Saranglove (2.4)

Revina Julian
Karya Revina Julian Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Juni 2017
Saranglove (2.4)

Dua minggu sudah berlalu sejak pertemuan tak disengaja dengan Kang-Jae di pulau Jeju. Ankaa yang selama satu bulan ini, di setiap harinya selalu mempersiapkan diri jika tiba-tiba Kang-Jae muncul di depannya seperti sebelum-sebelumnya. Tapi Kang-Jae tidak pernah muncul di depannya.
Kang-Jae hanya muncul terlalu sering di televisi. Wawancara di acara entertaiment news, membintangi beberapa iklan, muncul sebagai bintang tamu di acara variety show kesukaan Ankaa, bahkan bintang tamu acara radio.
Seperti saat ini. Saat Ankaa sedang mendengarkan radio di perjalanan bus menuju kampus, si penyiar radio memperkenalkan bintang tamu hari itu.
"Selamat malam semuanya. Pendengar setia FBF Radio, seperti yang sudah saya janjikan di segmen pertama, hari ini kita kedatangan tamu paling panas tahun ini. Yah, siapa lagi kalau bukan Kang-Jae. Apa kabar Kang-Jae ssi?"
Ankaa yang sedari tadi menahan kantuk karena takut halte yang biasa ia turun terlewati, mendengar nama Kang-Jae seperti kopi yang membuatnya segar kembali dari kantuk.
Ankaa mendengarkan dengan seksama setiap percakapaan si penyiar dan Kang-Jae. Ia semakin yakin kalau Kang-Jae di depan publik sungguh berbeda kharismanya dengan yang ia kenal.
Saat di depan kamera dan atau di radio Kang-Jae adalah sosok yang tentunya tampan, kharismatik, dewasa, penuh percaya diri, dan juga tenang. Tapi disetiap ingatan Ankaa, ketika bertemu langsung, baginya Kang-Jae adalah tipe pria polos, cerewet, dan tanpa basa-basi.
"Baiklah. Untuk pertanyaan terakhir. Sebagai penutup perbincangan kita. Apakah ada seseorang yang anda rindukan?" Tanya si penyiar.
"Tentu. Aku sangat merindukannya."
"Wahh... beruntung sekali dia. Apakah dia wanita?"
"Tentu saja. Aku pria normal."
"Oh tidak. Lihat para pendengarmu di luar studio hampir menangis. Aku rasa mereka patah hati."
"Hahaha... jangan. Jangan patah hati. Aku mencintai kalian semua."
"Tapi kamu merindukan seseorang disana."
"Hahaha... tentu saja. Karena dia yang melahirkanku. Aku bisa apa?"
"Anda bisa langsung meneleponnya setelah acara ini."
"Wah... kamu membaca fikiranku."
"Hahaha... Sepertinya penggemarmu tidak jadi patah hati. Baiklah. Kita akhiri pembicaraan saya dengan Kang-Jae ssi. Terimakasih banyak sudah menemani saya siaran, dan ini lagu I Miss You dari Kim Tae-Woo".
Ankaa mematikan radio sesaat setelah si penyiar menutup acaranya. Beberapa menit  kemudian telepon genggamnya bergetar.
Ankaa ragu untuk mengangkat panggilan tersebut. Itu karena nomor yang tertera bukan nomor yang ia kenal.
Ankaa pun memilih untuk tidak mengangkatnya. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas sesaat setelah panggilan terputus. Namun belum tiga detik ponselnya berada di dalam tas, kembali ponselnya bergetar.
Berfikir itu adalah panggilan serius, Ankaa pun memutuskan untuk mengangkatnya.
"Hallo."
"Kenapa lama sekali?" Semprot seseorang di seberang telepon.
Ankaa mengorek telinganya. Bukan karena si penelepon berteriak, tapi karena suara si penelepon mirip dengan suara Kang-Jae yang baru saja ia dengarkan di radio.
"Kang-Jae ssi?" Tanya Ankaa kaget. Merasa dia setengah berteriak, dan mengganggu penumpang lain di bus, Ankaa pun buru-buru menutup mukanya.
"Kenapa kaget? Memangnya kamu sedang menunggu telepon dari orang lain?"
"Bukaan." Gemas Ankaa. "Justru kenapa kamu telepon aku? Bukannya kamu bilang akan menelepon ibumu?"
"Aku? Memangnya aku bilang padamu aku akan menelepon ibuku? Seingatku, ini telepon pertamaku padamu. Dan seingatku, kita sudah dua ming... aah! Kamu mendengarkan radio!" Seru Kang-Jae.
"Iya!" Jawab Ankaa gemas. "Jadi kenapa kamu meneleponku?"
Kang-Jae tersenyum senang dan puas. "Aku merindukanmu."
"Ihh..." pekik Ankaa bergidik sambil mematikan panggilan Kang-Jae.
Ponsel Ankaa bergetar kembali. Si penelepon dengan nomor yang sama, yang artinya adalah Kang-Jae.
"Apa?" Tanya Ankaa ketus.
"Apa?" Pekik Kang-Jae. "Itu pertanyaanku. Apa maksudmu menutup telepon?" Tanya Kang-Jae kesal. "Oke. Aku tidak luasa meneleponmu disini. Tunggu aku sepuluh... tidak, lima belas menit. Aku akan meneleponmu lagi. Save nomorku. Awas jika tidak kamu angkat!"

