First Love, Maybe.. #2

Julianthy Dianathalie
Karya Julianthy Dianathalie Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 September 2017
First Love, Maybe.. #2

Masih ingat tentang kejadian beberapa bulan lalu, saat aku mengajak Jevin dan Clara ke kebun binatang untuk melewati weekend bareng? Aku ingat jelas. Ingat kejadian dimana rasanya aku berhasil membuat Jevin mendapatkan Clara, Clara mendapatkan Jevin. Yeyy !!.

Aku bahagia? Mungkin. Berhubung aku ingat jelas keberadaanku sebagai seorang sahabat bagi Jevin. Aku akan menyatakan, Ya ! aku bahagia. Setelah tepat 100 hari, hubungan mereka.. wait, what?! Aku menghitung hari jadian mereka! Oke lanjut..

Hari ini, menurutku tepat 100 hari setelah weekend itu, Jevin dan Clara selalu terlihat bersama di kampus. Aku ada saat mereka bersama, saat mereka bercandaan aku ada disana bersama mereka. Saat hangout bareng, aku ada bersama mereka. Jevin tak merasa canggung saat bersamaku, ia bersikap seperti biasa layaknya tak terjadi apa-apa, maupun hal yang tersembunyi diantara aku dan dia.

Selama beberapa bulan ini, jujur aku mengharapkan pernyataan jadian keduanya. Tapi nyatanya pengakuan, sindirian maupun apapun dalam bentuk candaan saja tak ada tentang hubungan mereka. Segalanya berjalan seperti biasanya, namun hal-hal itu membuatku tak nyaman dan sangat mengganggu.

Menjelang malam, sebelumku tertidur hanya menanyakan hal itu dalam pikiranku. Menanyakan apakah Jevin dan Clara sudah menjalin hubungan apa tidak. Dan aku masih tak bisa memberanikan diriku bertanya pada Jevin secara langsung. Menyindir dirinya saja aku tak bisa, aku hanya takut kalau-kalau dia merasa tersinggung. Aku hanya berharap dia menyatakan dengan sendirinya.

100 hari? Yaa,... sampai saat ini diranjang tidurku, aku mengharapkan Jevin mengatakannya. Aku ingin kejelasan ini, kejelasan mereka. Memang rasanya tak penting mereka menyatakan hal itu, namun ini penting bagiku untuk bisa mengurungkan perasaanku jauh-jauh agar saat melihat Jevin yang kulihat adalah seorang sahabat, bukan seorang pria yang kusukai lagi.

Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Ponselku masih tak berdering dari tadi siang. Menunggu Jevin menghubungiku, sebenarnya aku bertemu dengan Jevin di kampus hari ini. Hanya sekadar menyapanya saja, dia terlihat sangat sibuk. Aku tak mungkin menanyakan dia tentang hubungannya dan Clara. Aku juga bertemu Clara hari ini, hanya duduk di perpustakaan berdua. Namun, tak ada pembicaraan yang dapat mengarahkan pertanyaan tentang hubungan mereka. Dua jam yang sia-sia. Pertanyaan-pertanyaan ini menghantui pikiranku, mungkin aku harus berfikir jernih dan mengendalikan pikiranku.

*****

Hari ini, tepatnya sore ini.. sudah ke 101 hari. Aku sedang duduk di taman kampus bersama Jevin seusai praktik menanam tanaman pada media hidroponik. Jevin kini sedang menceritakan tentang kegiatan yang ia lakukan semalam, bermain game bersama teman sekelasnya. Menurutku ini membosankan, namun tawanya yang terdengar dan wajah tampannya membuatku tak mampu beranjak dari tempatku. Ia menceritakan kegiatannya membutuhkan waktu selama 40 menit, aku hanya mengikuti senyumannya, mengikuti tawanya. Menutupi mimik wajahku yang berharap ia menggungkapkan segala yang ingin kuketahui.

“Ell, kamu tau enggak?” tanya nya.

“Apa Jev?” tanyaku balik padanya.

“Ng.. nggak jadi Ell.”

“Apaan sih Jevv. Ngomong aja kali..”

Wajah Jevin terlihat serius, mata tajamnya menatapku intens. Entah kenapa, perasaan gugup menghampiriku detik itu juga. Rasanya tak karuan, Please Jevv... Tell me now !

“Menurut kamu aku sama Clara seperti apa?” tanyanya. Aku sedikit tersentak dengan pertanyaannya.

“Seperti apa? Maksud kamu ?”

“Yaa.. pendapat mu tentang aku dan Clara, Ell.”

Jevin baru menayakan hal ini padaku setelah sekian lama?. Ada apa dengannya? Apa ini akan menjadi sebuah pengakuan dan Ya! Aku mengharapkan itu.

“Kalian cocok kok Jev barengan. Kalian serasi banget Jev!!” ucapku bersemangat didepannya. Wajahnya kembali riang mendegar ucapanku.

Namun, ada senyuman serigaian setelah itu.

“Kamu salah Ell.” Ucapnya. Dia kembali melihatku intens.

Keningku mengerut tajam melihatnya, nafasku seperti memburu mendengarkan pernyataan Jevin. Aku salah? Salah apanya. Aku hanya diam, tak mampu berkata-kata lagi. Yang bisaku ucapkan hanya kata-kata tadi.

“Aku dari awal setelah pertemuan kita di kedai kopi yang kamu rencanakan itu, aku ngerasa ada yang mengganjal antara perasaanku ke Clara. Sebenarnya, aku sudah meyakinkan diri buat nyatain perasaanku ke Clara, Ell. Tapi aku ragu, ragu banget. Enggak tau kenapa perasaan ragu itu datang.” Jevin menjelaskan panjang lebar padaku, ia menghela nafasnya. Aku masih terdiam mendegarkan ia kembali berbicara.

