Saranglove (2.3)

Revina Julian
Karya Revina Julian Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Desember 2016
Saranglove (2.3)

Bukannya masuk ke kamarnya, Ankaa malah berjongkok di depan kolang renang hotel. Pikirannya sedang menari kesana kemari dan perasaannya sedang sekusut benang.
Untuk kedua kalinya Ankaa merasa sudah melukai perasaan Kang-Jae. Ia merasa semenjak berjumpa Kang-Jae ia banyak melakukan kesalahan padanya.
"Ini." Ucap seseorang dari samping Ankaa sembari menyodorkan sekaleng soda strawberry kesukaannya.
Ankaa menilik si pemberi kaleng soda kemudian mengambilnya.
"Thanks." Ucap Ankaa. "Kapan kamu sampai sini, Ray?" Tanya Ankaa tanpa melihat muka Ray, karena ia sibuk membuka tutup kaleng soda.
"Sekitar setengah jam yang lalu." Jawab Ray ikutan berjongkok di samping Ankaa. "Apa tidak pegal berjongkok begini?" Tanyanya kemudian.
"Aku tidak mau basah." Jawab Ankaa sekenanya.
"Kalau begitu kita pindah ke lounge saja."
"Tidak. Aku suka disini."
Ray memerhatikan sahabatnya dengan lembut. Ia yakin sekali bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Ankaa.
Semasa persahabatannya dengan Ankaa, ini adalah kali ke tiga Ankaa memilih berjongkok di depan kolam. Meski yang pertama Ankaa bukan berjongkok di depan kolam renang, melainkan kolam ikan di rumahnya di Indonesia. Namun yang Ray tahu Ankaa terbiasa berjongkok di depan kolam jika dirinya sedang merasa sedih.
"Sepertinya kamu sedang sedih." Tebak Ray yakin.
"Sepertinya..." jawab Ankaa sekenanya.
"Mau cerita?"
"Apa yang sedang kalian bicarakan?"
Tanpa perlu melihat ke belakang, Ankaa tahu siapa pemilik suara merdu itu. Meski baru bertemu tiga kali, Ankaa yakin itu suara Kang-Jae.
"Apa ada ikan di kolam renang?" Tanya Kang-Jae asal. Ankaa tak bergeming. Sedangkan Ray sudah berdiri menghadap Kang-Jae.
"Sudah lama tidak bertemu." Sapa Ray pada Kang-Jae.
Mendengar sapaan Ray, Ankaa mendongakkan kepalanya bergantian ke arah Ray kemudian Kang-Jae.
"Kalian saling kenal?" Tanya Ankaa sudah berdiri dari jongkoknya. "Kamu kenal dia, Ray?" Tanya Ankaa menggunakan bahasa Indonesia.
"Ayolah, Ankaa-sii. Bicara menggunakan bahasa Indonesia itu tidak adil." Seloroh Kang-Jae.
"Apakah mungkin... artis yang terjebak denganmu itu dia?" Tanya Ray pada Ankaa.
Mata Kang-Jae melotot tidak mengerti sama sekali dengan yang Ray ucapakan pada Ankaa.
"Bu-bukan. Aku kenal dia sudah jauh hari." Jawab Ankaa berbohong. "Di-dia anak Nyonya Jung. Pemilik yayasan yang setiap hari aku mampir ke sana."
Ray tersenyum kecil. Ia tahu sekali kalau Ankaa sedang berbohong mengenai artis yang terjebak bersamanya di lift. Melihat gelagat Ankaa, Ray semakin yakin kalau Ankaa berbohong.
"Hey!" Panggil Kang-Jae sebal. Ankaa dan Ray menoleh ke arah Kang-Jae. "Ah. Baiklah. Baiklah. Aku pergi."
"Tunggu." Tahan Ankaa sembari menahan lengan Kang-Jae. "Kamu mau kemana?" Tanya Ankaa.
Bukan hanya Kang-Jae yang kaget dengan pertanyaan Ankaa dan cara Ankaa menahannya. Ankaa sendiri kaget mengapa ia tiba-tiba menahan Kang-Jae seakan-akan kehadiran Ray lebih membuatnya canggung di banding Kang-Jae.
"Apa?" Tanya Kang-Jae bingung.
Ankaa gelagapan. "Aku kan sudah menunggumu dari tadi. Kamu mau pergi begitu saja?" Tanya Ankaa lagi kemudian mendorong Kang-Jae pergi menjauh dari kolam. "Ray aku pergi dengannya dulu yah." Sambungnya pada Ray.
Ray tersenyum melihat tingkah Ankaa. Ia tahu betul Ankaa sedang berusaha menghindari Ray dari pertanyaan mengenai insiden terjebak di lift tempo hari.

