Matikan TVmu

Entahlah ~
Karya Entahlah ~ Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 Februari 2016
Matikan TVmu

Penyiaran Nasional memasuki usia ke 82 tahun pada 2015 lalu. Di usia yang boleh dikatakan matang dan dewasa tersebut masyarakat menaruh harapan banyak terhadap dunia penyiaran di tanah air, juga kepada KPI sebagai lembaga yang memantau dunia penyiaran di Indonesia selama ini. Masyarakat banyak menaruh harapan besar terutama perihal program acara televisi yang dirasakan semakin menurun kualitas tayangannya.

Indonesia memiliki banyak stasiun televisi swasta, baik lokal maupun nasional, masing-masing stasiun televisi mencari kekhasan tampilan sendiri-sendiri.Namun apakah secara generik kualitas acara televisi di Indonesia mampu memberikan imbas mendidik kepada masyarakat? Sebuah perdebatan panjang akan muncul mengenai persoalan ini.

Beberapa tahun belakangan ini, Kita diserbu oleh sesuatu yang parah, Yaitu acara-acara TV dengan kualitas yang bahkan rendah atau jauh lebih buruk. Setuju tidak setuju itu adalah realita. Stasiun TV di Indonesia seakan-akan berlomba untuk memuaskan dahaga kalangan tertentu saja.

Ternyata, setelah memasuki musim pemilihan presiden 2014, acara-acara Alay tidak hanya tayang di TV Alay. TV Berita saat ini pun begitu, dipenuhi dengan acara Alay. Dulu mereka sering disebut sebagai TV berkualitas, TV yang menyajikan tontonan bermutu. Acaranya berita, talkshow dan acara-acara lainnya yang dikemas menarik dan mendidik. Namun, TV berita sekarang tak kalah alay, bahkan lebih alay. TV berita itu menyajikan drama. Tak kalah dengan sinetron, mereka juga menyajikan tontonan acara penuh drama dan bumbu-bumbu tak bermutu. Dagelan konyol ala Yuk Keep Smile pun tersaji di TV-TV itu.

Begitu pula dengan Artisnya, ARTIS LANGKA - Seiring semakin maraknya pertelevisian di Indonesia, kebutuhan artis untuk mengisi jam tayangnya juga meningkat. Hanya saja artis yang sudah matang kualitas dan siap pakai ternyata sulit didapat. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, beberapa artis muncul tak hanya di satu stasiun televisi meskipun kualitasnya juga jauh dibawah standart.

Kisaran tahun 1990an hingga menjelang jatuhnya orde baru, kehidupan anak-anak usia sekolah dasar pada saat itu menurutku cukup jauh berbeda dibandingkan dengan kehidupan anak-anak edisi Millenia (dekade tahun 2000) dan edisi Informatika (dekade tahun 2010). Di masa itu, hiburan untuk anak-anak boleh dibilang sangat terbatas. Dulu pertama kali saya menikmati siaran Tv swasta pada awal tahun 1995, itupun yang bisa di tangkap menggunakan antena uhf hanya tiga stasiun tv swasta, acara yang di sajikan pun bervariasi sekali dari kartun, film seri luar negeri, film lepas, sinetron , acara masak,kuis, berita,musik,acara anak, yang menarik semua dan menurut saya masih layak ditonton semua.

Dalam global hiburan di Indonesia, segala cara dapat dilakukan buat kepentingan pihak-pihak tertentu, termasuk para pelaku global pertelevisian membuat tayangan program-program televisi. Intinya, mereka hanya memikirkan bagaimana cara menarik massa iklan atau sponsor. Produsen sebuah produk niscaya akan memajang iklannya pada tayangan-tanyangan televisi nan ratingnya tinggi. Tapi sayang, tayangan-tayangan yang katanya disukai masayrakat tersebut jauh dibawah dari kata berkualitas, tayangan-tayangan tersebut ternyata tak sepenuhnya orisinal atau asli, sekali pun bentuknya reality show. Anehnya, meskipun acara tersebut masuk dalam kategori tidak berkualitas nyatanya masyarakat kita masih banyak pula yang menikmatinya, jadi?

  • view 220