“Dan.. setelah weekend itu. aku malah jadi tambah ragu Ell. Memang Clara membuatku nyaman, dia buat aku seperti berharga buat dia. Beberapa waktu ini, begitu seterusnya. Aku nyaman dan aku senang berada didekat Clara. Aku mengiginkan dia, Ell.” Jevin menghela nafas panjang. “Tapi aku ragu.” ungkapnya penuh tekanan.

“Jangan ragu Jevv.. yakinkan kembali diri kamu. Ini memang keputusan yang rumit. Kamu juga haru hati-hati sama perasaan kamu.. jangan sampai menyakiti kamu maupun Clara.” Ungkapku, berusaha tenang. Nada suaraku terdengar bergetar, aku berusaha menahan gugup ini. Gugup yang tak kuketahui artinya.

“Iya Ell. Aku sudah berusaha. Makanya aku belum menyatakan perasaanku pada Clara.”

Belum?! Selama ini? Tapikan mereka sering barengan dan semuanya yang aku ketahui seperti pasangan yang saling jatuh cinta pada umumnya. Bagaimana Clara menganggapi ini, Clara pasti menunggu pernyataan dari Jevin, bukan?.

“Sejauh ini, aku belum bisa menyatakannya.” Ungkap Jevin.

“Jevin!” pekikku meneriaki namanya. Ia melihatku dengan tatapan heran.

“Jev, kamu jangan begini dong. Clara itu suka dan sayang sama kamu Jevin, kamu tahu itu kan. Jangan buat dia nunggu.. Clara udah nungguin kamu berbulan-bulan ini. Jangan nge-gantunggin perasaan Clara seperti itu, aku ini wanita sama dengannya. Aku tahu pasti apa yang Clara tunggu Jev.. kamu. Dia nungguin kamu.” Nada suaraku meninggi sore itu, orang-orang yang masih ada ditaman melihat sekilas kearahku setelah mendengar suaraku yang sedikit memuncak.

“Pikirkan kembali Jev..”

Jevin hanya tertunduk mendegarkan ocehanku. Aku kembali berusaha mengatur pernafasanku yang sedikit menyesakkan dadaku beberapa detik lalu. Jevin mengangkat wajahnya keatas, lalu melihat intens kearahku. Jevin tersenyum lembut kearahku, aku heran dengan respon itu.

“Akan kupikirkan kembali untuk memiliki dia Ell.” Jevin hanya menggungkapkan kata singkat itu, lalu mengelus kepalaku. Kemudian beranjak pergi meninggalkanku.

Aku hanya memandangi Jevin pergi, sesaat kemudian ponselku berdering. Kulihat layar ponselku tertera pesan dari Jevin, akupun membukanya.

“Aku takut memiliki wanita jika hanya akan menyakiti dia Ell, dengan sejuta keraguan. Bantu aku meyakinkan kembali perasaanku.”

Kulihat kembali Jevin yang jauh, senyumannya terlihat samar pada pandanganku. Aku mengangguk mantap menyatakan aku siap membantunya kembali. Dia kemudian berbalik kembali melangkah menjauh.

******

Hari ini, aku ingin mengajak Clara ketemuan. Menanyakan sekilas tentang perasaannya pada Jevin. Kami janjian di cafe ice cream yang cukup terkenal di kota ini. Clara sudah menungguku di salah satu meja dekat dengan bar cafe. Aku menghampirinya. Wajah cantiknya pancarkan senyuman manis dan sangat-sangat riang.

“Hay kak... duduk-duduk. Aku baru aja mau pesan.” Ucapnya menyapaku. “Kakak mau pesan apa?” tanyanya, setelah diriku menduduki bangku besi bercat ungu ini.

“Biar aku yang traktirin kakak hari ini.” Ucapnya kembali, akupun tersenyum senang padanya.

“Tumben amat mau traktirin kakak? Acara apaan nih?” tanyaku, seraya memilih menu ice cream yang ada di draft menu.

Wajah Clara terlihat memerah, dan dia terlihat agak malu. “Yaa kakak, bukan acara-acaraan. Anggap aja ini PBJ (pajak baru jadian) dari aku.” Ungkap Clara.

Aku terkejut mendengarnya, mungkin mataku kini memelalak melihat Clara. Aku berusaha untuk tidak terlihat gugup di depannya, gugup karena mungkin Jevin telah menembaknya.

Padahal baru beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan Jevin, dia memintaku untuk meyakinkan dirinya. Tapi nyatanya dia sudah menyatakan cintanya pada Clara secepat itu.

“Ciee.. selamat ya, Clara. Kak Jevin memang cocok banget sama kamu. Akhirnya jadian juga ya kalian.” Ucapku. Kulihat kening Clara menggerut setelah kuucapkan nama Jevin. Clara menggeleng setelah aku berbicara. Lalu tertawa kecil.

“Bukan kak Jevin, kak.” Ungkapnya.

“Ohh yaa, kakak pikir Jevin. Kan selama ini kamu deket banget sama Jevin Cla.” Ucapku. Berusaha kutahan rasa penasaranku.

“Iyaa sih kak, aku awalnya memang suka ke kak Jevin. Tapi..”

“Yaa. Tapi???”

