Diskusi

Entahlah ~
Karya Entahlah ~ Kategori Politik
dipublikasikan 28 April 2016
Hanya Catatan

Hanya Catatan


Corat - coret

Kategori Acak

8.5 K Hak Cipta Terlindungi
Diskusi

Saat saya di Singapura, tempat yg paling monumental dan membuat saya berdecak kagum bukanlah hebatnya gedung-gedung metropolis yg kokoh namun kaku dan dingin. Bukan pula kecanggihan layanan transportasi publik yg teratur namun masing-masing penumpangnya diam membisu sibuk dengan gadget, buku atau tablet dan laptop memandangi pekerjaannya.

Bukan pula taksi-taksi dan kendaraan umum lain yg teratur yg sopirnya 'uncle-uncle' yg menghabiskan waktu tuanya untuk tetap mencari uang demi tuntutan hidupnya. Bukan pula deretan toko-toko branded yg menawarkan berbagai barang mewah berharga wah.

Semua yg dikatakan hebat di Singapura adalah biasa saja. Satu tipe dengan negara-negara Barat sana sejak zaman Romawi berkuasa. Menawarkan keelokan dan kemegahan bangunan dan tata kota, namun 'kehilangan' manusia di dalamnya.

Saya justru kagum dengan masjid di Singapura. Ketika saya menemukan masjid gembira dan syukurnya begitu luar biasa. Betapa tidak, di sebuah negara yg dulunya begitu Islami dengan Kesultanannya, sekarang hampa. Masjid menjadi barang langka. Keramahan masyarakat muslim adat Melayu seakan sirna.

Kecuali di masjid. Ya, di lingkungan masjid-lah masih dapat dirasakan kehangatan itu. Masyarakat berbaur berbincang hangat. Riang anak-anak mengaji atau sekedar berlari kesana kemari. Khusyuknya mereka yg beribadah atau yg hanya tidur merebah. Hingga ramainya kedai-kedai kopi dan rumah makan sederhana di sekitaran masjid yg masih menawarkan keramahan penjual dan kebaikan pembelinya. Di masjid dan sekitarannya, saya merasakan kehidupan yg sebenarnya.

Dan, hampir-hampir saja saya merasakan suasana Singapura itu di ibukota Indonesia. Lalu akankah kita diamkan saja?


Ya Rabbi sallim biladi...

?#‎SelamatkanIndonesia?

  • view 131