Syukron Wa Afwan, Akhi...!

Just Ao
Karya Just Ao Kategori Inspiratif
dipublikasikan 10 April 2016
Syukron Wa Afwan, Akhi...!

Alhamdulillah sudah selesai shalat asyar...iseng-iseng buka sosial media, Innalillahiwainnailayhiroji'un.. ternyata temenku masih marah padaku, aku tahu aku salah, entah bagaimana syaiton mengelapkan mata hatiku hingga tak kusadari, bersama khilaf ku  lakukan kesalah fatal terhadap saudaraku seiman.

Perlahan aku mulai marah pada diriku, air mataku mulai menetes,,Ya Allah ampuni dosa hambaMu yang dzalim ini, begitu dzalim diri ini saudara seiman saja aku dzalimi, ya Allah, beberapa menit aku terlamun dalam sesalku, diiringi air mata, semoga benar-benar air mata taubatku, dan Allah meridhainya.

Tiba-tiba entah apa yang terjadi kuambil tasku, terlintas dibenakku untuk pergi menemui saudaraku, seiman meskipun aku tak tahu tepatnya dimana rumahnya maklum aku pendatang, tetapi aku tahu satu daerah masjid yang pernah diceritkannya.

Bersama keyakinananku berjalan menaiki kendaraan umum, hanya mengharap Ridha Allah, dan berharap malaikat-malaikat mau mendo'akanku dalam perjalanan silaturahim dengan saudara seimanku.

Sampai dimasjid yang kucari, lalu perlahan ku cari tempat wudhu dan berwudhu disana, aku bingung harus kemana, aku tak tahu dimana rumanya, Ya Allah tunjukan KuasaMu,, perlahan aku mulai pasrah. Saat setelah wudhu aku bingung mau kemana.

Lantas dalam kebingunganku aku tak henti-hentinya berharap pertolongan Allah, lalu ku dirikan shalat sunnah, namun dalam shalatku aku begitu, terisak-isak berfikir ya Allah, bagaimana jika sekarang kau panggil aku, aku belum minta maaf terhadap saudaraku, akankah engkau ridha. meskipun tangisku kian tak terbendung, tak bisa kutahan lagi, hingga shalatku selesai.

Ku berdo'a pertemukan kami dirumahMu yang agung ini ya Allah, do'aku. aku terbungkung hingga menjelang shalat magrib akupun semakin pasrah, daam Hatiku Ya Allah, Ampuni dosaku, Hamba pasrah padaMu, tak ada yg bisa kulakukan sekarang

Setelah shalat dan dzikir, kulihat kebelakang (saat itu aku dishof terdepan) dan masya allah kulihat, saudaraku dengan wajah teduhnya berdo'a dengan khusyuknya, kulihat ia begitu meneduhkan, air mataku mengalir, melihatnya, dalam hatiku Maha Besar engkau ya Allah, Kuasa Mu, sungguh Besar, makin kuat keimananku pada Allah.

Aku bingung mau menghampirinya maka, aku tunggu saja diluar, sembari shalat sunnah, setelah selesai ia keluar masjid aku bingung, aku bigun mau menghampirinya aku malu, ya Allah kuatkan hamba beranikan hamba, bismillah kututup mataku ku berjalan mendekatinya, akhi,,sahutku padanya perlahan ku buka mataku,, dag dig dug hatiku sudah tak karuan ingat kesalahanku mungkin dia akan marah, atau apa aku sudah pasrah

lo,, khi antum kenapa,,,tanyanya,, Ya Allah dia masih dalam lembut hatinya lupakah ia atas kebodohanku, aku lalu memeluknya dari samping ya akhi afwan atas kesalahan ana,, air mataku terus mengalir sambil kumerunduk malu berharap dia memaafkan aku..akhi sudah ana sudah lupakan,,janganlah nangis malu dilihat orang, ayo bicara dirumah saja, pintahnya.. ya Allah Maha Suci Engkau, KuasaMu, takkan pernah bisa terduga, dan terfikir, aku terus saja memeluknya dari samping, Ya Allah hamba malu padaMu.

Ayo khi.., sahutnya, aku tetap merunduk dan mengiyakan ajakannya, tapi sungguh aku malu mau kerumahnya inginn pulang saja, sudah cukup kurepotkan dia, dalam hatiku. iya khi jawabku,, tapi afwan saya mau pulang jawabku,, loh kok pulang gak ada kendaraan umum loh, kerumah aja ya duu nanti tak antar jawabnya,, Masya allah hamba Allah yang satu ini jawabku, aku hanya bisa mendo'akanya.

Dalam perjalan menuju rumahnya ia terus saja bercerita dan tak kusahuti aku sudah malu, sekali, kami berjalan sambil kupeluk dia..Sampainya dirumah bu' Ada temenku. Masya allah ane dipanggilakan ibunya, oh ia ibunya ramah menyambutku, dan saya hanya bisa tersenyum kam duduk berdua' diruang tamu ibunya hanya keluar membawa jamuan, tapi jujur saya telah tidak nafsu makan, karena kebaikan saudara saya yg satu ini telah lebih dari cukup

Saya terus saja diam, lalu ia mengajak saya makan, saya hanya bisa diam, ikut makan dengannya karena saat itu kami ditinggal makan berdua, meskipun sesekali ia bercerita dan saya tetap diam, dalam hati terimah kasih akhi maafkan saudaramu yang bodoh ini.

Lalu, setelah shalat isya ia mengantarkanku pulang, masya allah, jazakallah akhi, uhibuka fillah.

dia sangat baik, wajahnya mengingatkan saya untuk selalu memuji Allah tingkah lakunya yang baik, Terimah kasih ya Allah.

  • view 362