Pulang. (Cerbung-Bagian 1)

Anna Pryana
Karya Anna Pryana Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 02 Agustus 2016
Pulang. (Cerbung-Bagian 1)

Rintik hujan terdengar syahdu ditelinga. Gadis itu, Satira Saraswati namanya, asyik duduk di depan jendela kamar sambil memadukan suara hujan diluar dengan suara merdu Adhitya sofyan yang menyenandung lembut lewat radio kesayangannya. Sesekali bibirnya ikut bersenandung mengikuti irama lagu, sementara pandangannya sampai pada sebuah bingkai foto yang ia letakkan di atas meja belajar bersama tumpukan buku-buku Accounting miliknya. Disana terlihat dua sosok manusia dengan senyum yang menenangkan dan bahagia. Satira dan Elang. Yap, Satira dan lelaki yang sangat ia cintai. Satira teringat masa dimana gambar itu diambil. Kala itu Satira dan Elang sedang menikmati liburan Idul fitri bersama, hampir setahun yang lalu. Masih terasa hari-hari bahagia itu, dalam hati Satira berdoa semoga masa itu bisa terjadi kembali. Meskipun ia sadar betul, sampai hari ini dimana idul fitri terhitung hanya tinggal menunggu dua minggu kedepan, ia tak melihat adanya harapan bahwa ia dan Elang masih akan melewatinya bersama.

...Aku slalu bernyanyi

Lagu yang engkau ciptakan

Kau nyanyikan...                   

Satira tersadar dari lamunannya ketika mendengar nada dering dari blackberry mobilenya. Sedetik sebelum ia mengangkat panggilan tersebut, hatinya berbisik. Itu lagu favorit kita, Elang. Masihkan kau ingat?

“Assalamu’alaikum, sayang..

“Wa’alaikumusalam, Satira. Lagi apa? aku ganggu kamu gak?” Suara Cica diseberang sana.

“Ngga kok , Aku lagi dikamar aja. Disini hujan, kamu pasti tahu ritualku ketika hujan”. Ujarku diiringi tawa.

“Owalah, pantesan agak lama angkat telponnya. Sudah sejauh mana itu ngelamunnya” kata Cica menggoda.

“Bisa aja kamu. Gimana kabarnya?”

“Alhamdulillah, lancar. Satira, ini sudah dua minggu menjelang lebaran, kapan kamu pulang? katanya kangen sama aku..” Cica merayu dengan manja.

“Aku belum tau Ca, jauh didalam hati aku ingin pulang supaya bisa ketemu sama kamu dan teman-teman yang lain, lagi pula aku juga suntuk dijakarta. Tapiii...”

“Ngga pake tapi-tapi deh, Satira. Aku tunggu pokoknya kamu pulang”. Sanggah Cica.

“Iya, insyaallah. Will see yaa. Aku usahakan.”

“Oke. Eh, aku dipanggil ibu deh kayaknya. Nanti disambung lagi yah. Bye satira, Wassalamu’alaikum”.

“Bye , Wa’alaikumusalam”.

Satira mendesah seiring telepon itu berakhir. Sejujurnya ia sangat merindukan Cica dan ingin sekali bertemu, tapi disisi lain  hatinya ragu. Satira merasa tidak siap. Hatinya belum benar-benar sekuat itu untuk kembali terkenang dengan segala hal yang sudah jauh ia tinggalkan, segala kenangan, luka. Menjumpai Cica, sama halnya dengan menjumpai kenangan pahit yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam.

****

Allahu akbar.. Allahu akbar... Allahu akbar... Laailaahailallahu Allahu akbar.. Allahuakbar wa lilla ilham.

Gema takbir membahana menghiasi hari nan fitri. Dihari ini terhembus suasana penuh kedamaian, suasana haru. Hari dimana manusia terasa seperti kembali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Peluk hangat tersebar dimana-mana, energi positif yang timbul dari ketulusan hati yang saling memaafkan.

“Satira, kamu sama Elang apa kabar?” tanya Cica seraya pelan menyentuh lengan Satira.

Satira menunduk menatap ujung kakinya yang di ayun-ayunkan, iseng. Satira sudah tahu, pasti Cica akan menanyakan ini cepat atau lambat.

“Elang sudah bahagia dengan pilihannya, Ca. 