“Aku sadar, nggak bisa bareng kak Jevin untuk serius. Kak Jevin nggak pernah nyinggung apapun tentang perasaan dia ke aku. Jadi aku pikir dia udah nyerah sama aku, kak. Aku juga kalau nunggu terus, aku takut terlalu mengharapkan kak Jevin. Jadi, aku cuma mau menjadi teman buat kak Jevin, karena semua perhatian dan segalanya yang berasal dari kak Jevin rasanya itu sebuah pemberian layaknya seorang teman. Daann... aku memutuskan untuk nyerah sama kak Jevin, dan menerima pacar aku yang sekarang.” Clara menjelaskan, matanya berkaca-kaca.

Jujur, aku sedikit terkejut mendengar pengakuan Clara. Bahagia bercampur kecewa dengan apa yang kudengar. Clara sudah menyerah dengan Jevin, sedangkan Jevin memintaku untuk meyakinkan perasaannya ke Clara. Ya Tuhan, Kuatkan Jevin nantinya.

“Oyaa? kakak kagum sama kamu. Bagaimana pun itu keputusan yang benar buat kamu. Yang penting kamu sama pacar kamu yang sekarang bahagia yaa..” ucapku.

“Iyaa kak, makasih ya kak mau dengar curhatan aku.” Balas Clara.

Bagaimanapun aku adalah manusia netral diantara kedua sejoli yang kupikir sudah saling menjalin hubungan. Kuharap jika Jevin mengetahui hal ini dia tidak tersakiti. Aku kembali fokus menyendok ice cream yang ada dihadapanku. Kembali mendengar cerita dari Clara tentang kekasihnya.

Kembali aku berfikir bagaimana nantinya perasaan Jevin melihat Clara yang dia suka sudah memiliki pacar. Mungkin keraguan Jevin terjawab sudah. Entah kenapa bahagia bercampur kecewa ini ada. Bahagia karena Jevin akhirnya tak berhasil dengan Clara, merupakan peluangku kembali untuk melanjutkan perasaanku. Aku kecewa? Ya. Karena, mereka tidak berhasil. Clara menyerah karena Jevin yang terlalu lamban menyatakan perasaanya.

Sebernarnya aku heran, kenapa aku yang pusing memikirkan mereka. Mungkin karena aku perduli dengan Jevin. Aku takut dia kecewa. Kecewa dengan kegagalan cintanya. Clara adalah cinta pertamanya, mungkin dia akan menyerah dengan itu.

________________________________________________________________

“Ell!!” tegur Jevin, mengagetkan lamunanku.

“Ehh.. iyaa Jevv. What??” balasku, memperbaiki posisi duduk.

Jevin meletakkan secangkir cappucino di depanku. Kami berdua sedang duduk bersama di cafe tempat kami sering datangi.

“Kamu akhir-akhir ini suka ngelamun? Kenapa sih?” tanya Jevin dengan wajah penasarannya.

Aku hanya mengangkat bahuku, lalu menggeleng. Tak ingin bercerita tentangku hari ini.

“Ell... serius. Kamu aneh loh beberapa hari ini. Kenapa sih? Cerita aja Chel.”

“Enggak ada apa-apa Jevv. Serius.” wajahku berusaha kubuat seyakin mungkin agar dia percaya.

“Ell. Nggak ada yang bisa kamu sembunyikan dari aku.”

“Haduh Jevv.. ngapain coba nyembunyiin sesuatu dari kamu. Hehe ada-ada aja.” balasku tertawa kecil melepas rasa ingin tahunya.

“Okee. Tapi ingat. Kalau kenapa-napa cerita aja ke aku, oke?”

“Oke. Oke. Aku pasti cerita.”

Aku akan cerita jika aku bisa Jevv, susah banget sih rasanya mau ngomongin apa yang aku dengar dari Clara. Aku harap Jevin mau dengar dan terima cerita tentang Clara, bukan untuk hari ini. Mungkin aku akan menceritakannya besok.

Lamunanku terhenti dari kata besok. Melihat keberadaan Clara dengan seseorang di balik kaca Cafe. Clara bersama seorang pria. Jevin tak melihat hal itu, Jevin fokus hanya melihat kearahku. Sesaat, bel pintu Cafe berdering karena Clara membukanya. Clara Melihat kearahku dengan senyum lebar. Aku membalasnya. Clara dan pria itu menuju meja tempatku dan Jevin.

Jujur, jantungku berdegub kencang. Aku merasakan gemetar di lututku. Clara semakin mendekat, lalu meyentuh bahu Jevin. Jevin menoleh dan tersenyum pada Clara. Namun, senyuman itu memudar setelah Jevin melihat seseorang yang berdiri terlalu dekat dengan Clara.

“Hai kak..” sapa Clara melihat kearahku dan Jevin. Lalu Clara mengambil duduk tepat di sampingku. Sedangkan pria tadi duduk di samping Jevin. Jevin dengan wajah herannya yang tak dapat ditutupi hanya tersenyum.

“Clara, tumben kesini? Siapa tuh?” tanyaku tersenyum menyeringai kearah Clara. Wajah Clara tertunduk lalu menyenggol lenganku.

Ini kode. Clara mungkin akan memberitahu tentang siapa pria dengan wajah tirus dan memakai kaca mata bermines tebal, disamping Jevin. Aku hanya mengangguk merespon Clara.

“Kak Ell, kak Jevin.. kenalin dia Edo, dia kuliah di kedokteran semester enam.” Clara membuka pembicaraan memperkenalkan Edo. Dan edo ini...

“Ini pacar aku kak, yang aku ceritakan ke kakak..” sambung Clara.

