Binongko adalah Pulau Nusakambangan di Wakatobi

Juhlim Wakatobi
Karya Juhlim Wakatobi Kategori Politik
dipublikasikan 11 Februari 2016
Binongko adalah Pulau Nusakambangan di Wakatobi

Binongko adalah Pulau Nusakambangan di Wakatobi

Oleh: Juhlim

?

Nusakambangan menjadi nama yang seram dan legendaris bagi banyak orang di Indonesia. Di pulau inilah penjahat kelas kakap di penjarakan. Kini nama Pulau Nusakambangan semakin mendunia, seiring dengan eksekusi mati para gembong narkoba internasional.

Begitu seramkah Pulau Binongko? Pasti saudara-saudara berpikir dan akan bertanya, kenapa Binongko disamakan dengan Pulau Nusakambangan. Sebenarnya penulis sendiri juga berpikir demikian, namun begitulah gambaran yang pantas di sodorkan untuk pulau yang paling ujung di Wakatobi itu. Bukannya penulis menjelekan pulau yang menjadi tanah kelahirannya, tetapi dengan maksud agar membakar semangat dan membuka pola pikir kita dan mencari penyelesaiannya sebenarnya apa yang salah dan yang kurang di pulau yang kita cintai itu.

Semenjak Kabupaten Wakatobi melepaskan diri dari cengkeraman penguasa Buton, kini Wakatobi menjadi daerah dengan potensi pariwisata yang indah di Sulawesi Tenggara. Keindahan panorama bawah lautnya menjadi tersohor di Indonesia bahkan di dunia sekalipun tidak asing dengan nama Wakatobi. Bahkan, di mata dunia Wakatobi di juluki sebagai pusat segitiga karang dunia. Kita sebagai masyarakat yang mendiami kepulauan Wakatobi, tidak asing dan pasti akan mendengar julukan ?Surga Nyata di Bawah Laut?. Coba kita banyangkan pantaskah Wakatobi dengan julukan itu. Katanya surga, tapi realiata yang dilapangan begitu jauh dari kata surga itu sendiri. Begitu banyak permasalahan sosial dan pemeritah hanya berdiam diri tidak mampu menyelesaikan permalahan itu, salah satu yang dialami di Pulau Binongko. Binongkolah, pulau yang paling lambat proses pembangunanya diantara ketiga pulau lainnya. Kalau dipikir bukankah Binongko termasuk pulau yang berada di Kabupaten Wakatobi yang terkenal itu, tapi mengapa pembangunan infrastruktur begitu lambat disana jika di bangdingkan dengan Pulau Wangi-Wangi, Kaledupa dan Tomia. Apakah Binongko tidak mempunyai potensi yang bisa di kembangkan, sehingga menunjang APBD? Apakah Binongko, menjadi tempat pembuangan para nara pidana? Dan, apakah masyarakat Binongko tidak mempunyai SDM sehingga tidak mampu mengolah potensi SDA dan tidak mampu bersaing dengan masyarakat lain. Kalau kita melihat dari sudut pandang permasalahan, pasti kita akan menemukan begitu banyak permasalahan di sana.

Bukannya Binongko tidak mempunyai potensi SDA. Disana sebenarnya banyak potensi yang bisa di kembangkan, baik itu sumber daya alam dan kebudayaan salah satunnya adalah pandai besi. Hanya saja pemerintah Wakatobi tidak pernah melihat potensi itu. Jika, pemerintah Wakatobi menyediakan dan memberikan fasilitas berupa perusahaan daerah agar pengerajin besi tadi mampu memasarkan hasil produksinya di tempat lain, hal ini akan menunjang perekonomian masyarakat Binongko.

Disisi lain, masyarakat Binongko tidak mempunyai sumber daya manusia yang handal, sehingga potensi SDA-nya tidak mampu diolah. Mengapa harus SDA yang diutamakan? Karena, kalau kita melihat di negara maju pasti fakor utamanya adalah memiliki sumber daya manusia yang baik dan kreatif. Sebenarnya, banyak para pemikir dari Binongko yang kini telah berhasil dan sukses di daerah lain. Hanya saja mereka lupa dengan tanah kelahirannya. Percuma saja mempunya ilmu tapi tidak bermanfaat untuk masyarakat di Binongko. Mereka hanya memikirkan nasib keluarganya saja. Ada yang menjadi anggota legislatif namun belum ada sesuatu yang mereka berikan untuk masyarakat. Mereka hanya menjadi perpanjangan tangan kapitalis dan apatis dengan permasalahan di Binongko dan berpura-pura seolah-olah tidak ada masalah. Apalagi di tambah dengan generasi muda yang semakin apatis dan tidak mau tahu jika ditanya dengan permalahan di Binongko.

Sifat ego yang masih kental di kalangan masarakat. Jika saja, masyarakat Binongko menyadari kalau Binongko itu berbeda, ada Cia-Cia dan Kaumbeda dan hanya bisa besar kalau masyarakat Binongko saling bersedia menerima dalam perbedaan itu. Masyarakat yang berada membantu saudaranya yang kurang mampu, sehingga dengan begitu rasa saling memiliki akan nampak. Namun, sayang itu hanya ilusi yang tidak akan terjadi jikalau masyarakat Binongko masih tetap saja mempertahankan tradisi ego itu.

Selama permasalahan itu belum terselesaikan, maka selama itu pula Binonongko, tetap akan di juluki Pulau Nusakambangan di Wakatobi.

Jadi, penulis mengajak seluruh elemen masyarakat di Indonesia, khususnya masyarakat Binongko marilah kita bersama-sama, bahu membahu dalam menyelesaikan berbagai masalah di Binongko. Apalagi kita sebagai masyarakat yang berilmu harus ada manfaatnya dan memberikan sumbangsih berupa ide-idenya. Kalau kita berdiam diri terus, maka selamanya Binongko akan tetap seperti itu. Siapa lagi yang akan membangun Binongko, kalau bukan dari masyarakat Binongko sendiri, bukan masyarakat Wangi-Wangi, Kaladupa, ataupun Tomia. Mari kita mulai dari hal-hal yang kecil. Jangan menunggu sampai kita berilmu banyak, tapi berikanlah apa yang kita miliki saat ini untuk masyarakat selagi itu baik dan bermanfaat. Sehingga julukan Binongko sebagai Pulau Nusakambangan di Wakatobi hilang. Binongko Bersatu..!!!

?

  • view 267