Kelas Diskusi Perdana Grup Whatsapp Inspirator Seeker (Sebut Saja Testimoni)

Anna Pryana
Karya Anna Pryana Kategori Motivasi
dipublikasikan 12 Mei 2016
Kelas Diskusi Perdana Grup Whatsapp Inspirator Seeker (Sebut Saja Testimoni)

“Menulis itu seperti menuangkan gagasan dan perasaan dari teko pikiran dan teko perasaan kita...

Agar kita bisa menuangkan sesuatu dari teko pikiran dan teko perasaan kita, teko itu harus terisi dulu. Proses mengisi teko pikiran dan perasaan itu salah satunya dengan membaca, menonton film, berdiskusi dll. Seringkali writers block terjadi karena teko pikiran dan teko perasaan kita kosong.

Kalau bosan, biasanya itu terjadi karena isi teko pikiran dan perasaan kita itu-itu saja... Kan bosan menuangkan hal yang sama berkali-kali. Pembaca juga akan bosan kalau disuguhi minuman yang sama berkali-kali. Makanya kita perlu mengisi teko pikiran dan perasaan itu dengan isi yang beragam…”

Kalimat pembuka dari Pak Fahd Pahdepie di kelas diskusi whatsapp yang diadakan di Grup Inspirator Seeker malam ini, Rabu 11 Mei 2016 sukses menyihir teman-teman inspirator yang sudah sejak pukul 18.00 sore telah menunggu di depan layar kaca smartphone. Kelas diskusi ini perdana dilakukan setelah terlaksananya kopdar inspirator bulan april lalu. Tema yang diangkat sesuai kesepakatan para inspirator yaitu : “Menuang Inspirasi, Melejitkan Potensi". Dalam tema ini, kami membahas mengenai kiat-kiat mengusir rasa bosan yang kerap hadir dan melenyapkan ide-ide yang sudah ada dikepala.

Supaya tidak hilang begitu saja dan dapat dibaca kembali sewaktu-waktu, maka bukan ide yang buruk jika serupa testimoni, saya mencoba mengabadikannya di sini. Di inspirasi.co.

Diskusi berlangsung kurang lebih 2 jam, dimulai dari pkl. 20.00 – 22.00 setelah Pak Fahd berbaik hati menembah waktu diskusi yang sebelumnya disepakati hanya s.d pkl. 21.00 (How lucky we are.. (^_^)

Tentu saja, kalimat pembuka dari Pak Fahd yang diawal saya sampaikan, langsung memicu para inspirator peserta diskusi untuk menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menjadi keresahan mereka ketika sedang menuliskan karya. Supaya lebih akurat, saya sampaikan apa adanya saja yaa..

Pertanyaan dari Mba Novita Susilaningrum, inspirator dari Bekasi pemilik akun Novita_Susilaningrum :

“Kak Fahd saya sudah mencoba mencari referensi saat merasa mentok idenya ketika menulis,  tapi setelah mencari referensi tulisan saya justru cendrung mengarah pada buku yg saya baca. Kebetulan pertanyaanya sudah saya siapkan ini kak.

“Bagaimana caranya supaya ketika menulis, ide gak mentok dipertengahan?  Kadang ide sudah serasa munggunung diotak tapi ketika dituangkan dalam sebuah tulisan tidak sesuai harapan, dan ketika saya mencari referensi dari buku lain tulisan saya justru cendrung mengarah pada buku yg saya baca. Dan apakah setiap cerita harus ada konflik? Terimakasih kak.

Itu adalah pertanyaan yang tepat sasaran dengan tema diskusi, menurut saya.

Dan diluar dugaan, Pak Fahd sangat apik memberikan jawabannya atas pertanyaan ini.

Pertama-tama, Pak Fahd mengajak kita untuk memahami dan menerapkan teori Mark Levi bahwa menurut beliau, ada 4 tahap dalam fase awal menulis yang dapat dilakukan agar meminimalisir terjadinya writers block.