Satu jam lewat pun berlalu.
Kang-Jae masih belum menelepon Ankaa seperti yang dijanjikan. Dan Ankaa merasa terganggu dengan keadaannya yang berharap mendapat panggilan telepon dari Kang-Jae.
Ankaa merasa apa yang ia rasakan terlalu berlebihan untuk seseorang yang tidak begitu ia kenal. Namun Ankaa sadar, bahwa ia menantikan Kang-Jae selama dua minggu ini.
Bahkan Ankaa pun masih merasakan rasa senang, kaget, bercampur geli saat Kang-Jae berkata merindukannya di telepon tadi.
"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Ankaa pada telepon genggamnya.
"Siapa? Handphone-mu?" Tanya seseorang yang mengagetkan Ankaa. "Apa ayah belum kembali?" Ray mengajukan pertanyaan lain.
"Sejak aku pulang, kamu yang pertama pulang." Jawab Ankaa sambil melihat ke sekelilingnya. "Sudah kamu telepon?"
"Sudah. Tapi tidak ia angkat. Ibu juga." Jawab Ray sambil ikut duduk disamping Ankaa. 
"Oh? Aku pikir tante pergi bersama Nyonya Park?"
"Tidak. Tadi sore ibu meneleponku kalau selesai mengantar Nyonya Park, ibu akan dijemput ayah. Sepertinya mereka akan merayakan hari pernikahan mereka."
"Aigoo." Seloroh Ankaa. "Kalau begitu kamu jangan ganggu mereka. Seperti kamu tidak mau diganggu jika sedang bersama Hye-Ri." Goda Ankaa.
Ray tersenyum. Kemudian mengambil kaleng soda yang ada di depan Ankaa dan menyeruputnya tanpa meminta izin yang punya. "Sedang apa kamu di meja makan sendirian? Tidak ada masalah kan?"
"Tidak. Semuanya berjalan...".
Perkataan Ankaa terpotong karena telepon genggamnya berdering.
Liftman.
Itu yang tertera di layar telepon genggamnya.
"Ah. Aku ke kamar dulu." Pamit Ankaa. "Selamat malam." Sambungnya dan buru-buru berlari ke kamarnya, mengunci pintu kamarnya, dan duduk di atas tempat tidurnya dengan tegang.
"Hallo...".
"Kenapa lama?" Teriak Kang-Jae.
Alis mata kanan Ankaa naik. "Bukannya kamu yang lama?"
"Aku? Jelas-jelas kamu yang lama mengangkat... ah! Maaf... aku terjebak penggemarku saat hendak ke parkiran."
"Oh."
"Hey... kamu menunggu teleponku yah?"
"Tidak." Jawab Ankaa cepat. "Itu karena kamu teriak padaku."
"Ah... baiklah. Baiklah. Tidak masalah kamu tidak mengakuinya."
"Bukan begitu! Aku..."
"Iya. Iya... aku mengerti." Potong Kang-Jae. "Ankaa-ssi..." panggil Kang-Jae kemudian.
"Apa?"
"Kalau tidak keberatan. Boleh aku tahu dimana posisi kamarmu?"
Bukan hanya alis mata Ankaa yg naik tapi Ankaa memekik bingung. "Eh?!"
"Aku sungguh berharap tempatku berdiri sekarang adalah tempat yang benar." Ucap Kang-Jae.
"Apa maksudmu sih? Aku tidak mengerti." Tanya Ankaa bingung.
"Bisa buka jendela kamarmu? Aku mohon. Aku hanya ingin tahu aku benar atau salah."
Meski bingung Ankaa mengikuti instruksi Kang-Jae. Ia pun turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke samping meja belajarnya dan membuka jendela kamarnya. Dia tidak melihat apa-apa.
"Sudah." Kata Ankaa.
"Aku benar." Ucap Kang-Jae lega. "Aku bisa melihatmu.
"Kamu melihatku? Dari mana? Aku tidak melihatmu?" Mata Ankaa mencari-cari Kang-Jae. Yang Ankaa lihat hanya pemandangan dari lantai tujuh berupa taman yang sepi, namun diseberang jalan masih ramai dengan kendaraan yang berlalu-lalang.
"Aku ada di samping kirimu. Arah jarum jam delapan."
Ankaa menuruti instruksi Kang-Jae. Dan ia benar-benar menemukan Kang-Jae yang sedang berdiri di balkon dan menoleh ke atas, dimana dirinya sedang menjulurkan kepalanya keluar jendela.
Perasaannya semakin tak menentu. Jantung Ankaa pun berdebar dengan cepat seakan jantungnya akan melompat keluar dan terjun dari lantai 7 tempat ia tinggal.
"Aku melihatmu dengan jelas." Ucap Kang-Jae sambil melambaikan tangannya.
Tanpa diperintah tangan kanan Ankaa membalas lambaian tangan Kang-Jae. "Aku juga. Aku melihatmu." Bisik Ankaa.
"Aku senang itu kamarmu." Sambung Kang-Jae.
"Hmm." Gumam Ankaa.
"Kenapa?" Tanya Kang-Jae bingung.
"Tidak apa-apa." Jawab Ankaa masih berusaha menguasai jantungnya yang berdebar cepat.
"Ankaa-ssi..." panggil Kang-Jae. "Aku merindukanmu."
Nafas Ankaa tertahan. Belum berhenti debaran jantungnya yang begitu cepat saat melihat Kang-Jae, sudah harus ditambah kecepatannya karena Kang-Jae mengatakan bahwa ia merindukannya.
"Maukah kamu bertemu denganku?"