Aku menelan ludah mendengar Clara mengatakan itu di depan Jevin. Mataku secepat kilat melihat kearah Jevin. Jevin menatapku intens, keningnya mengerut melihat kearahku dan Clara.

“Oyaa? Hehe.” Aku pun dengan inisiatif mengukurkan tanganku unuk bersalaman dengan Edo. “Ellisa. Dia Jevin.” Tunjukku ke arah Jevin, Jevin langsung mengulurkan tangannya ke arah Edo.

Ekspresi wajah Jevin sedikit memerah, aku berharap itu bukan pertanda buruk. Clara penuh dengan keceriaan hari ini, terlihat dari wajahnya yang selalu tersenyum setiap detik. Sesaat kemudian keheningan meliputi meja kami. Tak ada pembicaraan lagi, Jevin terlihat tenang namun pandangannya hanya keluar dari kaca Cafe. Edo dan Clara hanya saling melihat satu sama lain, maklumi mereka pasangan yang baru jatuh cinta. Sedangkan aku, hanya memerhatikan mereka disini.

Aku masih binggung dengan situasi ini, aku ingin mengambil tindakan untuk keluar dari Cafe. Dua sejoli ini benar-benar menganggu waktu bersantaiku bersama Jevin.

“Cla..”

Aku melihat kearah sumber suara, Jevin angkat bicara. Gugup. Aku menunggu kata-kata selanjutnya.

“Kakak sama kak Ell balik duluan yaa...” lanjut Jevin. Aku melihat Jevin dengan tatapan  heran. Jevin menarik lenganku lalu pergi meninggalkan Clara dan Edo. Clara tak sempat mengucapkan apa-apa. Sempat terfikir olehku kalau Jevin ingin menyatakan perasaannya.

Jevin melaju dengan kencang membawa kendaraannya. Mobil yang kutumpangi terasa menegangkan, sesekali kulihat Jevin yang fokus menyetir. Tangannya terlihat mengenggam erat setir mobil.

“Jevin?” Panggilku. Dia tak menoleh.

“Jevin, pelan-pelan nyetir mobilnya.” Pintaku.

Jevin sekilas melihat kearah ku, lalu kembali fokus meyetir.

“Ell, please..” Jevin seolah meringis.

“Kamu kenapa Jevv?” tanyaku, lalu memegangi pergelangan tangannya.

Jevin kemudian memelankan mobilnya lalu menepi. Dia memukul setir mobil sekali hentakan. Lalu menarik nafas panjang dan menghembusnya dengan hentakan keras.

“Aku baik aja Ell. Aku antar kamu pulang ya. Udah nggak ada kuliah kan kamu?” balasnya.

Aku hanya mengangguki Jevin, aku tak tahu harus berkata bagaimana lagi. Jevin kemudian mengantarku pulang. Tanpa mengatakan apa-apa, hanya senyum tipisnya yang bisa ia tunjukkan lalu pergi. Aku tahu, Jevin pasti kecewa dengan hal yang baru saja dia ketahui. Mungkin dia menganggapku tak berguna sekarang, harusnya aku memberitahunya terlebih dahulu daripada mengetahui kenyataannya secepat tadi. Tuhan.. harus bagaimana aku.

________________________________________________________________

Beberapa hari setelah kejadian di cafe, Jevin tidak menegur Clara di kampus seperti biasanya. Aku yang melihat hal itu rasanya tak tega dengan Jevin maupun Clara yang saling tidak menegur. Aku juga tak ingin mengganggu Jevin. Aku dan Jevin sering ketemu di kampus, namun sikapnya biasa saja. Seperti tidak terjadi apa-apa padanya. Jevin terlihat sangat pandai menyembunyikan apa yang dia rasakan.

Padahal aku ingin tahu, mungkin jika dengan keberadaanku kini yang selalu ada untuknya cukup membuat dia nyaman, aku mungkin akan tetap berusaha dekat dengannya seperti sekarang ini. Tak ada pembicaraan yang mengarah pada kejadian beberapa hari lalu.

“Ell, kita hari ini ke Cafe nya Fadli. Lagi pengen ngopi.” Ucap Jevin, seraya memperbaiki posisi helmnya. Aku yang duduk dibelakang hanya menggangguk mantap. Jevin tersenyum dibalik kaca spion motor.

Seingatku, Fadli adalah sahabat kecil Jevin. Tentang Cafe, aku belum pernah mendengarnya. Sesampai di Cafe, Jevin langsung menuju tempat duduk yang dekat dengan jendela besar dicafe ini. Aku hanya mengikutinya dari belakang. Seorang pria dengan senyuman tipis, yang melihat kami langsung mendatangi kami saat itu juga.

“Hei, tumben banget kesini? Nggak kuliah? Kan masih pagi.” Tanya pria itu langsung banya bertanya tentang kehadiranku dan Jevin.

“Lagi nggak ada kuliah.” Balasku singkat. Pria itu akhirnya ikut duduk bersamaku dan Jevin.

Jevin meyapanya dengan pelukan layaknya sahabat lama yang memang belakangan ini tak terlihat olehku. Oh, pria ini pasti Fadli.

“Ehh, bro.. lagi pengen minum kopi buatan mu.” Ucap Jevin setelah mereka melepas pelukan bro-bronya.

“Weehh, kangen ya sama cappucinoku? Oke deh, tunggu semenit.” Balas Fadli seperti memberikan tantangan.

“Coba aja, kayak bisa aja.” Balas Jevin. Lalu keduanya tertawa.

