FRIST LOVE, MAYBE

Julianthy Dianathalie
Karya Julianthy Dianathalie Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Desember 2016
FRIST LOVE, MAYBE

Prolog

Aku menyukai seorang pria, dan mencoba mendekatinya. Apa yang terjadi?

Aku membantunya dalam cinta. Yaa.. cinta. Yang ia nyatakan pada wanita yang dia sukai. Bukan aku, tapi wanita lain. Cinta pertamanya. Wanita pertama yang sangat mampu membuat dunianya terasa nyaman dengan keberadaan wanita itu.

“Saat aku melihat mu, yang kulihat adalah seorang sahabat, bukan seorang pria yang pernah kusukai.”

-Ellisa Daniel-

______________________________________________________________________________________________________________________________________

Siang ini, aku ada janji dengan Jevin. Dia seorang pria yang amat sangat menyenangkan, sangat tampan, dan sangat ingin membuat ku memiliki dirinya. Kami janjian ketemu di sebuah cafe coffie shop di dekat tempat dimana aku sering latihan biola bersama teman-temanku. Jevin menghubungiku pagi tadi, dan mengajakku ke cafe itu. Kini, sudah lima belas menit aku menunggunya. Dia belum juga datang, mungkin tepat setelah secangkir cappucino yang kupesan ini akan habis.

            Dan.. Yap!! Benar, dia disana di depan pintu tersenyum lebar ke arahku. Indah sekali senyuman itu. Dia perlahan melangkah ke arahku, lalu duduk tepat menghadap melihatku. Wajah tampannya itu membuatku lupa bahwa menunggunya selama lima belas menit terakhir membuat ku ingin ke toilet. Niat itu menghilang setelah mata ini melihatnya.

“Sorry Ell, aku tadi ngantarin temen.” Dia mencoba untuk tak membuatku bertanya kemana dia. “Lama ya nunggu, sorry deh.” Katanya lagi meyakinkan. Aku hanya tersenyum padanya.

“Uhm, kamu udah minum.. aku juga mau.” Ucapnya lagi, lalu menuju ke bar barista. Dan tak lama membawa dua cangkir cappucino.

Yaa... dia memberikanku secangkir lagi. Sepertinya dia akan  bercerita tentang, hmmm...

“Ell, dia terima tiket nonton yang aku belikan.” Apa yang ia katakan barusan membuat seluruh wajahnya memerah cerah, senyuman riang itu sangat menawan.

“Oyaa? Wah! Selamat Jevv... aku kirain dia nggak bakalan nerima tiket itu.” balasku tersenyum terpaksa di depannya. Menurutku ini berita buruk, aku memberikan masukan padanya agar  membeli tiket nonton, dan berharap “Dia” menolaknya dan Jevin akan mengajak ku. Ternyata tidak.

“Yaa, awalnya dia nolak. Tapi dia.. mau dan malam ini Ell, kami jalan bareng. Dan uhmm.. makasih ya, sarannya.” Ucapnya padaku, lalu menyeruput cappucino miliknya.

“Iyaa Jev.. sama-sama. Jangan malu-maluin loh yaa..”

“Uhh.. mudahan deh Ell, gugup banget. Sumpah!” ungkap Jevin terlihat gugup di depanku.

“Ihhh, jangan gugup amat. Bahaya. Nanti gagal tuh. Santai aja Jev..”

            Raut wajahnya sangat bahagia setelah “Dia” gadis yang Jevin sukai menerima tiket nonton darinya. Memang sih.. Jevin baru kali ini memberanikan dirinya mengajak “Dia” ngobrol sampai ngajakin “Dia”  nonton bareng. Itu saran dariku!. Sedikit menyesal memberikan saran itu.

            Malam tiba. Jevin mengirimi kusms. Isinya...

“Ell.. aku jalan yak! Doakan kencan pertama ku.”

            Aku hanya membacanya, tak inginku balas. Hanya membuatku berharap ingin bersamanya saat ini juga. Lampu meja belajar di mejaku terasa redup kali ini, ada sebuah sesak di dadaku malam ini. Akh! Apalah. Aku hanya ingin malam ini berjalan cepat. Atau.. untuk menghabiskan malam ini aku ingin mengingat kembali mengapa aku menyukai Jevin, begitu menyukainya.

