Good Crackers

Juan Karnadi
Karya Juan Karnadi Kategori Teknologi
dipublikasikan 02 Juli 2018
Good Crackers

Kini semakin mudah kita mendapati berbagi produk digital yang telah di crack. Jumlah copy-nya makin tambah berlimpah bak. jamur dan jenisnya pun beragam: game, analisis data, kebutuhan perkantoran, desain grafis, permodelan, dan seterusnya. Tak sedikit pula yang kemudian memilih mengkomersilkannya lewat situs jual beli online. Mereka lah yang disebut good crackers, yang telah menyediakan perangkat lunak yang kita perlukan dan memudahkan mekanisme validasinya.

Dahulukan Pelayanan

Supaya bisa menjadi good crackers, dahulukanlah pelayanan berkualitas prima yang selalu mengedepankan kebutuhan customer. Mulailah dengan software yang Anda anggap paling mudah terlebih dahulu untuk kemudian dilakukan pengujian. Tahapan ini selain menguji instalasi juga melingkupi validitas perangkat lunak itu sendiri. Barulah kemudian dibuat mekanisme yang mempermudah pengguna baik saat instalasi maupun validasi.

Kemudian kita tentukan harganya. Tnatangannya ialah bagaimana memurahkan harga itu, sehingga tidak membebani customer dengan biaya pengeluaran berlebih dan tak membuat kita merugi juga. Dan yang terpenting selalu menyiasati permintaan pelanggan dengan beragam opsi alternatif yang dapat menyesuaikan kebutuhuan di lapangan.

Saya sendiri sebetulnya telah menjalankan upaya demikian selama tiga bulan terakhir ini. Hampir setiap pesanan yang diterima selalu mendapat pelayanan terbaik. Pelayanan yang dimaksud antara lain memberikan pilihan mengunduh secara online, percepatan penuntasan pengiriman barang, dan membimbing pelanggan kala mereka tengah melakukan instalasi dan validasi software yang digunakan.

Dan kini jumlah permintaan yang masuk pada usaha yang saya rintis ini semakin bertambah banyak. Sebagian besar memang masih berasal dari pulau Jawa. Anda bisa cari usaha dengan nama “OS Berkualitas” ini di situs Tokopedia. Alhasil, omsetnya pun meningkat pesat dalam waktu singkat. Review pun dipenuhi dengan ungkapan kepuasan dan terima kasih pelanggan. Jadi jangan pernah berpikir menempatkan nafsu menjadi kaya sebagai tujuan Anda dalam berwirausaha. Terlebih, kewirausahaan sosial justru mengajak kita mengasah dan mempertajam empati sosial akan kondisi serba adanya yang tak pernah terbayangkan di benak kita sebelumnya. Itulah value yang harus kita jadikan keutamaan dalam entrepreneurship. Percayalah bahwa niat baik kelak mendatangkan hasil yang baik pula, seiring meningkatnya keterampilan, keahlian, serta reputasi kita.

Peluang, Bukan Ancaman

Langkah tadi sesungguhnya bisa menciptakan peluang. Peluang itu didapat melalui pendekatan-pendekatan entrepreneurial yang setidaknya terlihat dalam tiga hal. Pertama, memangkas biaya pengeluaran. Dari yang tadinya berbiaya tinggi menjadi rendah. Ini jauh lebih baik ketimbang menghabiskan begitu banyak biaya. Microsoft Office saja –bila dilakukan dengan cara konvensional- instalasinya memerlukan dana ratusan ribu. Bahkan ada yang dikenakan biaya sebesar Rp 70.000,00 per bulan untuk maintenance-nya.

Kedua ialah penyerdehanaan mekanisme. Setelah dilakukan pengujian, tahapan instalasi perlu dibuat sebernas dan seringkas mungkin. Hal yang menantang adalah bagaimana membuat proses validasi mudah dilakukan setiap orang, termasuk mereka yang tidak memahami cara kerja perangkat lomputer. Kesulitannya terletak saat menemukan kesesuaian antara tools penunjang dengan prosedur validasi supaya tidak ada kerumitan dalam prosesnya. Bahkan penyerdahanaan mekanisme ini ada yang hanya memerlukan pengerjaan saja. Jadi tinggal install dan pakai saja. Ini mudah dijumpai pada software-software dengan genre games.

Ketiga pemangkasan kebutuhan. Mulanya kebutuhan itu dirasa begitu banyak. Diantaranya meliputi operasional, pemeliharaan, dan ide. Jelas selain membuat ongkos membengkak juga menambah panjang daftar kebutuhan yang ada. Dan ini mengingatkan saya pada pemasangan antivirus Kaspersky di kantor ibu saya beberapa tahun silam. Mendatangkan pihak operasionalnya saja sudah mengeluarkan Rp 700.000,00. Sudah begitu sekarang tidak bisa digunakan lagi. Duh, kacau sekali ini! Demikian juga di ranah video editing. Seperti yang dialami rekan sejawat saya akhir tahun lalu. Untuk software Filmora, ia harus merogoh kocek sebesar Rp 600.000,00 guna mendapat keseluruhan fiturnya. Tetapi berkat para good crackers, kebutuhan tadi berhasil dikurangi secara drastis. Yang diperlukan tinggal salinan digital serta bahan media yang mempunyai kinerja optimal.

Sayangnya sebagian kita masih menganggap kehadiran para “good crackers” ini sebagai ancaman. Lantas siapa yang merasa terganggu? Tentu saja mereka yang masih menjalankan bisnisnya dengan cara lama. Tak heran bila memakai privilege yang mereka peroleh menakut-nakuti kita dengan segala cara. Bukan cuma sebatas memberi nasihat dengan perspektif miring, bahkan sampai ancaman kriminalisasi. Tindakan tadi kemudian dilabeli sebagai perbuatan ilegal. Sungguh keterlaluan! Good crackers pun diperlakukan seolah-olah bak. penjahat.

Bijaklah Menyikapi Kehadirannya

Minggu lalu saya pergi mengunjungi negara Tiongkok. Barulah kemudian saya memahami betapa pentingnya peranan Alibaba menunjuang penghidupan jutaan rakyat disana. Lewat Alipay, Alibaba telah mempermudah layanan keuangan di China. Kemudahan itu terlihat nyata karena pembayaran digitalnya bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan dijumpai dimana pun kita brada. Jangkauannya bahkan telah sampai ke daerah pedesaan. Penerapan layanan Alipay juga memberi keleluasaan bagi publik dalam penggunaannya. Cukup miliki smartphone atau telepon seluler dan daftarkan nomor Anda. Bahkan Anda juga bisa meminta penjual ponsel disana melakukannya.

Akhirnya harus dikatakan, sudah amat gamblang sekali pesannya bagi kita semua. Janganlah kita gemar berolok-olok dan bersiasat akan munculnya fenomena good crackers ini. Apalagi sampai saling menyangkal dan menyalahkan. Kitalah yang harus bijak menyikapi kehadiran mereka. Malah sebaliknya, kita harus memanfaatkan dan melibatkan good crackers mendorong masyarakat kita jadi lebih berdaya dan produktif. Lagipula kalau bisa mendapat yang lebih baik, mengapa tidak? Jadi sudahlah. Berhentilah berpura-pura dan bersikap palsu!

Juan Karnadi
Teknik Komputer
Universitas Indonesia

  • view 360