Saranglove (1.1)

Revina Julian
Karya Revina Julian Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Desember 2016
Saranglove (1.1)

Blitz lampu dari ratusan kamera menghadang Kang-Jae yang akan masuk ke dalam mobilnya. Ia baru saja selesai menghadiri acara penghargaan dan menjadi salah satu dari penerima penghargaan itu. Karenanya ratusan wartawan sudah menunggunya dan dan para selebriti lainnya keluar dari gedung terbesar di Busan itu.
Dengan ketampanan dan karismanya ia menolak wartawan yang berebut bertanya padanya dengan sopan.
"Kang-Jae, tolong ungkapkan perasaanmu!" Teriak salah satu wartawan.
"Tentu saja senang." Jawab Kang-Jae santai.
"Menurutmu apakah memang kamu pantas mendapatkan penghargaan ini?" Tanya wartawan lainnya.
"Lusa. Lusa kita bertemu lagi. Maaf. Sungguh maaf, hari ini aku harus melanjutkan perjalananku." Ucap Kang-Jae pada para wartawan. "Selamat malam semuanya." Salamnya setelah ia masuk ke dalam mobil sembari melambaikan tangannya pada para wartawan yang merasa kecewa.
Kang-Jae menghempaskan tubuhnya di kursi penumpang, membuka jas hitamnya, lalu memeriksa ponsel genggamnya.
"Hari ini kamu luar biasa! Luar biasa menawan! Kontrak iklan pun langsung banjir saat mereka selesai mengumumkan kamu pemenangnya!" Seru sang manager, Lee Hyun-Bong.
"Hyung, apa ibuku tidak meneleponmu?" Tanya Kang-Jae tidak memperdulikan seruan Lee Hyun-Bong.
"Tidak." Jawab Lee Hyun-Bong cepat. "Memangnya Nonya Jung bilang akan menelponmu?"
Kang-Jae mengacuhkan pertanyaan Lee Hyun-Bong dengan pertanyaan lainnya. "Apa kita tidak bisa ke Seoul malam ini, Hyung?"
"Maaf. Tidak bisa. Kita baru akan berangkat besok pagi. Pukul 7.30 kita sampai Seoul."
"Baiklah." Ucap Kang-Jae lirih. "Apa kita bisa mampir dulu ke apartemen ibuku sesampainya di Seoul?"
"Tentu. Kenapa tidak. Jadwalmu besok pukul empat sore. Itu pun hanya acara radio dan pengambilan gambar untuk iklan mobil Jia." Jawab Lee Hyun-Bong cepat. "Tapi kenapa?"
"Tidak ada apa-apa. Hanya ingin melihatnya."
"Aigoo, dasar kau anak manja!" Ledek Lee Hyun-Bong, sembari menolehkan badannya kebelakang, karena ia duduk di sebelah supir. "Bawakan buah kesukaan Nyonya Jung sekalian. Akan aku belikan di supermarket terdekat. Kamu bisa menungguku di coffee shop."
"Thank's, Hyung...".
"Tapi sungguh tidak ada apa-apa kan?"
Kang-Jae tidak menjawab. "Kim hwang-Jae?" Panggil Lee Hyung-Bong dengan nama asli Kang-Jae.
"Hyung... dua hari ini aku bermimpi yang sama." Ucap Kang-Jae kemudian. "Aku kehabisan nafas. Saat itu muncul wajah ibu tapi dia menghilang. Firasatku tak enak, Hyung."

Kang-Jae menunggu Lee Hyun-Bong di Coffee Shop tanpa penyamaran. Hasilnya beberapa pelayan dan pelanggan Coffee Shop langsung menyerbunya dengan permintaan foto dan tandatangan.
Penghargaan artis pria pendatang baru terbaik di Busan kemarin telah mengubah segalanya dalam hitungan jam.
Kemarin ia masih bisa leluasa membeli kopi di Coffee Shop, tanpa harus takut dikerubuti penggemar. Tapi lain dengan hari ini. Baru sampai di bandara pun sudah banyak penggemar yang menghadangnya untuk berfoto.
"Maaf. Maaf kami permisi dulu. Sampai jumpa. Terima kasih semuanya." Lee Hyun-Bong berusaha mengeluarkan Kang-Jae dari para penggemar yang berebut foto dengannya. "Kau masuk duluan. Aku harus kembali ke toko untuk membeli topi dan masker. Mulai hari ini hidupmu berubah."
Maka Kang-Jae pun masuk lift sendiri, hanya ditemani sebotol air mineral dan sekantong penuh jeruk dan apel tanpa ditemani Lee Hyun-Bong.
"Aku akan menyusul."
"Ya."
Saat hendak menekan tombol tutup pada lift, terdengar teriakan dari luar.
"Tunggu. Tunggu. Aku naik lift juga."
Lee Hyun-Bong melangkah menghindari seorang gadis yang terburu-buru akan masuk lift.
"Terimakasih." Ucap gadis itu pada Kang-Jae. "Aku lantai tujuh, please." Sambung gadis itu.
Lee Hyun-Bong mengamati gadis itu. Ia takut kalau gadis itu adalah salah satu penggemar Kang-Jae yang berarti ia harus mengantar Kang-Jae ke atas.
Kang-Jae memerhatikan gadis disebelahnya  yang bagi mata Kang-Jae terlihat manis namun berantakan.
"Kau tidak akan menutup lift ini?"
Lee Hyun-Bong dan Kang-Jae bertatapan.
"Kalau kalian masih ingin bersama, ayo naik!"
"Pergilah." Ucap Lee Hyun-Bong merasa aman.

_bersambung ke 1.2_

  • view 180