Setahun lalu..

            Jevin adalah seorang mahasiswa di jurusan Pertanian sama denganku, aku menyukainya sejak pertama memasuki kampus. Di orientasi kampus, ia membantuku. Membantuku saat senior memarahiku karena aku terlambat masuk ke kampus, dia juga membantuku untuk menemukan kunci peti permainan konyol kakak tingkat. Dari sanalah aku mulai menyukainya. Mengaguminya diam-diam. Namun, ternyata kami tidak sekelas. Ia mengambil bidang lain, dan aku mengambil Teknologi Pertanian. Sejak saat itu, aku jarang melihatnya di kampus. Yaa kadang saja, jika kami mengambil mata kuliah yang sama.

            Aku muyak dengan diriku yang hanya mengagumi dia begitu saja, mulaiku dekati dia. Dan aku tahu banyak hal tentangnya, tahu apa yang dia suka, tahu apa yang dia sering lakukan, tahu bahwa dia belum pernah menyukai satupun wanita dihidupnya,. Kecuali, Mamanya. Jevin menjadikan ku temannya sejak aku mendekatinya. Kenyamanku berteman dengannya membuatku semakin menyukainya. Dia bagaikan penyemangat dalam hidupku. Jevin membantuku dalam segala hal yang ia bisa.

            Setelah beberapa bulan berteman dengan Jevin, ia tak berubah sedikitpun selalu menceritakan apa saja tentang apa saja. Termasuk pertama kali ia menyukai “Dia” adik tingkat yang manis dan imut bernama Clara. Jevin menyukainya sejak pertemuan orientasi, karena aku dan Jevin menjadi salah satu anggota panitia saat itu. Awalnya, aku sedikti kecewa dengan pernyataannya “Ini pertama kali aku menyukai cewek Ell. Dia manis, baik, cantik, dan sangat sopan.”. Hingga muncul dibenak ku, seperti apa pandangannya terhadap ku? Baik kah? Atau Buruk ?

            Mulai dari sanalah, beberapa bulan terakhir ia selalu menceritakan tentang Clara. Bagaimana mendekati Clara dan bagaimana berbicara dengan Clara. Tahu apa yang lebih menyebalkan? Jevin meminta ku berteman dengan Clara membuat dirinya dan Clara bisa berteman juga. Aku tak menolak atas permintaannya, aku menjadikan Clara sebagai teman ku. Sebatas adik tingkat agar Jevin lebih mudah mendekatinya. Aku tak menyesali ini, selama Jevin juga  tak menjauhi ku karena kehadiran Clara.

            Kenyataannya, aku bahagia. Sejauh ini Jevin masih berteman dengan ku. Kita sering hangout bareng ke berbagai tempat, kadang berdua saja dan  kadang juga bersama dengan teman-teman yang lain. Aku senang posisi ku tak berubah saat ada Clara. Ia masih menjadikan ku salah satu teman yang sangat ia butuh kan. Ohh Tuhan, semoga saja kami akan tetap seperti ini. Berteman atau bersahabat lebih baik.

 

            Dua hari kemudian, setelah ujian tengah semester selesai. Jevin mendatangi ku ke kantin kampus. Wajah tampannya kembali pancarkan senyum yang seminggu ini tak kelihatan.

“Eh.. senang amat. Ada apa Jevv?” tanyaku seraya tersenyum padanya. “Kencan kamu berhasil ya?” tebakku, berharap ia akan mencerikan hal yang hebat.

“Yap! Berhasil.” Ucapnya singkat. Namun wajahnya sesaat menahan senyuman tadi.

“And then?” tanyaku penasaran. Yaa.. aku penasaran.

“Aku masih takut.” Ucapnya lalu bungkam.

“Takut? Takut kenapa?” tanyaku lagi.

“Takut dia nolak kalo nantiku tembak.”

Akupun tertawa lepas dihadapannya, aku ingin membuang jauh-jauh perasaan takutnya.

“Tenang aja Jevv.. yakin aja. Dia pasti terima kamu. Kamukan the best!” ucapku menyemangatinya sambil mengajukan jempolku.