Diiringi senyumnya yang kelu, Satira tulus mengatakan itu. Itu adalah sebait doa yang selalu ia selipkan setiap kali diri dan hatinya tertunduk menghampiri Rabb pemilik jiwanya dalam sujud panjang di sepertiga malam, pun disetiap helaan nafasnya. Satira selalu berdoa semoga Elangnya kini telah bahagia dengan pilihan hidup yang diambilnya, meninggalkan Satira dan puing kenangan yang pernah ada.

"Apa kau yakin Elang bahagia, Satiira?" Cica bertanya seolah jawaban yang terlontar dari bibir Satira itu hanya penghibur hati semata.

"Setidaknya, Dia bisa melanjutkan hidupnya dengan sangat baik, Ca" 

"Lalu bagaimana dengan kamu, Satira?"

"Hahaha...memangnya aku kenapa Ca? Satira menatap lembut sahabatnya itu. "Cica sahabatku tersayang, kamu lihat Aku! I'm fine, I was move on Ca, aku udah ngga lagi memikirkan hubungan aku dan Elang yang memang sudah berakhir. Aku udah rela dia pergi dengan pilihan hidupnya, Ca. Sampai saat ini memang Aku belum bisa menghilangkan dia dari hatiku, tapi aku juga ngga punya hak untuk memaksakan perasaanku berbalas, Ca. Biar bagaimanapun, hubungan kami udah berakhir sejak satu tahun yang lalu. Jadi, semua sudah selesai Ca. Tinggal aku yang memang harus sepenuhnya melupakan dia."

"Aku dukung kalau begitu, aku yakin dia bukan laki-laki yang baik buat kamu, Satira".

"hehehe..yaiyalah. pangeranku pasti sudah Allah siapkan, Ca. cuma belum saatnya aja"

Satira tersenyum-senyum sendiri sambil lamunannya mengawang-awang membayangkan lelaki seperti apa yang Allah persiapkan untuknya dan bagaimana moment special itu akan tercipta.

"Heyyy...ngga usah langsung 'ngayal ketinggian sekarang juga kalii non..senyum-senyum sendiri gitu yang ada aku takut kamu makin ngga waras niih." Cica malah menggoda Satira dan berhasil membuatnya salah tingkah.

"Hehehe...ngga ngayal kok, Ca. Cuma jadi  ngga sabar ajaa..."

"Semua akan indah pada waktunya, sayang. Jodoh itu ga akan seindah ini kalau ngga di rahasiakan. Allah menguji kita untuk sabar dan tawakkal menanti jodoh terbaik buat kita. sambil kita berbenah menyiapkan diri. ‘Kan kata Allah, 'Jodohmu adalah sebaik dirimu'."

"Siiipppp bu Guruuuu...". Satira mengangguk-anggukan kepala tanda setuju dengan sahabatnya itu. Urusan ini memang Cica jauh lebih bijak dan pandai, itulah kenapa Satira tak pernah merasa sia-sia jika harus menjadikan Cica satu pendengar sejati dari sekian sahabatnya. Satira merasa sangat beruntung Cica selalu siap sedia mendengar segala keluhan hatinya. 

TOK...TOK..TOK..

"Eh Ca, itu pasti Pak Tole. Yuk kesana! Aku laper banget niiih..makan bakso boleh juga kayaknya".

"Hayukkk,, tapi kamu yang traktir yaaa" Jawab Cica, nyengir.

"Hahaha...maunyaaa"

Dua gadis sebaya itupun berlalu mengejar tukang bakso langganan mereka sejak mereka remaja. mereka menyantap makan malam sederhana itu sambil berbincang ringan sebelum berpisah masuk ke rumah masing-masing.

***

Malam telah beranjak meninggalkan petang hari. Sunyi sepi kembali menyelimuti malam dengan segala keheningannya, hanya terdengar suara desau angin dan riuh jangkrik bersahutan. Satira belum juga terlelap, satu per satu wajah orang-orang yang disayanginya menjelma. Entah kenapa ada perasaan yang ganjil sekali mengganggu Satira malam itu. bukan, bukan karena percakapanya dengan Cica mengenai Elang tadi yang mengganggunya. Satira pun tidak mengerti, ini seperti firasat tentang kehilangan. Satira tiba-tiba saja merasa takut kehilangan orang-orang yang disayanginya. Ibu, Ayah, Nenek, Adik-adiknya, Cica, dan...Elang. 

