Balada Penulis Sunyi

Jufra Udo
Karya Jufra Udo Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Februari 2016
Balada Penulis Sunyi

Ambil kopi. Cari batang rokok. Lalu duduk di antara jeda dan komputer. Bagi saya, ini cukup romantik untuk mendedah narasi per narasi.

Merangkai tulisan dalam deretan kata serasa nikmat. Saya menemukan surga di dalam. Kenikmatan ide yang alang kepalang.

Diluar kenikmatanku, ada saja orang yang membicarakan itu. Penulis itu miskin, kata mereka ?yang di luar sana?. Dan itu diarahkan padaku.

Cukup bergeming saja. Dalam kedakuanku, aku merasa belum selayaknya pantas disebut penulis. Hanya (sekedar) mencoba menulis. Tapi alamat miskin itu serasa menghantuiku. Apa boleh buat?

Barangkali tidak usah pesimis. Meski kemampuanku masih layaknya angkat cangkir kopi ini, saya sepatutnya bangga. Aku dikenal karena menulis. Dan mereka yang (hampir) akrab dengan ?yang diluar sana?, datang menghampiri, minta ilmu menulisku yang minimalis.

Saya pun tak pelit soal itu. Hanya perlu ku usulkan, memulai menulis sama halnya memintal sepi.

Juga, memulai menulis adalah kesediaan melawan ramai. Kita mesti duduk di tempat hening. Ide memang lahir di mana saja. Gunung, pantai, bibir pacar, di mana saja. Tapi semuanya tak akan tahu, apa itu tulisan?

Tulisan itu sederet makna yang diresapi di pertapaan. Ia tidak terukir di jidat pacar. Ia bukan dekorasi di dalam pesta. Jika seperti itu anggapanmu, maka tak ubahnya kehendak menulismu ialah sejenis korpus di layar-layar komputer, kertas, dan etalase media massa. Tulisan kamu tidak akan ada disana.

Belum lagi kamu akan melawan kemiskinan, seperti kata ?yang di luar sana?. Telingamu tentu akan panas.

Lihat saja!

Saya tetap miskin, tapi tetap menulis jua. Dalam memikir narasi se-paragraf saja, harus menghabiskan rokok puluhan batang. Menghabiskan waktu di ujung layar komputer. Juga cangkir kopi saya, sebentar lagi kutambahi air.

Siapkah kamu?

Di kala menulis, mesti fokus. Lihat saja saya. Sudah bulanan aku belajar menulis, tak kunjung juga sekaliber tulisan elit-elit itu yang rajin mangkir di media, meski kadang saya cukup tak paham maknanya.

Pun juga, menulis mengajarkan untuk tulus. Tulus berbagi yang kamu ketahui. Tulus meninggalkan masa-masa romantismu. Mesti idealis, ide menulis dimulai dari aktualisasi diri. Bukan buru royalti, ataupun popularitas. Kalau itu yang kamu cari, lagi-lagi kamu jadi korpus seperti tadi. Mati di ujung-ujung ide.

Salam takzim buat ?yang di luar sana?. Aku memang miskin, tapi kaya waktu untuk membaca, berpikir, diskusi, dan menulis lagi!

?

?

?

  • view 210