Saranglove (2.1)

Revina Julian
Karya Revina Julian Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Desember 2016
Saranglove (2.1)

Angin musim semi menerpa halus rambut Ankaa. Dengan serampangan ia membenarkan poni rambutnya dengan jari-jarinya.
"Maaf aku ngga bisa mengantarmu hari ini." Ucap Ray pada Ankaa dari dalam mobil. "Aku benar-benar lupa kalau pagi ini harus menjemput Hye-Ri di bandara."
"Santai." Jawab Ankaa.
"Besok pasti aku antar." Janji Ray.
"Oke." Ucap Ankaa sambil menunjukkan ibu jari tangannya. "Sudah pergi sana. Nanti kamu terlambat." Usir Ankaa halus.
"Oke. Bye."
Ankaa melambaikan tangannya. Dan mobil Ray pun melaju meninggalkan Ankaa.
Ankaa memandang mobil Ray yang terus melaju meninggalkannya.
"Hati-hati." Teriak Ankaa.
"Apakah itu bahasa Indonesia?" Tanya seseorang di telinga kiri Ankaa. Sehingga membuatnya melompat kaget.
"Maaf?" Tanya Ankaa setelah rasa kagetnya hilang, menilik seksama siapa orang yang telah membuatnya kaget.
"Kamu tidak ingat aku?" Tanya Kang-Jae kaget sambil membuka kacamata hitamnya dan menurunkan syal yang hampir menutup setengah wajahnya.
Ankaa memerhatikan wajah tampan di depannya. "Ah." Pekik Ankaa mengekspresikan ingatannya.
"Ah?" Delik Kang-Jae.
"Hm... apa kabar?" Sapa Ankaa kemudian.
"Dia tampan juga." Ucap Kang-Jae tidak berniat menjawab pertanyaan Ankaa.
"Siapa?" Tanya Ankaa bingung.
"Itu... pria yang kau sukai." Tunjuk Kang-Jae pada mobil Ray yang sudah melaju menjauhi mereka. "Ya! Ankaa-sii menyukaimu!" Teriak Kang-Jae menggoda Ankaa.
Ankaa memekik. "Bukan!" Sanggah Ankaa sembari berusaha membekam mulut Kang-Jae. Namun usahanya sia-sia karena dirinya kalah tinggi dengan Kang-Jae.
Bukannya membekam mulut Kang-Jae, ia malah menyentuh dagu Kang-Jae. Kang-Jae menghadangnya dan menurunkan tangan Ankaa. Menggenggamnya. Dan tidak berniat melepaskan genggamannya.
"Lepaskan."
"Tidak mau." Jawab Kang-Jae cepat. "Kamu pasti akan berusaha menganiayaku."
"Menganiayamu?" Pekik Ankaa. "Berlebihan." Geram Ankaa. "Lepaskan."
"Tidak mau."
"Aku akan teriak." Ancam Ankaa.
"Silahkan." Acuh Kang-Jae.
Ankaa mendelik sebal. Memelototi Kang-Jae yang malah membalas dirinya dengan senyuman. Alih-alih mencoba menarik tangannya kembali ia melonggarkan pertahanannya.
"Baik. Kalau kamu tidak mau melepaskan tanganku, sebaiknya kamu ikut kemanapun aku pergi."
"Bagus." Ucap Kang-Jae senang.
Ankaa mendesis sebal.
"Hari ini kita mau kemana?" Tanya Kang-Jae santai. "Kita seperti sedang kencan." Sambung Kang-Jae sambil mengangkat tangan mereka yang saling tertaut.
Ankaa mendelik sebal pada Kang-Jae, "Kamu siapa?" Tanyanya judes.
"Bukan kah kamu tadi sudah ingat aku?"
"Apa kamu memang seperti ini?"
"Apa?"
"Aku lebih suka kamu yang sedang kambuh phobianya."
Kang-Jae yang sedari tadi tersenyum cerah menggoda Ankaa langsung berwajah dingin mendengar pernyataan Ankaa. Masih menggenggam tangan Ankaa, Kang-Jae menatap wajah Ankaa dengan serius.
"Kenapa?" Tanya Ankaa menantang.
"Kamu benar-benar mau tahu?"
"Tentu."
"Kamu akan menyesalinya."
"Penyesalan itu memang terakhir."
Kang-Jae memejamkan matanya sesaat.
"Kenapa?" Tanya Ankaa menjadi semakin penasaran. "Oh. Kamu marah karena ucapanku yang mengungkit phobiamu, benar?"
Seakan sedang menyiapkan kata, alih-alih menjawab pertanyaan Ankaa, Kang-Jae malah semakin menatap tajam Ankaa.
"Apa yang kamu lihat?!" Bentak Ankaa yang risih ditatap Kang-Jae. "Kalau memang kamu marah padaku bilang saja. Aku minta maaf."
"Bukan itu."
"Lalu?"
"Kamu akan menyesalinya. Benar-benar akan menyesalinya."
"Baik. Aku pasti akan menyesalinya. Tapi itu lebih baik kan dari pada aku merasa bodoh karena tidak tahu maksud semuanya?"
Kang-Jae menatap lurus mata Ankaa. Semakin menatapnya Ankaa semakin merasa tidak nyaman.
"Baik. Aku akan bertanya sekali lagi. Jika kamu tidak mau menjawabnya. Kita anggap tidak ada pembicaraan ini. Kalau kamu tidak mau melepaskan tanganku ini... Oke. Lalu kita pergi bersama. Aku punya jadwal kuliah hari ini. Aku tidak boleh terlambat."
Kang-Jae tidak bersuara. Hanya tetap menatap tajam Ankaa.
Ankaa berdecak sebal karena Kang-Jae tak menggubris perkataannya. "Ini apa sih? Apa maumu?" Tanya Ankaa gemas.
"Aku suka padamu. Dan sepertinya benar-benar suka. Sejak hari itu aku memikirkanmu. Entahlah. Kenapa harus kamu? Kenapa secepat ini? Aku sungguh ingin tahu kenapa. Terlebih, aku sangat tidak suka perasaan ini."
Ankaa hanya mematung mendengar ucapan Kang-Jae.
Tatapan Kang-Jae pada Ankaa melunak. Ia melepaskan tangan Ankaa dari genggamannya.
"Maaf aku tidak bisa mengantarmu ke kampus. Sebaiknya kamu segera pergi sebelum terlambat. Aku pergi." Ucap Kang-Jae tanpa menunggu persetujuan Ankaa langsung berjalan menjauh meninggalkan Ankaa yang mematung karenanya.
Mata Ankaa panas. Seakan ia hendak menangis saat melihat punggung Kang-Jae yang berjalan menjauhinya.
Namun bukan karena ia mendengar pernyataan Kang-Jae, dan atau bukan karena Kang-Jae yang langsung pergi begitu saja meninggalkan Ankaa yang kaget. Tapi itu karena ia merasa sudah melakukan kesalahan. Seperti kesalahan telah melukai hati orang lain.
Ankaa mendengus. "Dia benar." Ucapnya lirih. "Aku menyesal."