Jantungnya berdetak lebih cepat, air matanya tiba-tiba menetes.

"Ada apa ini, Ya  Allah ?"Lirih Satira berbisik. 

Satira bangkit menuju bagian belakang rumahnya. Seisi rumah sudah terlelap. Selama berlibur di tanah kelahirannya ini, Satira tinggal bersama Uwak (kakak dari ibu) dan sepupu-sepupu juga Nenek Satira yang sudah berusia 80 tahun. Satira melangkahkan kaki ke kamar mandi yang berada di belakang rumah untuk berwudhu, ia berniat mendirikan shalat malam. Semoga doa bisa membuat hatinya lebih tenang dan tak ada lagi firasat-firasat buruk yang mengganggunya.

Suara adzan subuh dari mushola desa terdengar syahdu seolah telah menjadi ciri khas pengawal rutinitas pagi menyambut sang fajar menyingsing. Satira terbangun dari tidurnya ketika mendengar senandung shalawat yang di lantunkan sang imam mushola sebagai panggilan kepada jamaah agar segera datang untuk melakukan shalat berjamaah. Satira bergegas bangun untuk mengambil air wudhu kemudian menuju mushola untuk mengikuti shalat berjamaah. Dingin udara pagi tak membuat gentar warga desa untuk berduyun ke mushola kecil itu, meski dengan penerangan lampu yang seadanya namun mushola tetap ramai dan shaf terisi penuh hingga lebih dari separuh ruangan mushola yang tidak terlalu luas tersebut. Ini salah satu kegiatan yang tak pernah terlewatkan oleh Satira jika sedang berlibur di desa. Entah mengapa ada kerinduan menyusup ke jiwanya akan suasana berjamaah di mushola seperti ini jika sehari saja melewatkannya. Ia senang bertemu dengan orang-orang tua yang sudah renta namun masih menyempatkan diri dengan penuh semangat untuk datang ke mushola melakukan shalat berjamaah dengan khusyu'.

Satira melihat jiwa-jiwa yang patuh pada titah Tuhan penyeru alam, meski dengan fisik yang sudah tak lagi muda namun semangat ibadahnya sungguh membuat malu para pemuda yang mendengar adzan subuh justru menarik lebih rapat selimutnya dan tenggelam dalam buaian mimpi tanpa peduli. Meski tidak semua pemuda seperti itu, dan untuk itulah Satira selalu tak merasa berat untuk melangkahkan kaki berjamaah, ia selalu berusaha mengingatkan diri sendiri bahwa shalat berjamaah adalah satu dari sekian bentuk ibadah yang mendapat nilai lebih disisi Allah, Satira teringat dengan satu Hadist Rasulullah yang pernah dibacanya bahwa Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah dikatakan bahwa orang-orang yang melakukan shalat subuh dan ashar berjamaah akan didoakan oleh malaikat. "para malaikat berkumpul pada saat shalat subuh lalu para malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga subuh)naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, "Bagaimana kalian meninggalkan hamba-Ku?", mereka menjawab : kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat. 

maka sepatutnyalah kita sebagai manusia yang tak luput dari kesalahan berusaha mengharap ampunan dari Allah salah satunya dengan shalat subuh berjamaah, meski berat dilakukan namun tak ada nilainya dengan ampunan Allah yang secara khusus dipinta oleh malaikat-Nya untuk kita hamba-Nya yang mau berbondong-bondong meramaikan rumah Allah bersamaan dengan fajar menyingsing menyambut bumi. 

Gema iqamah terdengar lantang, Satira dan seluruh jamaah mushola Nurul iman takjim bangkit merapatkan barisan untuk bersiap menghadap Rabb Tuhan semesta alam dengan segala kepasrahan diri dan kecintaan kepada Illahi Rabbi membawa jiwa yang tunduk khusyu' bercakap dengan-Nya lewat untaian-untaian doa. 


 Bersambung-


  • Anna Pryana
    Anna Pryana
    1 tahun yang lalu.
    Wahiya.. Entah kenapa dulu waktu nulis ini, terfikir nama itu. Mungkin Semacam kode dari alam bahwa aku akan mengenal seseorang bernama panggilan Cha di dunia nyata..

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    ada nama singkatan aku yak, wah familiar bener hihihi....