Bayangan Bulan (Gerimis Mengundang)

Entahlah ~
Karya Entahlah ~ Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Januari 2016
Cerita Bersambung ( Bayangan Bulan )

Cerita Bersambung ( Bayangan Bulan )


Kategori Acak

2.4 K Hak Cipta Terlindungi
Bayangan Bulan (Gerimis Mengundang)

Sesungguhnya cinta abadi akan mengubah, dengan ijin Allah yang pahit akan menjadi manis, tanah menjadi emas, kekeruhan menjadi kejernihan, sakit menjadi kesembuhan, penjara menjadi taman, penyakit menjadi kenikmatan, kekerasan menjadi kasih sayang. Cintalah yang melunakkan besi, mencairkan batu, dan membangkitkan orang yang mati serta meniupkan di dalamnya kehidupan yang baru

-Jalaluddin Rumi

Gerimis membalut Kota Malang. rembulan tak nampak, terhalang oleh gumpalan awan yang bersenggayut. Tak Seperti hari-hari kemarin, Risti terasa berbeda. Gadis itu menjadi lebih pendiam. Senyum yang diapit lesung pipi hampir-hampir tak pernah ditampakkannya lagi. Saat bertemu Uda pun tak ada sapaan yang muncul. Risti tak pernah bercerita akan pengalaman dan kisah lalunya yang selalu diceritakan dengan berbinar-binar. Hening, sepi, entah mengapa.

?Yan, Risti kenapa? Aku amati dia berubah, Risti menjadi lebih pendiam, tidak seceria dulu?

?Aku juga merasakannya. Tapi dia tak pernah mau bercerita jika aku tanya tentang apa yang sedang dialaminya.?

?Trus kenapa dia sering ke tempat nenek??

?Mengambil surat, Sejak dulu dia sering menerima surat, entah dari mana aku tak tau. Beberapa Bulan terakhir ini Risti terlihat sedih setelah kembali dari tempat nenek, aku menduga itu karena tidak ada surat yang dia terima?

?Yan, aku boleh mita tolong??

?Yup, asal aku bisa Da?

?Kamu kan sahabatnya Risti, hibur dia jika dia sedih. aku merasakan Risti tengah menyimpan Sesuatu, mesti tak dia ungkapkan, jendela hatinya tak bisa berdusta. Lihatlah, sinar mata yang dulu sumiar itu. sekarang menggerimis. Seandainya aku bisa, pasti aku akan melakukannya sendiri.?

Yani menatap mata Uda dalam-dalam seolah sedang ada sesuatu yang ingin ditemukannya di sana. Mata seorang pemuda yang turut bergurat mendung, geruh, dan lara. Yani tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.

Gerimis menjelma hujan, langit muram telah menumpahkan segala kegundahan. dahan-dahan turut membeku. Tanah basah, daun-daun berguguran tak kuasa menahan derasnya air.

Uda Menatap lamat-lamat dalam keheningan malam. Namun disudut hatinya yang lain hampa meraja, merentak-rentak.

*)

Pagi yang kesekian ratus kalinya menyapa kota ini, Gunung Arjuna berdiri kokoh di balik tingkapan embun yang meremang. Garang, gagah, seolah tak kenal belas kasihan. Hari demi hari berganti begitu saja, ia meninggalkan segala yang silam, tanpa belas kasihan.

Meski tangan-tangan melambai, panggilan-panggilan menjurai, tak hendak setitik pun ia kembali, begitu pula hari-hari Uda, ia berlalu begitu saja dalam sunyi semenjak Risti kehilangan pelangi diwajahnya. Suasana sepi, tak ada kecandaan, pun sekedar sapa keakraban. Seandainya pun mereka bersama, Risti lebih banyak diam. Ingin sekali Uda tahu apakah gerangan penyebabnya, namun lidahnya kelu saat tanya bersemayam hendak dikeluarkan.

?Ya Allah, ada apakah dengan Risti? Apakah dia sengaja menjauhiku? Siapalah aku bagi Risti, aku hanyalah mentan pemuda berandal. Jauh dari Risti yang bening penaka berlian.?

Berbagai tanya berkecamuk dalam benak Uda, ia takut jika memang demikianlah sebabnya. ia merasa belum sanggup begitu saja melepas buhulan rasa yang terlanjur menyeruak ke dalam hati.

Puspa rasa merasuk dalam bukau lara. Sungguh, melihat air mata Risti turut meleleh jua separuh hatinya. Tak mengerti apa yang terjadi, namun kesedihan Risti telah merabukinya pula dengan rasa yang sama.

?Gerimis itu telah menjadi hujan Yan, baru saja aku melihat Risti meneteskan air matanya, aku yakin itu karena beban hatinya telah membuhul hingga meruntuhkan benteng pertahanannya, kasihan Risti?

?Da, apa kau mencintai Risti??

?Apa perlu aku menjawabnya??

?Tak perlu jika kau tak hendak, tanpa jawab pun aku tahu. Sejak pertemuan itu pun kau sudah tertarik dengannya, benar bukan? dan semenjak Risti berubah, kamu begitu memikirkannya, tanpa kamu sadari, kamu pun ikut menggerimis. Adakah yang lebih menyedihkan bagi seorang pecinta selain melihat duka kinasihnya??

?Yan, apakah aku berdosa dengan perasaan ini?? ia pun menghentikan langkahnya. Berbalik dan melanjutkan kata-katanya dengan suara berat. ?Aku takut Allah murka, karena rasa ini semakin hari, semakin kuat rasa ini tumbuh bersemi.?

?Simpanlah rasamu sampai waktunya tiba, biarkan ia bening dalam hatimu, bening dan semakin bening karena titik-titik nodanya mengendap satu demi satu. Cinta sejati selalu putih, Cinta sejati seperti cinta Ummu Hakim pada Ikrimah. Ia pun butuh perjuangan hati seperti pengorbanan Salman al Farishi untuk Abu darda, yakinlah, jika kalian ditakdirkan berjodoh, gurun dan samudra mana yang sanggup menahannya??

  • view 522