Hanya Catatan

Entahlah ~
Karya Entahlah ~ Kategori Agama
dipublikasikan 27 Januari 2016
Hanya Catatan

Hanya Catatan


Corat - coret

Kategori Acak

7.4 K Hak Cipta Terlindungi
Hanya Catatan

Pada asalnya, hukum wanita bekerja adalah boleh-boleh saja. Namun patut diketahui bahwa ini bukanlah kewajiban utama seorang wanita terutama seorang istri.

Kewajiban utama seorang istri adalah mendidik anak, mengurus rumah, serta melayani suami.

Namun, jika keadaan telah terdesak boleh bagi wanita untuk ikut turun bekerja. Misalnya kebutuhan hidup tidak dapat tercukupi dengan pendapatan suami, suami cacat sehingga tidak dapat bekerja, atau suami dipidana karena suatu kasus sehingga tidak dapat bekerja. Hanya saja ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum memutuskan untuk bekerja :

1. Diizinkan oleh walinya
Yang dimaksud dengan wali antara lain ayah, saudara laki-laki, dan suami (jika sudah menikah)

2. Telah menyelesaikan kewajiban utamanya
Seperti yang telah dijelaskan, wanita memiliki kewajiban utamanya sendiri. Jika dengan bekerja kewajiban utamanya terbengkalai maka ini tidak patut dilakukan.

3. Ada kebutuhan untuk bekerja
Jika kebutuhan hidup tidak tercukupi maka boleh ikut bekerja

4. Menutup segala celah terjadinya fitnah
Minimalisir segala interaksi dengan lawan jenis baik saat perjalanan, di tempat bekerja, ataupun saat pulang kecuali yang dibutuhkan. Berpakaian secara syar'i dan tundukkan pandangan.

5. Tidak bercampur baur dengan laki-laki
Tempat kerja diusahakan tidak banyak bercampur baur dengan laki-laki. Karena ini adalah awal dari fitnah. Banyak kasus perselingkuhan diawali dengan interaksi kerja.

Dan adapun di zaman ini amat banyak wanita yang bekerja semata-mata demi mengejar karir dan dunia. Sehingga terbengkalai urusan-urusan yang menjadi kewajiban utamanya.

Tidak ada waktu untuk menuntut ilmu, tidak ada waktu untuk mengurus rumah.

Anak-anaknya dititipkan pada orang yang tidak jelas pemahaman agamanya, tidak jelas akhlaknya, dan tidak jelas apakah akan dididik secara benar ataukah tidak.

Dan ketika wanita ini sampai di rumah setelah bekerja, telah capai tubuhnya serta pikirannya, lusuh pakaiannya, dan kotor tubuhnya. Tidak ada lagi yang tersisa baginya waktu dan kesempatan menyambut suaminya dengan keadaan yang terbaik.

Selang beberapa waktu saat keadaan teah menunjukkan akibat perbuatannya ia hanya dapat menangis, mengeluh, berteriak kebingungan "dimana salahku ?". Suaminya tak lagi tertarik padanya, anak-anaknya tidak terbentuk dengan pemahaman agama dan akhlak yang baik, rumahnya terasa kuburan tak ada kehidupan.

Baiknya kita memutuskan yang terbaik. Jika harta pemberian suami tak cukup, maka coba dicukup-cukupkan. Lebih baik hidup sederhana menjurus melarat asalkan tetap hidup daripada kehidupan hancur berkeping-keping.

Namun, jika untuk hidup sederhana pun sudah sulit maka silakan bekerja. Namun jika ternyata biaya hidup sudah dapat tercukupi kembali maka kembalilah melaksanakan kewajiban-kewajiban sebagai seorang wanita.

  • view 259