"Muslim Banyak Korupsi, Non Muslim Banyak Yang Jujur" coba gimana tuh?

Entahlah ~
Karya Entahlah ~ Kategori Agama
dipublikasikan 14 Maret 2016
Hanya Catatan

Hanya Catatan


Corat - coret

Kategori Acak

7.7 K Hak Cipta Terlindungi

Demikian celoteh sebagian orang yang imannya mulai luntur oleh godaan harta dan berita sampah.

Namun kalaupun benar, maka itu hanya ada di negara dengan penduduk yang didominasi oleh ummat Islam. Adapun di negri dengan dominasi nachoro atau bud'ho atau hundi, maka koruptornya tentu saja ya nachoro, atau bud'ho atau hundi. Adapun orang islam di sono pasti saja jarang atau bahkan ndak ada yang korupsi, percaya to?

Jadi yang salah apanya kalau sudah gini, hayooo?

yang salah tentu saja yang tinggal di negri Islam lalu ingin yang koruptornya adalah nachoro, atau bud'ho atau hundi, alias ingin nyoba nyoba dipimpin oleh wong kafir & kecewa dengan keislamannya.

Bukan berarti rela bila muslim korupsi, karena saya percaya bahwa muslim jujur dinegri kita ini masih buaaaanyaaaaak sekali, terlalu banyak muslim yang jujur dan tidak korupsi, diantaranya ialah bapak, ibu dan seluruh orang - orang Islam yang khilaf sehingga membela "ohok-ohok", bukankah demikian ? Atau barang kali anda juga mengakui bahwa sebenarnya anda juga bagian dari orang - orang yang anda katakan "muslim koruptor", atau malah anda sudah tidak rela menjadi muslim dan ingin segera berpindah agama agar masuk dalam nominator "muslim ndak korup" ? na'uzubillah min zaalik.

Beberapa hari ini kami mendapat pertanyaan seputar perkataan yang dinisbatkan kepada Ibnu Taimiyah ?rahimahullah? yang bunyinya,

?pemimpin kafir yang berlaku adil lebih baik disisi Allah ketimbang pemimpin muslim yang dzalim?.

Apakah benar pernyataan diatas merupakan pernyataan Ibnu Taimiyah..?
Apakah Ibnu Taimiyah membolehkan orang kafir menjadi pemimpin dengan syarat berlaku adil.?

Jawabannya tentu tidak benar, kalimat diatas sudah mengalami tahrif (perubahan). Memang benar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah mengatakan bahwa

?Manusia tidak berselisih bahwa balasan dari perbuatan zalim adalah kebinasaan sementara balasan dari sikap adil adalah kemuliaan. Oleh karena itu diriwayatkan bahwa ?Allah akan menolong negara yang adil sekalipun kafir, dan akan membinasakan Negara yang zalim sekalipun beriman??.

Akan tetapi perlu diketahui bahwa perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tidak bisa difahami sepotong-sepotong. Perkataan beliau harus difahami secara utuh, hal ini telah kami jelaskan pada tulisan kami sebelumnya yang membahas tentang hal-hal yang harus diperhatikan pembaca sebelum membaca karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Bila kita membaca pernyataan beliau secara utuh di dalam risalah Al Hisbah, sama sekali tidak ada indikasi bahwa Syaikhul Islam merestui kepemimpinan orang kafir sekalipun dia adil. Karena hal ini merupakan masaalah pokok yang sudah difahami dalam islam, dimana agama kita secara tegas menolak kepemimpinan orang kafir terhadap orang islam. Dan Syaikhul Islam merupakan ulama yang dikenal tegas dalam masalah ini.

Pernyataan beliau didalam risalah Al Hisbah adalah penjelasan tentang pentingnya keadilan serta bahayanya kedzaliman terhadap eksistensi sebuah bangsa. Karena dalam urusan dunia Allah tidak pilih kasih. Dia memberi rahmat kepada seluruh makhluk, baik kepada orang mukmin ataupun orang kafir bila ia telah melakukan ikhtiar. Akan tetapi orang mukmin akan mendapakan balasan kebaikannya di dunia dan di akhirat, sementara orang kafir hanya akan mendapatkan balasan kebaikannya di dunia saja. Jadi pertolongan Allah kepada orang-orang kafir semata-mata nikmat dunia yang disegerakan kepada mereka, tanpa menyisahkan nikmat tersebut untuk kehidupan akhirat mereka.

Hal ini semakna dengan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,

?Sesungguhnya Allah tidak akan menzhalimi seorang mukmin yang berbuat baik. Di dunia dia akan mendapatkan balasan dan di akhirat ia akan mendapatkan pahala. Sementara itu, orang kafir (yang berbuat baik) akan diberi kebaikan oleh Allah di dunia, sementara di akhirat ia tidak akan mendapatkan pahala?. (HR. Muslim)

Jadi tidak ada yang salah dari pernyataan Ibnu Taimiyah. Tafsirannya saja yang keliru, karena berangkat dari redaksi yang sudah mengalami perubahan.

Catatan:

  1. Syaikhul islam seolah mengisyaratkan bahwa kebinasaan merupakan akhir dari sebuah kedzaliman, itulah sunnatullah yang berlaku. Keadilan dan kedzoliman pasti akan berbalas, walau untuk waktu yang lama. Dan ini berlaku di negara yang tidak megenal tuhan sekalipun. Karena Allah tidak akan menzhalimi siapapun diantara makhluk-Nya. Maha besar Allah dengan segala Keadilan-Nya.
  2. Sebuah negara hanya akan meraih kejayaannya bila pemimpinnya adil, dan keadilan yang hakiki hanya bisa diwujudkan bila syariat Allah tegak sebagai dustur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
  3. Tidak ada keadilan hakiki diluar Islam. Islam tidak pernah merasa aman selama dipimpin orang kafir. Sebaliknya islam selalu memberi rasa aman pada semua orang bila berkuasa. sejarah telah membuktikan itu.

Ataukah sejarah harus berulang untuk membuktikan semua itu.?

Semoga Allah menjaga bumi pertiwi dari berbagai makar jahat.

Wallahu a?lam

  • view 523