Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 5 Oktober 2017   15:17 WIB
JIKA SAJA CINTA ITU ADALAH CITA

JIKA SAJA CINTA ITU ADALAH CITA
Oleh: Sulistya Dyana Putri
 
Tangis itu sudah aku ungkapkan semua, semua rasa menyesal. Rasa cinta yang menyakitkan hati hingga 15 tahun aku menunggu, berharap, berusaha, dan berdoa. Namun tetap saja, Tuhan nampaknya enggan mengabulkan cinta ini, mungkin karena aku kurang tulus, mungkin pula ini bukan yang terbaik, atau justru Ia ingin memberi jalan yang lebih indah sebelum cinta itu terwujud. Entahlah, aku hanya bisa mengira-ngira.

Cinta apa gerangan hingga 15 tahun, kalau menikah mungkin aku sudah memiliki anak berusia remaja. Bukan! Ini bukan cinta tentang sepasang kekasih yang menjalani kisah Long Distance Relationship, kisah LDR roman picisan sama sekali tidak cocok untuk ku. Ini kisah cinta ku tentang cita-cita anak kecil yang teramat tergila-gila dengan ‘gambar bergerak’ orang bilang itu film kartun.

Benar, aku sangat jatuh cinta. Bayangkan 15 tahun mengejarnya dalam semua keterbatasan informasi, ilmu, finansial, bahkan dukungan. Saat orang tua berharap anaknya memiliki cita-cita sebagai dokter, insinyur, pegawai diperbankkan, anaknya ini malah memilih menjadi seniman. Menjadi animator adalah cita-cita dari sejak aku mengenal kotak ajaib yang berisi gambar-gambar bergerak yang penuh warna warni.

Apa yang kalian harapkan dari anak berumur 11 tahun? Saat anak seumurannya berpikir tentang ‘cinta monyet’, aku malah sibuk menghambur-hamburkan kertas HVS untuk belajar membuat komik. Berpikir, “Bagaimana membuat gambar itu bergerak? Bagaimana bisa gambar-gambar itu memiliki suara yang berbeda? Bagaimana cara membuat cerita yang menarik?”

Apapun yang berhubungan dengan dunia animasi, kartun, dan berbau Jepang sudah menjadi bagian dari perjalanan waktu hidup ku. Karena cinta ini aku menemukan teman-teman baru yang sama menyukai hobi menggambar, merasakan cemburu layaknya kekasih yang mencemburui pacarnya hanya gegara hasil gambar orang lain lebih baik dari buatanku. Menangis seharian karena film kartun yang ditonton tamat dan berganti dengan yang baru yang belum tentu seru.

Cinta ini aneh, memang ia. Ini cinta yang hanya aku yang bisa mengerti, sama mungkin seperti cinta seseorang yang memilih menikahi bantal bergambar anime girl dari pada mencari pacar sungguhan dan menikahinya. Atau seseorang yang lebih memerhatikan pacar virtualnya dari pada wanita dikehidupan nyata yang lebih banyak meminta. Namun, lebih tepatnya mungkin kami memilih kabur dari dunia nyata karena dunia nyata lebih kejam dari pada apa yang kami sangka saat beranjak remaja.
“Kamu masih nonton film kartun dan baca komik? Kaya anak kecil!”
Itulah yang sering mereka lontarkan pada cinta kami. Apa kerennya menjadi anak remaja yang berpacaran? Kebanyakan yang aku lihat dan amati, anak-anak remaja yang menyebut diri mereka ‘dewasa’ dalam ukuran fisik justru lebih banyak terlibat dalam hubungan yang kurang sehat. Namun aku tidak mau terlibat dengan urusan pribadi mereka, biarlah mereka memandang apa pun sesukanya.
Aku berada dibangku Sekolah Menengah Atas saat semua cintaku lenyap perlahan, karena dunia dan aku menghianati cintaku sendiri. “Maafkan, aku terpaksa karena dipaksa!”

