Bayangan Bulan (kamu kah?)

Entahlah ~
Karya Entahlah ~ Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Januari 2016
Cerita Bersambung ( Bayangan Bulan )

Cerita Bersambung ( Bayangan Bulan )


Kategori Acak

2.3 K Hak Cipta Terlindungi
Bayangan Bulan (kamu kah?)

"Astaghfirullahaladzim...."

Risti tergeregap, peluhnya berleleran, napasnya memburu, dadanya bergemeretap. Ternyata dia bermimpi buruk.

segera risti beranjak dari ranjangnya dan menuangkan segelas air putih. setelah agak tenang, diapun segera mengambil air wudhu. Akhir-akhir ini diapun sering mengigau. Tiga kali kakak mendatangi mimpinya.

Sulit baginya untuk mendustai diri bahwa tak semua mimpi adalah bunga tidur semata. Tapi, bagaimana jika mimpi adalah sebuah pertanda? Wallahua'lam....

Bisa saja mimpi berasal dari setan untuk menyesatkan manusia. Namun ada kalanya mimpi adalah petunjuk dari Allah pada hambaNya yang hanif, yang senantiasa berharap akan hikmah dariNya.

'PADA HAKIKATNYA, TAK ADA SESUATUPUN YANG BENAR-BENAR KITA MILIKI. SEMUANYA ADALAH PINJAMAN DARI ALLAH SEMATA. PERTEMUAN, ORANG-ORANG TERKASIH, BAHKAN PERSAHABATAN KITA ADALAH PINJAMAN DARI-NYA'

"Ya rabb ya dzal ahlam, benarkah mimpi ini adalah pertanda?"

*)

Landungsari, Pagi yang cerah di hari minggu.

matahari memandikan kehangatan pada setiap yang terkena sorotannya. Sinarnya berkilatan menembus setiap sela. Para pejalan kaki saling bercandaan.

Dua pemuda memasuki pelataran rumah besar berpagar besi dan terdapat sebuah patung di sampingnya. sembari memasuki pelataran rumah itu, salah satu pemuda mengirimkan sebuah pesan kepada penghuni kos yang ditujukannya. "Saya sudah di depan". sembari menunggu kedatangan sang tuan rumah mereka pun menunggunya dengan duduk di teras.

keresahan pun semakin mengentara di wajah Aziz dan Uda. Menunggu sembari memainkan jari-jarinya. Beberapa menit kemudian, dua orang gadis menghampiri mereka, dengan memakai jilbab coklat muda menjurai hampir menutup separuh badannya. Aziz seketika berdiri,tatapan? matanya seakan tak lepas dari dua mata gerimis yang terbalut asa. Risti menghentikan langkahnya, jantungnya berdetak kencang, sorotan matanya menatap pemuda yang tengah memandangnya itu.

Pandangannya seperti sorotan elang namun meneduhkan, potongan rambut pendek dan selalu berkesan rapi. Tubuhnya yang tinggi dengan kulit kekuning-kuningan. Bibir Risti bergetar, ingin berbicara namun seolah-olah ada yang menahannya. Matanya memerah, air matanya melinang tanpa sanggup ditahan. Uda, hanya bisa terdiam dan menunduk dalam-dalam, matanya basah.

"Ka... Kakak? Benarkah ini Kakak Aziz?

"Iya adek, ini aku."

"Kakak...."

Air mata Risti menjelma menjadi derai, tubuhnya seketika lunglai, kakinya seolah tak menjejak tanah lagi. Yani, yang sedari tadi berada di belakang Risti dengan sigap merangkul Risti erat-erat, lalu menuntunnya duduk di depan pemuda itu.

Aziz memandang gadis ini penuh keharuan, kedua matanya menitikkan gerimis yang mengundang iba. Air matanya menggenang.

"Kakak kemana saja selama ini? mengapa tak mengirim kabar?"

"Maafkan Kakak dik, Kakak....."

"Tak apa Kak, aku tahu Kakak sibuk menyiapkan semuanya untuk menjemput Risti kan? aku yakin kakak pasti datang...."

Mendengar perkataan Risti, Uda tak tahan. diapun memulih beranjak menjauh.

"Iya dik, kakak pasti datang. Tapi ada yang ingin kakak sampaikan, kakak mohon maaf...."

  • view 224