Gadis Kecil Yang Menyukai Bermain Di Hari Berangin

Leea
Karya Leea  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Juli 2016
Gadis Kecil Yang Menyukai Bermain Di Hari Berangin

GADIS KECIL YANG MENYUKAI BERMAIN DIHARI BERANGIN

Gadis kecil, berambut ikal mayang. Kulihat ia bermain sendirian di hari yang berangin. Angin memainkan rambutnya. Memainkan rok bunga-bunga berwarna hijau yang sedang ia pakai. Kulihat ia melakukan monologue sesekali. Bergumam seperti mengomeli entah siapa. Lalu tak lama ia bernyanyi sambil menari. Berputar-putar berkoreografi. Pohon jambu, bangku taman dan ayunan menjadi penonton yang menyambut penampilannya dengan meriah. Lalu ia membungkuk menandakan ia telah selesai. Angin masih memainkan rambutnya. Menerpa pipinya yang memerah. Ia tertawa melihatku di kejauhan. Lalu sambil melambaikan tangan ia berteriak "bundaaaa!!!". Kusahuti dengan lambaian tangan pula. "Pulang nak, cuaca panas, nanti kamu sakit"

Ah.. "Nanti kamu sakit". Kalimat berisi kekhawatiran seorang Ibu yang terkadang tertangkap langit sebagai doa. Keesokan harinya suhu tubuhnya meninggi. Sempat mencapai 39,2. Aku berusaha tetap tenang. Berganti pakaian dengan cepat, mengambil apapun sekenanya sampai lupa berbedak, lalu dengan berdebar mengantarkannya ke Rumah Sakit menemui Dokter Spesialis Anak. Gadis kecil berambut ikal mayang. Berbaring lemah. Tak ada nyanyian yang keluar dari mulutnya. Matanya berusaha menahan tangis. Ia tahu, betapa susah hatiku bila ia sampai menangis.

Malam hari ia tak henti bermimpi buruk. Kujagai ia sambil mengusap rambutnya. Tiba-tiba aku tertarik ke masa lalu. Ketika tangan kecilnya kuat menggenggam telunjuk tanganku. Saat itu, ketika kumain-mainkan telinganya, ia pun akan tertawa memekik gembira. Tiba-tiba, aku juga kembali teringat, ketika ia masih bayi berusia 2 minggu. Ketika itu ia begitu kecil. Kutimang kubuai hingga ia terlelap ditanganku. Tubuh ringkihnya adalah segalaku. Tangisan dan tawanya adalah bahagiaku.

Betapa kini ia sudah besar. Dan terkadang aku merasa tak lagi terlalu dibutuhkan. Sempat disela-sela waktu luang, aku berfikir banyak tentang hidup, tentang aku, tentang aku, tentang aku. Sempat disela-sela waktu yang tersisa, terselip keinginan untuk kembali memiliki duniaku sendiri.

Pada banyak kesempatan bercakap pada sahabat-sahabatku, yang ikhlas menyediakan telinga untuk mendengarkan keluh kesah, kusampaikan keinginan untuk berbuat lebih. Kusampaikan ambisiku untuk menjadi lebih. "Tak peduli berapapun umur kita, tak perduli bahwa saat ini melayani anak-anak dan suami adalah menjadi profesi dan prioritas, kita, tak seharusnya berhenti bertumbuh"

Bertumbuh. Kata-kata magis yang memikat. Yang sering salah kupahami sebagai "berkarir kembali" atau "menjadi sesuatu yang bukan diriku sekarang".

Malam ini saat kuusap rambutnya, sambil kutatap gadis kecilku yang berambut ikal mayang, tiba-tiba sebuah kesadaran menghentakkan lamunanku.

Nak.. Betapa aku telah bertumbuh begitu banyak. Aku yang kini berusaha menjadi contohmu. Aku yang kini berusaha mengendalikan amarahku. Aku yang kini berusaha untuk menjadi lebih bijaksana. Walaupun banyak belum berhasilnya.

Aku bertumbuh. Dari seseorang yang memenuhi kepalaku dengan kata aku, aku dan aku, menjadi seseorang yang bahkan didoaku luput menyebut kata "aku" dan hanya menyebut namamu, nama adikmu, nama ayahmu. Nama kalian bertiga berulang-ulang. Berulang-ulang.

Aku bertumbuh, sayang. Dari hanya seorang aku, menjadi seseorang yang kau dan adikmu panggil "bunda" ... Aku bertumbuh menjadi seorang Ibu ...

Gadis kecil berambut ikal mayang, yang menyukai bermain di hari yang berangin. Cepat sembuh nak... Dan ajari aku untuk bertumbuh lebih banyak lagi

Jakarta, June 8th 2016

  • view 213