Aku hanya tersenyum melihat kedua pria itu. Kulihat pagi itu senyuman Jevin terukir dibibirnya. Sambil melihat perkejaan Fadli dia tersenyum, sesaat seuatu menghantam pikiranku. Jevin tersenyum melihat Fadli? Jevin berpaling? Ke Fadli?. NO ! pikiran Shit itu muncul dibenakku. Ini paski karena film gay yang aku tonton semalam, ternyata masih melekat di ingatanku menganggu pikiranku. AKH! Jangan pikirkan hal yang tak masuk akal.

Tidak seperti perkataan Fadli yang semenit itu, lewat dari lima menit setelahnya Fadli kembali membawa tiga cangkir Cappucino. Fadli duduk menghadap kearahku seperti ingin menyalamiku.

Fadli mengulurkan tangannya. “Aku Fadli, aku pemilik Cafe ini.” Ucapnya memperkenalkan dirinya.

Fadli sangat ramah, dengan senyumannya. “Namaku Ellisa.” Balasku membalas senyumannya. Semuda ini memiliki cafe? Keren banget.

“Lama banget kamu nggak kesini Vin? Sibuk banget ya kuliah mu?” tanya Fadli pada Jevin. Aku hanya memerhatikan keduanya.

“Iyaa, sibuk banget.” Balas Jevin seraya menyeruput cappucino dingin miliknya.

“Heleh, makanya aku nggak ngelanjutin kuliah. Takut sibuk kayak kamu Vin.” Ucap Fadli. “Kapan ya tearkhir? Tahun lalu?” lanjutnya dengan wajah seperti menebak-nebak. Jevin tertawa, lalu menggeleng.

“Terakhir pas kelulusan SMA.” Lanjut Jevin.

“Dua tahun ya? Kira-kira. Kenapa enggak pernah kesini sih? Tiap hari kutungguin.”

“Ngapain kesini? Kalau kesini waktu itu udah kubakar nih Cafe.” Balas Jevin dengan wajah melicik.

Aku sedikit memelalak melihat Jevin. Jevin melihatku lalu tertawa kecil. Fadli terlihat ingin menjelaskan sesuatu.

“Ell, jadi gini.. dulu si Jevin marah sama aku. Hak sepele sih, aku enggak mau daftar kuliah. Dia marah terus ngemusuhi aku. Katanya aku enggak bakalan punya masadepan bagus kalau nggak neglenjutin kuliah. Aku mah nggak terima dibilangi gitu. Ujung-ujungnya kami cek-cok mulut, pengen aja ninju tu muka sampai bonyok. Yaa aku tahu dirilah. Haha yang lucu apa? Jevin hampir nyambar nih jidat. Hampir di tinju sama dia. Aku larilah yaa.. sampai sekarang baru ketemu.” Jelas Fadli panjang lebar.

Aku hanya tertawa kecil mendengar cerita Fadli. Jevin hanya mengangguk.

“Terus kok bisa baikan?” tanyaku penasaran.

“Yaa, baikan karena setahun kemarin cafe ini sukses besar. Aku bilang ke dia, masadepanku cerah. Jevin menggakui itu Ell. Makanya dia nggak marah lagi.” Jawab fadli.

“Siapa juga mau kehilangan sahabat goblok kayak Dia nih.” Celetuk Jevin.

Fadli langsung menyambarnya dengan sebuah tinjuan pelan. Aku yang melihatnya tertawa dengan cerita kedua sahabat ini.

*****

Setelah pertemuan kedua sahabat lama Jevin dan Fadli, Jevin kembali bersikap biasa padaku. Sifat Jevin seperti itu, jika ada masalah seperti gampang sekali dia melupakannya dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Aku akan memaklumi hal itu, karena aku ini sahabatnya.

Setelah kuliah tadi siang, Jevin datang ke kelasku. Dia ngajakin makan siang dikantin tak jauh dari kampus, jam empat sore ini pintanya. Aku masih nungguin dia. 

Daannnnn... ada Clara sekarang sedang berjalan kearah ku.

“Kak Ell !!” teriaknya riang memanggilku.

Aku melempar senyumku padanya. Dia yang kini sudah berdiri didepanku, langsung duduk disampingku. What?! ada pemandangan kurang mengenakkan didepanku, si pria berkaca mata. Oh God, Claa... aku mau makan siang sama Jevin. Kenapa bawa pacar sih. Ugh!

Aku diam-diam mengumpat dalam hati, Clara sepertinya akan menganggu acara makan siangku.

“Kakak mau makan ya, aku sama kak Edo mau makan juga disini. Nggak papakan kak?” tanya clara.

Aku menggangguk membalasnya, entah apa yang harus kuucapkan. Aku hanya akan diam. Tapi.. Jevin. Kuambil ponselku lalu mengirimkan pesan pada Jevin. Meminta agar dia tak datang. Semenit berlalu, tak ada balasan Jevin. Clara dan Pacarnya sudah mulai menyantap makanan mereka. Sedangkan aku, masih belum memesan makanan. Hanya segelas green tea yang kuteguk sedari tadi.

Lima menit berlalu, sosok Jevin tengah memarkirkan motornya dihalaman kantin. Dia melangkahkan kakinya, lalu tepat didepan pintu dia mencari-cariku. Akupun melambaikan tanganku untuknya. Jevin tersenyum, lalu melangkah kearahku.

Langkahnya terhenti sedetik, mungkin dia baru saja menyadari kehadiran Clara. Hanya dengan melihat tengkuk Clara. Aku khawatir Jevin akan berbalik, namun tidak. Dia melangkahkan kakinya, malah kini dia telah duduk tepat menghadapku. Dia duduk disamping Edo.

