Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Enterpreneurship 1 Juni 2018   14:58 WIB
Batam dan Pilihan Berkarya

Kehadiran kami di Batam pada April lalu rupanya telah memikat antusiasme masyarakat di sana. Namun tujuan kami sebenarnya bukan hanya itu saja guna menjaring mitra maupun agen relawan. Kami ingin agar semangat berbagi dan mengamalkan ilmu membekas dalam benak mereka. Bahkan lebih dari itu, yakni menularkan upaya pengamalan itu menjadi sebuah budaya berkarya bersama. Lebih baik daripada cuma dibiarkan mengendap di kepala kita.

Small Factory

Segera kami memutar otak setibanya disana (19/4/2018) agar bisa mempercepat dan memangkas waktu pengerjaan realisasi ide NICU murah kami. Akhirnya kami memilih Universitas Internasional Batam (UIB) sebagai pusat pengadaan small factory untuk wilayah Batam dan sekitarnya -sekaligus berperan sebagai agen relawan kami. Lantas bagaimana kami bisa begitu yakin dengan gagasan small factory ini?

Untuk menjelaskannya, kami ingin mengajak Anda masuk lebih dalam ke mekanisme penerapan alat-alat NICU di rumah sakit Awal Bros Batam. Saat mendatangi ruang perinatologi disana, kami menemui pemandangan yang agak jarang di rumah sakit perkotaan. Perawatnya begitu tanggap terhadap bayi-bayi yang menjadi pasien mereka. Sungguh gambaran akan sebuah pelayanan yang prima. Dan boleh dibilang peralatan NICU disana sudah cukup memadai dan tingkat kelengkapannya mencapai 70 persen.

Kami pun semakin terkagum melihat kecermatan pelaksanaan prosedur yang diterapkan jajaran eksekutif RS Awal Bros Batam. Dari pengoperasian alat sudah harus melakukan banyak penyesuaian. “Dosis dan ukuran jarum syringe pump untuk bayi saja tidak boleh melewati batas tertentu. Bila melebihi dapat mempengaruhi keadaan bayi. Bahkan membuatnya muntah”, ujar salah seorang perawat di sana. Apalagi kontrol terhadap kebersihan peralatannya sangat detil. Sterilisasi berlaku bagi siapapun yang memiliki area kebersihan: dari tubuh hingga pakaian beserta aksesorisnya. Langkah pembersihan alat-alat pun telah dibagi menjadi dua tahapan utama: pencucian dan pengeringan. Bahkan sudah ada mesin yang memudahkan kelangsungan proses tersebut: persisnya memanfaatkan sirkulasi air (pencucian) dan pemanasan dengan uap air (pengeringan). Jadi, itu sudah lebih dari cukup dalam menjaga keseluruhan alat tetap higenis.

Usaha demikian semakin membulatkan keyakinan kami terhadap pengerjaan small factory di Batam. UIB memang sudah kami beri amanah untuk itu. Namun, hal pertama yang harus dilakukan supaya produksi terjadi ialah mendorong kegigihan seluruh massa kampus memberi dampak positif pada sebangsa lewat karya nyata. Selanjutnya menjaring dan memperbanyak keterlibatan UKM-UKM di sekitar wilayah Batam. Dan puncaknya mengajak semua lapisan masyarakat agar bergotong-royong memberdayakan diri dan menolong bayi di sana. Indikator keberlanjutan itu semua meliputi tiga hal: perbanyakan arus informasi, peningkatan partisipasi, dan penciptaan kembali kemahiran serta lapangan kerja baru.

Di sisi lain, kami juga memiliki tanggung jawab dalam konsistensi menjaga kualitas produksi. Sejak awal, kami memang berkomitmen meminimalisir terjadinya masalah-masalah yang bisa menyusahkan pengguna maupun agen relawan kami di lapangan. Maka, kami mencoba menyesuaikan seluruh komponen yang ada dengan iklim di tiap daerah Indonesia sebelum menyatukannya dengan hasil produksi kayu dan akrilik: mulai dari uji pengukuran, sampai uji kelayakan alat. Itu sebabnya kami berani menyumbang sebagian dana kami dalam bentuk mesin produksi untuk pembangunan small factory di UIB.

Merintangi Tradisi

Baiklah! Saatnya membahas treatment yang diberikan kala mendatangi kampus UIB. Kami memang ke sana dalam rangka menyampaikan aktivitas serta gagasan NICU murah kami kepada publik. Di depan para pendidik di sana, kami menularkan semangat berkarya, lalu mengamalkannya menjadi sebuah budaya. Dan guna meyakinkan mereka, kami menunjukan “Patient Monitor Sederhana” yang telah kami buat. Mereka pun takjub karena semua itu dibuat dengan rancangan sederhana serta biaya terjangkau. Tentu saja ada maksudnya kami melakukan itu. Ya. Ilmu itu tidak boleh berhenti hanya sampai sebatas riset.

