DI BALIK KARTU KUNING ZAADITH

Jufra Udo
Karya Jufra Udo Kategori Politik
dipublikasikan 06 Februari 2018
DI BALIK KARTU KUNING ZAADITH

SEBERAPAPUN Zaadith dipojokkan dengan tuduhan aneh-aneh, tetap ia saya anggap seperti mutiara yang menembus bilik sunyi gerakan mahasiswa. Ya, cukup dengan kartu kuning, Zaadith seperti seorang pendekar yang menerjang cakar tajam seorang Jokowi. Ia presiden loh?

Saya merasa simpatik dengan Zaadith. Tak peduli ia ‘dipesan’ siapa. Keberanian Zadit memukau. Dan (harusnya) memantik nyali mahasiswa untuk keluar dan benar-benar tampil sebagai agen perubahan. Bukan cuma omong doang sebagai ‘agent of change”. Harusnya mahasiswa berani mengatakan: “yang salah tetap salah, yang benar benar tetap benar”!

Nama Zaadith mengemuka pasca Dies Natalis Ke-68 UI. Jokowi hadir disitu. Berharap sebagai tamu terhormat, justeru diganjar kartu kuning.

Dari aksi Zaadith, saya barusan paham jikalau Jokowi tak sepenuhnya santun. Seperti yang ditayangkan berbagai layar kaca, Jokowi tampak lemah gemulai, santun, dan sabar. Beruntung ada Zaadith. Tanggapan Jokowi untuk mengirim Zaadith ke Asmat, apa tujuannya?

Zaadith prihatin masalah Asmat Lalu protes sama Jokowi, kok Zaadith yang harus ke Asmat?

Ungkapan Jokowi untuk mengirim BEM UI ke Asmat, tak sepenuhnya bersungguh-sungguh. Jokowi sedang marah. Tapi pahamlah, Jokowi kan tak mungkin unjuk murka, terlebih ia mesti menjaga marwahnya sebagai kepala Negara. Sangat tidak berimbang, kalau Jokowi harus kelihatan kalah telak sama BEM UI. Ini bukan pertandingan El Clasico. Melainkan, Jokowi tengah menghadapi protes mahasiswa yang peduli soal negaranya.

Sudah sepatutnya, Jokowi-lah yang harus ke Asmat. Bukan BEM UI, apalagi Zaadith sendirian.

Jokowi harus tahu dan merasakan langsung penderitaan rakyat Papua, terkhusus Asmat. Tak elok kalau harus melulu pilih blusukan di emperan-emperan Jakarta. Sekali-kali cobalah memilih medan berat. Tak apalah kalau diliput rame, biarkan saya dan rakyat Indonesia tahu, jikalau Jokowi benar-benar sungguh hati untuk blusukan.

Sungguh, Jokowi harus kesana. Ke Asmat. Sebelum terlambat. Kalau ‘blusukan Asmat’-nya ditunda sampai 2019, maaf saja kalau dianggap “ada udang dibalik batu”.

Memang isu gizi buruk di Asmat lagi memerlukan uluran tangan. Semua pihak harus membantu saudara-saudara kita di Asmat. Berdasarkan data Kemenkes menyebutkan, terdapat 646 anak terkena wabah campak dan 144 anak menderita gizi buruk di Asmat.

Ah, berharap sama Jokowi untuk ke Asmat. Pak Presiden yang terhormat sepertinya telak lagi. Jokowi kalah cepat sama Universitas Gajah Mada (UGM).

UGM sudah mengirimkan tim Disaster Response Unit (DERU) ke Agats, Asmat, Papua. Dilansir dari merdeka.com, Tim yang dikirimkan ini akan bertugas membantu penanganan gizi buruk.

Tim DERU yang dikirim UGM ini berjumlah 7 orang dipimpin langsung oleh Sekretaris Direktorat Pengabdian Masyarakat UGM, Rachmawan Budiarto dan Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat, Nanung Agus Fitriyanto.

Rachmawan menyampaikan pengiriman tim DERU UGM ini terdiri dari 2 gelombang, yakni Rabu dan Kamis (26 dan 27 Januari) yang lalu. Tim, lanjut Rachmawan, akan bersinergi dengan Pemkab setempat, Kemenkes dan TNI dalam penanganan masalah gizi buruk dan berbagai dampaknya.

Kalau sudah telat, Jokowi mesti tunggu kartu lagi ya?
 
*Sumber gambar: indovoices.com
 

  • view 86