Mazhab Valentine

Jufra Udo
Karya Jufra Udo Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Februari 2016
Mazhab Valentine

Apakah Valentine sejenis agama baru? Stop dulu!

Saya sama sekali tidak pandang Valentine sebagai agama baru. Layaknya klaim mainstream. Soal definisi mazhab. Saya lain, mazhab itu pertaruhan entitas berbeda dalam kesamaan ruang.

Pun demikian jua soal Valentine. Ia-nya tak pernah dimaknai satu. Selalu beda mazhab. Yakni, yang sintesis dan yang antitesis!

Mazhab sintesa. Valentine dituju sebagai hari (besar) kasih sayang. Ditularkan dengan segala pakem. Ucapan selamat, harapan, bunga, coklat, ataupula kamar temaram. Tentu dialamatkan, pada kekasih dan orang-orang terkasihi.

Mazhab antitesa. Valentine diklaim haram. Produk barat. Dan saluran maksiat. Mazhab ini lebih keras menyalahkan. Main siku kiri-kanan. Pake ayat, jejak buram Valentine, hingga fatwa.

Lalu?

Penganut sintesa. Apakah kasih sayang kalian sama besar seperti sebelum atau sesudahnya? Atau apakah hari Valentine jadi modus untuk bebas 'macam-macam'?

Penganut antitesa. Ingat! Gejala Valentine seperti maksud kalian bisa terjadi kapan pun. Apakah kalian peka? Bersuara? Ataukah dakwah dan fatwa kalian kejar momentum?

Syak! Sebentar lagi, Valentine berakhir. Kedua mazhab itu pasti kembali 'mualaf'. Dimulai akhir Februari. Adanya, tunggu tahun depan! (*)

Baca Juga:

'Transeksual' Pilkada

  • view 134