemuka Quraisy, tetapi merupakan anak yang paling miskin meskipun ayahnya pun berprofesi sebagai pedagang. Alhasil, Muhammad kecil kala itu hanya mewarisi sedikit sekali harta dari ayahnya. Karena itu, Muhammad saw lahir dalam kepapaan.

“kegetiran terkadang melahirkan jiwa kepemimpinan yang baik”

Secara sadar atau tidak, kaum Muslim terkadang melupakan bahwa Nabi Muhammad saw adalah seorang businessman (pedagang) sukses pada masanya. Fenomena ini terjadi karena umumnya kita menyempitkan pribadi Rasul saw hanya sebagai pemimpin religious (keagamaan) belaka. Bahkan, kisah hidupnya yang lebih lengkap dipaparkan setelah beliau diangkat menjadi rasul. Padahal contoh-contoh yang ada pada diri Rasul saw itu begitu komprehensif dari mulai kanak-kanak, remaja, hingga dewasa. Sebelum diangkat menjadi rasul, Muhammad saw telah menunjukan pribadi yang menandakan ia akan menjadi manusia tersukses sepanjang sejarah.

Bagaimana Muhammad saw membangun entrepreneurship? Julukan al-amin kepada Muhammad saw tidak datang begitu saja tanpa beliau membangun kredibilitas dan kapabilitasnya sebagai pebisnis tangguh. Unsur utama yang mengandung julukan itu adalah  KEJUJURAN yang melahirkan KEPERCAYAAN banyak orang. Lalu, beberapa orang bijak pernah berkata: “Jika ingin menguji sahabat sejati, ajaklah ia berbisnis.”

Hakikat entrepreneurship yang diajarkan Muhammad saw. Pertama, kita perlu meyakini bahwa entrepreneurship adalah sebuah pemelajaran dan bukanlah bakat yang dibawa sejak lahir. Entrepreneurship yang dilatih dan dikembangkan dapat menjadi kapasitas kecerdasan yang mampu membantu kehidupan seseorang untuk mempertahankan hidup dan memperbaiki kualitas hidup. Inti dari entrepreneurship adalah kemandirian yang kemudian berubah menjadi kemampuan untuk berusaha atau menciptakan usaha.

Brilian Cara Nabi: Menjadi PENGUSAHA (entrepreneur) perlu dipahami sebagai vocation(pekerjaan atau karier) bukan option (pilihan). Berniaga atau berdagang adalah aktivitas utama para pengusaha yang di dalamnya terdapat jalan menuju kesuksesan. Hal keliru bahwa menjadi PENGUSAHA merupakan pilihan atau jalan keluar jika seseorang sudah:

  1. Tidak diterima melamar ke mana pun (menganggur);
  2. Tidak diterima menjadi pegawai negeri sipil;
  3. Tidak dapat melanjutkan sekolah;
  4. Tidak dapat mengandalkan ijazah.

Proses karier Muhammad saw ini bisa kita petakan ibarat menaiki sebuah menara yang mengerucut tahap demi tahap. Perhatikan urutan yang menunjukan fase pembangunan dan pengembangan diri seorang manusia. Usia 12 tahun adalah masa menumbuhkan minat dalam bidang entrepreneurship dengan pembiasaan dan pendidikan. Usia 17 tahun adalah masa memantapkan minat sesuai dengan cita-cita dan tujuan hidup yang jelas serta bersungguh-sungguh dalam pendidikan. Usia 20 tahun adalah masa membina keseriusan untuk berkarier dengan melakukan magang ataupun praktik langsung bekerja. Usia 25 tahun adalah masa menetapkan karier yang serius disalah satu bidang dan membina diri menjadi ahli dibidang tersebut atau menjadi yang terbaik. Usia 30 tahun adalah masa mengembangkan dan melejitkan karier sehingga seseorang memiliki waktu 20 tahun masa produktif untuk bisa memaksimalkan karyanya.

Sebagai tambahan, dapatlah saya petakan lima karakter entrepreneur yang dapat disebut sebagai karakter MACAN seperti berikut. 1. Mulai dari Diri Sendiri, 2. Ambil Resiko, 3. Ciptakan Impian, 4. Aksi Nyata, 5. Never Give Up!.

 

“Ada kemauan ada jalan, tidak ada kemauan banyak alasan”

(M. Iqbal Santoso)

Wallahu’alam bi al Shoab,

  • view 27