Kang-Jae berjalan pelan menuju tempat parkir. Ia kembali memikirkan perasaannya.
Satu minggu ini ia banyak memikirkan Ankaa. Awalnya ia yakin itu karena rasa bersyukurnya bertemu sesosok Ankaa yang tenang dan sigap dalam keadaan terburuknya.
Berjalannya hari ia mulai memikirkannya secara dalam. Rasa rindu pun mulai hadir. Bermimpi bertemu Ankaa. Bahkan merencakan untuk mengunjungi Ankaa di akhir pekan.
Mengajak Ankaa makan siang atau sekedar minum kopi, membelikan dia souvenir, berfoto seperti yang ia janjikan, dan masih banyak lagi. Meski pada akhirnya belum ada satu rencana pun yang berhasil karena jadwal Kang-Jae yang mendadak melebihi panjangnya kereta api cepat.
Hari yang ditunggu pun datang. Lee Hyun-Bong mengatur jadwal agar hari Kamis ini ia punya waktu kosong sekitar empat jam sampai akhirnya ia harus terbang ke pulau Jeju untuk pemotretan.
Kang-Jae pun akhirnya bertemu Ankaa.
Dia sangat senang melihat Ankaa meski hanya dari kejauhan dan ia harus melihat Ankaa yang sedang berjalan bersama seorang pria. Dan Kang-Jae tahu siapa pria itu.
Kim Rae-Ki.
Pria sebaya yang merupakan tetangga ayah ibunya selama kurang lebih sepuluh tahun ini. Tampan. Baik hati. Dan kekasih Lee Hye-Ri, mantan kekasih Kang-Jae.
"Kenapa harus dia?"
"Siapa? Kenapa?" Tang Lee Hyun-Bong.
"Ah entahlah." Dengus Kang-Jae tidak menjawab pertanyaan Lee Hyun-Bong, karena memang pertanyaan yang Kang-Jae lontarkan bukan untuk Lee Hyun-Bong.
Perasaan Kang-Jae campur aduk.
Bagaimana tidak, rasa sukanya pada Ankaa harus membawanya kembali mengingat kisah cintanya dengan Hye-Ri. Butuh waktu lama bagi dia untuk melupakan Hye-Ri yang kini sudah bertunangan dengan Kim Rae-Ki atau Ray. Namun kini, dia menyukai Ankaa, seseorang yang diam-diam menyukai Ray.
"Ray..." bisik Kang-Jae pelan. Sangat pelan.
Bukan pertama kalinya Kang-Jae jatuh cinta. Bukan pertama kalinya ia mengakui perasaannya pada wanita. Bukan pertama kalinya ia ditolak. Tapi ini adalah pertama kalinya ia merasa menyedihkan.
Disaat yang sama ia merasakan kembali hadirnya perasaan ingin menggapai cinta. Merindu. Namun disaat yang sama pula ia tahu cinta itu tidak akan pernah ia dapatkan. Rindu itu tidak akan pernah terobati.
Ia menyukai orang yang salah.
"Aku harus lupakan dia." Bisik Kang-Jae.

