Saranglove (2.2)

Revina Julian
Karya Revina Julian Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Desember 2016
Saranglove (2.2)

Ankaa berlari sekuat tenaga. Sebisa mungkin, jika bisa, kecepatannya melebihi macan yang sedang mengejar mangsa.
Tanpa keraguan, tanpa rasa takut, bahkan tanpa peduli dia sudah menabrak beberapa kursi, meja bahkan orang, ketika dia berlari. Tujuannya adalah ia harus sampai di parkiran secepat mungkin.
Bruk.
Lagi Ankaa menabrak orang. Lantai pun menjadi saksi bukan hanya orang yang ia tabrak tapi sebuah tas beserta isinya berserakan di lantai.
"Ah. Maaf. Maaf. Aku benar-benar minta maaf. Tapi aku tidak bisa menolongmu. Maaf." Mohon Ankaa. Dan tanpa maksud tidak perduli ia pun melanjutkan berlari.
"Hey!" Teriak Ankaa. "Apa yang kalian lakukan?" Bentak Ankaa pada dua orang gadis yang baru saja akan masuk ke dalam mobil. "Kalian kenal mereka?" Tanya Ankaa lagi sembari menunjuk dua orang laki-laki yang duduk di depan.
"Ayolah. Buat apa kita ke Korea kalau engga kenalan dengan cowok-cowok Korea?!" Kata salah satu dari dua gadis yang Ankaa hadang. "Gue sama Windi kenal mereka dari tadi siang. Waktu kita ke pulau nami itu." Sambungnya.
"Ayolah kak Ankaa. Kita mau ikut mereka sebentar cari makanan khas sini. Yah?" Mohon si gadis satunya lagi, yang bernama Windi. "Aku sama Fani janji jam sebelas malam kita udah kembali ke hotel. Gimana kak? Setuju?"
"Kalian engga takut kalau ternyata orang-orang ini punya niat jahat sama kalian?" Tanya Ankaa to the point. "Ini bukan Indonesia. Dan ini pertama kalinya kalian ke Korea kan?!"
"Ayolah, Kak... mereka orang baik koq. Yang ini namanya Lee Dong-gil." Katanya sambil menunjuk si pengemudi. "Dan yang ini namanya Park Soo-Bin." Tunjuknya lagi.
"Tahu nama saja engga cukup!" Ucap Ankaa gereget.
"Jadi kita berangkat?" Tanya si Lee Dong-Gil menggunakan bahasa Inggris.
"Nah, Kak... dan yang paling penting mereka bisa bahasa Inggris." Sahut Fani.
"Engga bisa pokonya kalian harus kembali ke kamar sekarang." Perintah Ankaa. "Kalau terjadi apa-apa diluar itinerary, kalian tahu kan itu diluar tanggung jawab agen?".
"Yaelah, Kak... kaku amat sih!" Dengus Windi.
"Hey. Kita jadi pergi?" Tanya si Lee Dong-Gil lagi.
"Tidak. Tidak akan pernah." Ankaa yang menjawab. "Ayo!" Ajak Ankaa pada Fani dan Windi.
"Hey. Tunggu. Kenapa mereka tidak jadi ikut dengan kami?" Tanya Lee Dong-Gil sembari keluar dari mobil. Park Soo-Bin pun ikut keluar dari mobil.
"Mereka tidak akan ikut kalian."
"Dia bilang apa, Kak?" Tanya Windi penasaran.
"Kenapa?"
"Aku tidak mengijinkannya."
"Memangnya kamu siapa?" Tanya Park Soo-Bin sembari maju menghampiri Ankaa.
"Bukan siapa-siapa. Dan kalian pergilah dari sini."
Bukan hanya Park Soo-Bin dan Lee Dong-Gil yang bingung, tapi Ankaa termasuk Fani dan Windi ikut menoleh ke samping. Dan mereka pun melihat Kang-Jae.
"Kalau kalian tidak berniat macam-macam pada mereka sebaiknya terima dengan lapang dada saja teman baru kalian ini membatalkan janjinya." Ucapnya tegas. "Pergilah. Mereka turis negara kita. Jangan permalukan negara kita. Oke?!"

Satu sisi Ankaa merasa bersyukur ada orang yang membantunya, namun di sisi lain Ankaa merasa canggung bertemu Kang-Jae setelah pertemuan mereka kemarin lusa. Dan kini mereka berdua sedang duduk berhadap-hadapan.
Sudah hampir lima belas menit mereka duduk saling berhadap-hadapan, tapi belum ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka masing-masing. Ankaa hanya sibuk dengan kopinya, dan Kang-Jae sibuk dengan telepon genggamnya.
"Terimakasih." Ucap Ankaa akhirnya.
"Sebenarnya kamu sudah mengucapkannya tiga kali, dan aku bilang bukan apa-apa."
Ankaa memerhatikan Kang-Jae. Meski terdengar basa-basi Ankaa tetap memberanikan diri untuk bertanya pada Kang-Jae mengenai kabarnya. "Maaf, kemarin lusa aku malah marah-marah, bukannya bertanya kabarmu."
"Memangnya kamu tidak menonton televisi?"
"Maksudmu?" Tanya Ankaa bingung.
Kang-Jae menatap Ankaa. Gadis di depannya ini memang bukan gadis pasaran.
Kang-Jae menyondongkan badannya ke arah Ankaa. Menatapnya tajam. Berusaha mengunci Ankaa dengan tatapannya.
"Suka atau tidak suka. Mulai hari ini kamu harus berusaha menerima perasaanku."