Aku yang sudah bercita-cita ingin menjadi animator dan mangaka (pengarang komik) mencari informasi tentang universitas yang memiliki jurusan animasi namun buntu karena keadaan. Ayah yang meninggal saat aku duduk dibangku kelas 3 SMA membuatku harus tersadar dari semua beban hidup yang dipikul keluarga. Berpikir hidup harus lebih realistis, ku putuskan mencari universitas yang lebih menjanjikan namun tetap tidak meninggalkan cinta ku. Jurusan sastra Jepang yang memang saat itu aku pikir menjanjikan ku pilih melalui jalur BIDIKMISI. Sayang seribu sayang harapan dan mimpi tinggallah angan-angan. 

Aku tidak tahu apa yang terjadi, surat dari universitas baru sampai tepat satu hari terakhir pendaftaran ulang. Aku memang tidak lulus BIDIKMISI namun pihak kampus memberi kesempatan untuk mengikuti jalur Beasiswa Mahasiswa Miskin, yang saat itu sedang gencar-gencarnya digalangkan. 

“Maaf neng, mamah gak bisa bantu. Kita tidak punya uang untuk berangkat ke Bandungnya. Melihat suratnya kita tidak akan sempat karena pun jika pergi akan terlambat diperjalanan!”
Aku tidak bisa berkata-kata, perih rasanya. Nyaris ingin menghilang dari bumi dan berenang ke dasar lautan. ‘Lebay!’ ya, untuk sebagian orang yang mendengar ini sangat berlebihan tapi, jika kamu pernah mencintai dan berjuang dari nol. Kamu akan tahu sesuatu itu berharga melebihi apapun juga.
Tiga hari tiga malam, menangisi semua yang terjadi. Mengetahui bahwa nilai bahasa Jepang ku kurang dari kriteria, mengetahui surat itu telat datang, dan menyadari bahwa aku tidak bisa memperjuangkan yang namanya ‘cinta’ yang aku gembar-gemborkan kepada kalian. Caplah aku sebagai pecundang, menyerah sebelum berjuang. Mungkin itu yang akan kalian hardik padaku, tapi sungguh aku telah membunuh semua angan tentang dunia lain hanya untuk yang satu ini. Tapi ternyata, memang benar kata “jangan berlebihan mencintai sesuatu karena kamu akan menyesal dikemudian hari”.
Dengan segala keterpaksaan dan amarah yang meluap dalam hati, aku memilih masuk kampus pendidikan untuk melarikan diri. Mengubur semua kenangan, memasuki dunia Biologi. Berharap bahwa aku bisa bermain-main didalamnya, jujur saja satu tahun didalam perkuliahan aku hanya bermain-main hingga seorang dosen bahasa mengatakan hal yang membuatku harus move on, move up, move get! Atau selamanya menyandang gelar ‘pecundang’.
“Jika kamu tidak serius kuliah dikampus dan jurusan ini, saya sarankan lekas keluar. Karena percuma saja kamu berada disini jika pikiran dan hati kamu tidak berada disini.”

Kata-kata beliau terus terngiang, dan aku memutuskan untuk segera memutuskan pilihan. “Ya, aku putus dengan mu. Saat ini juga.” Menerima segala yang terjadi, memaafkan diri sendiri, memaafkan masa lalu, dan berdiri untuk saat ini dan melanjutkan hidup sesuai yang telah menjadi nasib ku. Aku masih percaya ini nasib bukan takdir, karena aku belum mati hingga kali ini. 

Berharaplah berjalan lancar, bodohnya aku kembali diingatkan bahwa ternyata melupakan ‘cinta mati’ itu tidak segampang membuang sampah yang menumpuk bertahun-tahun. Padahal harus dipilah dipilih, diangkutan umum tepat saat semester empat aku bertemu teman lama. Ia bilang, kenapa aku kuliah dijurusan kependidikan? Ia pun bilang bahwa kampusnya lebih cocok dengan bakatku dalam menggambar, jika saja aku masuk kampusnya mungkin bakatku akan lebih berguna dibandingkan dengannya.

Skakmate! 