Bahkan saat berbicara di hadapan para tamu dan mahasiswa yang hadir, kami justru memprovokasi mereka agar kembali menggalakkan budaya berkarya menjadi karakter kuat bangsa kita. Sebab karya baru kelak mendatangkan pula penghidupan baru. Apa artinya? Ini menunjukkan bahwa sebetulnya rakyat kita bisa bekerja mandiri dan kompak bergotong-royong menolong orang-orang di sekitarnya.

Namun, kini kita tengah dihadapkan pada masalah besar. Tradisi kita selama ini ternyata telah menghambat kemajuan budaya berkarya itu sendiri. Pada kami, Dekan Fakultas Teknik Industri (FTI) UIB, Bpk. Sabariman, bercerita kepada kami sulitnya menghadapi anak didik serta orang tua yang bersikeras mempertahankan rasa benarnya sendiri. “Sebagian memang ada yang seperti itu. Setiap kali kami menerapkan peraturan baru, ada saja pihak yang menentangnya. Contohnya ketika kami menerapkan pembatasan waktu untuk kendaraan pribadi, segelintir mahasiswa menyuarakan ketidaksukaan mereka dan mengancam kami.”

Celakanya, ini diperparah dengan ketidakmampuan menguji realitas. Bukannya menyikapi dengan bijak, orang tua malah menjadi sangat emosional saat mendapati anaknya tak berdaya menghadapi masalah. Ia menambahkan sebagian juga menunjukkan arogansi berlebih sambil mendatangi pihak kampus. Apalagi fakta itu telah diputarbalikan oleh anak yang -maaf- berlindung dibalik ketiak orang tua mereka. “Barulah kemudian mereka mau mengakui fakta dan kebenarannya setelah kami menunjukkan bukti CCTV bahwa sang anak kedapatan berbuat curang dalam ujian”, tandas beliau. Ini sungguh ironis. Tak heran bila hari ini nyata makin banyak kita menyaksikan orang menyangkal kejujuran dengan sikap yang sama sekali tidak gentle.

Dan yang terberat ialah merintangi tradisi yang telah membesarkan kita dalam “mentalitas penumpang” (Rhenald Kasali, Self Driving, 2014). Merintangi batas-batas yang sebetulnya hanya ada dalam pikiran kita. Kami hanya bisa tercengang saat Bpk. Sabariman menjelaskan persaingan kerja di Batam yang relatif mudah. Apalagi penghasilan per bulannya terbilang cukup fantastis: Rp 5 s/d 7 juta per bulan. Tapi kami juga sedih mendengar hal demikian telah membentuk perilaku konsumtif masyarakat di sana ketimbang pencapaian produktif dan bermakna. Betapa enggannya kita mengubah dan mengoptimalkan kekayaan yang ada demi mencapai kemakmuran bersama. Ini sangat berbahaya.

Terlebih orang tua yang tampak begitu ingin menguasai anaknya. Mulai dari nasihat yang begitu banyak, proteksi berlebih. Hingga nyata terlalu banyak hal yang diatur orang tua: perlengkapan, obat-obatan, penjemputan, sampai pilihan hidup, dan sekian hal lainnya. Padahal itu jelas akan membelenggu anak-anak kita, juga otak mereka. Dan bila diberi ruang belajar dan bereksplorasi seluas-luasnya, mereka akan semakin kaya pengetahuan, pengalaman, dan terutama kebijaksanaan.

Maka melepas anak untuk belajar dari alam terkembang itu sangat penting. Karena itu akan membuat mereka terbiasa melatih diri berpikir, keluar dari rasa takut dan ketidakberdayaan dalam keterbatasan, melampaui dirinya, sehingga mampu menjadi pribadi yang unggul, mumpuni, dan cakap dalam mengambil keputusan. Miris rasanya ketika Bpk. Sabariman curhat tentang mahasiswa yang masih dalam kendali orang tuanya hanya untuk keperluan memenuhi beasiswa gara-gara harus merantau keluar negeri. “Hak veto orang tua masih sangat kuat”, ujarnya. Bagaimana bisa berkarya dalam negara dengan tradisi yang begitu rumit ini? Jelaslah bahwa ini sebenarnya adalah kesulitan yang kita buat-buat sendiri. Dan ini bisa menjadi bencana besar kalau kita terus biarkan.