Clara terkaget melihat kehadiran Jevin “Eh, kak Jevin?” katanya.

“Kakak makan yaa. Aku bentar lagi selesai kok.” Lanjut Clara.

Aku sedikit heran dengan ucapan Clara, “Pelan-pelan Cla..” sambungku.

Jevin hanya diam, senyuman dibibirnya membuat dia tampak tak mengkhawatirkan apa-apa.

“Iyaa Claa, kakak makan kok. Kamu makan yang banyak.” Kata Jevin lembut.

Aku pikir, Jevin tak akan mengeluarkan sepatah katapun. Clara terlihat gelisah dengan makannya, ia menyelesaikan makanannya secepat yang ia bisa. Edo sudah selesai dari tadi sebelum Jevin datang. Tak lama pesananku dan Jevin datang. Clara malah tiba-tiba ijin meninggalkan kami. Aku hanya mengangguk, begitupun dengan Jevin.

Clara sepertinya menghindari Jevin. Yang kulihat seperti itu. Tak ingin kupikirkan hal tadi untuk sejenak, aku hanya ingin menikmati makan siangku. Jevin tak berkata semenjak Clara keluar dari kantin.

Setelah beberapa menit kami menikmati makan. Jevin melihatku dengan intens.

“Ell, jalan yuk entar malam? Nonton ?” katanya.

Aku tersentak kaget. “Hah? Nonton? Tumben...” balasku.

“Iyakan, lagi ada film baru.”

“Iya deh iya, jam berapa?”

“Jam 6 aku jemput.”

Jam enam, hanya 40 menit waktuku dirumah. Jevin sebentar lagi akan menjemput. Menurutku penampilanku dengan T-shirt dan Jeans akan cocok untuknya. Atau.. aku ganti saja. Ganti aja deh..

Tok-tok-tok

Ada yang ngetuk pintu rumah, pasti Jevin. Akupun membuka pintu. Yaap! Jevin ada didepan pintu dengan setelan yang menurutku cocok dengan apa yang aku kenakan ditubuhku.

“T-shirt?” Jevin tertawa Kecil.

“Kamu lucu juga ya pakain T-shirt gitu..biasanya pakai blush..” lanjutnya.

“Lagi pengen pakai T-shirt, nggak mau yang ribet-ribet.” Balasku.

“Iyaa deh, kamu cantik.” Katanya.

Kutatap intens matanya setelah ungkapannya itu. aku sedikit malu dengan pujiannya.

“Makasih Jevv..” balasku.

“Oke, yuk!”

Jevin menarik lenganku, lalu mempersilahkan diriku masuk ke mobilnya. Setelah itu mobil Jevin melaju kencang menuju bioskop. Sesampai kami disana, Sayangnya aku dan Jevin tak dapat tiket nonton yang ia inginkan, akhirnya kami keluar dari bioskop dengan sia-sia. Kini, didalam mobil Jevin masih sibuk dengan ponselnya, dia mencari informasi tentang film yang akan tayang dijam delapan nanti di bioskop lain. Mungkin dia tak ingin pergi dengan sia-sia lagi.

Nyatanya, bioskop yang ada dikota ini semua tiketnya terjual habis. Hanya ada tiket flm yang tak ingin ditonton. Jevin menghela nafas keras. Ia melihat kearahku dengan tatapan lesu.

“Kita ke cafe ice cream aja.” Katanya.

Aku hanya tersenyum melihatnya.

“Ehmm.. kita kemana ?” tanyanya.

“Gimana kalo kita ke mini market, terus beli ice cream.. kita ke kolam deket taman kota. Gimana?” saranku pada Jevin. Jevin terlihat mengerutkan kening, lalu ia melihatku dan tersenyum.

“Oke! Kita berangkat.” Ucapnya sambil mengangguk.

Mobil yang kami tumpangi pun melaju menuju minimarket dekat perempatan jalan didepan. Setelah mobil terparkir Jevin langsung turun, ia tak mengajakku turun bersamanya. Aku hendak keluar dari mobil ia melihatku intens di depan mobil. Aku hanya melihatnya.

“Tunggu aja didalam mobil.” Katanya dangan suara yang tersengar samar.

Aku mengangguk mantap meresponnya dari dalam mobil. Tak lama Jevin masuk kedalam mobil dan membawa se-kotak ice cream berukuran besar.

“Oreo..” katanya menaruh kotak itu dibangku belakang mobil.

“Up!” balasku. Jevin tersenyum.

Kamipun kembali kejalan, dan menuju kolam dekat dengan tanaman kota. butuh lima belas menit untuk menuju kesana.

“Jevv..” Panggilku pada Jevin yang sedang fokus menyetir.

“Iyaa Ell.” Balasnya, melihat sesaat kearahku lalu kembali melihat jalanan.

“Ice creamnya.. nggak bakalan cairkan?” tanyaku tak jelas.

Jevin melihat kearahku, ia tertawa kecil.

“Kamu kenapa Ell? Khawatir banget sama ice creamnya.” Katanya lalu tertawa.

“Enggak papa Jevv. Kan nggak enak kalo cair.” Balasku.

“Enggak bakalan cair kok. Kamu kan tahu sendiri kalo ice cream yang sering aku ambil jarang banget cepat meleleh, Ell.” Jelas Jevin.

Aku tahu... aku hanya binggung mau membahas apa Jevin..

“Ohh iya ya.” Balasku.