Terima kasih telah membuat luka lama kembali menganga. Dilema, haruskah aku pindah ke kampusnya? Bodoh! Tidak, ini ujian seberapa ikhlasnya hatiku untuk melepaskan semuanya. Jika saja aku tahu lebih awal mungkin aku bisa masuk universitas itu.
Semester lima begitu berat, mengetahui bahwa ada universitas animasi di suatu kota tepatnya Yogyakarta yang berhasil meluncurkan film animasi pertamanya yang berhasil menggebrag dunia film berjudul “The battle of Surabaya” karya anak-anak negeri. Hati ini cemburu bukan kepalang, menangis, mengumpat, marah, dan kecewa sudah aku makan bulat-bulat.
Jika saja dulu guru ku memberiku nilai karena tidak salah menyebutkan namaku berulang kali! Jika saja surat yang datang dari desa tidak dibiarkan dan langsung diberikan padaku! Jika saja aku berangkat saat menerima surat itu dan mengabaikan semua kesulitan dan rasa kepedulian ini! Jika saja! Jika saja! Jika saja!!!
Lalu Tuhan menegurku dengan caranya yang tidak aku mengerti. Jika saja kamu memang pergi saat itu juga, maka kamu belum tentu dapat menyelesaikan kuliah S1 mu hingga saat ini. Jika saja guru mu tidak salah memberikan nilai pada orang lain, maka kamu tidak akan belajar tentang kehidupan yang selama ini menemanimu. Belajar tentang Tuhan kembali, belajar mencintaiNya kembali, bertemu dan bersilaturahmi dengan orang-orang hebat yang ternyata memiliki kisah yang hampir sama denganku, mendewasakan jalan pikiranmu, dan yang paling mengena adalah belajar bahwa seorang ibu akan menjadi begitu kuat untuk menghidupi anak-anaknya tanpa seorang suami disampingnya.

Jika memikirkan semua amarah itu, aku mungkin tidak akan pernah belajar apapun tentang perjalanan waktu yang aku lalui hingga hari ini. Dan kasih itu akan terus berulang, “Maka nikmat Tuhan mu yang mana lagi kah yang kau dustakan!”

Aku menyandang gelar S1 Pendidikan Biologi, dengan semua keterbatasan yang kulalui selama kuliah. Menjalani beberapa profesi kerja paruh waktu, menunjukkan bahwa aku bisa membuktikan bahwa perkataan “Apa aku mampu membiayai kuliahku?” sudah aku buktikan. Dengan mengikhlaskan cinta cita-citaku. Apa aku menyerah dengan cinta itu? Aku akan jawab jujur, tidak!
Hingga hari ini aku masih berharap, aku bisa melanjutkan kuliah menjadi animator. Namun perasaan bingung itu masih bergelayut dalam hati dan pikiran, “Bagaimana cara aku melakukannya?”

Aku tidak akan meminta kalian mengerti tentang perasaan cinta yang aku miliki, karena memang bukankah cinta tak akan pernah bisa dimengerti oleh siapapun. Dijabarkan menggunakan rumus fisika, struktur kimia, hingga filosofi para filsuf dunia pun cinta tidak akan bisa dimengerti. 
“The true love is never end.”

Seperti itulah kisah ini masih akan berlanjut, antara pencarian jati diri. Mungkinkah aku terjebak pada masa kanak-kanak yang orang bilang, “masa kecil kurang bahagia”. Atau terjebak pada salah satu pertanyaan yang memang menjadi cikal bakal kembalinya cita-cita ini, “mau jadi apa ketika kamu besar nanti?”. Jujur saja aku tidak pernah memikirkan ada yang lain yang bisa menggantikan, cita-cita paling sakral yang pernah ku inginkan itu.

Namun, aku akan selalu berterima kasih pada cinta citaku. Bahwa karenanya aku mengerti, ada banyak cinta yang sempat aku lupakan menikmatinya hanya karena ambisi ku ini. Tentang cinta keluarga, hubungan manusia, indah dan menakutkannya dunia nyata dibalik semua kisah yang pernah terlukis melalui sketsa. Dan aku belajar lagi... 
“Orang-orang besar yang berhasil tidak ditempa dalam kehidupan yang selalu menyenangkan. Justru karena kehidupan itu sulit maka orang-orang besar belajar menghargai dan mencintai proses dibalik kesulitan sebelum kesuksesan. Cintai prosesnya, belajarlah selalu, percayalah semua akan baik-baik saja. Hanya perlu percaya bahwa kamu mampu melewatinya. Percayalah!”
 
T A M A T ...?
Belum tentu ^^-

Karya : Sulistya Putri