Cukup, Jangan Lagi Korbankan Kami

Igoramus Yugiyanto
Karya Igoramus Yugiyanto Kategori Inspiratif
dipublikasikan 02 Januari 2017
Cukup, Jangan Lagi Korbankan Kami

Tahun baru, baru saja berlalu dan pikiran ini masih menerawang jauh ke belakang. Ke peristiwa puluhan tahun yang lalu.

Satu peristiwa yang menjadi titik balik. Apapun keadaanya harus lebih baik. Tak ada alasan untuk gagal.

Terlahir dari keluarga broken home membuat diri ini tak mampu menatap dunia. Seolah kala itu yang ada hanya hadir di dunia sebagai pelengkap.

Selalu iri manakala melihat yang lain bisa berjalan dengan kedua orang tuanya. Bercanda dan bersama-sama menghabiskan waktu kala senja.

Seolah Tuhan tak adil kenapa saya memiliki kedua orang tua tapi mereka tak pernah bersama. Mereka bercerai kala usiaku belum genap lima tahun.

Disaat adikku masih kecil dan berwarna merah. Kedua orang tuanya telah memilih jalan untuk berpisah entah apa alasannya.

Tumbuh tanpa kehadiran kedua orang tua seolah sesuatu yang biasa bagi yang melihatnya. Namun, bagi kami yang menjalani adalah siksaan seumur hidup.

Seringkali mereka tanya, mana ayahmu dan saya harus jawab apa selain hanya tersenyum. Tak ada kata yang bisa keluar hingga saat ini.

Toh saya pun tidak pernah tahu kenapa mereka berdua berpisah. Yang saya tahu hanya rasa sakit ini dikumpulkan.

Diubah menjadi energi untuk melawan kerasnya dunia. Hal itu terbukti, mulai dari lulus SD tak pernah sekalipun orang tua mencarikan sekolah.

Lagi-lagi yang ada hanya kesedihan manakala disekolah melihat yang lain diantar orang tuanya dan saya hanya sendiri.

Tidak cukup mencari SMP, kala lulus dari sekolah itupun lagi-lagi harus mencari SMU atau tepatnya STM harus sendiri lagi.

Keterpaksaan menjalani hidup tanpa kasih sayang kedua orang tua menjadikan jiwa ini jauh lebih kuat. Tak bisa lagi merasakan sakit di fisik mungkin karena hati telah mati.

Kejadian tersebut terus terulang. Semua harus dijalani sendiri tanpa yang lain. Mungkin kalau saja ada kedua orangtua dan gagal saya bisa menangis dan mengadu ke mereka.

Kalau saja bisa menggugat pasti kedua orang tua akan saya mintai pertanggungjawaban. Tahukan mereka apa yang kami rasakan selama ini. Kami hidup layaknya anak yang anormal yang itu semua bukan karena kesalahan kami.

Beruntung anak-anak seperti kami bisa tumbuh dengan hati waja. Rasa sakit dan lelah mengarungi dunia bukan alasan untuk menyerah.

Belajar dari pengalaman itu hendaknya para orang tua jauh berpikir kedepan akan resiko yang dihadapi buah hatinya. Jangan sampai emosi sesaat akan mengubur hidup-hidup impian anak.

Anak yang katanya adalah amanah atau titipan Tuhan yang kemudian disia-siakan dan tumbuh dengan kerasnya dunia.

  • view 85