Ritme Kesetiaan

Anna Pryana
Karya Anna Pryana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 April 2016
Ritme Kesetiaan

Kuperkenalkan...

Mereka sahabat karibku, yang selalu mampu menghidupkan senyum bahkan pada saat yang paling sendu sekalipun. Kehadirannya memberikan penghiburan tersendiri bagiku.

Seseorang ingin seperti Langit, yang selalu ada untuk siapa saja. Untuk jiwa-jiwa yang ingin melihatnya kapan saja, dimana saja. Ia selalu ada dan tak pernah menampakkan wujud yang berbeda disetiap mata yang memandangnya dalam satu waktu. 

Rembulan yang sinarnya indah dan menghangatkan, bintang yang cahayanya berkelipan, dan mentari yang menerangi seluruh alam.

Senja yang meneduhkan jiwa raga yang lelah, yang pendarnya selalu membuat hati basah oleh dzikir dan puja puji kepada Allah yang Mencipta.

Hujan yang tetes demi tetesnya serupa doa-doa mustajab. Semoga doa-doa yang terkabul akan membersamaimu turun dari langit untuk sampai kepada tangan-tangan yang terangkat, tertengadah penuh pengharapan kepada Rabb Pecinta seluruh alam.

Pelangi yang keindahannya selalu bisa meyakinkan diri bahwa kegelapan dan gemuruh guntur pasti akan berganti dengan warna-warni megah dihamparan langit luas.

Betapa Maha Besar Allah menciptakan langit sebagai penyampai seluruh keindahan itu agar makhluk bumi dapat menikmatinya. Karna jasa-jasa langitlah kesemuanya itu dapat selalu aku lihat dan rasakan dengan mata telanjang, dengan hati yang penuh syukur.

Dimanakah kesemuanya itu dapat menampilkan diri dengan anggun jika bukan karna keberadaan langit yang Allah siapkan.

Namun, meski secara khusus Allah telah menciptakan langit sebagai tempat memajang hiasan-hiasan yang indah itu, apakah kemudian langit menggenggamnya dengan posesif? Aku rasa tidak. Langit membiarkan kesemuanya hanya lewat sepintas untuk kemudian pergi menghilang. Ketika rembulan dan bintang pergi, langit yakin ada mentari yang akan menemaninya. Ketika mentari tertutup kabut pekat, ia optimis hujan akan tiba menjadi sahabat setia. Ketika hujan pergi dan lewat temaramnya senja mengabarkan belum waktunya mentari kembali, langit percaya bintang dan bulan akan segera muncul. Begitu sesuai ritmenya tanpa pernah langit mengeluh tentang kesendirian.

Kesetiaan yang harmonis, bukan?

Semua datang dan pergi sesuai masanya. Mereka semua tahu, kapan saatnya pergi dan kembali. Hakikat kesetiaan.

Dan langit, dengan sabar mengikuti ritme dengan keyakinan yang sama. Hakikat kepercayaan.

Seseorang ingin seperti hujan, senja, mentari, bintang, rembulan dan segala hal yang ada dilangit. Yang meskipun mereka pergi, langit akan menungguinya dengan kesetiaan dan kepercayaan penuh.

Lewat memperhatikan ritme ini, satu hal yang aku petik. Bahwa yang pergi, yang bersembunyi, yang belum tiba, yang berlalu-lalang, akan berjalan sesuai perjalanannya dan tiba disuatu tempat sesuai masanya.