Learning by Being

Esok harinya (20/4/2018), kami mencoba mencari wawasan baru yang bisa melengkapi ide small factory dan NICU murah kami. Pagi itu pemandangan cerah terasa sangat menyegarkan, menjernihkan pikiran dan menyejukkan hati. Memasuki kawasan pabrik di tengah kebisingan, kami melihat pengaturan jalur produksi yang tertata rapi. Arus keluar masuknya pun juga begitu teratur sehingga memudahkan mobilisasi baik tenaga kerja maupun kendaraan berat yang akan melakukan distribusi produk. Itulah suasana yang kami dapati saat berkunjung ke Philips Industries Batam.

Sambil mendampingi kami melihat alur produksi, para manajer menceritakan kegigihan mereka menerapkan kemajuan industri di Batam. Kontrol terhadap barang dilakukan secara rutin dan mendetil. Saking tingginya kedisiplinan staff di sana, mereka sampai memiliki lab khusus yang memvalidasi kelayakan suatu produk sebelum masuk ke jalur distribusi.

Pengelolaan SDM-nya pun juga terukur dan berkala. Tiap divisi memiliki blue print yang isinya berupa peran dan mekanisme pelaksanaan proyek di lapangan. Dan evaluasi berlaku untuk seluruh personil dengan memberikan penilaian terhadap kinerja mereka setiap bulan.

Barulah kemudian kami memahami mengapa Philips masih tetap eksis hingga hari ini. Etos kerja lah yang mengantarkannya sampai pada keberhasilan. Learning by being. Para karyawan mendorong diri mereka berkomitmen dan memiliki tenaga menuntaskan setiap pencapaian yang mereka buat. Mereka juga sering diberi tantangan yang menumbuhkan keproaktifan serta kreativitas. Bpk. Ismo, manajer yang menangani produksi botol susu disana, menggambarkan dengan tepat hal itu sebagai mental kejuangan. Ia bercerita tentang awal perjalanan kariernya yang tak menemui kepastian. Meski menggeluti keilmuan berbeda, ia bersikeras ingin masuk ke Philips Batam. “Padahal saya dulu belajar akuntansi, tapi tetap ngotot memilih perusahaan ini”, kenangnya. Ditambah lagi metode membaca buku -dan kemudian mengulasnya- yang mengharuskan stakeholder selalu siap memperbarui pengetahuan. Bpk. Ismo pun berujar, “Setiap bos kami pulang jalan-jalan, pasti akan diberi oleh-oleh buku.”

Dan kelangsungan Philips Batam sendiri di dukung dengan upaya mereka memajukan dan menyejahterakan masyarakat Batam. Sinergi positif ini terlihat lewat program CSR mereka yang bukan hanya mengutamakan pekerja saja, melainkan juga pemeliharaan lingkungan dan pelayanan masyarakat -termasuk diantaranya meningkatkan kualitas hidup keluarga pekerjanya. Tak pernah terbayangkan betapa melimpahnya daya kreasi yang tercipta dari etos learning by being ini. Tak pernah terbayangkan seberapa jauh dampak positif yang dihasilkan dengan memadukan keahlian antara perguruan tinggi dengan UKM / UMKM. Tak pernah terbayangkan betapa kuatnya benih optimisme yang tumbuh dari sinergi antar asosiasi, institusi, dan komunitas kesehatan.

Atmosfer Happiness

Otot dan akal bila dipadukan akan menghasilkan kecerdasan senyatanya. Hal demikian membawa keunggulan yang mampu menggerakan karya nyata yang berguna dan membahagiakan seisi semesta. Itulah makna amal yang sebenar-benarnya. Dan ini sumber yang membawa keinginan kuat berkarya jadi tindakan nyata.

Supaya kaum muda turut merubah orientasinya dari sekedar berwacana menjadi langkah konkret, orang tua, pendidik dan eksekutif memegang peranan penting. Sudah semestinya kita memberi ruang untuk mengembangkan atmosfer happiness. Menumbuhkan benih kebahagiaan dalam diri anak, peserta didik, karyawan, dan siapa saja yang ingin kita manusiakan. Seraya memberikan tantangan serta dukungan dan kepercayaan pada mereka. Agar mereka bisa menjalani kehidupan dinamis ini dengan gembira tanpa ada kegelisahan. Kelak dunia akan tegerak membagikan dan ikut membantu, terlibat dalam kisah berbagi anak-anak kita. Tinggal berpulang kembali pada kita. Pilih yang mana?

Juan Karnadi
Digital dan Publikasi
Yayasan Bayi Prematur Indonesia
[email protected]
www.inkubator-gratis.org

Karya : Juan Karnadi