Saranglove (1.4)

Revina Julian
Karya Revina Julian Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Desember 2016
Saranglove (1.4)

"Atau pelukan?"
Ankaa mengangkat alis kirinya.
Ankaa berdecak. "Aku sudah melakukannya tadi, bukan?!"
"Ah. Benar." Ucap Kang-Jae setengah kecewa. "Makan malam? Bagaimana?"
"Aku tidak mau mukaku muncul di televisi." Seloroh Ankaa.
Kang-Jae tertawa keras. "Terimakasih." Ucap Kang-Jae disela-sela tawanya. "Terimakasih." Ucapnya lagi.
"Kamu bisa beri aku tanda tangan, foto bersama, dan ini..." Ankaa menggantung ucapannya untuk mencari sesuatu di tas punggungnya yang kecil.
Kang-Jae memerhatikan Ankaa. Ia menyipitkan matanya melihat Ankaa yang sembarangan mengeluarkan semua isi tasnya ke lantai.
"Ah. Ketemu!" Serunya. "Ini." Ucapnya kemudian menyodorkan selembar brosur.
"Penggalangan dana?" Tanya Kang-Jae bingung. "Tapi aku tidak bisa."
"Kenapa?" Tanya Ankaa kaget. "Aku tidak minta banyak. Kamu hanya perlu menyumbangkan uang mu sedikit. Benar-benar sedikit. Tidak lebih dari lima bungkus roti coklat."
"Tetap saja aku tidak bisa menyumbangkan danaku di panti asuhan ini."
Ankaa mendesah kecewa. "Uang segitu tidak ada artinya untukmu kan?"
"Kamu bekerja disana?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Mereka seperti keluarga bagiku."
"Kenapa?"
"Mereka sama sepertiku."
Kang-Jae berusaha mencerna ucapan Ankaa. "Kamu yatim piatu?"
"Tidak." Ucap Ankaa lirih. "Ibu dan ayahku. Orangtua kandungku mereka hidup bahagia di Indonesia. Tapi aku disini. Di Korea. Sendiri. Tanpa keluarga. Sama seperti mereka."
Kang-Jae mengangguk mengerti. "Kamu tinggal disini?"
"Ya."
"Orangtuamu pasti menghasilkan banyak uang."
"Aku tinggal dengan kerabat ayah. Mereka yang kaya. Bukan ayahku." Jawab Ankaa ketus.
Kang-Jae memerhatikan Ankaa. Saat berbicara Ankaa menjadi tidak mau melihat ke matanya, dan nadanya pun ketus.
"Kamu marah karena aku tidak bisa menyumbangkan uangku disini?" Tanya Kang-Jae sembari menyodorkan brosur yang tadi diberikan Ankaa.
Ankaa menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku hanya kecewa. Siapa aku marah padamu?!"
Kang-Jae tersenyum. "Bagaimana ini? Kamu adalah penolongku, tapi aku sungguh tidak bisa menyumbangkan danaku disitu karena setiap bulannya gajiku sudah terotomatis dipotong untuk disumbangkan ke panti asuhan itu."
Ankaa menengadahkan kepalanya. Menatap penuh tanya pada Kang-Jae.
"Panti asuhan itu?" Tanya Ankaa meminta kepastian.
Kang-Jae mengembangkan senyumannya sembari menunjuk kertas brosur yang dipegang Ankaa. "Ibuku pemilik yayasan panti asuhan itu."
Ankaa memekik kaget. Tangannya menutup mulutnya yang menganga lebar.
"Kau putra Nyonya Jung?"
"Benar." Jawab Kang-Jae singkat. "Tanpa persetujuan dariku dia sudah mengambil dua koma lima persen uang dari total gajiku sebulan. Tidak ada yang bisa melawan ibuku. Dia benar-benar perampok, kamu tahu?" Cerita Kang-Jae. "Karena itulah aku tidak bisa menyumbangkan danaku. Uangku. Ah. Tidak. Tidak. Keringatku sudah ada disana." Sambung Kang-Jae berlaga sombong. "Ibuku selain perampok dia itu kejam."
Ankaa menurunkan tangannya perlahan membuka mulutnya.
"Rumah kami di tanah malah ia jadikan panti asuhan, dan memilih tinggal di apartemen. Padahal ia tahu aku, anak satu-satunya, benci lift." Gerutu Kang-Jae jujur. "Sepertinya kamu kagum padanya." Tunjuk Kang-Jae.
"Tentu saja. Dia sudah membantu anak-anak itu".
Kang-Jae berdecak. Menggerak-gerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.
"Aku yang membantunya tanpa nama. Ibuku hanya perampok."
Gantian, Ankaa yang berdecak. "Aigoo." Ucapnya sambil menepuk halus lengan kiri Kang-Jae. "Kamu baik sekali." Sambung Ankaa sembari memberikan senyuman terbaiknya. "Terimakasih ya...".
"Tsk. Kamu benar-benar tidak kerja disana?"
"Be-nar."
"Kamu sering kesana?"
"Hm... aku usahakan setiap hari kesana."
"Wah...".
"Aku tidak banyak uang. Jadi aku sumbangkan tenagaku."
Kang-Jae memerhatikan Ankaa seksama. "Apa yang kamu lakukan disini?"
Ankaa melihat sekeliling. "Sekarang?" Tanya Ankaa. "Oh. Aku seorang mahasiswi." Jawab Ankaa kemudian. "Tadi aku sudah bilang kan aku bekerja di biro perjalanan di Indonesia?! Dari sana aku mendapat bea siswa untuk melanjutkan kuliah disini."
"Kamu tinggal lantai berapa?"
"Tujuh. Kamar 301".
"Sepertinya aku akan sering mengunjungimu".

_bersambung ke part 1.5_

Dilihat 130