Yang pertama adalah brainstorming. Brainstorming adalah fase di mana kita mengumpulkan semua bahan untuk tulisan kita. Bisa dengan membaca, berdiskusi, menonton, meriset, mengobservasi, dll. Selain itu, juga kata Levi, kalau mau brainstorming, tipsnya mulailah dengan menuliskan semua kosakata yang berhubungan dengan tema yang akan kita tuliskan. Pak Fahd memberikan contoh-contoh sederhana, misalnya kita mau menuliskan tema Ibu. Tuliskan semua kosakata yang berhubungan dengan ibu. Seperti : Tangan, baju, kerudung, gelas, rambut, sarapan, sakit, sabar, doa, dst

Kata-kata yang kita tuliskan itu akan menstimulasi gagasan baru dalam benak kita. Itulah yang disebut Edward de Bono sebagai 'stimulasi acak'

Ketika mau membuat cerita tentang ibu, mungkin kita nggak memikirkan kata kerudung dan sarapan. Tapi saat kata kerudung dan sarapan muncul, keduanya menjadi sintesis baru dan memuculkan gagasan baru, misalnya scene ketika kerudung ibu yang bergerak melambai-lambai saat ia menyuapi sarapan kita ketika kecil.

Kedua, clustering. Fase clustering adalah saat kita mengeliminasi kata-kata apa saja dari proses pertama tadi yang tidak akan kita masukkan ke dalam tulisan kita. Di fase ini kita juga memilih kata-kata apa saja yang akan kita masukkan ke dalam tulisan kita. Misalnya tadi: Tangan, baju, kerudung, gelas, rambut, sarapan, sakit, sabar, doa, dst

Kita coret baju, rambut, sakit, doa. Yang dipertahankan: tangan, kerudung, gelas, sabar.

Nah kata-kata yang tersisa itulah yang akan jadi backbone tulisan kita nanti, tapi ingat, buat daftar kata-kata yang lebih banyak/panjang.

Ketiga, jotting. Jotting adalah menulis secara kasar.

Di fase jotting, tuliskanlah semua yang ada di kepala kita tanpa jeda. Dan tuliskan sampai selesai sesuai dengan targetnya. Misalnya, jika targetnya dua halaman, tuliskan sampai selesai dua halaman. Tanpa memerhatikan apakah kalimatnya bagus atau tidak, sesuai EYD atau tidak, ada typo atau tidak, pokoknya tuliskan dulu sampai selesai.

Pak Fahd menambahkan, Hukum dalam jotting sederhana: Tidak boleh kembali ke belakang. Misalnya, baru nulis satu kalimat, dibaca dulu. Baru satu paragraf, dibaca dulu, dst.

Hal itu haram dilakukan. Kenapa? Karena jika kita berhenti dan kembali ke belakang, kita akan punya tendensi untuk mengedit tulisan kita. Bahkan membuang/menghapusnya. Jika sudah begitu, pasti tulisan tidak selesai-selesai.

Terakhir, re-writing. Di sinilah kesempatan kita sebagai penulis, untuk mengedit tulisan kasar tadi. Di fase ini bekerjalah seperti seorang editor/kritikus, perbaiki bagian-bagian yang salah, isi celah-celah yang kosong, kendalikan konsistensi cerita, dst.

Tapi menurut Pak Fahd, penyebab utama writers block sebenarnya adalah minimnya bahan yang kita punya. Minimnya stock cerita yang kita punya. Kata Salman Rushdie dalam Haroon and The Sea of Stories, "Mungkin kolam cerita kamu kering? Atau mungkin keran ceritanya yang mampet?"