            Jevin mengangguk mantap. Wajahnya kembali bersemangat. Aku senang jika ia juga senang. Seperti biasa dia kemudian memesankanku secangkir cappucino. Tak lama, ponselku berdering. Clara meng-smsku.

“Kak Ell, aku pengen ketemu kakak. Ada waktu?” tanyanya.

“Iya ada dek.” Balasku singkat, aku tahu kemana pembicaraan ini akan berlanjut.

“Di perpus kampus, jam dua siang ini?” balasnya.

“Oke!” balas ku.

            Ponsel ditanganku kini ingin rasanyaku celupkan dalam cangkir cappucino di hadapanku. Wajah memerahku pasti terlihat dimata Jevin, ia melihatku heran.

“Kenapa Ell? Siapa yang sms?” tanyanya.

“Uhmm. Bukan siapa-siapa. Cuma telkomsel.” balasku berbohong. Sepertinya Jevin tahu kebohonganku.

“Kamu sekarang udah mulai bisa ngebalas sms telkomsel ya.. keren!” ucapnya dengan nada mengejek. Kemudian Jevin tertawa. Aku hanya mengikutinya tertawa. Agar kenyamanan ini tak hilang.

“Ya bisalah.. nggak ada yang smsin sih. Haha” balas ku. Jevin tertawa kecil mendengarku.

            Tepat pukul dua siang di perpustakaan kampus, janjian dengan Clara. Adik tingkat yang disukai Jevin. Clara melambai kearahku setelah mataku menemukannya sedang duduk sendirian di kursi pojokan di dekat rak buku bertulis “pengetahuan umum”.

“Ada apa Cla.” Tanyaku datar padanya setelah tubuhku nyaman duduk di kursi empuk ini.

“Gini kak, aku mau tanya tentang kak Jevin.” Jawabnya, pendengaranku menjadi jelas mendengar nama Jevin.

“Iya Cla, tanya aja.”

“Kak Jevin itu orangnya gimana kak?” tanyanya seperti seorang anak kecil yang sangat ingin tahu.

“Uhmm, Jevin itu cowok baik, dan penurut, penuh tanggung jawab dan perhatian.” balasku memuji pria yang kusukai.

“Aaa.. aku tahu dia pasti baik.”

“Tanya apa lagi Cla?” tanyaku datar.

“Kak Jevin punya pacar nggak kak?” tanya Clara lebih serius lagi.

            Ahh! Beneran kan. Ini akan menjadi sebuah pembicaraan paling danger sedunia. Please hatiku, tahan amarah mu saat ini.

“Uhm.. setahu kakak dia nggak punya. Kan dia dekatin kamu.” balasku datar, datar banget.

“Oya?!” pekik Clara ceria.

“Kenapa Claa?” tanyaku terkaget.

“Aku suka kak Jevin!” teriaknya kecil. Penuh semangat dan bergairah ia mengucapkannya.

            See! Hatiku hampir retak. Gadis ini menyukai Jevin. Akhirnya, aku membantu kedua sejoli ini saling jatuh cinta. Clara menggigit lembut bibirnya.

“Kak!” pekiknya memanggilku.

“Apa aku bisa bilang ke kak Jevin tentang ini?” tanyanya. Aku terdiam tak mampu menjawab apa-apa selama beberapa detik. Ini sangat mengagetkanku.

“Iya boleh Claa. Itu hal yang normal.” Balasku berusaha tenang, namun nafasku kini tak beraturan. Sesak di dadaku rasanya akan memuncak.

“Oke kak, aku nanti bakalan bilang. Tapi nggak apa-apa bilang duluan kak?” tanyanya kembali.

Akh! Tak dapatku tahan sesak ini. “Katakan apa yang kamu rasakan Cla, kalau nggak dia akan berpaling dari perasaannya. Dia juga suka kamu. Jadi bilang aja yang sebenarnya. Sebelum dia pergi.” kataku menaikkan nada suaraku. Yang kuyakini ini keluar beserta emosional yang menyesakkan dadaku.

            Clara menatapku kaku, matanya melihatku sayu. Aku sadar nada suaraku sepertinya sedang marah. Namun, aku berusaha terseyum semanis mungkin dihadapan Clara meyakinkan padanya bahwa perkataan tadi adalah nasihat yang baik untuknya. Sepertinya dia mencerna kata-kataku dengan baik. Yup! Dia mengangguk mantap. Lalu berusaha memelukku. Segera setelah itu aku meninggalkan Clara. Tak dapat kutahan kepenatan di dadaku, Akh! Sudah berapa kali aku memekik dalam hati hari ini.