Kang-Jae terus mengamati Ankaa dari balik kacamata hitamnya. Sembari tersenyum manis ia tidak mengalihkan penglihatannya dari Ankaa. Sedangkan Ankaa hanya tertunduk canggung dan sesekali menoleh ke samping.
Dua sejoli ini duduk berhadapan di coffee shop dengan masing-masing segelas ice cappucino di hadapan mereka. Hampir lima belas menit waktu pertemuan mereka berlangsung. Namun mereka masih juga belum mengucapkan sepatah kata pun.
"Maaf... tapi sampai kapan kamu akan melihatku?" Tanya Ankaa. "Bukannya harusnya kamu mengatakan sesuatu karena memintaku turun?"
"Aku tidak sedang melihatmu." Timpal Kang-Jae berbohong.
"Pembohong." Dengus Ankaa pelan namun Kang-Jae dapat mendengarnya dengan jelas.
"Pembohong itu kalau aku berbohong berkali-kali. Memangnya aku berbohong apa lagi padamu?" 
"Hahh... baiklah. Terserah kamu saja." Ucap Ankaa sembari berdiri dari duduknya.
Kang-Jae menahan Ankaa dengan memegang lengan Ankaa. "Kamu mau kemana? Kita belum bicara apa-apa."
Ankaa mendelik sebal pada Kang-Jae. Lalu kembali menghempaskan pantatnya. "Kalau begitu bicaralah. Ini sudah malam. Aku harus tidur."
"Ayolah jangan marah-marah seperti itu. Memangnya kamu tidak merindukanku."
Ankaa memekik sembari menutup telinga dan memejamkan matanya.
"Kenapa?" Tanya Kang-Jae sebal dengan reaksi Ankaa.
"Kenapa kamu terus-menerus bilang rindu rindu rindu?"
"Apa?"
"Itu menggelikan, tahu?!"
Tawa Kang-Jae menggelegar. Tak menyadari bahwa di coffee shop itu ia tidak hanya berdua dengan Ankaa, Kang-Jae terus tertawa terbahak-bahak.
"Kamu buat aku malu..." bentak Ankaa gemas sembari berusaha menutup mulut Kang-Jae.
"Sebenarnya umurmu berapa sih?" Tanya Kang-Jae disela-sela tawanya sambil menahan tangan Ankaa yang berusaha menutupnya.
"Lepaskan!" Pinta Ankaa.
"Tidak akan pernah." Canda Kang-Jae.
"Jangan macam-macam. Orang melihat kita." geram Ankaa.
"Aku tidak peduli."
Tawa Kang-Jae berhenti. Ia melonggarkan pegangannya pada tangan Ankaa tanpa bermaksud melepaskannya. Tangan kanannya melepaskan kacamata hitam yang sedari tadi dikenakannya.
Beberapa pekikkan terdengar dari samping tempat duduk mereka. Dua orang gadis menyadari keberadaan Kang-Jae.
Tidak memperdulikaan status keartisannya, Kang-Jae terus mengunci Ankaa dengan genggaman dan tatapan matanya.
"Ankaa-ssi... kamu harus mempersiapkan jawaban tulus dan jujurmu. Aku tidak meminta jawabanmu sekarang, saat ini, tapi aku tidak akan mengulanginya lagi, jadi dengarkan baik-baik." Ucap Kang-Jae pelan. "Aku jatuh cinta padamu. Aku menyukaimu. Maukah kamu menerima perasaanku?"

Lanjut ke 2.5

  • view 60