Masih menyangkut pertanyaan mba Novita tadi, Pak Fahd juga menyampaikan bahwa mungkin di masa awal belajar menulis kita akan mudah terpengaruh penulis lain. Misalnya setelah baca Dee Lestari, tulisan kita jadi mirip Dee. Setelah baca Andrea Hirata, gayanya jadi mirip Andrea. Setelah baca tulisan Emha cara mengambil contohnya seperti Emha. Tapi tidak apa-apa. Itu proses yang wajar. Terus saja menulis. Karena pada akhirnya semua gaya itu akan bersintesis dalam dirimu dan kelak akan membentuk ciri khas tulisanmu tersendiri, yang unik. Gaya kamu jadi ada Dee-nya, jadi ada Andrea-nya, jadi ada Emha-nya, tetapi gayamu bukan mereka semua, karena gayamu adalah gabungan dari semuanya. Bisa jadi lebih keren dan lebih unggul.

Sebagai closing atas pertanyaan Mba Novita, Pak Fahd mengerucutkannya bahwa..

Menulis itu skill, semakin banyak latihan, maka kelak nggak perlu teori apa-apa lagi dalam menulis. Untuk menulis, satu-satunya teori adalah menulis itu sendiri. Jadi, kata beliau, teorinya adalah : Teruslah Menulis. 

Fyuuhhh....pertanyaan dan jawaban pertama yang sesungguhnya sudah sangat mewakili materi diskusi malam ini. Tapi, supaya lebih panas, mari simak pertanyaan selanjutnya dari Mba Nur Rachma, Member Insipasi.co dari Pamulang dan pemilik akun Nur Rachma Wahidah ini rupanya sudah mempersiapkan diri dengan matang untuk mengikuti diskusi pada kesempatan kali ini. Terbukti dengan serentetan pertanyaan yang langsung ditujukan kepada Pak Fahd sebagai narasumber. Saya copaskan saja yaa...

  1. Bagaimana cara menjadi penulis yg baik selain harus konsisten dalam tulisan?
  2. Menulis itu biasanya tergantung suasana hati dan pikiran, bagaimana agar tulisan yg dlm keadaan pikiran dan hati yg kacau bisa teraplikasi dgn baik tiap kata"nya?
  3. Bagaimana caranya agar tulisan kita diterima oleh semua lapisan masyarakat?
  4. Tips n trik bagi pemula yg baru senang menulis agar mood menulisnya terjaga?
  5. Target apik untuk menulis satu buku biasanya brp lama?

Dan jawaban yang lagi-lagi sangat mendetail juga disampaikan oleh Pak Fahd dengan ringkas.

  1. Untuk menjadi penulis yang baik, belajarlah jadi pembaca yang baik. Hargai tulisan orang lain, apresiasi sebelum mengkritisi, cari tahu mengapa penulis tertentu bisa menghasilkan karya yang kita sukai, dst.
  2. Menjadi dewasa adalah mengasah kemampuan kita untuk mengatur proporsi dari tarik-menarik pikiran buruk dan pikiran baik, emosi buruk dan emosi baik. Jika kita bisa menjadi orang dewasa, kita akan bisa berkomunikasi dengan lebih dewasa dan bijaksana. Menulis adalah salah satu bentuk komunikasi saja, menjadi dewasa atau tidak adalah perkara lainnya...
  3. Tulisan kita tidak akan diterima semua lapisan masyarakat. Akan selalu ada orang yang tidak menyukai apa yang kita tuliskan. Tidak semua orang akan setuju dengan gagasan kita. Itu wajar saja. Jangankan tulisan kita, kitab suci saja tidak bisa diterima semua orang.
  4. Mulai perkenalkan karya kamu kepada orang-orang baru.
  5. Tergantung bukunya setebal apa. Hehehe

Pak Fahd juga menambahkan, sebagai jawaban pamungkas untuk Mba Nur sebagai berikut :

Menulis saja dengan riang dan bebas, tak usah sibuk mengurusi target jumlah karakter, jumlah halaman, apalagi berapa lama. Your writing should be like a skirt. Short enough to be interesting, but long enough to cover the subject.

 

Dudududududuu~~~

Diskusi di kelas terasa semakin hangat dan berkelas. Tiba giliran Mba Sera, inspirator dari Riau dan pemilik akun Raisera Agustina ini juga menyiapkan pertanyaan yang tak kalah penting dalam dunia tulis-menulis.