            Malam tiba, kepalaku kini dipenuhi banyak kata-kata yang harus kutuangkan dalam tulisan tangan ini untuk tugas kuliahku. Cukup membinggungkan awalnya. Namun bisa kuatasi.

Tak lama, pikiranku melayang mengingat Jevin dan Clara yang saling menyukai. Aku harus pertemukan mereka karena perasaan mereka. Ini masih pukul delapan malam, tak ada salahnya memanggil keduanya. Kukirimkan pesan untuk pertemuan di Cafe favorit ku dan Jevin, kepada keduanya.

            Tiga puluh menit setelah itu, kami bertemu di parkiran motor. Clara kaget melihat kehadiran Jevin. Kuajak kedua sejoli itu masuk ke dalam cafe dan memesan meja paling strategis untuk keduanya. Kami bertigapun duduk di meja bundar khusus tiga orang. Clara dengan wajah herannya campur dengan gugup sepertinya mulai ingin membuka pembicaraan, namun kuhalangi niatnya itu.

“Jevin, kamu mau ngomong apa ke Clara?” tanyaku langsung pada Jevin. Jevin terlihat kaget lalu melihat kearah Clara yang masih diam.

“Ngomong? Ngomong apa?” tanya Jevin malah heran.

“Yaa. Tentang yang tadi siang.” Balasku, Jevin masih dengan wajah herannya.

“Ellisa, apa sih maksud kamu? Aku nggak paham Ell.” Ucap Jevin terdengar marah.

            Jevin akhirnya berdiri dari tempat duduknya, menarikku keluar pintu. Genggaman tangannya sangat erat saat ini, tanganku terasa hangat bercampur sakit.

“Apa maksud kamu Ell? Ketemuin aku sama Clara?” tanya Jevin sedikti berbisik namun tegas.

“Aku Cuma mau kamu ngungkapin perasaan kamu aja, dia juga suka kamu Jev..” balasku jujur.

“Apa? Clara suka sama aku?” tanyanya, wajahnya senang saat itu, namun memudar sedetik kemudian.

“Kenapa Jev? Ada apa sama ekspresi itu?”tanyaku heran. Jevin kemudian melepaskan genggamannya. Lalu membawaku masuk kedalam.

            Wajah Jevin yang serius tadi berubah menjadi pria tampan di depan Clara. Ada apa dengan ekspresi tadi? Pertanyaanku tak dijawabnya. Inginku bertanya kembali. Namun, Jevin sepertinya berusaha mencairkan suasana dengan mengajak Clara mengobrol seputar kegiatan kampus. Aku hanya ikut memerhatikan, berbicara dan menanggapi jika aku mengerti. Ada yang aneh dengan Jevin. Tidak. Ada yang dia sembunyikan. Apa dia punya waktu tersendiri untuk menyatakan perasaannya pada Clara?

            Damn! Aku baru sadar betapa bodohnya aku. Jevin seorang pria yang pasti butuh waktu yang tepat untuk menyatakan perasaan pada wanita yang ia sukai. Apa aku kini salah mempertemukan mereka? Apa aku menghancurkan rencana Jevin untuk menyatakan perasaanya pada Calara? Tidak.. aku tak ingin terlihat jahat didepan Jevin. Jujur, kusesali perbuatan ku malam ini.

            Aku sangat berharap malam seperti ini tak terulang lagi. Jelas saja sebelum pulang saat diparkiran Jevin bilang bahwa dia punya waktu dan rencana untuk hal seperti ini dia memintaku menunggu. Akh! Dia mau aku jadi saksi cinta antara dirinya dan Clara. Malam ini cukuplah sampai disini. Aku tak ingin mengganggu privasi Jevin.

            Beberapa waktu setelah itu, Clara yang sering meng-smsku bertanya tentang Jevin tak lagi terlihat. Dan Jevin juga tak membicarakan seputar Clara jika kami sedang hangout seperti biasa. Akupun tak ingin membahasnya sebelum ia membahasnya. Seperti biasa aku hanya membiarkan ia dengan riang dan ceria menceritakan tentang clara, tapi akhir-akhir ini cerita itu tak ada.