Lee Hyun-Bong memerhatikan Kang-Jae yang selama perjalanan menuju bandara memejamkan mata namun terus-menerus menghela nafas. Ia tahu pasti ada yang sedang Kang-Jae fikirkan.
"Kang-Jae, jadwalmu sampai besok sangat padat tapi di hari sabtu dan minggu jadwalmu sudah aku kosongkan. Apa aku harus perpanjang kamar hotel di Jeju nanti?"
"Hmm...". Kang-Jae bergeming
"Oke. Aku perpanjang. Kita pesta."
"Tidak, Hyung." Tolak Kang-Jae masih menutup matanya. "Hyung bisa pulang duluan."
Lee Hyun-Bong semakin yakin ada masalah. "Apa kau tidak suka aku bersamamu? Toh sudah lama kita tidak berpesta."
"Tidak, Hyung. Tinggal kan aku sendiri."
"Katakan padaku. Ada apa?"
"Entahlah. Aku hanya mau sendiri." Jawab Kang-Jae sekenanya sembari membenarkan posisi duduknya.
Lee Hyun-Bong semakin yakin ada sesuatu dengan Kang-Jae. Namun iya tau sekali kepribadian Kang-Jae. Saat dia bilang ya maka harus ya dan saat bilang tidak maka tidak. Lee Hyun-Bong pun akhirnya hanya bisa memerhatikan Kang-Jae dari kaca spion, selain berdoa semoga mood Kang-Jae cepat kembali normal.

  • view 149