Harmoni Tulus

Sulistya Putri
Karya Sulistya Putri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Oktober 2017
Harmoni Tulus

HARMONI TULUS
Oleh: Sulistya Dyana Putri
 
Kamu dan aku itu bukan jadi kita, tahu kenapa? Awal kita bertemu kita itu kaya lagunya Tulus – Sepatu. Kita adalah sepasang sepatu, selalu bersama tak bisa bersatu. Kita sadar ingin bersama tapi tak bisa apa-apa, kamu yang seorang aktivis dan aku seorang anarkis.
 
Iya aku anarkis, selalu membuat gaduh kalau kita rapat organisasi. Kamu bilang, “musyawarah itu harus mufakat!”
 
Tapi aku selalu berprinsip, “karena itu harus mengerti dong, urusan perempuan itu lebih banyak dari urusan laki-laki!”
 
Maka kamu itu harusnya dengerin Tulus – Tukar Jiwa, coba sehari saja kau jadi diriku. Kau akan mengerti bahwa bagaimanaku melihatmu. Aku mengagumimu menyayangimu dari sudut pandangku, tapi aku ragu kamu liat aku dari sudut spion yang mana?
 
Aku kehabisan cara tuk katakan padamu kau dimata dan dipandanganku, tapi kalau aku bilang apa kata mereka. “Ikhwan dan akhwat tidak boleh pacaran! Lebih baik ta’aruf.”
 
Setiap hari lihat kamu diruangan sekretariat itu membuat lagu Tulus – Mengagumi dari jauh mengalun berulang kali. Kamu pikir hati aku tidak tersisksa! Kisahmu harimu ku tahu semua, gerakmu guraumu kemasan raga tanpa kau sadari aku pahami.
 
 Cinta memang mungkin inilah cinta, kata orang benci jangan terlalu ‘sangat’ nantinya jadi suka. Iya jadi suka tapi, bukan tidak percaya diri karena aku tahu diri. Biarlah aku mengagumimu dari jauh, bukan karena gengsi tapi menjagamu dari fitnah mata, hati, dan jiwa. Walau akhirnya aku juga yang terluka dan gigit jari.
 
“Ra, jaga mata dong! Zina itu awalnya dari mata loh.” Nasihat lama tapi bener juga.
“Iya Nis, harus jaga mata. Mata batin apa lagi, hix.”
“Nih anak, malah mulai alay.”
“Habis, kalau lihat dia, aku jadi ingat saat ada konflik antar organisasi intra sekolah. Dia pernah bilang kalau setiap organisasi itu harus punya pendirian kuat. Tahu tidak dia kutip lirik lagu Tulus yang ‘Manusia Kuat’. ‘Kau bisa patahkan kakiku, kau bisa lumpuhkan tanganku, kau bisa merebut senyumku, kau bisa merobek hatiku tapi kami manusia-manusia kuat! Jiwa-jiwa yang kuat itu kita!’ hebat sekali orasinya!” 
 
Tapi kamu tetaplah kamu, ikhwan yang super nyebelin. “Ayash!” kita itu tetap menjadi rival aktivis versus anarkis. Kamu dengan damai aku dengan pemberontakan. “Kalau masalah itu harus diselesaikan dengan kepala dingin, bukan dengan otot! Kamu ini perempuankan? Masuk rohis buat apa kalau tetap anarkis!”
 
 Aku sangat kesal! Mentang-mentang dia ketua OSIS, terus aku tidak berhak mengungkapkan pendapatku sendiri begitu?! Bagaimana bisa aku tenang menghadapi penghinaan anak-anak geng itu yang menjelek-jelekanmu. Kalau begini, tak perlu kau ajak aku bicara. Tak akan pernahku mendengarnya, inilah aku yang baru. Nikmatilah kejutanku, akan aku buktikan bahwa mereka itu salah dan kau Ayash akan tahu kebenarannya.
 
Aku siapkan sebuah mikrofon tersembunyi, yang ku hubungkan pada jaringan nirkabel radio sekolah. Aku tetapkan dulu frekwensi siaran, yang mana akan tersiarkan diseluruh ruangan kelas. Aku menantang mereka untuk mengatakan yang sebenarnya, kau tahu percikan api yang sedang menyala karena rasa iri lebih mudah untuk dibakar menjadi api yang besar. Semua bentuk fitnah yang bertebaran disekitaran sekolah memang berasal dari mereka.
 
Segera ku tekan nomor tombol tertentu agar siaran tersebut bisa langsung terdengar melalui jaringan radio sekolah. “Ya benar, kamilah yang menyebarkan berita bahwa anggaran OSIS dikorupsi oleh ketua. Tapi tidak akan ada yang mempercayaimu, karena kamu tidak memiliki bukti untuk melaporkan kami!” Dani ketua geng yakin dengan hal yang ia katakan.
 
“Wah terimakasih kau sudah mengaku dan mengatakannya secara lantang.” Aku tersenyum puas, aku simpan rekaman itu dan segera ku sebarkan. Seluruh sekolah gempar, hingga kepala sekolah pun mendengar pengakuan Dani yang jelas sekali tersebut. Dani marah dan berniat menyerangku dan BRAGGG!!! Seseorang terjatuh keras dan mengaduh.
 
“Le-lepaskan tanganku! Ini sakit, kau mau mematahkan tanganku ya!”
“Kau ini laki-laki tapi ribut sekali.”
BRAKKK!!!
Suara pintu terbuka paksa, keras sekali. “Ayash!” aku kaget, ia terlihat marah memburu ke arah kami dan, DASH!!! Pukulan keras tepat dihadiahkan Ayash ke pipi kanan Dani. “Ini hadiah untukmu karena menyakiti Rara!” aku salah mendengar atau memang tadi dia bilang namaku?! Kepala sekolah dan seksi kesiswaan datang menghampiri kami, mengintrogasi semua pihak yang terlibat dalam isu yang tersebar disekolah.
Sore itu masalah memang belum selesai tapi setidaknya si anarkis ini mendapat pengakuan dari seseorang. Kali ini lagu Tulus – Teman Hidup mengalun ditelinga Rara, tetaplah bersamaku jadi teman hidupku berdua kita hadapi dunia. Kau milikiku, ku milikmu kita satukan tuju bersama arungi derasnya waktu. Kau jiwa yang selalu aku puja.
 
 
 
 
~ Selesai ~
 

  • view 36