'Transeksual' Pilkada

Jufra Udo
Karya Jufra Udo Kategori Politik
dipublikasikan 11 Februari 2016
'Transeksual' Pilkada

Lihatlah! Tampak para figur tengah berkemas menuju ke ruang ?senggama?, pertaruhan antara menang dan kalah. Pemilihan kepala daerah 2017 mendatang akan jadi ruang senggama yang cukup erotik.

Siapa pun yang memiliki modal, sangat dipastikan ia menang dalam senggama. Modal dalam politik tidak sekedar paralel dengan kekuatan finansial. Saat ini, kita cukup akui. Dalam bentang waktu 2004 hingga 2014, wajah politik kita sangat terlihat paradoksal.

Perwajahan politik yang kerap kita asosiasikan ?banyak uang? tiba-tiba saja berubah drastis. Menjadi wilayah etis yang terkonsolidasi ke wilayah sosial-moral secara utuh.

Banyak dicontohkan, figur challenger sekalipun mampu menumbangkan figur petahana, tentu dikuatkan oleh etis dan moralitas. Meski pada purnanya, banyak yang menuduh itu sebagai etalase manipulasi citra, sungguh itu terlihat nyata.

Politik memang sangat artifisial. Banyak yang tidak bisa diduga, bisa saja terjadi. Pesta demokrasi kita membuktikan itu.

Anda bisa saja lihat di Buton Utara! Kemenangan Abu Hasan-Ramadio sekejap dijadikan prototipe pilkada serentak 2015 kemarin. Kerap dibicarakan; kiblat percontohan pilkada ideal ada di Buton Utara.

Karenanya, siapa pun yang akan bergegas ke ruang pilkada, hendaknya mengambil ?yang lalu? sebagai hikmah. Setidaknya diramu dalam strategi dan taktik politik yang apik. Kekuatan politik figur sangat ditentukan penggunaan strategi secara cermat. Strategi politik layaknya pisau kemenangan melalui pelaksanaan taktik.

Bila strategi tidak dikombinasikan dengan taktik yang menjangkau luas arena taruh, maka strategi hanya sekedar korpus pada aturan main. Taktik lebih praktis daripada strategi. Taktik jadi varian praksis kala pelaksanaan strategi.

?

Cukup Erotis

Saya katakan pilkada serentak jilid dua ini cukup erotik. 2017 mendatang bagi saya terlihat indah, arena pertaruhannya tidak lagi hampa. Banyak hal yang telah lewat, bisa dijadikan bahan ramuan yang terkonsolidasi rapi.

Dalam konsolidasi, menurut Peter M. Balla, hendaknya menembus teritorial perbedaan-perbedaan tertentu. Konsolidasi dalam etape demokrasi akan berhasil, jikalau sekat yang sensitif di ranah sosial bisa dihilangkan. Terlebih agama, etnis, dan budaya.

Selain asasi individu dalam masyarakat; agama, etnis, dan budaya sangat privilese dalam tatanan kita. Karenanya diserang saja salah satunya, sama halnya mencipta konflik terbuka di tengah-tengah masyarakat.

Kita jua akui, daerah kita yang tampak homogen secara kultural, masih saja terjadi diferensiasi sosial. Hal ini dipengaruhi oleh situasi ekonomi, dan kepentingan yang berbeda.

Meski demikian, pilkada yang usai kemarin tidak terlalu menunjukkan inkubasi dalam diferesiansi yang ada. Pilkada kita tidak melahirkan konflik yang menyerang wilayah privat di ruang publik. Harmoni sosial masih terasa segar pasca pilkada 2015.

Konflik kita cuma sebatas gejala, hanya final pada soal sengketa, selebihnya itu aman. Kita sepatutnya mengucapkan selamat. Selamat untuk semua; pada rakyat, kandidat, dan penyelenggara. Dinamika politik kita semakin dewasa.

Pilkada 2017 mendatang bisa saja sama. Keadaan itu bisa diciptakan jikalau penyelenggara dan kandidat lebih santun dan kedepankan etika politik.

Soal Transeksual

Dalam beberapa diskusi saya dengan kawan-kawan HMI yang tampak asyik mengamati pilkada, saya selalu katakan pilkada kita menyerupai transeksual.

Politik bermetamorfis jadi sejenis hormon eksternal manusia yang memacu daya transeksual dalam dirinya. Individu cenderung memperlihatkan ?semampunya? saat trans-seksual itu.

Mereka tidak ingin dicap tidak bergairah dalam pentas politik. Akhirnya, mereka terlihat intensi memakai atribut politik, bahkan semisal legitimasi ?saya orangnya ini? .

Yang tak tahu pun arahnya, terlihat menikmati pilkada. Kenikmatan itu bisa didengar di warung kopi, tempat gosip, dan media sosial. Anak muda yang terkadang buta politik jua, terlihat narsis selfie-selfian soal pilkada.

Gairah ini cukup membantahkan pendapat beberapa pengamat yang kerap memastikan disfraksi politis yang mengarah pada tingginya pesimistis publik terhadap politik.

Pilkada kita tidak seperti demikian sekarang. Pilkada kita makin ramai. Seperti pasar malam, kata Buya Ma?arif. Bukan soal transaksi pragmatisnya, ini soal keikut-sertaan.

Transeksual politik bisa dipacu melalui pendekatan-pendekatan yang intens. Ini tentu juga tugas berat si figur, se-seksi apakah ia dalam ruang senggama pilkada 2017 mendatang.

Olehnya, geo(politik) ini mesti dipahami. Sekali lagi, politik itu selalu artifisial. Tidak ada yang serba alami.

Tentunya, figur manapun yang maju punya harapan untuk menang. Jikalau ada figur yang maju bukan kearah itu, bisa saja ia sekedar boneka dan gagal mental. Kami tunggu keseriusan Anda bersenggama! (*)

?

?

  • view 342