            Apa yang terjadi diantara mereka? Apa malam itu adalah malam terakhir mereka? Mereka tak membicarakan tentang perasaan mereka? Apa aku telah memudarkan perasaan mereka? Aku tak ingin meninggalkan kesan buruk sebagai teman yang menghalangi perasaan cinta mereka. Apa yang harus kulakukan?

            Aku ingin mereka sama-sama menyatakan perasaan mereka, hatikupun tak tenang jika melihat pria yang kusukai tak menyatakan perasaanya. Pada “Dia” yang Jevin sukai. Kebetulan hari ini sedang weekend dan aku ingin mengajak Jevin dan Clara hangout bareng di kebun binatang. Berharap rencana ini berhasil membuat mereka menyatakan perasaan masing-masing.

            Ketika sampai di kebun binatang, aku sedikit terkejut dengan kedatangan Jevin dan clara bersamaan. Clara keluar dari mobil Jevin membawa keranjang piknik. Dan Jevin membawa minumannya. Aku tersenyum senang menyambut keduanya di depan pintu gerbang ini.

“Sorry ya kak lama. Aku sama kak Jevin tadi belanja bentar.” Clara menjelaskan, kubantu dia membawa keranjang piknik itu.

“Iya nggak papa, kakak juga baru nyampe.” Balasku singkat, Jevin tersenyum senang kearahku.

            Perasaanku aneh tentang ini, Jevin dan Clara belanja bareng? Mereka juga janjian hari ini? Kuingat kembali percakapan semalam. Jevin langsung setuju dengan ajakanku, Clarapun begitu. Apa mereka sudah punya rencana hangout sendiri? Aku menganggu mereka lagi hari ini? Tidak.. aku akan berusaha membuat seperti diriku tak ada.

            Setelah berkeliling sebentar, kamipun mencari tempat untuk bersantai. Rumah bambu di dekat tebing itu terlihat nyaman untuk bersantai. Akupun membawa kami kesana. Aku berharap ada keajaiban terjadi disana, antara Jevin dan Clara. Setelah sampai aku membiarkan keduanya berduaan, berpura-pura membeli sesuatu di toko kecil di dekat danau tak jauh dari rumah bambu tadi. Kulihat dari kejauhan, mereka masih terlihat canggung. Kembali kuperlambat langkahku dan kegiatan anehku ini, berharap mereka memiliki waktu berdua.

            Setelah sampai di toko, aku membeli makanan chips kesukaanku lalu melangkah lambat kearah rumah bambu, keduanya kini mulai terlihat tertawa sejauh mataku melihat. Perasaan tenang kini meliputi hatiku. Tenang melihat Jevin mendapatkan hati gadis yag ia sukai. Tak lama kini aku sudah duduk bersama mereka berdua. Aku terasa sangat canggung dan sedikit sesak berada di antara mereka.

            Aku masih terdiam, menikmati chipsku sambil melihat kearah danau. Jevin dan Clara masih berbincang-bincang entah apa yang mereka perbincangkan, pendengaranku tak jelas jika sedang mengunyah sesuatu. Sesaat, Jevin duduk disampingku. Begitupun Clara ikut duduk disampingku. Aku ada di tengah kedua sejoli yang sedang jatuh cinta ini. Kami hanya diam sambil mengunyah cemilan masing-masing sambil menikmati pemandangan. Hingga sore hari menjelang waktunya pulang, rasanya kosong sekali hangout kali ini. Hanya Jevin dan Clara yang berbicara hari ini, aku hanya mendengarkan ocehan mereka. Mungkin mereka telah pacaran sejak aku meninggalkan mereka ke toko tadi. Yah.. aku ikut senang.

            Sesampai dirumah, ada hal yang menganjalku. Harusnya jika mereka sudah pacaran mereka mesti memberitahuku kan? Ehhh.. tidak. Itu tidak penting, tidak mungkin secepat itu mereka menyatakannya, pasti nanti. Setelah seminggu atau dua minggu. Jevin... selamat sudah berhasil mendapakan “Dia”.

 

I’ll be back-

 

  • view 167