Pertanyaannya seperti ini : Ketika akan membuat sebuah cerita non fiksi seperti novel, bagaimana baiknya menyusun alur cerita agar tidak terkesan membosankan? Dan bagaimana baiknya dalam menentukan judul, apakah penulisan cerita diselesaikan dulu atau nentuin judulnya sebelum memulai menulis?

Nah..iya kan? Ini pertanyaan penting dan bikin galau, lagi-lagi menurut saya. Hehehehe...

Yuk. Marii simak apa kata narasumber kita kali ini...

Ehem..Pak Fahd bilang, Novel adalah bentuk karya fiksi. Ada banyak cara dan teori yang bisa dipelajari tentang bagaimana menyusun struktur sebuah novel. Salah satunya adalah teori 9 babak yang sering dipakai dalam plot-plot skenario film holywood, juga ada berbagai cara lainnya. Yang penting dari novel itu satu saja : Dalam novel harus terjadi perubahan pada karakter/tokoh yang kita ceritakan.

Pak Fahd juga menyampaikan kesukaannya terhadap novel yang bab-babnya pendek-pendek. Karena menurut beliau, ketika membacanya, novel yang berisi bab-bab pendek tersebut terasa ringan dan tidak membosankan. Jadi, Itu mungkin bisa jadi tips yang bagus, saat menulis, buatlah bab-bab yang tidak terlalu panjang.

Soal judul, seperti yang beliau sampaikan bahwa beliau tipe penulis yang memiliki rencana judul ketika akan menuliskan sebuah karya tulis. Tapi keputusan tentang judulnya apa, ditentukan di akhir ketika tulisannya sudah selesai.

Yap. Perencanaan judul itu penting untuk melanjutkan ke proses selanjutnya yaitu pengumpulan data tentang karya yang akan ditulis, ini masih menurut saya. Hehe..

Pertanyaan terakhir menjadi kesempatan baik bagi Mba Rati, yaitu Inspirator dari Sumbawa – NTB pemilik akun Muthmainnah Rati sebagai pertanyaan penutup diskusi whatsapp perdana kali ini. Check it out..

Rupanya, Mba Rati tertarik dengan materi pembuka diskusi yang disampaikan di awal oleh Pak Fahd tadi, tentang teko pikiran dan teko perasaan. Pertanyaanya seperti ini kira-kira..

Bagaimana caranya menarik benang merah antara pikiran dan perasaan, meracik isi teko pikiran dan teko perasaan agar menghasilkan citarasa yang pas, sehingga tidak hanya menjadi tulisan yang bersifat kontekstual, tapi jg bersifat emosional, sehingga tulisan yang kita hasilkan menjadi hidup dan bisa membuat membaca memikirkan sekaligus merasakannya.

Yang tidak hanya berbobot secara teori, tapi juga menyentuh perasaan.

Mba Rati juga menyampaikan pertanyaan susulan dari Mas Reza Syaputra yang sebelumnya menitip pertanyaan lewat moderator yaitu “apa saja tips agar percaya diri dalam menulis?”

Kali ini, Pak Fahd dengan lembut memaparkan tentang pikiran dan perasaan yang menurut beliau, akan selalu saling mempengaruhi.

Beliau berpesan, pesan yang sangat mendalam, bagi saya. Yaitu : Saat kita menuliskan pikiran kita, yang penting jangan menganggap pembaca itu bodoh/tidak mengerti. Jadi tanyakan dulu sama diri sendiri: apakah ini bisa saya mengerti dengan baik? Does it make sense? Apakah argumen yang saya kemukakan mendukung? Apakah contoh yang saya sampaikan bisa membantu pembaca memahami gagasan utamanya dengan mudah?

Saat menuliskan perasaan, berempatilah pada perasaan pembaca juga.

(Nah, dalem kan? Empati..empatii..)

