Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 9 Desember 2016   20:59 WIB
Bittersweet (1.2)

Perjalanan ke lantai lima menggunakan lift adalah perjalanan yang sulit bagi Kang-Jae. Panjang dan melelahkan.

Kang-Jae adalah salah satu orang dari banyak orang yang menderita Claustrophobia. Penyakit ini baru Kang-Jae derita sejak enam tahun yang lalu akibat kecelakaan yang pernah ia alami di Chuncheon.

Ketika itu Kang-Jae sedang berada di dalam lift hotel bersama keluarga saat bencana alam menerpa Korea Selatan tahun 2011 lalu. Kang-Jae beserta keluarga terjebak di dalam lift beberapa jam akibat aliran listrik yang terputus.

Ketika kejadian Kang-Jae dan keluarga tidak merasa begitu panik. Namun karena setelah keluar dari lift itu ia mengetahui keadaan diluar yang sangat kacau. Seperti longsor, banjir, dan bahkan banyak korban jiwa. Juga mobilnya pun ikut terseret banjir.

Sejak saat itu ia sering mulai merasa cemas ketika menginjakkan kakinya ke dalam lift.

Sama seperti hari ini.

Kang-Jae menghitung dengan seksama lantai yang ia lalui melalui monitor.

Sudah lantai 2.

Tangannya mulai berkeringat. Tenguk dan keningnya pun mulai berkeringat saat memasuki lantai 3.

"Sepertinya kau kepanasan." Ucap gadis disamping kanannya.

Kang-Jae membalasnya dengan senyuman. Kang-Jae memerhatikan gadis itu sesaat. 

Satu lantai lagi. Batin Kang-Jae.

"Kau yakin tidak apa-apa?" Tanya gadis itu lagi.

Kang-Jae tersenyum paksa. "Tidak perlu kha..."

Belum selesai ucapan Kang-Jae tiba-tiba lift berguncang. Lampu berkelap-kelip. Mati dan kemudian hidup kembali. Botol air mineral dan buah-buahan yang Kang-Jae genggam sedari tadi sudah berhamburan di lantai lift. Termasuk gadis yang bersamanya pun tersungkur ke belakang.

Kang-Jae yang panik menekan tombol emergency dengan kasar.

"Petugas? Ada apa? Kami di lantai empat."

Tidak ada jawaban.

Kang-Jae terus menekan tombol darurat dan berteriak meminta pertolongan.

Namun tetap tak ada jawaban.

Kang-Jae mulai panik. Nafasnya mulai tersengal-sengal. Ia berusaha bernafas sekuat mungkin. Mengingat kembali yang ia pelajari bersama terapis beberapa tahun yang lalu.

"Kamu tidak apa?" Seru gadis itu. Kang-Jae tidak menjawab. Dia sudah dalam keadaan 'tidak sadarkan diri'.

Wajah Kang-Jae pucat, nafasnya tersendat-sendat, dan banyak mengeluarkan keringat.

"Aduh... bagaimana ini?" Seru sang gadis panik.

Gadis itu membetulkan duduk Kang-Jae. Melepaskan kancing kemeja yang di gunakan Kang-Jae. Membuka botol air mineral Kang-Jae dan berusaha memberi pertolongan pertama pada Kang-Jae dengan memberikan minum.

"Kamu bisa minum?"

Kang-Jae mengulurkan tangannya. "To...long."

"Iya. Pasti. Tunggu." Gadis itu menyimpan botol air minum di sebelah Kang-Jae kemudian mengeluarkan telpon genggamnya. Seperti sedang mencari sesuatu, gadis itu sibuk sendiri dengan telepon genggamnya.

"Oke." Ucapnya kemudian dan menyimpan sembarang telpon genggamnya. "Kamu harus tarik nafas yang dalam. Ayo. Yah.. hembuskan. Pintar. Ayo sekali lagi!"

"Apa kalian baik-baik saja?" Panggil seseorang dari interkom.

"Hallo, Pak. Kami dua orang di dalam sini. Kami terjebak di lantai empat. Bisa cepat keluarkan kami? Disini ada penderita astro.. bu-bukan. Clau-clauseu-claustrophobia! Dia harus segera keluar dari lift. Hallo? Pak? Hallo? Argh..." gadis itu mengeram sebal. "Tenang saja. Kamu pasti baik-baik saja. Kamu percaya aku kan? Aku akan menolong kamu."

Tidak ada yang bisa Kang-Jae lalukan selain mempercayai satu-satunya orang yang terjebak bersamanya di lift, Kang-Jae pun mengangguk pelan.

"Bagus. Sekarang kamu harus atur nafasmu. Pejamkan matamu. Anggap kamu sedang di pantai. Luas. Panas namun melegakan. Atur nafasmu. Ya. Bagus. Lakukan terus."

Gadis 'penolong' terlompat kaget saat mendengar dering telpon genggam yang seperti suara tembakkan milik Kang-Jae.
"Mana telpon genggammu?" Tanya si gadis tanpa bermaksud menunggu jawaban Kang-Jae langsung menggeradah saku celana Kang-Jae.

"Hallo? Aku Ankaa. Aku sedang bersama pemilik telpon genggam ini. Kami terjebak di lift. Sepertinya dia penderita claustrophobia. Ia sedang menggigil sekarang."

 _bersambung ke 1.3_

Karya : Revina Julian