Jevin kembali fokus menyetir, pandangan mataku hanya fokus kearah jalan. Pikiranku saat ini tak memikirkan apa-apa, hanya menunggu mobil yang kini kunaiki memarkir dengan baik. Setelah mobil terparkir dengan baik, Jevin melihat kearahku. Dia tersenyum.

“Yuk turun.” katanya. Aku membalasnya dengan anggukan.

Kini aku dan Jevin duduk dipinggiran taman, menatap ketengah kolam yang ada air mancurnya. Jevin membuka penutup ice cream dan mulai menyendoki, aku yang melihatnyapun dengan sigap menyendoki juga.

“Ell, perasaanku ke Clara udah nggak se-semangat dulu.” ucapnya.

Aku mendengarkan kembali ucapannya, tak ingin kuganggu pembicaraannya.

“Secepat itu ya pudarnya Ell.” lanjut Jevin lagi, seraya menikmati ice creamnya.

“Padahal, kemarin-kemarin aku cemburu banget sama dia.” lanjutnya.

“Jadi, kamu mau gimana Jev? Ngelanjutin perasaan kamu? Apa kamu diamin aja?” tanyaku, tak tertahankan.

“Aku mau bilang ke dia kalau aku pernah suka sama dia Ell..”

“Jev, dia sih udah tahu kalau kamu itu sukanya sama dia aja. Kamu aja yang belum nyatakan prasaan kamu.”

“Enggak tahu deh Ell, aku ragu buat ngomong ke Clara tentang perasaan aku ke dia. Rasanya sia-sia Ell..”

“Jadi kamu mau gimana? Diam aja, atau tetep ngungkapin ke dia? Daripada perasaan kamu ngegantung begini.”

“Tapi dia udah punya pacar Ell, masa iya aku jujur sama dia. Malu lah..”

“Jevv.. nggak ada salahnya. Yang penting itu hati kamu, kamu harus lega dulu sama perasaan kamu.”

Jevin menghembuskan nafas keras, “Iya okee. Aku nyatain ke dia.” jawabnya tegas.

Aku tersenyum bangga pada Jevin, kutepuk punggung tangannya. Ia menatapku intens, seperti memikirkan sesuatu entah apa. Aku hanya membalasnya dengan senyuman yang kubuat seindah mungkin untuknya. Setelah pembicaraan panjangku dan Jevin berakhir, dan ice cream tadi juga telah habis. Aku meminta Jevin mengantarku pulang, dia menyetujuinya.

“Oyaa Ell, besok temani aku buat ketemu sama Clara ya.” pinta Jevin, sambil fokus menyetir.

“Oke, siap!” balasku semangat.

******

Pagi ini, Jevin memintaku untuk menemaninya menemui Clara. Jevin telah meminta Clara menunggu disalah satu cafe terdekat dikampus. Disalah satu bangku dekat dengan bar, Clara menunggu sambil melihat buku menu ditangannya. Jevin menggenggam erat pergelangan tanganku, membawaku duduk tepat didepan Clara. Jevin terlihat sangat serius dengan tatapannya pada Clara, gadis itu hanya tersenyum padaku dan Jevin.

“Silahkan duduk kak..” ucapnya.

“Clara apa kabar?” tanya Jevin terdengar canggung.

“Baik aja kak, kalau kakak gimana?” Clara balik bertanya.

“Kakak baik juga.” balas Jevin. “Cla..” lanjut Jevin.

Clara terlihat menanti lanjutan panggilan dari Jevin, aku yang terlihat penasaran ingin rasanya menjauh dan membiarkan mereka berbicara. Tak sadar, rasanya Jevin menggenggam tanganku dibawah meja, dia memegang dengan erat. Sedetik kulihat kearah Jevin yang ada disampingku. Dia berusaha tenang.

“Kakak mau ngomong jujur ke kamu, kakak suka sama kamu Cla. Sebenarnya kakak dekati kamu karena kakak mau kenal kamu lebih dalam dan mau jadikan kamu pacar kakak.” Ungkap Jevin, Clara terlihat ingin menyanggah.

“Kakak tahu ini terlambat, tapi.. untuk kenyamanan hati, kakak nyatakan perasaan ini. Maaf Claraa… kalau kakak tidak secepat yang kamu inginkan dalam menyatakan perasaan.” Lanjut Jevin.

Jevin menunggu respon dari Clara, yang masih tak percaya Jevin mengungkapkan perasaanya.

“Jadi sekarang perasaan kakak gimana ke aku?” tanya Clara.

Entah kenapa Clara harus menanyakan hal itu, mestinya dia tak menanyakannya sekarang. Apakah dia hanya akan menyiakan jawaban dari Jevin nantinya? Atau Clara masih mengiginkan perasaan Jevin? Dan dia bakalan putus dengan si kaca mata itu? Claaa… apa yang kamu fikirkan?

Jevin terlihat ragu, aku menatap Jevin intens. Sesaat kemudian, matanya melihat kearahku. Kuyakinkan dia.

“Perasaan kakak ke kamu, udah memudar Claa..” Ungkap Jevin. “Mungkin tidak ada lagi.” lanjutnya.

Clara menghembuskan lembut. “Baguslah kak, aku senang dengernya. Aku takut perasaan kakak masih ada sedangkan perasaan aku ke kakak udah mulai nggak ada.” balas Clara.

“Jadi kita impas. Sekarang kamu nggak usah mikirin perasaan kakak lagi Claa..” kata Jevin, ia sudah mulai melepas genggaman tangannya tadi.