Ankaa menjeduk-jedukkan kepalanya ke kaca mobil. Dia merasa bodoh.
"Hentikan. Kamu bisa merusak mobil ini. Ini mobil sewaan. Kamu mau ganti rugi?" Tanya Kang-Jae.
Ankaa tak menggubris perintah Kang-Jae. Ia meneruskan kegiatan menjeduk-jedukkan kepalanya ke kaca mobil.
"Ankaa-sii, aku mohon." Mohon Kang-Jae.
Dan masih Anka acuhkan.
Kang-Jae pun menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Kemudian membuka sabuk pengaman Ankaa dan pintu mobil di sisi kiri.
"Apa kamu merasa aku menculikmu? Kalau begitu pergilah. Kamu bebas."
Ankaa melongo kaget dengan instruksi yang Kang-Jae berikan. Namun bukannya menuruti instruksi Kang-Jae, Ankaa malah menutup kembali pintu mobil dan memasang sabuk pengamannya.
"Maaf. Aku hanya merasa bodoh." Ucap Ankaa lirih.
Kang-Jae memperhatikan Ankaa yang melenguh. Kang-Jae yakin kalau Ankaa menyukai Ray, dan ia pun yakin kalau tidak sebaliknya, mungkin bahkan Ray tidak tahu sedikit pun mengenai perasaan Ankaa.
"Kamu tahu, aku kalah untuk yang ke dua kalinya." Ucap Kang-Jae, setelah kembali menjalankan mobilnya.
Ankaa menoleh pada Kang-Jae, ia mengerutkan keningnya, tanda tidak mengerti.
"Kalau boleh tahu, kenapa kamu menyukai Ray? Tentu selain karena ia tampan."
"Aku tidak menyukainya." Jawab Ankaa cepat.
Kang-Jae menoleh pada Ankaa dan memberikan senyuman sinis pada Ankaa. "Ayolah. Kita sudah dewasa. Mungkin dia, maksudku Ray, tipe pria tidak peka dan atau juga mungkin tidak dewasa."
"Maksudmu apa?" Tanya Ankaa dengan nada tinggi.
"Ayolah. Kita bukan anak sekolah. Suka atau tidak, seharusnya dia tahu kalau kamu menyukainya. Aku saja bisa melihatnya dengan jelas. Kenapa dia tidak?"
"Aku kan sudah bilang, aku tidak menyukainya."
"Begitu?!" Kata Kang-Jae sinis, melihat lurus ke depan. "Kamu tahu, Hye-Ri pun berkata yang sama."
Mata Ankaa membelalak, kaget mendengar nama Hye-Ri keluar dari mulut Kang-Jae. "Hye-Ri siapa?" Tanya Ankaa. Sadar jika nama orang Korea itu umum dan pasaran. Sehingga dia berusaha tidak langsung mengira Hye-Ri yang dimaksud Kang-Jae adalah Hye-Ri kekasihnya Ray.
"Lee Hye-Ri mantan kekasihku yang kini kekasih Kim Rae-Ki atau yang kamu panggil Ray."
Tidak hanya mata Ankaa yang membelalak kaget, tapi mulut Ankaa menganga, tangannya terangkat untuk menutup mulutnya, dan tubuhnya pun ia tegapkan. Ankaa benar-benar kaget. Dia tidak pernah bermimpi bahkan mengakui bahwa dunia itu sempit.
"Kamu... Hye-Ri..."
"Dia, Hye-Ri bilang dia tidak menyukainya. Ray hanya sahabatnya. Tapi entah kenapa sebulan pun belum, setelah kami putus mereka datang menemuiku untuk meminta restu. Mereka pikir aku sesepuh apa, minta restu dariku?!" Cerocos Kang-Jae memotong yang akan diucapkan Ankaa. "Jadi tolong... jangan katakan kamu tidak menyukainya. Aku sungguh tahu itu bohong." Sambung Kang-Jae yang sudah kembali memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Aku sungguh tidak tahu." Bisik Ankaa.
Kang-Jae menoleh, menatap, dan berusaha menggenggam tangan Ankaa. "Aku bukan anak kecil. Aku pernah jatuh cinta. Pernah putus cinta. Pernah patah hati dan bahkan mungkin sering buat wanita patah hati. Aku tidak masalah kamu tidak menyukaiku. Aku tidak peduli perasaanmu pada Ray atau lelaki mana pun. Tapi tolong... untuk Ray, jangan berpura-pura tidak menyukainya. Kenapa? Entahlah. Aku hanya tidak menyukainya. Kalau memang kamu menyukainya, aku akan mendukungmu bila perlu membantumu. Mengerti?"
Ankaa tidak menjawab. Bahkan berkedip pun tidak.
"Satu lagi." Ucap Kang-Jae tajam.
"A-apa?" Tanya Ankaa sedikit takut.
"Kalau benar yang kamu bilang kalau perasaanku ini hanya perasaan sesaat karena rasa syukurku, biarkan perasaan ini hilang sendirinya. Maka aku akan benar-benar menghilang darimu. Jadi selagi perasaan ini masih ada kamu harus menerima keberadaan aku, suka atau tidak, sampai perasaan ini jelas apakah perasaan sesaat atau tulus. Tapi jika ternyata perasaan ini adalah perasaan tulus, maka bersiap-siaplah kamu memberikan jawaban yang jujur dan tulus. Setuju?"

_lanjut part 2.4_

  • view 163