Terakhir, Tips agar percaya diri dalam menulis ala Pak Fahd : Percayalah bahwa orang lain tidak sebodoh yang Anda kira tetapi mereka juga tak sepandai yang Anda duga. Mereka manusia biasa. Santai saja... hehehe

Tips lainnya : Don't write what you know, write what you like.

 

*tepuk tangan bergemuruh...**

 

Sudah selesai sampai disini? Wait...

Sebelum berpamitan dan menutup diskusi, Pak Fahd memberikan oleh-oleh berupa pertanyaan kepada Insipirator peserta diskusi..

 

“Menurut Teman-teman, Tulisan yang baik itu tulisan yang bagaimana?”

 

Nah..Lho..

Mendadak notif di grup menampilkan semua peserta sedang typing dan kemudian bermunculanlah seluruh jawaban-jawaban terbaik dari beberapa inspirator tentang definisi tulisan yang baik menurut masing-masing dari mereka.

Ada yang menjawab bahwa tulisan yang baik adalah tulisan yang inspiratif, dapat dipertanggungjawabkan, tulisan yang berisi ilmu, yang disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan lain sebagainya, jawaban terbaik dari banyak kategori tulisan yang baik yang pernah saya baca.

Satu lagi kata-kata pamungkas penuh inspirasi yang Pak Fahd sampaikan di diskusi malam ini justru ada di akhir percakapan, setelah memberikan pertanyaan kepada para inspirator yang dijawab dengan penuh semangat tentang bagaimana tulisan yang baik, rupanya justru lewat pertanyaan itu Pak Fahd menyiram benih-benih semangat, menabur pupuk-pupuk motivasi dihati peserta..

Bahwa menurut beliau,

“Tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai.

Ya, tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai dituliskan.

Ia boleh inspiratif, informatif, menyentuh, kata-katanya bagus, memuat kebaikan, tapi selama tulisan itu tidak selesai, tulisan itu tak akan punya pembaca dan mungkin ia akan teronggok begitu saja di sebuah folder di komputer kita atau terserak di kertas yang tak kita jamah lagi...

Jika ingin menjadi penulis yang baik, belajarlah menyelesaikan tulisan-tulisan yang Anda mulai karena tulisan-tulisan Anda punya hak untuk dituntaskan dan sampai ke hadapan sidang pembacanya.”

And then.....saya terpaku lama mencerna kalimat-kalimat terakhir dari beliau. Kelebatan onggokan tulisan di laptop, di kertas-kertas dalam buku harian, tiba-tiba seolah terbang di alam pikiran. Menyentuh palung hati tentang mimpi-mimpi. Ya, saya harus menyelesaikannya.

~~

Selarik ungkapan terima kasih, rasanya tak akan pernah cukup meski ribuan kali terucap untuk Pak Fahd yang telah rela meluangkan waktunya untuk berbagi ilmu kepada kami, semoga keberlimpahan kebaikan menggantikan lelahnya jari jemari beliau yang telah mengetik kata demi kata di Ruang Grup Whatsapp kami.


  • Anna Pryana
    Anna Pryana
    2 tahun yang lalu.
    Ya, Mba Rati. Supaya inspirator lain yang belum berkesempatan ikut kelas kemarin, bisa mendapatkan materinya juga.
    Insyaallah, kelas berikutnya akan diagendakan.

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    2 tahun yang lalu.
    Luar biasa mbak Ann, lengkap banget semuanyaaa
    Semoga kelas diskusi berikutnya bisa segera menyusul ya

  • Silmi Kaffah
    Silmi Kaffah
    2 tahun yang lalu.
    *ES DAWET*

  • Komentator Ngasal
    Komentator Ngasal
    2 tahun yang lalu.
    Kenapa AADC (1) itu film yang baik? Karena ia tak selesai...

    • Lihat 4 Respon

  • Reza Syaputra
    Reza Syaputra
    2 tahun yang lalu.
    kapan batch 2 nyaaa? X''D ahahaha