Hayal Rindu

Kamila Luqman
Karya Kamila Luqman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Februari 2017
Hayal Rindu

Ketika itu aku baru datang dari kantor karena pekerjaan organisasi lumayan tidak sedikit, pekerjaan seorang sekretaris memang tak sekeren namanya. Kata orang aku terlihat tenang dalam pekerjaan, tapi siapa mereka? Yang paham bagaimana aku ya aku, aku bahkan kadang lupa waktu dan makan.

Meskipun setengah jam setelah menutup notebook ku, radiasinya masih terasa menghantam urat-urat yang aku rawat selama ini, aku bahkan selalu membawa sebotol air putih untuk menjaga ketahanan tubuhku. Aku berbaring dalam kamar dengan desahan yang lumayan keras, karena ketika itu temanku menggerutu, “kerjanya hanya duduk kok mendesah sampe segitunya” sambil membawa se ember pakaiannya, dia berlalu.

Aku tak menghiraukannya, aku masih saja mengumpulkan kekuatanku kembali untuk bisa keluar dari kamar dan pergi mengelilingi kota. Bukankah sepantasnya aku mendapatkan sesuatu yang mengenakan badan dan pikiranku? Akhh malah mendapat ocehan dari orang yang menganggap pekerjaanku mudah, semudah makan pisang goreng!

“aku mau pergi, aku akan shalat dan makan malam diluar setelah itu baru aku pulang” dengan alis dan wajah datar ditambah suara yang tidak jelas aku terpaksa melapor, badan dan pikiranku rasanya bosan dan lelah mereka memaksaku untuk terus beristirahat. Tapi aku tetap pergi dengan segenap senyuman yang tidak terlalu manis kepada temanku. “kamar jangan dikunci, biar aku nanti gak usah gedor-gedor pintu” aku setengah berteriak,

            “mau kemana fa?” ternyata aku bertemu dengan tetangga kamar kos-anku,

            “mau jalan-jalan, mut”

“aku ikut ya, kebetulan aku lagi gak ada kerjaan. Tugas penelitian nanti aja dikerjakannya, bosen aku dikamar terus”

Aku memang tidak suka banyak bicara, kata orang aku cuek tapi sebenarnya enggak! Aku hanya malas berbasa-basi saja apalagi melontarkan percakapan yang tidak penting yang hanya membuat waktuku terbuang sia-sia, “ya sudah ayo, aku mau ketaman kota disana udaranya sejuk” aku menyetujuinya

Kebetulan kos-an yang aku tempati dekat dari taman kota, jadi hanya cukup jalan kaki dan menikmati indahnya sore hari bersama polusi-polusi yang bertebaran dari knalpot pejabat Negara. Ahh sungguh menyebalkan knalpot itu, hanya membuat kebisingan dan kericuhan saja!

Selama aku dan temanku, Muti, melewati jalan yang lumayan padat aku mendengarkan segala macam cerita yang dilontarkannya. Aku bagaikan emak-emak yang mendengarkan cerita putrinya dengan seksama setelah pulang sekolah, bagaimana teman dia disekolah, bagaimana pelajaran dia dan masih banyak judul yang akan diceritakan oleh putrinya. Tapi itu tidak masalah buatku, aku cukup mempunyai seni mendengarkan yang baik supaya teman-temanku tetap merasa nyaman dan membutuhkan aku.

Aku juga tak mempermasalahkan teman yang hanya menemuiku ketika ingin sekedar bercerita kehidupan pribadinya atau kekesalannya bahkan aku merasa sangat berarti ketika bisa membuat mereka nyaman bercerita denganku,

            “eh ifa, kamu punya pacar?”

            Entahlah kenapa dia tiba-tiba melontarkan pertanyaan itu, sebuah pertanyaan yang aku hindari selama ini dan pertanyaan itu membuat aku geli, “Aku enggak punya pacar, dan aku tidak mau punya!”

Aku menjawab sekenanya apa yang ada dibenakku, Sebenarnya ada penyesalan yang mendalam setelah aku menyadarinya, kalo nanti akhirnya aku pacaran gimana? Bukankah itu namanya aku menghianati ucapanku sendiri? Itulah alasan mengapa aku membenci pertanyaan itu! Karena aku akan menjawab sekenanya dengan spontan tanpa sama sekali berpikir panjang.

            “Terus kalo kamu mau nikah gimana? Gak mau pacaran dulu?”

            “emangnya orang nikah itu wajib pacaran kah mut?” kebiasaanku kalo lagi nanya menatap lawan dan mengernyitkan alis, entahlah mengapa.

“Enggak sih fa tapi kan trennya sekarang begitu, dikampus kita saja hampir semua mahasiwa punya pasangan ada yang serius menikahi ada juga yang cuma buat teman kencan di kampus saja”

Aku geleng-geleng kepala tak habis pikir sama para wanita yang gampang sekali dibodohi sama rayuan pria, hadeh! Zaman macam apa sekarang ini? yang gandengan tangan dengan bukan muhrim dianggap tren dan itu sah-sah saja sedangkan yang tidak bergandengan tangan dianggap kolot dan semacamnya, bahkan dituduh homo.

“kamu gak pernah jatuh cinta fa?” dia menambahkan, membuat aku tambah geli.

Sebenarnya aku bisa saja berbohong karena tidak ingin mengingatnya kembali, “Aku punya hati mut, tapi aku juga harus menjaga harga diri kan ”

            Aku tidak menghiraukannya, malas sekali!!

Sebenarnya aku sedang dalam usaha melupakan sesuatu yang pernah menggelitik otak dan rasaku, sejak dia pergi aku tak pernah tidak memikirkannya hanya saja aku berusaha terus menerus menangkis itu. Sangat menyebalkan sekali, bahkan aku tidak tau kemana dia pergi setelah dia tidak lagi menggunakan akunnya. aku biarkan saja apa maunya!

Muti tau kalo aku gak suka pembahasan yang tadi, jadi dia berusaha keras mencari tema yang pas dengan pribadiku. Akhirnya dia bercerita tentang masa kecilnya,

Yaa.. masa kecil yang sangat bahagia ku rasa. Aku bahkan tak punya cerita masa kecil sepanjang ceritanya, sangat menakjubkan bukan?!

Entah siapa yang mengirimnya kepada kita, aku melihat bayangan seorang lelaki berbadan tinggi dengan ransel di punggungnya datang sambil menyodorkan sesuatu “Bercerita tentang masa kecil sangatlah menyenangkan, apalagi jika ditemani popcorn ini”

Aku seketika memandangnya dalam-dalam, spontan aku bergumam

“Aziz....”

Aku tak bisa memalingkan pandanganku.

Aku masih belum percaya...

hingga pada akhirnya adzan membuyarkan lamunanku, segera aku beranjak dan membuang jauh-jauh hayalan itu. Sungguh tidak berguna!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • view 67