Mata Ankaa membelalak. Matanya mengerjap beberapa kali. Ia sedang dalam situasi maju kena mundur kena. "Tapi ka-kamu bilang kamu tidak su...".
"Lupakan." Potong Kang-Jae sembari kembali duduk. "Aku sangat merindukanmu. Kamu pikir aku gila kan? Dengan hari ini saja kita baru bertemu tiga kali dan aku bilang aku merindukanmu. Yah. Anggap saja aku gila. Toh aku sendiri merasa ini semua tidak masuk akal. Jadi..." setelah panjang lebar, Kang-Jae sengaja menggantung ucapannya. "Jadi aku harus bagaimana?" Sambung Kang-Jae kemudian, berupa pertanyaan.
"Apa ini kamu yang sebenarnya?" Tanya Ankaa hati-hati.
Mata Kang-Jae mendelik sebal. "Lagi? Lagi kamu bertanya seperti itu?"
"Aku bingung." Kata Ankaa gemas. "Hari pertama kita bertemu kamu adalah pria yang tenang walaupun kemudian kamu... phobiamu kambuh." Ankaa bicara menggebu-gebu dengan intonasi yang semakin akhir semakin lembut. "Lalu kemudian kemarin lusa kamu muncul dengan sikap seakan kita sudah lama berteman. Dan sekarang kamu bicara tanpa koma." Ankaa mengakhiri penjelasannya.
Kang-Jae terdiam dengan alasan yang dikemukakan Ankaa tentangnya. Ia sendiri tidak memungkirinya. Ia tahu betul dirinya sendiri tidak yakin dengan keadaannya saat ini.
"Sekarang aku tahu kenapa aku menyukaimu."
Bukannya bertanya Ankaa malah memejamkan matanya.
"Kamu tidak penasaran?" Tanya Kang-Jae bingung dengan sikap Ankaa.
Ankaa menatap Kang-Jae takut. "Penasaran, tapi aku takut."
"Takut? Takut apa?"
Ankaa menggigit bibir bawahnya. Pertanda ia ragu dan tidak nyaman. "Hanya... aku takut tidak bisa membalas perasaanmu."
Awalnya Kang-Jae hanya menatap Ankaa penasaran, namun kemudian ia tersenyum puas.
"Aku bukan anak kecil lagi, Ankaa-sii." Ucap Kang-Jae tenang.
Mata Ankaa berkedip beberapa kali. Merasa takjub dengan apa yang baru saja ia dengar. "Kamu ingat namaku?" Tanya Ankaa kemudian.
"Tentu saja." Jawab Kang-Jae cepet.
"Tapi selama ini kamu tidak pernah menyebut namaku. Kupikir kamu...". Sengaja Ankaa menggantungkan ucapannya.
"Kau tahu? Hubungan kita ini aneh. Terlalu cepat tapi juga terlalu lambat." Ucap Kang-Jae. "Hh. Aku bukan tipe penggerutu apalagi banyak bicara. Tapi entahlah. Rasanya bicara denganmu... entah ini aku yang sebenarnya atau aku yang berubah. Entahlah."
Ankaa kembali diam. Dia merasa mengobrol dengan Kang-Jae seperti berada di roller coaster. Sebentar membicarakan hal lain, sebentar hal tidak penting, sebentar membicarakan diri Kang-Jae dengan menyangkutpautkan dirinya.
"Aku tidak akan marah kalau kamu tidak menyukaiku." Ucap Kang-Jae tiba-tiba. "Aku bukan anak kecil lagi." Lagi Kang-Jae mengulangi kalimatnya. "Tapi aku tetap akan menunjukkan perasaanku padamu meski aku, juga kamu tidak menyukainya. Jadi bersiap-siaplah." Sambungnya kemudian sedikit mengancam.
"Bersiap-siap?" Ankaa kembali dalam posisi tidak nyaman.
"Yah... Mungkin kamu akan merasa aku menyebalkan karena kamu tidak menyukaiku. Tapi aku akan terus muncul. Entahlah. Aku sendiri tidak tahu apa yang akan aku lakukan."
"Ya!" Bentak Ankaa dan terlihat jelas bahwa Kang-Jae kaget dengan teriakan Ankaa. "Aku tidak mau punya masalah dengan siapa pun. Termasuk kamu." Tunjuk Ankaa. "Terimakasih karena kamu menyukaiku. Maaf karena aku tidak punya perasaan yang sama untukmu."
"Ya! Ya! Ya!" Potong Kang-Jae. "Apa perlu kamu bicara segamblang itu?" Tanya Kang-Jae tidak percaya dengan yang diucapkan Ankaa. "Tidak bisakah kamu terima ucapanku begitu saja. Biar mengalir begitu saja. Seperti air."
"Tidak bisa." Jawab Ankaa tegas. "Dengar. Kamu sendiri yakin kalau aku bukan tipemu. Jadi ini bukan karena kamu benar-benar menyukaiku. Ini tidak lebih dari perasaan bersyukurmu karena kejadian... kejadian di lift... tempo hari. Tidak lebih. Kalaupun kamu memiliki perasaan itu. Itu hanya perasaan sesaat. Kita hanya tidak perlu berjumpa lagi, maka perasaan itu akan hilang begitu saja."
Kang-Jae merasa kesal mendengar ucapan Ankaa. "Semudah itu kah?" Dengus Kang-Jae. "Lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Jangan pedulikan aku." Ucap Kang-Jae sembari berdiri dari duduknya. "Aku yang bayar." Ucapnya kemudian pergi meninggalkan Ankaa.

_bersambung ke part 2.3_

  • view 150