Saranglove (1.3)

Revina Julian
Karya Revina Julian Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Desember 2016
Saranglove (1.3)

"Ya. Ya. Baik. Oh? Ya." Ankaa mendengarkan instruksi yang diberikan Lee Hyun-Bong melalui telepon dengan seksama. "Aku mengerti. Ya. Baiklah. Tolong segera bantu kami keluar. Terimakasih." Ankaa pun menutup panggilan Lee Hyun-Bong.
Kang-Jae masih dengan kecemasannya. Ia memeluk lututnya sembari melihat wajah Ankaa. Berharap telepon yang diterima Ankaa bisa membuatnya cepat keluar dari dalam lift.
"Maaf. Ini bukan karena aku mesum. Tapi Oppa yang di telepon tadi yang menyuruhku melakukan ini," ucap Ankaa pelan ketika dengan setengah hati memeluk Kang-Jae. "Oppa tadi bilang aku harus memelukmu agar kamu merasa nyaman. Dan terpenting agar nafasmu kembali normal."
Ankaa masih terus memeluk Kang-Jae selama beberapa menit. Ankaa pun mulai mendengar nafas Kang-Jae semakin teratur. Ia pun melepaskan pelukannya
"Maaf tadi aku menyuruhmu minum. Aku tidak tahu. Oppa tadi bilang sebelum nafasmu kembali normal aku tidak boleh memberimu minum."
Kang-Jae mencoba untuk tersenyum dan mengangguk. "Te-terima-kasih."
"Jangan dulu bicara." Perintah Ankaa.
Tiga puluh menit pun berlalu. Kang-Jae sudah semakin membaik meski keringatnya tidak mau berhenti dan wajahnya tetap pucat. Namun nafas dan suaranya sudah hampir kembali normal.
Sesekali Ankaa melap keringat Kang-Jae dengan handuk kecil miliknya. Tak ketinggalan Ankaa pun membantu Kang-Jae minum dan memakan jeruk yang Kang-Jae bawa untuk ibunya.
"Namamu Ankaa?" Tanya Kang-Jae.
Ankaa tersenyum menjawab pertanyaan Kang-Jae. "Namamu Kang-Jae kan? Oppa tadi yang bilang. Dia berteriak panik memanggil namamu saat pertama aku angkat teleponmu." Ucap Ankaa terkikik sendiri.
"Namanya Lee Hyun-Bong."
Ankaa mengangguk. "Hmm... kamu tahu. Sepertinya kita pernah bertemu. Tapi aku tidak ingat." Ucap Ankaa sembari matanya mendelik ke atas mencoba mengingat sesuatu.
"Aku juga. Tapi ini pertemuan pertama kita."
"Benarkah?"
"Seribu persen positif." Ucap Kang-Jae setengah bercanda. "Mungkin kamu melihat aku di televisi."
"Eii... memangnya kamu artis?" Ledek Ankaa.
"Itu pekerjaanku." Jawab Kang-Jae sembari berusaha membetulkan duduknya. "Terimakasih." Sambung Kang-Jae karena Ankaa membantunya lagi. "Kamu tahu iklan telepon genggam SamDung?"
Ankaa membuka mulutnya. "Ah. Benar."
Kang-Jae tersenyum senang. "Apa aku terlihat beda?"
Ankaa tersenyum. "Lebih tampan aslinya." Ucap Ankaa kemudian.
Kang-Jae tersenyum puas. "Tapi seharusnya kamu panggil aku Oppa".
"Kita tidak seumur?" Tanya Ankaa kaget. " Umurmu berapa?"
"Dua puluh sembilan."
"Wah... kamu muda sekali... Oppa."
Lagi Kang-Jae tersenyum puas. "Kamu bukan orang korea kan?"
Ankaa nyengir. "Benar".
"Dari mana?"
Ankaa mengangkat alis kirinya.
"Maaf aku banyak bertanya. Aku hanya berusaha untuk..."
"Oh. Tidak. Tidak apa-apa." Potong Ankaa. "Aku asli Indonesia. Tapi sudah dua tahun tinggal disini."
"Bekerja?"
"Tidak." Jawab Ankaa cepat. "Hm... bisa dibilang juga sih." Ralat Ankaa kemudian. "Di Indonesia aku bekerja di salah satu biro perjalanan dan juga seorang guru bahasa Korea di lembaga bahasa."
"Pekerjaanmu banyak." Ucap Kang-Jae.
Ankaa tersipu. "Aku suka dengan Korea. Entahlah. Pokoknya aku suka. Saat masih sekolah ibuku pernah marah besar padaku. Dia menghukumku tidak memberikan uang saku selama sebulan. Aku harus berangkat sekolah berjalan kaki. Padahal itu jauh sekali. Kamu tahu kenapa ibu menghukumku? Itu karena aku menggunakan uang les bahasa Inggrisku untuk membayar les bahasa Korea." Cerita Ankaa.
"Bohong." Tuduh Kang-Jae.
"Biasanya aku bohong. Tapi kali ini tidak. Aku benar-benar jujur padamu."
"Kenapa?"
"Karena kamu artis. Tidak ada alasan bagimu untuk menyebarkan ceritaku. Itu tidak ada kaitannya dengan hidupmu. Seribu persen aku positif."
Kang-Jae tertawa setuju. "Jika diperhatikan kamu cantik juga." Ucap Kang-Jae tulus.
"Terimakasih. Pujian dari seorang artis sungguh luar biasa."
Kang-Jae tertawa mendengar ucapan Ankaa. "Aku akan memberimu foto dan tandatanganku jika kita berhasil keluar."
"Tentu. Kamu harus membalas budiku dengan itu."
"Benar. Dan bonusnya aku akan menciummu." Kang-Jae memerhatikan reaksi Ankaa. Ankaa mengernyitkan dahinya. 

_bersambung ke part 1.4_

  • view 152