“Iyaa kak, huh.. lega banget rasanya. Makasih ya kak udah ngungkapin perasaan kakak ke aku. Makasih juga buat kak Ell udah usaha banget dekatin aku sama kak Jevin. Seneng punya kakak seperti kalian.” unkap Clara.

“Sama-sama Cla..” balasku singkat. Jevin juga mengatakan hal yang sama.

“Kalau gitu, aku permisi dulu yaa kak. Aku ada janji.” Ijin Clara padaku dan Jevin.

“Iyaa Claa, hati-hati yaa.. Semangat Cla..’ balas Jevin. Clara mengacungkan ibu jarinya pada Jevin.

Setelah Clara terlihat menutupi pintu cafe, dan ada dua cangkir cappucino yang tak kami pesan sebelumnya datang. Clara pasti memesannya untuk kami.

“Jev..” panggilku lembut, Jevin masih melihat kearah pintu cafe.

Jevin melihat kerahku, merepon panggilanku. Dia tersenyum, senyuman manis dari bibirnya yang memudar akhir-akhir ini terlihat sangat menawan kali ini. Jevin kemudian berdiri lalu pindah duduk tepat didepanku.

“Jev..” panggilku lagi, untuk memastikan dia menyatakan kelegaannya.

“Iyaa Ell, aku lega banget sekarang.” balasnya.

Kemudian, tak ada pembicaraan lagi. Aku menyeruput cappucino didepanku, dan melayangkan pandanganku didalam cafe ini. Jevinpun menyeruput cappucinonya, ia terlihat tenang dan sepertinya tak akan ada pembicaraan lagi setelah secangkir cappucino ini habis.

Kuraih ponselku dikantong tasku, dan membuka aplikasi line. Melihat apakah ada info penting yang dapat membuatku beranjak dari cafe ini. Kuusap lembut layar ponselku, yup! Tak ada secercah pesan yang bisa membuatku pergi. Hanya obrolan tak penting diruang obrolanku.

“Ell, kok risih begitu?” tanya Jevin mengagetkanku. Dia menyadari ketidak tenanganku.

“Ngh.. ini ada info digrup. Tapi nggak penting.” jawabku ngelantur.

“Ohh, aku kirain kenapa.” balasnya singkat.

Aku agak sedikit binggung disini. Jevin tak membicarakan apa-apa lagi dan aku sangat kaku, membicarakan apa akupun binggung. Kurasa wajah bosanku terlihat dimata Jevin. Sepertinya aku harus benar-benar pergi, pearasaanku sangat kacau sekarang.

“Jev.. aku pergi dulu yaa. Aku ada kesibukan.” kataku dengan cepat, lalu segera pergi. Aku hanya melambaikan tanganku setelah menutup pintu cafe, Jevin hanya tersenyum.

“Ini perasaan kok kacau banget, apa sih yang aku harapkan? Udah deh Ell, jangan bodoh. Perasaan Jevin nggak bakalan bisa beralih ke kamu, kalaupun iya kamu bakalan jadi tempat pelampiasan. Perasaan dia ke Clara udah nggak ada, jangan harapkan apa-apa Ell, jangan! Lupain aja perasaan kamu ke Jevin. Cukup teman oke! Cukup teman!” gerutuku sambil berjalan menuju parkiran. Aku hampir menangis, mengingat diriku yang mengiginkan seorang pria yang tak pernah menyukaiku. Cinta yang sedih, mungkin ini cocok untuk perasaanku saat ini.

“Ya Tuhan, aku lupa kalau aku ke sini dibawa Jevin. Motorku dikampus.” bentakku.

Aku berbalik badan dan hendak kembali ke dalam cafe, tapi Jevin sedang berjalan kearahku. Dengan wajah memerah terlihat menahan ketawa. Yaa.. dia tertawa setelah tepat didepanku.

“Aku tahu kamu bakalan balik, yuk aku antar ke kampus. Sok sibuk banget deh.” Katanya mengejekku. Aku hanya menyenggolnya dan ikut tertawa.

“Tapi antarkan aku ke perpus aja yaa, disana aku ada janji.” ucapku berbohong. Tidak ada janji-janjian disana. Jevin hanya menganggukkan kepalanya.

Jevin telah mengantarku tepat didepan perpustakaan, akupun langsung memasuki gedung. Setelah kulihat Jevin pergi, aku kembali keluar dan menuju kedai kopi didekat perpustakaan. Aku binggung dengan diriku, sedikit kacau. Kejadian di cafe tadi membuatku banyak berharap. Damn! Perasaan ini.

Aku kembali meminum secangkir cappucino, melayangkan pandanganku keluar kedai. Melihat beberapa mahasiswa sedang berjalan dengan santainya, ada pula yang berjalan dengan tergesa-gesa. Ini mungkin adalah hari sibuk bagi mereka, ini hari yang membosankan menurutku. Tidak ada kegiatan peralihan untukku saat ini. Les biolapun ditunda minggu ini, perkuliahan udah nggak ada. Kegiatanku benar-benar kosong. Entah sampai kapan perasaan berharap ini akan bertahan.

Move On?! mungkin ini jawabannya. Aku bisa saja menghilangkan perasaan berharapku dari Jevin jika aku punya pacar. Eh? Tapi siapa? Aku terlalu fokus dengan Jevin, perasaan ini tidak ada untuk orang lain. Mungkin, jika saatnya penelitian nanti aku pasti bakalan ketemu sama cowok yang bisa buat aku senang dan bahagia. Tunggu sebulan lagi, aku akan jauh dari Jevin untuk memperbaiki perasaanku. Maaf Jevin, aku harus move on darimu.

  • view 40